BERSEPEDA

cerpen ini juga saya posting di http://id.kemudian.com/node/264286

BERSEPEDA

Oleh Sasmito Yudha Husada

 

 

 

Halo! Namaku Yudo, dan aku sangat suka bersepeda. Seingatku, sepeda pertamaku dulu berwarna hijau dan beroda empat. Sepeda itu aku dapat dari Bapak ketika berumur lima atau enam tahun. Mulanya aku senang sekali, namun kemudian aku memperhatikan bahwa sepeda beroda dua bergerak lebih cepat, hal itu membuat aku mengambil peralatan dari kotak usang milik Bapak untuk mencopot dua roda tambahan itu. Maka, empat dikurang dua sama dengan dua! Huhuhu. Aku ingat dulu aku begitu sombongnya, begitu semangatnya mengayuh lalu jatuh. Bruk! Sakit dong, tapi asyik juga banget dong. Apalagi setelah akhirnya mulai bisa mengayuh sepeda beroda dua dengan lincah. Selincah cacing kepanasan, setidaknya itu kata Pakdeku.

 

Dengan sepeda aku berpetualang. Tertawa-tawa bersama kawan ketika meluncur di turunan. Membuat wajah letih yang lucu ketika mengayuh tanjakan. Menikmati angin sejuk yang mengibarkan rambut kami. Mengunjungi banyak tempat, tanpa mengetahui nama, dan di mana sebenarnya tempat itu berada. Tersesat bersama. Pulang bersama. Kembali ke rumah dengan segala keringat bahagia. Dan ketika malam tidur, terkadang aku juga bersepeda di dalam mimpi.

 

Tidak selamanya bersepeda menyenangkan. Karena, sayang sekali sepeda bukan barang yang awet. Uh, atau aku saja yang tidak pandai merawat barang? Sepedaku sering rusak. Rantai copot di tengah jalan, jok kendor, rem blong, ban kempes, ban bocor, dan sebagainya. Suatu saat ketika sepedaku rusak cukup parah, aku hanya bisa sedih dan kecewa. Berdoa agar Bapak mendapat rezeki untuk membetulkan Si Belalang Tempur. Ah aku belum bilang ya kalau sepedaku kunamakan Belalang Tempur?

 

***

 

Bulan Ramadhan. Hari pertama puasa. Menjelang buka puasa, keadaan toko Bapak begitu sibuk dan ramai. Beruntung Belalang Tempurku dalam keadaan sempurna, karena aku mendapat tugas dari Bapak untuk mengantarkan beberapa pesanan Cendol kepada pelanggan. Aku suka tugas ini. Aku suka kepercayaan yang Bapak berikan kepadaku. Aku suka bersepeda. Petualangan!

 

Tujuh kotak super cendol spesial sudah ditata dengan rapih ke dalam tas besar di punggungku. Peta sederhana dan alamat lengkap sudah kusiapkan di kantung baju. Setelah berpamitan kepada Bapak dan Ibu yang masih sangat sibuk mengatur toko, aku berdoa kepada Allah semoga petualanganku mengantar Cendol ini lancar. Kemudian aku menarik nafas sekuat-kuatnya, diikuti dengan kayuhan perkasa dan ban sepedaku oh Belalang Tempur yang meluncur lincah di atas aspal.

 

Menuju komplek sebelah. Aku mengayuh banyak tanjakkan. Letih sekali, sehingga terkadang aku tergoda untuk membatalkan puasaku dengan meminum cendol yang seharusnya aku antar, tapi … ah … itu pasti akan membuat Bapak kecewa. Oleh karena itu, seribu tanjakkanpun akan kulalui! Oh di depan ada turunan! Asyik! Yeaaaaaaaaaaaaaaaah!

 

Turunan ini terus sampai ke gerbang komplek di mana ada seorang satpam yang meski terlihat seram tapi tersenyum lembut menyapaku.

“Permisi Pak! Mau nganter Cendol nih hehe,” Seruku padanya.

“Ya, silahkan,” balasnya.

Belalang Tempurku melesat belok ke kanan setelah turunan, dan setelah sampai kepada lapangan basket aku berhenti sejenak untuk melihat peta dan alamat, namun sesaat kemudian aku mendengar suara yang kukenal.

“Yud! Yud!”

Panggil seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir yang sedang bermain basket.

“Yud, mau ikut main gak?” Serunya lagi, kali ini sambil melempar bola ke dalam keranjang dan masuk tepat ke dalamnya.

Walaupun aku tidak terlalu suka basket, tapi aku berminat sih, uh, tapi … pesanan cendol.

“Nggak deh Li, mau nganter Cendol nih, eh tahu Rumahnya Bu Widya Kusuma nggak?”

Lalu dia menjawab, “Oke, rumah Bu Widya tuh lurus aja, sampe kolam renang terus belok  kiri mentok, rumahnya yang sebelah kanan, yang ada pohon jambunya. Dah!”

 

Kayuh demi kayuh aku dan Belalang Tempur melalui bermacam rintangan dan godaan, namun akhirnya berhasil mengantar ketujuh pesanan ke pelanggannya. Dan aku kini sedang berada di rumah pelanggan terakhir, cukup jauh dari rumah, dan kebetulan orangnya sangat baik dan ramah, sehingga ia mengundang aku berbuka puasa dan bersembahyang maghrib di rumahnya. Sebelum aku pulang, ia juga memberikan aku oleh-oleh berupa Helm Sepeda yang super kereeeeeeen!

 

Oh Terima Kasih Allah atas segala petualangan hari ini!

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s