Naskah Pidato Saya: Sisi Buruk Statism

Sasmito Yudha Husada

3-E/29

Salam sejahtera untuk kita semua. Semangat belajar untuk teman-teman mahasiswa. Semangat mengajar untuk Bapak Dosen Sukasdi. Saya di sini akan menyampaikan pidato tentang sisi buruk dari statism. Saya mengharapkan pidato ini akan mampu menyentil kesadaran kita. Karena kita memiliki potensi untuk turut membentuk negara ini dari dalam. Our state. Our ugly statism mechanism.

Kata statism itu sendiri berasal dari kata state yang bermakna negara. Statism adalah paham yang menyatakan bahwa, adanya sebuah pemerintahan yang memiliki kuasa atas ekonomi dan kebijakan-kebijakan umum, merupakan cara ideal untuk mengatur manusia bermasyarakat. Macam-macam statism misalnya adalah: minarchism, totalitarianism, welfare state, dan sebagainya.

Sebelum membahas keburukan statism lebih jauh, saya akan memperkenalkan filosofi kemerdekaan. Mengapa? Karena kemerdekaan adalah salah satu korban utama dari statism.

Teman-teman hidup dalam masa depan, sekarang, dan lampau. Ketiganya terwujud dalam nyawa, kemerdekaan, dan hasil jerih payah nyawa atas kemerdekaan yang biasa disebut properti.

Kehilangan nyawa berarti kehilangan masa depan, contohnya adalah pembunuhan. Kehilangan kemerdekaan berarti kehilangan masa sekarang, contohnya adalah perbudakan. Kehilangan properti berarti teman-teman telah kehilangan sebagian masa lalu, contohnya adalah perampokan.

Teman-teman berhak melindungi diri dari ancaman-ancaman itu. Teman-teman berhak mencari pemimpin untuk mengkoordinasikan perlindungan. Namun teman-teman tidak berhak memaksakan sistem kepemimpinan itu kepada orang lain yang tidak mengkehendakinya, apalagi jika dalam sistem kepemimpinan itu terdapat banyak sekali pelanggaran-pelanggaran kemerdekaan seperti yang terjadi pada statism.

Properti, nyawa, dan kemerdekaan terus terancam dan tertindas akibat statism. Pajak merupakan perampokan oleh negara, sebuah pelanggaran properti. Perang dan eksekusi merupakan pembunuhan oleh negara, sebuah pelanggaran hak hidup. Wajib militer merupakan perbudakan oleh negara, sebuah pelanggaran kemerdekaan. Dan banyak lagi.

Statism membentuk susunan masyarakat menjadi bertingkat-tingkat dan terkonsentrasi seperti gunung. Penguasa-penguasa di atas menginjak yang ada di bawahnya. Posisi-posisi puncak ini sungguh menarik banyak orang. Termasuk orang-orang rusak yang tergiur akses terhadap sumber daya terkait posisi puncak yang diincarnya. Bagaimana jika orang-orang rusak ini yang berhasil berada di puncak? Bukankah itu yang sesungguhnya berulang kali terjadi di dunia ini?

Salah satu contoh paling nyata dan keras bahwa orang-orang rusak itu berada di puncak-puncak statism adalah perang. Dalam sebuah perang, apapun kata-kata indah yang menghiasinya, entah itu patriotisme, entah itu perang suci, entah itu revolusi, entah itu pembebasan, tetap saja merupakan sebuah akumulasi dari pelanggaran filosofi kemerdakaan dalam bentuk pembunuhan, perampokan, dan perbudakan.

Mari pikir dengan akal sehat. Apakah teman-teman mau dibunuh? Apakah teman-teman mau rumah teman-teman dibom? Apakah teman-teman mau ayah teman-teman dipaksa bertaruh nyawanya di medan perang atas perintah orang-orang dari puncak statism? Apakah pembunuhan, perampokan, perbudakan oleh negara itu baik?

Mari mengingat sejarah. Mengapa perang terjadi berulang-ulang? Salah satu alasannya adalah pemimpin puncaknya rusak, korup, dan busuk yang mendapatkan kekuasaannya melalui statism.

Orang-orang macam ini mudah mencari statism, karena statism sudah mengakar dan dipuja berbagai negara. Sisi narcissm dari statism mewujud pada batas-batas wilayah imajiner yang memecah belah ras manusia. Membuat mereka yang dungu terlibat kebanggaan palsu statism. Seperti:

“Negaraku lebih besar dari negaramu.”

“Negaraku punya minyak, kamu tidak.”

“Negaraku punya pariwisata yang jauh lebih menarik daripada negaramu.”

Dari statism, akan muncul nationalism. Dari nationalism, masyarakat mudah diarahkan untuk menumbuhkan nationalism yang buruk. Pernahkah teman-teman selama ini mendengar orang-orang mengutarakan amarahnya terkait konflik Indonesia-Malaysia, dan mereka mengucapkan kata-kata keji beraroma kekerasan? Bahkan menyeru-nyerukan perang?!

Einstein, seorang fisikawan brilian pernah berkata, “Nasionalisme adalah penyakit kekanak-kanakan. Sebuah campak bagi ras manusia.”

Jika perang adalah penyakit keras yang dah terdeteksi oleh perhatian kita. Maka perpecahan masyarakat menjadi kelas-kelas akibat hierarki statism itu merupakan penyakit yang lebih tersembunyi, umpama HIV dalam sunyi yang menanti saat untuk berubah menjadi AIDS.

Oppenheimer mengutarakan bahwa, ada dua cara untuk mendapatkan harta. Yaitu melalui cara-cara politik dan cara-cara ekonomi. Harta yang didapat melalui cara-cara politik melibatkan pelanggaran-pelanggaran filosofi kemerdekaan dengan paksaan-paksaan hukum statism. Harta dari cara-cara politik cenderung tidak produktif dan penuh kebusukan. Sementara harta yang didapat melalui cara-cara ekonomi didapat melalui interaksi yang dikehendaki oleh masing-masing pihak. Harta dari cara-cara ekonomi cenderung produktif dan memberdayakan. Dalam statism terjadi net gain bagi penguasa, dan net loss bagi pasar.

Maksudnya adalah, statism menyebabkan masyarakat terbagi menjadi berkelas-kelas. Yaitu kelas yang berkuasa dan mampu mengeruk manfaat dari keberadaan negara atau state, contohnya adalah para pejabat dan pegawai yang menikmati pajak tanpa hasil kerja yang setimpal, juga pengusaha-pengusaha besar yang mendapatkan keuntungan-keuntungan akibat lobi dan kerja sama busuknya dengan pihak-pihak pemerintah melalui politik dalam tangga hierarki statism.

Kelas yang satu lagi terdiri dari pihak-pihak yang tertindas akibat keberadaan negara atau state, contohnya adalah pedagang-pedagang kecil menengah yang menderita akibat dirampas hartanya melalui pajak, dipersulit usahanya dengan peraturan-peraturan birokrasi penuh pungli dan pemerasan, juga masyarakat yang menderita karena properti-properti leluhurnya dirampas oleh negara untuk kedian dieksploitasi dengan sewenang-wenang.

Namun ingat! Orang-orang yang di kelas atas bisa sewaktu-waktu turun ke bawah, dan yang di bawah bisa sewaktu-waktu naik ke atas. Orang-orang yang berada di atas, akan terus berusaha melindungi posisinya dengan berbagai cara. Dengan pencitraan, dengan pengalihan isu, dengan indoktrinasi dan edukasi yang mendukung pemujaan terhadap statism. Mereka juga bahkan tidak ragu melaksanakan kekerasan, eksekusi, dan pembunuhan untuk melindungi tahta mereka.

George Carlin, seorang komedian tenar dari Amerika Serikat pernah berkata kurang lebih begini, “Kelas atas akan terus menikmati uangnya, kelas tengah akan terus membayar pajak dan bekerja keras, sementara kelas yang paling bawah, yang miskin dan dianggap memiliki kehidupan menderita, berperan sebagai alat untuk menakut-nakuti kelas menengah untuk terus bekerja keras sebagai budak kelas atas demi menyelamatkan diri dari kemelaratan kelas bawah.”

Masih banyak lagi yang bisa dibicarakan terkait sisi buruk statism. Namun cukuplah sampai di sini penyampaian saya. Jika dalam hati teman-teman bertanya-tanya, lalu apakah alternatif dari statism? Tentu banyak juga jawabannya dari berbagai versi, namun dari saya sendiri, menyarankan, cari tahulah Agorism. Tidak perlu melawan statism dengan kekerasan atau perang, kalau kita bisa menghadapinya dengan counter-economics dalam Agorism.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s