Orkan [nanowrimo-first-attempt]

[ditulis, kemarin, 1 Nopember 2012, oleh Sasmito Yudha Husada, dalam rangka berpartisipasi di NaNoWriMo]

 

[I-Orkan]

 

Pendekar Ombak. Itulah pekerjaanku.

 

Berenang di antara gulungan ombak-ombak ganas yang menghantamku bertubi-tubi. Membuat kulitku perih bergesekan dengan garam dan benda-benda laut. Tanganku sudah terlatih untuk terus mengayuh air dengan cepat dan kuat. Sementara kakiku mampu membuat gerakan berulang yang berirama; meninggalkan jejak-jejak buih yang segar. Dan tubuhku yang kekar meliuk-liuk dan melesat seperti ikan yang sudah mengenal betul perairan ini.

 

Aku berenang bersama para pendekar ombak lainnya dari kapal induk menuju sebuah karang di tengah laut. Pada karang itu tersimpan peralatan dan senjata untuk kami gunakan. Sebagian peralatan itu berupa seperangkat bebunyian guna memancing para ikan besar, sebagian lainnya untuk membawa ikan pulang ke kapal induk. Sementara senjata-senjata itu tentu saja untuk kami gunakan bertempur dengan para ikan besar.

 

Ketika aku pertama kali mengikuti perburuan ikan besar ini, aku bertanya-tanya, mengapa kapal induk tidak ikut ke sini? Mengapa kami harus berenang jauh-jauh untuk ke karang ini? Lalu aku menyadari bahwa perburuan ini terlalu berbahaya ketika melihat seperti apa ikan-ikan besar itu. Cukuplah bahaya itu dihadapi kami para pendekar, yang memang diberkahi Dewa Nurakarun kemampuan untuk bertempur melawan ikan besar itu.

 

Aku menapakkan kaki lebih dulu di karang dibandingkan rekan-rekanku. Sesuai perjanjian, aku berhak memilih peralatan sesuai keinginanku. Aku mengambil tombak berwarna hijau. Panjangnya empat kali lipat tubuhku dan tebalnya sesuai genggamanku. Berkah Dewa Nurakarun menyebabkanku mampu membuat tombak ini tidak terasa berat, sehingga mudah bagiku untuk memutar-mutarnya di atas kepala dengan sebelah tangan. Aku siap menombak ikan-ikan itu tepat ke jantungnya!

 

Cuaca tiba-tiba memburuk ketika rekanku yang terakhir berhasil menyusul kami. Awan hitam bergulung-gulung mengirimkan hujan dan petir. Bagi pendekar ombak seperti kami, sebenarnya  badai ini adalah momentum puncak. Karena ada beberapa ikan-ikan legendaris yang biasanya muncul hanya saat badai. Dahulu ibuku pernah sekali mengalaminya. Dia begitu bangga namun juga sedih, karena dari dua puluh pendekar, hanya dia dan Bakrun yang selamat.

 

Biarpun menimbulkan korban banyak, Ikan legendaris itu dipercaya membawa manfaat bagi desa kami. Tak lama setelah mengkonsumsi daging ikan legendaris itu dalam perayaan, para wanita desa yang konon sulit mendapat anak padahal sudah bersuami lebih dari dua, mendadak menjadi subur, dan beranak banyak. Tak lama setelah anak-anak terberkahi itu lahir, Bakrun naik pangkat menjadi dukun ganggang yang baru. Dan banyak lagi kisah-kisah yang diceritakan ibuku terkait keajaiban ikan legendaris itu sebelum ia wafat di pelukanku pada malam itu.

 

Bersama kami memainkan logam-logam segi lima yang saling berkaitan seperti rantai panjang mengelilingi puncak karang; memanggil para ikan besar yang terseret ke perairan ini akibat tsunami kemarin. Dentingan alat ini memekakkan telinga dan justru lebih berat daripada senjata-senjata yang ada. Sambil didentingkan, ke satu sama lain, kami juga harus meniup lubang-lubang segitiga sembari membuka tutup lubang-lubang segiempat demi mendapatkan melodi yang tepat dan padu. Sesi pertama diakhiri dengan dengungan panjang yang membuatku merinding hingga ke tulang. Pada saat dengungan berlangsung, para pendekar bergantian: meninggalkan alatnya lalu bergerak ke puncak karang untuk menyanyikan mantra dan yang lainnya meninggalkan alatnya untuk maju turun ke dekat air lalu menampar-nampar permukaan air dengan irama cepat. Setelah dengungan panjang itu berhenti, kami kembali ke alat musik dengan membawa senjata, lalu membanting, menyerang, mengamuk membuat dentingan-dentingan kacau balau mengerikan.

 

Teorinya, ikan-ikan yang semula terhipnotis akan mendadak menjadi sinting. Kamipun kalau tidak diberkati Dewa Nurakarun mungkin juga akan terpengaruh. Puji Dewa Nurakarun! Lindungilah aku dan rekanku. Biarkan kami sukses membawa ikan-ikan besar! Dan Puji Dewa Badai siapapun namamu! Biarkan badaimu itu mempertemukan kami dengan ikan legendaris itu! Pendekar Ombak berjaya!

 

Ombak-ombak mulai berdatangan. Menjulang setinggi puncak karang ini. Dan warnanya kemerah-merahan. Melalui mataku yang basah karena hujan badai, Aku bisa melihat ikan-ikan besar menumpang ombak itu. Dan walaupun sudah biasa menghadapi bahaya ini, tetap saja jantungku gaduh dan lututku sempat lemas. Aku wanita dan merupakan pendekar ombak paling kuat di sini. Tidak boleh menunjukkan kelemahan karena itu akan mempengaruhi nyali rekanku. Setelah kesulitan menelan ludah dan menghisap udara asin dalam-dalam, aku menghembuskan udara bersama bunyi dari tenggorokanku. Bunyi itu aku kendalikan menjadi sebuah teriakan pertempuran yang mampu menembus berisiknya petir dan hujan.

 

“Pendekar Ombak!

“Mari menyambut berkah dari para dewa!

“Nurakarun di sisi kita!”

 

Aku memantau. Memperkirakan mana ombak dengan ikan-ikan yang paling berbahaya. Kemudian aku memerintahkan rekan-rekan yang kurasa tidak mampu menghadapinya untuk menjauh dari ombak itu. Intinya aku harus jeli memberikan perintah-perintah dalam waktu sangat singkat ini untuk memastikan keseimbangan antara kekuatan rekanku dengan ikan yang dihadapinya. Persiapan tepat waktu, selesai komandoku dilaksanakan, mulailah ombak-ombak itu berhamburan menghantam karang.

 

Ombak yang datang dari segala arah itu bersatu menjerat kami di tengah. Air bertubi-tubi menenggelamkan karang dan kami dalam waktu yang singkat. Senjata-senjata kami yang terberkati mulai berkedip-kedip dalam prosesnya menetralkan arus deras mematikan itu. Sesaat kemudian kami seperti berada di dalam akuarium berbentuk tabung tepat di atas karang; di kelilingi ikan-ikan besar berwarna kemerahan yang sudah siap menerkam kami.

 

Suasana berada di dalam tabung itu adalah ilusi akibat terjadinya peningkatan kesadaran yang berlipat-lipat; berkat Dewa Nurakarun. Ini adalah momen-momen penting setiap pendekar ombak untuk berpikir jernih tentang hal-hal apa yang harus dilakukan tubuhnya ketika ilusi sesaat ini hilang dan harus kembali ke kenyataan yang deras, cepat, dan tidak kenal ampun.

 

Aku berencana akan merunduk untuk menusuk ikan di hadapanku itu dari bawah. Aku perhatikan lekat-lekat jalur itu, apakah akan ada hambatan? Mungkinkah aku tersandung sesuatu? Setelah kupastikan aman, kuperhatikan perut ikan itu yang berwarna hitam kemerahan, dalam detilnya ada sisiknya yang agak terkelupas; nanti akan kutusukkan tombakku di situ. Lalu bagaimana jika aku tidak cukup cepat untuk merunduk dan menusuk? Aku persiapkan diri juga untuk melompat mundur menggunakan tombakku sebagai penopang, untuk kemudian menapakkan kaki kepada miringan karang demi melesat kembali ke depan sembari mencari target tusukan ke wajah ikan itu.

 

Persatuan ombak yang membentuk akuarium sesaat itu runtuh. Aku dan para pendekar mulai beraksi.  Mengikuti irama air yang dengan kejam turun ke bawah sambil menarik kami untuk jatuh. Berat. Kedua rencanaku gagal. Ikan itu berhasil memasukkanku ke dalam rahangnya. Bertaruh dengan momentum, aku justru melesat ke dalam mulutnya secepat-cepatnya supaya tidak tergigit taring-taringnya. Aku berhasil lolos dari gerakan menggigitnya yang dahsyat, namun gagang bagian belakang tombakku terjepit. Hal itu menyebabkan rencanaku untuk terus melaju masuk ke dalam perut untuk menembus menyobek ikan itu dari dalam menjadi gagal.

 

Ikan besar ini rupanya paham, jika ia tidak melepas gigitannya, maka ia akan selamat dari tusukan dari dalam. Tombak ini terlalu kuat untuk dipatahkan oleh gigitan ikan ini ataupun diriku sendiri. Jadi, apakah sebaiknya aku melepaskan saja tombak ini lalu meneruskan rencanaku dengan tangan kosong? Aku harus menentukan keputusan secepatnya, karena ikan ini sudah menyelam ke dalam laut; air deras menenggelamkanku. Mungkin memang sudah saatnya aku mati? Sayang sekali, aku belum sempat bertemu dengan ikan legendaris yang diceritakan ibu.

 

Aku menahan nafas cukup lama dan jantungku sudah sangat gaduh dan paru-paruku terasa pedih. Menanti dan menanti. Sambil memerhatikan terus keadaan sekeliling; melepaskan tombak, meraba-raba dinding mulut ikan, mencari kemungkinan-kemungkinan. Aku coba mengintip ke seberang lubang dalam sana yang gelap, sekali lagi aku bimbang, apa dengan tangan kosong bisa? Dalam kebimbangan itu tubuhku terjatuh lemas. Aku terbatuk dan menenggak air laut dengan jumlah yang cukup banyak sehingga isi perutku panas dan kepalaku pening.

 

Aku dahulu sering berkali-kali terjebak dalam situasi berbahaya. Orang-orang bilang aku ini adalah orang yang sangat beruntung dan diberkati suatu dewa langit yang sangat dermawan. Dan juga dari pengalaman-pengalaman itu membuatku mampu tetap berusaha menjaga pemikiran dingin. Jangan panik. Jangan mati.

 

Di sudut mataku yang kanan, aku melihat sisa tubuh ikan besar ini tiba-tiba hilang setelah terjadi hentakan yang mengejutkan. Sesaat aku bisa melihat sebuah bola mata berwarna emas melalui tubuh ikan yang sobek ini. Itu dia. Ikan legendaris! Ikan emas! Ikan emas itu memangsa ikan ini. Aku melirik ke kiri, lalu melesat mencabut tombakku dari gigitan ikan yang sudah mati dan tidak bertenaga ini. Kemudian aku bergegas keluar melalui sobekan. Di tengah laut. Berenang. Dekat sekali dengan tubuh panjang ikan emas legendaris ini!

 

Aku meraih salah satu sirip ikan emas itu. Sialnya Ikan ini kemudian bergerak ke arah dasar laut. Aku mengambil inisiatif untuk menusuknya dengan tombak. Berhasil mengambil perhatiannya; kepalanya yang berkilauan berbalik arah dan mencoba menerkamku. Mungkin tubuhnya memang panjang, namun tidak cukup untuk membentuk lingkaran demi menerkamku, jadi kini tubuhnya berputar-putar cepat sekali; aku berpegangan erat saja terus sambil terus menekan tombakku dalam-dalam. Beruntung akibat gerakan memutar ini adalah pergerakan kami menuju permukaan laut.

 

Guntur yang sangat keras menyambut telingaku ketika aku dan ikan legendaris ini mencapai permukaan. Ikan ini kemudian melompat tinggi. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil menyerukan, “Nurakarun di sisiku! Bidik dengan Legendalest!”

 

Sekilas aku melihat jumlah rekan-rekanku sudah berkurang. Narkania dan Yonarkon tidak ada. Namun rekanku lainnya terlihat sehat, semangat, dan mampu mengatasi banyak ikan-ikan. Beberapa menyadari kehadiranku, lalu bersorak-sorai, lalu bersama-sama menyerbu ikan emas legendaris ini sebelum ia jatuh kembali ke laut.

 

Terlihat tiga pendekar mengangkat sebuah busur mekanik raksasa, menembakkannya. Anak panahnya yang diikat dengan tali kuat berhasil menancap di leher ikan ini sebelum ia akhirnya tenggelam kembali ke laut; aku masih di dekat ekornya.

 

Gerakan ikan ini sudah tidak berputar-putar lagi. Rupanya ia sadar bahwa tiada gunanya. Kali ini si ikan legendaris berusaha mengenyahkanku dengan berenang ke sedalam-dalamnya laut. Namun para rekan pendekarku tentu saja tidak akan membiarkannya lepas. Ikan ini sudah tertembus anak panah busur mekanik raksasa kami, Legendalest!  Ia kini sempat tersentak dan terdiam ketika tali Legendabalest mencapai batas panjangnya. Namun setelah itu aku bisa merasakan pergerakan renang yang luar biasa berenergi. Energi renang ini bisa menyebabkan tali Legendabalest putus! Aku putuskan untuk mencabut tombakku. Renangnya terhenti sesaat. Berlanjut lagi. Aku melepaskan diri dari tubuhnya. Lalu berputar mencari sela insang. Kutusukkan tombakku sedalam-dalamnya sekencang-kencangnya.

 

Setelah bergetar hebat untuk beberapa lama akhirnya ia diam dan menemukan kedamaian. Aku kembali berenang untuk memeluk sisi ekornya. Dengan lemas aku menanti diri kami ditarik ke atas oleh rekan-rekanku.

 

Kami berhasil. Pulang membawa banyak ikan besar yang segar dan juga seekor ikan emas legendaris. Hal itu menyebabkan rasa suka cita yang besar, namun tetap saja tidak mampu menutupi rasa duka terhadap dua pendekar yang gugur. Selamat jalan Narkania dan Yonarkon. Dan aku ingin tidur yang lama dahulu.

 

 

Aku rupanya benar-benar tidur lama. Dua hari dua malam. Aku bermimpi sangat indah, yaitu bahwa pada akhirnya aku akan memiliki seorang bayi yang sangat luar biasa tampan.

 

Ketika aku bangun suasana desa agak janggal. Bersama kelima suamiku aku bergerak menuju tempat di mana orang-orang desa sedang berkumpul; mereka mengelilingi bangkai ikan emas legendaris yang digantung dialun-alun.

 

Perut ikan itu terlihat membengkak. Ada cahaya kedap-kedip dari dalamnya. Seorang rekan pendekar ombak menghampiriku untuk memberitahuku bahwa dukun ganggang Bakrun menolak menyertakan ikan ini kedalam menu masakan pekan raya nanti. Bahkan dukun ganggang itu memerintahkan untuk membuang ikan ini. Namun hanya yang membunuh ikan inilah yang berhak memutuskan, dan itu berarti adalah hakku.

 

Aku menanyakan pendapat rekanku itu tentang perut ikan yang membengkak ini. Mungkin telur jawabnya. Dan sepertinya, para penduduk desa memang berharap bahwa itulah yang ada di dalam perut si ikan. Karena yang ditolak dukun ganggang adalah ikannya, bukan telurnya. Jadi,  karena aku peduli kepada keinginan para penduduk desa, aku mengumumkan isi benakku yang berniat membuka perut itu dan jika memang isinya telur-telur, maka akan kuserahkan kepada penduduk desa untuk dimasak di pekan raya.

 

Dua orang rekan pendekar ombak lainnya datang kepadaku. Ditangan mereka terdapat golok keramat yang disediakan khusus untuk situasi-situasi penting terkait seluruh penduduk desa. Setelah berada di tanganku, mendadak tubuhku terasa lemas; suami-suamiku segera menopangku. Aku mencoba menghapus kecurigaan bahwa golok ini mendadak menyerap tenagaku, dengan dalih bahwa aku baru bangun dan masih mengantuk.

 

Aku menghampiri perut ikan itu. Bengkaknya besar sekali. Aku merasakan sesuatu yang lebih membuatku tertekan dibandingkan dengan efek golok ini sendiri. Aku gemetaran. Mengangkat tanganku siap menyobek perut ikan itu. Berhenti. Aku menoleh ke arah penduduk, memberikan mereka isyarat untuk menjauh. Lalu mulai aku belah perut itu.

 

Pertama-tama adalah semburan kabut berwarna hitam keluar darinya. Aku sempat mengira bahwa hitam-hitam ini adalah sejenis tinta dari gurita atau cumi, namun aku salah, dan cairan hitam pada kabut ini terasa jauh lebih pekat dan  lengket. Terhirup pula kabut itu, sehingga aku terbatuk hebat, menyebabkan golok ditanganku jadi bergerak-gerak tidak terkendali. Perut itu terbelah lebih lebar karenanya, dan aku juga merasa memotong sesuatu yang tebal. Telur?

 

Benda yang menggelinding itu keluar dari perut ikan itu bukan telur. Sebagian penduduk menjerit histeris. Aku ternganga.

 

Kepala bayi.

 

Kejutan selanjutnya adalah, kepala itu kemudian tertawa sejenak, lalu terisak, lalu tertawa lagi.

 

Mengira melihat perwujudan setan, beberapa pendekar ombak yang ketakutan segera menghunuskan senjata mereka dan bergerak cepat hendak menghancurkan kepala bayi itu.

 

Tanpa diduga tanganku bergerak mengerahkan golok keramat ini untuk menghentikan rekanku. Mereka terkejut. Aku juga.

 

Aku duduk berlutut. Mengamati kepala bayi itu lebih dekat. Kulitnya berwarna kehijauan dan terdapat tulisan-tulisan biru menyelimutinya. Juga terdapat benjol-benjol tidak lazim di wajahnya. Matanya merah. Dari lubang hidung dan telinganya mengalir cairan kuning berbau busuk.

 

Belum pernah aku melihat bayi seburuk rupa itu. Dan ketika aku sedang terpaku di tempat, aku tidak menyadari bahwa tubuh bayi itu sudah merangkak di sampingku. Tangan-tangan kecilnya meraih kepala itu, lalu menempatkannya kembali di leher. Tersambung. Sempurna.

 

Rekan-rekanku yang tadi, hendak bergerak menyerang lagi. Namun aku segera aku bentak dengan keras. Aku merangkak mendekati bayi kehijauan yang bercorat-coret biru di sekujur tubuhnya itu. Lalu memeluknya. Hangat. Dan rupanya bayi itu secara instingtif menyelinap, membuka, dan meraih payudaraku untuk dihisapnya.

Pertama sakit. Aku mengintip dan melihat dadaku jadi belepotan merah karena berdarah. Kemudian rasa sakit itu tersapu oleh ekspresi bayi ini yang begitu puas dan penuh rasa syukur.  Aku berdiri sambil menggendongnya. Mengumumkan kepada penduduk desa bahwa aku akan mengadopsinya

 

Sudah lama aku menginginkan bayi. Bahkan setelah memiliki lima suami, tidak ada dari mereka yang mampu memberikanku bayi. Oleh karena itu, aku akan merawat bayi ini dengan sepenuh hati. Tidak peduli akan tuduhan-tuduhan penduduk desa atas kutukan-kutukan yang mungkin ada bersamanya. Sesuatu yang berhasil bertahan hidup dalam kondisi mengenaskan seperti ini, memperlambangkan suatu kekuatan bukan? Kekuatan yang luar biasa. Ya aku bisa merasakannya di dada ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s