Ulasan: Legendary Moonlight Sculptor

Saya memutuskan untuk berhenti membaca Legendary Moonlight Sculptor sampai volume 10. Keputusan tersebut dibuat dengan pertimbangan saya ingin membaca dan ingin melakukan hal lain. Namun selama 10 volume itu sudah cukup untuk membuat saya terhibur, sehingga saya terdorong untuk mengulasnya sedikit.

Legendary Moonlight Sculptor mengisahkan sepak terjang seputar kehidupan remaja korea bernama Lee Hyun.  Yang membuat kisah ini menarik adalah bagaimana ia jatuh bangun menghadapi berbagai permasalahan yang menjegalnya, petualangan-petualangan fantastisnya dalam dunia Royal Road, pengabdiannya pada nenek dan adiknya, kisah bagaimana ia menjalin hubungan dengan berbagai pemain Royal Road lain, sifat-sifat rakus dan pelit Lee Hyun yang kadang lucu namun menjadi sesuatu yang keren ketika disertai dengan berbagai kecerdikannya memanipulasi orang, dan jangan lupa pada para Geomchi! Meski sebenarnya beda jauh, entah kenapa sosok para Geomchi ini mengingatkan saya kepada Prinny di seri Disgaea, mereka kocak!  Oh ya, membaca Legendary Moonlight Sculptor ini mampu membuat saya merasakan nostalgia mengingat masa-masa SMP dulu ketika memainkan Ragnarok Online.

Diceritakan bahwa Lee Hyun hidup dalam kemiskinan dan menderita teror dari rentenir sehingga ia putus sekolah demi bekerja. Karena ada undang-undang terkait larangan pekerja usia di bawah umur, nasib Lee Hyun justru semakin sulit, ia perlu sembunyi-sembunyi melaksanakan pekerjaannya yang dianggap illegal, atasan-atasannya pun sering memanfaatkan keberadaan undang-undang tersebut untuk membayarnya sesedikit mungkin karena Lee Hyun dapat dengan sangat mudah dipecat karena terancam hukum tersebut. Namun satu hal yang ganjil sekaligus menarik adalah, ditengah-tengah kemelaratannya itu, diceritakan pula bahwa Lee Hyun sempat-sempatnya merakit komputer murah untuk bermain game online Continent of Magic. Bahkan ia memainkannya dengan sangat serius hingga mencapai level tertinggi dan dikenal sebagai pemain terkuat pada game tersebut. Pada suatu hari, Lee Hyun memutuskan untuk menjual “Weed”, ID karakter Continent of Magicnya.  Ia memasang harga 50 ribu Won pada sebuah situs lelang, namun tanpa ia duga, IDnya laku terjual pada harga 3 miliar 90 juta Won. Namun kesialan menimpanya, rentenir menagih hutang almarhum ayahnya yang dahulu hanya 100 juta Won kini sudah berlipat-lipat terhitung jadi 3 miliar Won. Selain biaya membeli rumah baru dan pengobatan neneknya, sisa uang Weed akhirnya hanya 40 juta Won. Dengan sisa uang itu, Lee Hyun berniat mengulang kejayaan Weed pada sebuah game online baru yang sedang populer, yakni Virtual Reality Royal Road. Ia bersiap dengan belajar bermacam bela diri ke dojo-dojo, ia juga melakukan riset mendalam tentang Royal Road, dan tak lupa ia membeli kapsul Virtual Reality untuk bermain Royal Road. Ia bertekad untuk mampu menghasilkan uang juga dari Royal Road.

Dalam mencari class/job apa yang kira-kira cocok untuknya, Weed direkomendasikan oleh seorang NPC instruktur pelatih pedang supaya meminta saran kepada seorang NPC bijak penyendiri di tengah kota. Meski mengalami banyak kesulitan untuk menemui NPC tersebut, pada akhirnya ia diberikan sebuah Quest yang akan membawanya kepada sebuah jawaban. Quest tersebut ternyata sangat berat dan tidak sebanding jika disandingkan dengan Quest Job Change lainnya, sehingga, Weed baru dapat berhasil berubah Job pada level 68, dan sesuai judul seri ini, Job yang didapat Weed adalah “Legendary Moonlight Sculptor”. Sebagai “Sculptor”, Weed mengarungi dunia Royal Road dengan penuh derita dan seringkali dilecehkan pemain lain karena Jobnya yang dianggap tidak berguna. Saya sendiri pada awalnya juga sempat memiliki kepesimisan, “Sculptor” sebagai Job tokoh utama? Bagaimana bisa menarik? Namun setelah terus membaca, saya jadi kagum, bahkan tergoda untuk kursus memahat suatu saat nanti di masa depan jika sempat. Haha! Karena pada suatu bagian cerita, disisipkan sebuah logika yang cukup menarik disajikan: para ahli ilmu jaman dahulu, banyak juga yang memiliki keahlian mematung. Hal itu membuat saya langsung teringat kepada Leonardo dari Vinci, awesome man.

Oh ya, ada indikasi juga mungkin akan terbentuk plot cecintaan nantinya, namun sejauh ini sih selama 10 volume, belum ada sesuatu yang benar-benar eksplisit. Bahkan Weednya sendiri cenderung tidak peduli bahkan berprasangka buruk. Dan, HAHAHAHA, saat Weed berprasangka buruk itu, translatornya sampai menambahkan keterangan MEAN di dalam kurung:

 

“Until now she was able to speak but didn’t!”

There were numerous opportunities to speak, even when cooking or hunting, but so far, she had never so much as spoken a word, making the other party mistake her for a mute person.

“This must be a cruel trap. She will accuse me of ignoring her when she spoke and not doing something that I knew nothing about. Bad taste, such bad taste. How could there be a woman with such bad taste like this.” (this part was mean, really mean)

 

dan

 

“She said register friends right before she died! Female, you’ll have to find me first.”

Everyone drops items when they die. Weed believed when Seoyoon died, she worried about her dropped items and assumed that by adding him as a friend, she could leave her things with him who would never lose or sell her stuff! (this line was mean too)

 

Kejadian di atas itu justru terjadi saat … Seoyoon mengorbankan dirinya melindungi Weed dari terjangan tombak iblis serangan Bone Dragon. Juga, saat itu adalah saat pertama Seoyoon kembali mampu berbicara setelah cukup lama membisu akibat trauma mental masa lalu, dan kata-kata pertama itu adalah “friend” sebagai permintaan untuk mendaftarkan dirinya ke friend list Weed sesaat sebelum mati. Woahahaha! Good job Weed! Bisa terlihat watak Weed seperti apa? Ah, tapi segala rasa takutnya itu tidak tak beralasan. Dahulu, ketika pertama kali bertemu Seoyoon, Weed melihat tanda Player Killer pada Seoyoon, sehingga impresi pertama itu terus terbawa.

 

Sementara itu, hal-hal yang saya kira dapat disebut sebagai kekurangan dari seri LMS ini adalah sebagai berikut.

Jika anda ingin mencari narasi dan gaya bahasa yang indah, anda akan kecewa, karena narasi-narasi yang ada seakan ditulis dengan sesederhana mungkin yang penting cerita tersampaikan. Meski masalah dan derita datang silih berganti, namun saya rasa penulisnya masih kurang kejam terhadap Lee Hyun / Weed. Saya pikir Weed ini terlalu sering menang dan agak terlalu sering beruntung. Bermacam karakter lain di sekeliling Weed juga agak kurang diperdalam, seakan hanya sebagai cerminan untuk menggambarkan bagaimana rakus, bagaimana cerdik, dan bagaimana awesomenya si Weed ini.

Karena cerita LMS ini fokus pada Virtual Reality Royal Road yang memiliki unsur dominan RPG, kadang alur cerita jadi seperti terlalu berpola. Seringkali narasi perlu berulang-ulang menjelaskan setiap kali Weed memasak, memancing, mematung, menempa, memungut barang-barang dari monster dan menggunakan skill combat. Tapi anehnya, bisa dibilang hal-hal ini juga yang justru memberikan bumbu beda dalam LMS. Hal tersebut mendorong pembaca untuk lebih percaya bahwa ia sedang digiring ke dalam sebuah dunia game. Lagipula, setiap grinding skill berulang-ulang itu, sesekali muncul kejutan yang menarik, seperti misalnya skill-skill Weed dalam bidang sculpting yang menggugah, yakni bagaimana Weed dapat bertransformasi menjadi bentuk patung yang ia pahat, atau bagaimana Weed dapat memberikan ruh kehidupan kepada patung-patungnya sehingga dapat digunakan sebagai bala bantuan pertempuran.

 

Kesimpulannya, LMS ini sangat menarik untuk dibaca jika anda menginginkan bacaan ringan yang menyuguhkan berbagai petualangan seru, mulai dari berburu rubah dan serigala, membangun piramid, menyamar sebagai Orc memerangi Dark Elf dan Undead, menanam bermacam bunga di Valley of Death, dan menggempur Bone Dragon dengan bantuan Ice Dragon, Wyvern, Geumini, dan Undead.

 

Oh ya Geomchi! Jangan lupakan para Geomchi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s