Agnostic, Gnostic, dan Ungkapan Cinta

Agnostik tanpa disandingkan apa-apa memiliki makna ‘tanpa pengetahuan yang pasti’, maka Agnostik bukanlah suatu sistem kepercayaan agama. Jika disandingkan dengan kata-kata ini, maka :

Agnostic atheist : Tidak percaya keberadaan tuhan, but no claim of absolute certainty.

Gnostic atheist : Tidak percaya keberadaan tuhan, plus absolute certainty.

Agnostic theist : Percaya keberadaan tuhan, but no claim of absolute certainty.

Gnostic theist : Percaya keberadaan tuhan, plus claim of absolute certainty.

Begini, anggap ada dua kutub : Gnostic Atheist dan Gnostic Theist, sementara yang benar-benar murni Agnostic ada di tengahnya, dan di antara Gnostic dan Murni Agnostic itu ada Agnostic Theist dan Agnostic Atheist.

Susunannya :

Gnostic Atheist – Agnostic Atheist – Agnostic – Agnostic Theist – Gnostic Theist

Semakin orang merasa paling tahu, maka orang itu akan merasa paling benar, sementara semakin orang mengetahui sesuatu, maka akan semakin banyak ia memiliki pertanyaan dan merasa tidak tahu apa-apa. Eh, nggak juga sih, tergantung orangnya 😛

Haha

Menurut saya, yang berada di ujung kutub itu cenderung orang-orang yang lebih senang dan nyaman memiliki kepastian dalam hidup, dan, ehm, mungkin lho ya, malas/takut/dilarang untuk mencoba berpikir lewat sudut pandang lain atau menatap ke arah lain. Salah satu keunggulan pada tipe yang di ujung kutub adalah, mereka tinggal melaksanakan saja kepercayaan dan keabsolutan, tanpa repot-repot berpikir macam-macam, dan mereka, saya yakin, memiliki kompetensi cukup tinggi dalam ilmu-ilmu yang menjadi bidang di ujung kutub kepercayaan masing-masing.

Sementara orang-orang dalam sisi tengah dan sekitarnya, cenderung untuk orang-orang yang lebih senang dengan proses lebih lama dalam berpikir, merenung, dan menikmati proses mencari kebenaran dari berbagai pola cara kepercayaan dari sudut pandang yang lebih objektif, bukan sekedar memandang sesuatu sebagai sesuatu karena sebuah ajaran menyatakan bahwa sesuatu itu adalah sesuatu.

Hihi

Saya sendiri sedari kecil berada di kutub paling kanan, lalu perlahan tumbuh, dan menyaksikan banyak inkonsistensi, maka saya sekarang [masih mencoba] bergeser satu langkah ke kiri. Agnostic Theist, di mana, saya masih sangat percaya keberadaan Tuhan, dan percaya dengan agama saya, masih beribadah, masih berdoa, masih memasrahkan diri, namun juga mulai mencoba untuk menjadi lebih objektif, membuka diri untuk belajar hal-hal yang sedari dulu ditutup-tutupi, membuka diri untuk mencoba menghargai kepercayaan orang lain yang di mana sebelumnya semuanya saya anggap salah kecuali apa-apa yang sama persis dengan apa yang diajarkan kepada saya yang waktu itu masih 1000permil Gnostic Theist.

Dalam proses menuju Agnostic Theist, saya merasakan suatu sensasi kenikmatan, di mana saya malah merasa lebih dekat dengan tuhan secara pribadi. Sungguh. Kebebasan dalam berpikir itu bagai telaga susu di tengah padang pasir.

Kenapa merasa lebih dekat dengan tuhan secara pribadi?

Karena tuhan dalam pandangan saya, bukan HANYA sekedar sebagai sosok pencipta yang maha kuasa, yang maha segalanya, yang tak terjangkau, yang mengancam seluruh manusia ciptaannya sendiri (yang sangat bervariasi cara berpikirnya dan budayanya) dengan siksa kecuali jika mereka menuruti satu macam perosedur kepercayaan absolut, bukan lagi sekedar sosok yang menyebabkan bencana-bencana alam, yang mengawasimu selalu tanpa menghargai privasi, yang … … … tak terpikirkan

Sementara sekarang, saya lebih bisa menganggap tuhan sebagai sahabat, sebagai kakak kelas, sebagai gadis pujaan hati yang membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama, sebagai orang tua yang saya buat kesal karena cara saya mencari perhatian, sebagai rival, sebagai kawan lama yang sedang bertengkar, sebagai orang asing baik hati yang tiba-tiba mengulurkan tangan pertolongan, sebagai kekasih yang begitu imut dan dapat saya berikan peluk cium ketika shalat, dan sebagainya …

Hehe

Saya sadar, ketika, ehem, misalnya saya sedang suka menyindir-nyindirnya, melanggar peraturannya, men-share artikel-artikel yang seakan-akan menyudutkan keberadaannya, dan bahkan mempermainkan sosok populernya dalam cerita pendek karangan saya, bahkan berkhayal membuat agama saingannya, bermimpi lebih kuat darinya, maka sebenernya saya sedang cari perhatian kepadanya, saya cinta, dengan cinta yang begitu lugu dan bodoh …

Hoho

Oh Allah Yang Maha Esa ♥

Engkau inspirasi yang membuat saya mabuk. Begitu tajam aroma engkau menusuk hidung saya, melumpuhkan, maka saya bertarung tolol dan serampangan, sehingga tak mampu jadinya tinju saya ini melukai dunia.

Lalu saya jatuh terlentang dalam ketidakberdayaan dan kepasrahan yang nikmat, karena saya jatuh di atas bayangan engkau yang selembut puisi cinta.

The idea of your existence and your perfection mesmerize my logic, my sanity, and my humanity.

The more i want you, the more i try to reject you because of the fear of broken heart.

The more i adore you, the more i want to erase you because of the pain of my suffocating lust.

I really want to having you as my own treasure, in the way i lead, in the place i set, on the bed of nail, under the hammering love of my mortal flesh.

Kill my conscience

Kill my love

Love is the only truth

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s