Review: All the Birds in the Sky

Beautiful, effortless, and calm. Like two rivers merged into a lake, where rainbows came for naps; only showing its magical strength when the time was ripe.

 

The book started like a story for children. Simple, but entertaining enough to reel me further. It started with each protagonist’s struggle against their own family. As they grew older, the number of their oppositions increased; schoolmate bullies. Laurence and Patricia sought an ally and found it in each other. They tried their best to help and comfort for each other, but life’s a mess, and both of them were little children. It got worse when an assassin decided to be involved in the growing resentment between their messed up alliance. They separated for quite a long time and had the chance to cultivate their own gift; Laurence’s mind for science and engineering and Patricia’s heart for healing and trickster magic. Their path eventually crossed, only to be separated again.  The rest was constant struggle against everything, and against each other, and against their own selves. Magic and science entwined; talking birds and tree, wormhole and time machine; struck each other violently because of fear, but there were also kisses because of love.

The first half of the story most comprised of ordinary slice of life events, except the quirks put here and there like, the talking animals and the two-seconds time machine. The book didn’t need to throw big things at my face. It’s pretty calm yet rewarding. That’s why it felt effortless to me. I got to know the characters in slow and intimate pace. The second half was when the lightning began to dance. They were so close yet so far, near but pulled apart. Super storm happened. War waged across the land. Doomsday machine. The unravelling. Parents and friends died. Fear. Fear. Fear. An oath got broken in order to save the dearest one. The story ended a bit weird. Not as satisfying as I would prefer it to be, but not bad.

 

Pengalaman Lari di Sibayak Altitude Run

Niat saya mendaftarkan diri pada Sibayak Altitude Run sebenarnya adalah untuk membangkitkan kembali motivasi lari yang sedang turun-turunnya. Namun ternyata sama aja. Masih dilanda kemalasan luar biasa. Masih payah. Sampai hari-h pun saya belum sempat melaksanakan satu long run yang cukup sama sekali. Waktu acara? Keteteran. Saya peserta yang finish terakhir. Paling belakang.

 

Begini kronologis ceritanya:

 

  1. Perjalanan awal.

 

Bersama seorang rekan kerja serumah dinas yang hendak pulang cuti, saya berangkat menuju Medan. Di pesawat sempat terjadi guncangan. Saya ketakutan, lalu meringkuk ke perutnya. Saat itulah saya berpikir, mengapa saya takut mati, apa yang sesungguhnya saya takutkan? Segala pemikiran yang belum tersampaikan, atau minimal tertuliskan; yang tertunda, yang terlupa, dan yang belum matang; saya tidak rela. Oke. Mungkin memang sudah panggilannya; selalu ingin kembali menulis lebih banyak, apapun wujudnya.

 

 

  1. Pisah di Medan.

 

Teman saya lanjut menuju Palembang untuk menghadiri acara pesta pernikahan seorang teman. Sementara saya, memuaskan diri melahap waffle sebelum kemudian buru-buru menemui pihak panitia yang menjemput. Panitia yang menjemput saya protes, karena saya tidak memakai kaca mata hitam seperti yang saya bilang di telepon. Lho,tapi framenya hitam kok. Lagipula, lensanya nanti hitam kalau kena sinar matahari.

 

 

  1. Menuju Sibayak.

 

Masuk ke Mobil. Saya disambut oleh penumpang lain yang kemudian diketahui ternyata adalah seorang jurnalis majalah olah raga. Ia sibuk dengan gadgetnya, saya asik membaca Foundation Trilogy. Lalu mobil bergerak menjemput satu orang lagi di Medan, peserta juga. Jalanan waktu itu macet cukup panjang. Kami memutar mengambil jalur alternatif. Di jalan saya mendengarkan obrolan menarik, yakni adanya doorsmeer plus-plus di daerah menuju Sibayak yang saat itu sedang kami lalui. Haha, jadi, itu maksudnya tempat cuci mobil yang supirnya juga sekalian “dicuci”. Obrolan sampai ke topik tersebut bermula dari respon pihak penjemput terhadap keinginan salah seorang dari kami untuk berhenti turun izin buang air kecil.

 

 

  1. Sampai di Sibayak.

 

Tepatnya di daerah pemandian air panas Ncole. Wah. Awkward. Saya malu. Saya minder. Belum kenal siapa-siapa. Bingung. Oh ya, ambil BIB dulu! Begitulah, lalu, bersama seorang peserta lain, saya mengambil racepack lalu melanjutkan proses administrasi. Setelahnya kami duduk-duduk di samping kolam pemandian air panas, berbincang-bincang. Ia makan indomie rebus, lalu saya ditraktir teh hangat; terima kasih! Oh ya, kami juga foto-foto. Kemudian setelah mendapatkan kunci hotel, saya segera berangkat, bongkar barang bawaan, istirahat sebentar, lalu malam-malamnya saya kembali ke pemandian air panas itu sendirian; berendam. Fuah! Mantab.

13096128_10206610299640096_505311643562960366_n

13124785_10206630189297325_872215670253686425_n

13083145_10206630189377327_1921819121584197040_n

 

  1. Sebelum Start.

 

Gila. Rasa khawatir telat bangun itu gak enak banget. Saya pasang alarm berlapis-lapis. Bangun lebih awal, yakni sekitar pukul tiga pagi. Namun itu terbangun karena mimpi buruk. Mimpi apa? MIMPI TELAT BANGUN. Hal ini persis banget terulang seperti saat-saat dulu saya hendak lari di Jakarta Marathon 2015. Justru karena kekhawatiran itulah tidur jadi terasa kurang dan tidak nyenyak. Setelah tersiksa bangun-tidur-bangun-tidur-bangun dalam kegelisahan mengerikan, saya putuskan untuk bersiap segera menuju ke tempat start.

13087705_10206622240018598_2371098260347500087_n13139294_10206630190377352_2120111498706958932_n

 

Di sana belum ramai saat saya sampai. Saya duduk bengong, pusing, dan bingung. Takut juga. Apa saya mampu? Saya tidak bawa headlamp, hanya lampu senter genggam yang baterainya sudah mau mampus. Menjelang start, kami berkumpul. Angin bertiup dingin. Gelap. Gerimis.

 

 

  1. Mulai lari.

 

Saya start termasuk di barisan paling depan. Namun belum tiga langkah saya ambil, saya sudah diserbu orang bersalip-salipan di kanan kiri saya. Ngebut sekali mereka. Saya lari, mencoba mengejar, namun tetap menjaga pace sesuai batas aerobic saja sembari berulang-kali melirik penunjuk heartbeat di garmin. Gelap. Gelap. Gelap. Saya terpisah sendiri. Terlalu ke depan untuk pelari selambat saya. Terlalu lambat untuk sok buru-buru. Lalu ketika kemudian mulai masuk ke jalur hutan, saat itulah keraguan mulai terakumulasi menjadi beban di hati.

 

 

  1. Cek Poin Pertama.

 

Di hutan gelap sendirian, awalnya saya mampu mencari jalan. Memang dituntut untuk mampu mengira-ngira jalan, mencari jejak sepatu manusia di antara lumpur dan mencari penanda jalan entah di pohon, entah di batu, entah di mana. Tapi akhirnya saya berhenti di tempat karena betul-betul tidak tahu mesti ke mana. Lama saya menunggu, akhirnya datanglah dua pria berpakaian biru dari belakang. Mereka sangat baik dan mau melanjutkan perjalanan bersama saya. Kami sempat tersesat bersama-sama di hutan itu. Lampu senter sayapun sempat mati, beruntung ada headlamp mereka. Menanjak hutan terjal terus sampai akhirnya terang. Ketika pria di depan memperingatkan saya atas duri; saya teringat seorang teman yang dulu pernah lari trail di bogor hingga kepalanya sobek kena tanaman. Takut.

13095734_10206622240858619_1163765199890099816_n
Mulai Meninggalkan Gelapnya Hutan

 

Keluar hutan, kami terus menanjak ke cek poin pertama. Saya sampai lebih dulu, lalu turun gunung sendirian di depan. Turunannya sangat licin. Saya tidak berani jalan. Hanya berani duduk merosot. Mengadu pantat dengan lumut dan batu. Saya bergerak dengan semangatnya karena masih begitu naif mencoba mengejar Cut Off Time; hal ini saya sesali. Karena kemudian saya tersasar. Terima kasih lagi kepada mereka, karena  mendengar sahutan mereka dari jauhlah saya sadar bahwa saya salah arah dan perlu lari naik kembali. Jadilah saya kemudian yang berada di belakang.

 

 

  1. Cek Poin Kedua.

 

Menanjak gunung lagi. Yah, setidaknya kali ini tidak melalui hutan-hutan lagi. Tapi tetap saja berat. Lebih tinggi pula. Saya kapok melesat sendirian lagi. Takut tersasar karena sok tahu. Jadilah kali ini saya ikut bergerak seiringan dengan dua orang lain lagi. Tepat sebelum puncak, ada jalur batu besar yang harus dipanjat; saya pikir tadinya saya tak mampu, namun setelah ditawari pertolongan, ternyata saya mampu naik sendiri. Woah, kok bisa ya, sayapun bingung; mungkin saya hanya takut. Ah, lupakan, yang penting sampai!

13124845_10206622245178727_4193797606520635172_n

13076840_10206630206537756_5239476758979326665_n
Makan Jeruk dan Nanas

Setelah sampai puncak dan mendapatkan gelang cek poin kedua, kami turun. Di bawah, kami menyempatkan diri makan jeruk dan nanas dan minum air pada water station yang disediakan panitia. Kemudian kami melesat terus. Pada jalur sebelumnya nyaris tidak bisa dibuat lari saking terjal dan licinnya. Barulah pada jalur ini kami bisa betul-betul lari macam di acara lomba lari.

13124955_10206630207017768_1822902622083343239_n

 

 

  1. Cek Poin Ketiga

 

Jalanan turun. Kaki ini dipaksa untuk bergerak lebih cepat oleh gravitasi. Lutut menerima tekanan yang lebih kuat karenanya. Sakit! Serius. Kami terbawa momentum, lari terlalu cepat sampai kesulitan berhenti sendiri. Seorang peserta mencoba berhenti dengan meraih tanaman, tapi gagal, dan terpelanting jatuh. Katanya, kalau ada rekaman youtubenya, dia mau lihat. Tapi begitu diminta diulang lari lalu jatuh, ia tidak mau. Yeah, ngeri memang. Kamipun akhirnya bergerak pelan karena takut kesulitan berhenti kalau lari. Hahaha. Ternyata jalur menuju cek poin ketiga ini cukup panjang. Seorang dari kami lari duluan, saya dan seorang lagi mengekor di belakang. Sialnya, ternyata di jalur ini kami harus melewati hutan lagi.

13076860_10206622246658764_7860297787550612235_n
Keraaaaaaaaam!!!

 

Di sana saya terpeleset jatuh, kaki terbenam lumpur, dan paha kiri saya keram. Peserta lain itu membantu meluruskan kaki saya yang keram dan terbenam lumpur, kemudian saya beri tahu ia untuk pergi duluan saja. Begitulah, saya tergeletak sendirian tak bisa bergerak. Yah itulah hidup. Tapi setelah beristirahat sampai dirasa sembuh, saya segera maju lagi seperti pada lirik lagu Frank Sinatra yang berjudul That’s Life:

Each time I find myself lying flat on my face,

I just picked myself up and get back in the race!

 

Perjalanan hingga mencapai cek poin ketiga ini kurang menarik, kecuali saat saya harus terpaksa melalui jalan yang dijaga dua anjing besar yang semangat sekali menggonggong. Saya yang lelah hanya berjalan lunglai pasrah, melambat, membisu, sampai akhirnya mereka minggir dan saya berhasil lalu. Sampai di cek poin tiga, saya berhasil berkumpul kembali dengan dua peserta sebelumnya. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan bersama dengan lebih santai berdasarkan saran panitia yang menjaga cek poin ketiga. Saking lelahnya, setiap beberapa ratus meter kami duduk istirahat, bahkan sesekali berbaring di jalanan. Ada salah satu dari kami yang membawa Snickers yang kemudian dipatah dan dibagi tiga. Panitia-panitia, entah dengan mobil, entah dengan motor, berkali-kali menawarkan tumpangan agar kami segera diangkut ke finish. Namun kami dengan keras kepala menolak.

 

Menjelang dekat finish, kami ditemani lari oleh seorang pelari senior yang bercerita tentang intrik-intrik lari trail. Ia berkisah, pada event-event trail run di Jawa sana, tidak jarang ada kelompok pelari yang bagi-bagi peran, yakni peran untuk sengaja menyesatkan pelari lain. Jadi kata senior itu, janganlah terlalu semangat mengikuti pelari di depan, lihatlah pada penanda lomba, kalau sudah beberapa ratus meter tak terlihat lagi penanda, maka segeralah kembali. Begitu. Wow. Lucunya di kasus saya tadi setelah cek poin pertama, justru saya yang semangat menyesatkan diri sendiri dan justru terselamatkan oleh petunjuk sahutan peserta lain. Terima kasih!

Dari kami bertiga, seorang akhirnya memutuskan lari lebih dulu ke depan. Kemudian seorang lagi lari di depan saya disemangati teman-temannya. Terakhirlah saya di belakang. Begitu terus sampai akhirnya kami sampai tujuan.

 

Dari seluruh peserta.

Saya manusia yang finish terakhir.

Keren gak? Banget! Ha! Ha! Ha!

 

13124914_10206622245338731_5004139125957574451_n
Akhirnya selesai 18 kilometer altitude run!

 

 

 

 

 

Bakwan: Mengampuni Manusia

Kepala Kantor: “Ikhlas?”

Saya: “Enggak ikhlas.”

 

Terdengar kepala seksi saya terhenyak, lalu bergumam lirih mengulangi kata-kata saya, “Eh, enggak ikhlas.” Ia seakan-akan tiba-tiba menciut.

Saya lanjutkan makan saya tanpa sudi menatap manusia yang sedang mengunyah bakwan rampasan dari piring saya. “Kok pahit ya?” Tambah Bos kantor kami itu. Saya abaikan pertanyaannya bagai angin lalu. Setelah bertanya-tanya ke pegawai lain di ruangan itu tentang ketidakberadaan telepon di ruangan kami, ia pergi. Ia selamat. Ia saya ampuni.

 

Sungguh, ketika ia mempertanyakan keikhlasan setelah mengambil dan mengunyah bakwan satu-satunya di piring yang sedang saya makan, terlintas pikiran-pikiran berikut:

 

“I am unattached to this world. I don’t have any stake or anything I’m afraid to lose. I don’t feel that I have ever any actual family. I don’t have a home. Past and present are pretty illusions. Not even future, for all living thing, shall perish, and goals are a mere device to fool oneself just to breathe another day. I don’t fear god. I don’t fear prison. I am lost, I am alone, I am free. Even reciprocal altruism is at my mercy. Right in this moment, I can snap your neck, rip open your belly, eat your heart raw, bathe your corpse with my semen, and make paintings with your blood and feces. Go away quick. Begone. Off you pop. Hurry!”

 

Mengerikan rasanya. Saya sangat takut. Takut bahwa pikiran-pikiran itu bukan sekadar hal yang dilebih-lebihkan karena emosi sesaat. Bagaimana jika hal tersebut merupakan kebenaran? Selama berjam-jam kemudian, pikiran saya merosot berputar-putar ke dalam jurang-jurang gelap kotor bau tengik, keji dan busuk dan tolol dan basah becek air mata. Malu-malu asu mengharapkan ikatan dengan dunia, tapi begitu sombong atas perbedaan yang diada-ada. Apalagi sesungguhnya tidak ada materi diri yang dapat dijadikan alasan andalan atau leverage dalam argumen keberadaan; karena saya memang faktanya hanya seonggok daging tak tahu diri yang berimajinasi terlalu tinggi.

 

Tapi akhirnya saya tertawa saat menulis ini. Karena sungguh lucu, ketika pikiran saya meledak dengan segala khayal ketidakterikatan diri dengan dunia, justru dan justru disebabkan oleh emotional attachment terhadap bakwan.

 

ANJIR GOBLOK HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. LET IT GO BRO. LET IT GO.

.

.

.

Then kill yourself.

.

.

.

Guus Hiddink.

292px-guus_hiddink_2012

Eh Just Kidding maksudnya.

 

 

 

 

Jurnal Mamam

Dulu, awal-awal mulai lari. Salah satu hal yang membangkitkan motivasi adalah pencatatan. Perekaman data-data setiap lari dapat membuat saya menjadi semangat karena jadi tertantang untuk mengalahkan catatan pribadi diri sendiri sebelumnya. Lalu saya mau iseng coba melakukan pencatatan, manual, pada apa-apa yang saya konsumsi selain air putih. Dalam konteks makan umumnya semakin sedikit semakin bagus, semakin tidak konsumtif, semakin hemat. Sementara itu dalam konteks intermittent fasting, jarak antara makan terakhir dalam satu hari ke makan pertama hari berikutnya semakin jauh semakin baik. Ternyata, setelah dicatat, ternyata parah, saya masih makan terlalu banyak. Banget. Ada rekan kerja bilang, Meulaboh ini bikin gemuk, sejak pindah ke sini, ia dan satu rekan kerja lain, jadi menggelembung. Haha, mungkin karena memang minim hiburan, sehingga manusia-manusia beralih ke makanan.

Ternyata, setelah dicatat, ternyata parah, saya masih makan terlalu banyak. Banget. Ada rekan kerja bilang, Meulaboh ini bikin gemuk, sejak pindah ke sini, ia dan satu rekan kerja lain, jadi menggelembung. Haha, mungkin karena memang minim hiburan, sehingga manusia-manusia beralih ke makanan.

Berikut merupakan Jurnal Mamam yang saya mulai sejak 11 April 2016 hingga malam ini 16 April 2016:

11 April 2016

0900

2 bakwan minta ke farhan

1247

1 piring lontong sayur

1 gelas kopi susu

1330

1 botol youc1000 mg vit c

–Jarak 1330 ke 0800 = 18,5 jam—

12 April 2016

0800

1 bungkus nasi gurih telur lado

1 risol minta ke syuban

1 gelas teh manis

0930

1 bakpau minta ke pak erwin

2 kue basah minta ke pak erwin

1 serabi minta ke pak erwin

1330

1 yakiniku bento

1 twisty

1 mocha float

–1330 ke 0830 = 19 jam–

13 April 2016

0830

1 porsi lontong pecel

1 bakwan

0900

1 nestle crunch

2 tablet vitacimin

1 yakult

1241

1 mie tiauw + kerupuk

1 es teh manis

1320

1 es campur

–Jarak 1320 ke 0815 =  18 jam 55 menit–

14 April 2016

0815

1 nasi gurih telor ceplok

1 gelas sanger

1 cheddar mini kraft

2 tablet vitamin c

1100

2 permen tamarind

3 nestle crunch

1 tablet vitamin c

1230

1 piring nasi pecel + ikan

1 es jeruk minta ke zainul

1530

1 plastik kerupuk

1 buah oreo minta ke Bu Rusni

1800

1 ciki cikian rasa keju minta ke Syubban

1 yakult minta ke syubban

1900

1 piring nasi lemak sulo sulo

1 botol frestea

–1900 ke 0800 = 13 jam–

15 April 2016

0800

3 gelas kopi pahit

7 macam kue

0930

1 porsi lontong pecel

1200

2 tablet vitamin c

1400

1 sari roti keju

1 soyjoy kacang

1 botol niu milk tea

1830

1 piring nasi goreng bumbu penyet

1 gelas jus wortel susu

–1830 ke 0910 = 14 jam 40 menit–

16 April 2016

0910

1 botol youc1000 mg vit c

0945

1 botol pocari sweat

1030

1 piring nasi gurih telor mata sapi

1 gelas sanger dingin

1230

1 permen green tea

1700

5 gorengan

1 botol nutriboost milk orange

1 botol frestea

1800

1 botol kiyora matcha

1830

Secuil abon solo minta ke Farhan

2200

1 piring serabi keju cokelat

1 piring mie aceh pake telur

1 gelas ice chocolate vanilla

—–

Umumnya manusia melakukan intermittent fasting dengan pola 16/8, yakni 16 jam puasa, 8 jam makan. Tapi susah plek banget begitu. Kalau lagi malas, saya bisa sampai 24 jam gak makan. Ya malas aja. Tapi kalau lagi sibuk, atau stress, atau karena dikasih makanan, ditawarin makanan orang, yah gitu deh mumpung gratis, maka biasanya start puasapun jadi saya undur. Silakan cari tahu sendiri tentang intermittent fasting, sudah malam, saya malas ngetik, yah, intinya macam ocdnya om deddy sih.

 

Review: Foundation

It’s nice to feel validated, even by fiction. But it’s a fiction by Isaac Asimov for fuck sake. Reading Foundation made me felt that. I was always convinced that religion must be preserved for its utility to accelerate a civilization from chaotic deep shit into a recognizably lawful society. But like a weapon, it must be unsheathed and sheathed in a proper manner. To actually do that, unfortunately, we pudding brain apes aren’t capable of knowing surely when. But in Foundation, Hari Seldon managed to calculate it with his Psychohistory.

The Galactic Empire was on the brink of its own fate. There’s nothing that could be done at that moment to prevent the fall. But, based on his Psychohistory calculation, Hari Seldon said, he could, at least, try to build a foundation to reduce the dark ages that would come, from 30000 years to merely 1000 years. Thus, it was built at the edge of the Galaxy. At first, the foundation was there only to compile and to process knowledge into a gigantic Encyclopedia meant to be a source of light in the dark, but then it changed and evolved into so much more.

The men from Terminus –the world where The Foundation organization was built– was called “magicians” by the citizens that lived in the crumbling shadows of the old empire. Here is an excerpt:

“There have been stories percolating through space. They travel strange paths and become distorted with every parsec, but when I was young there was a small ship of strange men, who did not know our customs and could not tell where they came from. They talked of magicians at the edge of the Galaxy; magicians who glowed in the darkness, who flew unaided through the air, and whom weapons would not touch.”

The story itself is revolved around the powerplay happened within the Foundation, and its dynamics with external powers, and its whole fate against the crises that had been predicted by Sheldon. It’s merely about ideas illustrated clearly by clever characters and interesting events. It’s great. I really loved it. Thanks, Asimov! I’ll continue to read the next two books of the trilogy.

Review:The Silmarillion

I read the Hobbit,

And I fucking loved it.

In Children of Hurin,

My heart joyfully ruined.

And I,

Skipped The Lord of the Rings,

Jumped right into this Silmarillion thing.


Ugh. Mostly, the Silmarillion itself is about fancy elves making a fuss about their pretty jewelleries. And my main complaint about this is the fact that, even though the lore often mentioned how wise are the elves, yet most of their life wasted in the making and in the bloody-pursuit of gems. Feanor! Smartest, wisest, strongest blablabla, and yet his masterpiece was pretty stones, which then stolen by Melkor, which then made him swore an oath that would curse his descendants also. Come on Feanor, you could build many greater things than that shit; move on! But the tales of foolish bravery unveiled around them are awesome and worth reading indeed.

I enjoyed most of the tales. In the creation tales, Melkor’s act of rebellion, reminded me of myself; when I was a little, everytime I sang in choir, I often brought destruction upon the harmony just so I could hear myself more stand out than the rest. It was childish of course and I think, the creator, the god, Eru Illufarter understood this, so he let Melkor lives. Yeay for free will! Thus, he went on pursuing his malice, playing dark lord on middle earth until some half-elf in flying ship pounce his army down.

Out of many heroic battles in this book, the most daring was Fingolfin. He rode alone to Angband in anger after the battle of sudden flame broke the siege of Angband. Morgoth could not refuse his invitation to duel. So they fought one on one. Fingolfin was a mighty elf, but Morgoth was godly. It was foolish to me, but it was foolishness worthy to be envied for. There’s this song titled: Time Stands Still (At The Iron Hill) which I think illustrates the spectacular feat of Fingolfin properly. I loved this song before, and now after reading Silmarillion, my exhilaration is kind of tripled.

Another great duel was between Luthien and Huan versus Sauron. Luthien’s magic was so great that later, even Morgoth himself was put to sleep by it. This was a part of Beren and Luthien love story. A story that can be summed up into: the suitor sought the dangerous dowry, but failed and ended up saved by the princess. Yeah, so powerful was Luthien, that when she wore the Silmaril, Feanor’s sons were afraid to adhere to their cursed oath.

Tolkien has great influence indeed, for before reading this, I already familiar with many of the terms from various metal band’s songs or names or stage names that adopted names from his works. So reading Silmarillion made me finally able to make sense some of those words. And yes, they’re fucking cool names. Amon Amarth! Gorgoroth!

I don’t know what to write anymore. There are things still in my head, but they’re mere tiny complaints compared to the whole awesomeness of the book. So, I guess, I shall end this here. If you seek mythical tales of foolish bravery written beautifully; if you seek to understand the source of all works that adopted concepts and names from Tolkien’s; eat this book!

Hmmm. Yum yum.

A Greek God and His Salamander

You were a nameless Greek God

Who awoke from long slumber

Beneath the lead water

Of Great Lakes’ miraculous wad

 

One day, from underneath a log

Love lured you

To turned it over

It was him and the frog

Each, one eyed, that’s true

But your heart desired

Only the salamander

 

Salvador then you named him

And acres of soils and jungles

Were arranged for his residence

Where you threw preys with strong limbs

Then with grace,

he chased without bungles

And in awe,

you beheld his claws

Swung in unrivaled magnificence

 

But the mortals were mad

Because you took their lands for him

They invoked then, the chemical pandora box

Crippling most of your kin, it made you sad

And as you silently sit still in heavy grim

They trapped grown up Salvador in a deep pit,

then smashed him dead with laser-guided asteroid

 

Hellish grief undressed you of your divine might

Now, you’re merely one of them mortal

But I know, you will eventually fight

Once again, once for all

With a plot so dark

That none shall

Ever ever ever walk

 

So here I sit

Scratching my balls

Wishing you, a great good luck