Golput Senjata Rahasia Rakyat

Ingatlah, propaganda ada bukan untuk mengangkat derajat manusia, bukan untuk membebaskannya, propaganda selalu ada untuk mengajaknya menjadi pengikut dan pelayan yang merasa puas, umpama kerbau dicocok hidungnya yang merasa nyaman tinggal di kandang padahal sebentar lagi disembelih untuk dijadikan bahan pesta, laksana bocah-bocah ingusan yang mendaftar perang karena dijanjikan kejayaan perang lalu berakhir di kuburan massal.

Golput sebagai senjata rahasia rakyat? Saking rahasianya, sampai banyak yang terbodohi propaganda bahwa golput merupakan perbuatan tak bernyali.  Padahal justru sebaliknya, golput dapat menjadi modal bagi terjadinya peristiwa yang memerlukan nyali jauh lebih tinggi daripada memilih suara. Namun di sini saya tidak berniat berdebat bahwa golput lebih baik daripada memilih, begitu juga sebaliknya; karena saya sendiri mungkin akan golput, mungkin juga tidak. Di sini saya hanya akan sedikit bicara terkait beberapa pendapat yang kebetulan sedang saya ingat dan saya rasa kurang logis.

 

1. “Tidak memilih itu tidak bertanggung jawab! Tidak memilih menyebabkan politisi yang tidak pantas jadi terpilih!”

Ini namanya memutarbalikan fakta. Jika anda mau menggunakan otak anda sedikit saja sudah jelas bahwa yang menyebabkan politisi zalim terpilih adalah orang-orang yang turut berpartisipasi memilih pada saat pemilu, yaitu segolongan dengan para pemuja pemilu, camkan itu.

Lalu mengapa menyalahkan yang tidak turut berpartisipasi alias golput? Ini namanya mental tempe yang tidak mau mengakui kesalahan golongan sendiri lalu mencari kambing hitam, umpama seseorang yang menyalahkan ketidakadaannya hujan ketika rumahnya kebakaran, ketimbang mengakui bahwa kecerobohannyalah yang menyebabkan rumah terbakar.

Misal:

30% rakyat golput, 70% memilih, lalu di antara 70% itu terjadi perebutan suara, kemudian menang suatu partai X dengan suara 40%. Namun kemudian diketahui bahwa ternyata partai itu zolim.

Mungkin logika anda adalah seandainya JIKA dahulu, 30% golput itu turut memilih partai lain sehingga partai X zolim itu tidak terpilih maka segalanya akan lebih baik. Tapi sekali lagi, tolong camkan ini adalah JIKA-JIKAAN saja, yaitu hanya sekadar PERANDAI-ANDAIAN, yang belum tentu terjadi. Bagaimana jika 30% yang golput itu jika turut berpartisipasi dalam pemilu justru mendukung partai X zolim? Justru semakin menguatkan legitimasi kezoliman bukan? Mengkambinghitamkan pihak lain hanya berdasarkan perandai-andaian itu bagai memfitnah saudara sendiri karena fantasi di otak saja.

 

2. “Jangan Golput! Jangan biarkan hak suara anda yang tidak tepakai kemudian direkayasa pihak-pihak tidak bertanggung jawab!”

Saya cuma bisa tertawa dan berpikir, jika anda begitu tidak percaya pihak pemerintah tidak mampu menjaga proses pemilu, bagaimana anda bisa yakin pemerintah mampu menjaga proses pemerintahan? Menyalahkan pihak golput atas hak suara yang direkayasa itu umpama menyalahkan korban perkosaan atas tragedi yang menimpa korban tersebut. Tidak berani melihat siapa yang sesungguhnya salah, hanya berani menunjuk yang lebih lemah di matanya untuk turut berlagak punya moral.

 

3. “Golput itu sikap pesimis! Menyerah sebelum berusaha! Menunjukkan ketidakpedulian terhadap nasib bangsa!”

Ini mungkin benar mungkin salah tergantung individunya.

Ada logika seperti ini, turut berpartisi dalam pemilu justru merupakan suatu bentuk apatisme. Ketika orang-orang merasa dengan menyumbang satu suara maka proses demokrasi sudah berjalan, kemudian mereka kembali ke kehidupan masing-masing dan dengan santai menanti siklus pesta demokrasi selanjutnya beberapa tahun lagi, sembari sesekali mungkin mengomel di depan televisi ketika menyimak siapa-siapa yang ia pilih kemudian bertindak zalim; ini adalah suatu apatisme.  Para pemilih dalam pemilu dapat disebut tidak apatis jika, setelah calonnya terpilih, ia akan terus memusatkan sebagian besar perhatian dan waktunya untuk memantau orang yang ia pilih, dan tidak akan tidur tenang lalu berusaha keras mencopotnya ketika orang yang ia pilih ternyata zalim.

Ada juga logika seperti ini, pesimisme pada suatu bentuk itu menciptakan ruang untuk optimisme pada bentuk lain tumbuh. Jika ada individu yang pesimis lantas golput, bisa jadi ia justru sangat optimis. Ia optimis terhadap bentuk yang lain. Misalnya, ia optimis terhadap Direct Democracy bukan Representative “Democracy”.  Atau mungkin juga ia optimis terhadap Consensus Decision Making karena ia merasa “democracy” apapun akan menindas minoritas. Pertimbangkan, baik Direct Democracy maupun Consensus Decision Making  mungkin membutuhkan nyali dan sikap aktif yang jauh lebih menuntut kepada rakyat daripada memilih calon perwakilan. Jadi belum tentu golput itu sikap pesimis.

 

4. “Golput tidak akan berpengaruh apa-apa! Percuma! Sia-sia! Mau semakin banyak yang golput, pemilu tetap akan jalan dan calon terpilih akan tetap dilantik!”

Saya jadi heran, kalau memang tidak ada pengaruhnya lalu mengapa mereka berkoar-koar mengkampanyekan anti golput? Sesungguhnya ada pengaruhnya, namun mereka tidak mau orang banyak tahu.

 

Misal:

Bayangkan pada suatu pemilihan, partai X terpilih. Lalu bayangkan partai X memerintah dengan baik. Meskipun tingkat golput banyak atau sedikit, jika partai tersebut memerintah dengan baik tentu tidak ada kerugian dan tidak ada penyesalan kan?

Sekarang bayangkan, jika pada suatu pemilihan terpilih partai Z dan ternyata partai Z memerintah dengan zalim. Ketika tingkat golput sedikit, para pegawai yang terlibat dalam pemerintahan zalim tersebut merasa tidak bersalah dan merasa pemerintahan itu adalah hak, maka pihak-pihak yang tertindas cenderung takut untuk bersuara. Sekarang bayangkan jika tingkat golput sangat tinggi; pemerintah yang berniat zalim akan gemetar duluan terhadap potensi dari massa golput yang dapat menjadi motor pergerakan perlawanan jika terjadi penindasan.

Inilah senjata rahasia rakyat. Senjata yang tidak akan melukai siapapun pada pemerintahan yang baik. Namun siap menikam jika tahta diduduki para pendurhaka.

Asal-usul golput memang sebenarnya berasal dari era Orde Baru, ketika rakyat muak dengan apapun pilihan mereka hasilnya akan sama saja. Namun apakah ketika sudah berganti  ke era reformasi lantas kita boleh melepaskan kewaspadaan? Apakah ada jaminan bahwa di masa depan tidak akan ada orang zalim naik tahta?

 

Kesimpulan:

Saran saya, ikutlah memilih jika anda SANGAT YAKIN pada calon yang anda pilih. Lalu sakit hatilah, lalu marahlah, lalu mengamuklah sejadi-jadinya sedamai mungkin dengan segala metode yang dapat anda gunakan jika kemudian anda tahu calon anda rusak.

Janganlah memilih jika anda ragu, tidak hanya ragu kepada calon, namun juga ragu kepada sistem.  Lalu pikirkanlah solusi, perbaikan-perbaikan yang bisa anda kerjakan sendiri dengan tangan anda dengan jerih payah anda. Jika berani, pikirkan dan cari juga alternatif-alternatif sistem yang belum pernah anda ketahui, teliti, lalu renungkan.

Selalu ingat, dunia ini begitu luas, dan sejarahnya begitu panjang, tidak ada negeri yang akan bertahan selamanya, dan berdasarkan bukti arkeologis pada tulang-tulang manusia, ketika kekaisaran romawi runtuh nutrisi rakyat justru meningkat.

 

 

“Dubium sapientiae initium.
Doubt is the origin of wisdom.”
-René Descartes-

Advertisements

2 thoughts on “Golput Senjata Rahasia Rakyat

  1. Top markotop!

    Maknyus artikel anda Mas.

    Dan ya, bahkan di negara2 penjunjung demokrasi saja golput adalah hal yang wajar. Selalu ada yang golput karena berbagai alasan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s