Ulasan: Osralus Primum Libro

Jadi, karena waktu itu sedang gelisah dan kesepian, *uhuk* *uhuk*, saya memaksakan diri untuk ikut Emir Salim ke Comifuro supaya ada pengalihan pikiran sejenak. Yah, meski berniat tidak membeli apa-apa, namun apa daya, saya tergoda si ganteng Dimar Pamekas untuk membeli Osralus: Primum Libro.

Saat pertama melihat kovernya, saya langsung terpikir Dragon Age!

Mirip soalnya. Ada tulisan plus bercak merah.

Osralus Primum Libro?

Buka halaman ii, konsep: Tomi Sularso. Oh, Osralus kebalikan Sularso toh.

Ekspektasi: Total War antara Tech vs Magic.

Ternyata: Duh. Politik. Politik nanggung pula. Ah, ada yang segar untungnya.

Di antara setiap cerita ada lexicon yang mengisahkan seputar dunianya. Ya, menarik. Tapi bisa lebih baik jika setiap cerita yang diseling itu juga benar-benar turut menyatu menjadi satu kesatuan yang megah, dan bukan hanya jumlah dari tiap-tiap bagiannya. Atau, saya juga kepinginnya sih, tiga cerita pertama ada konsekuensi jelasnya yang menyebabkan peristiwa pada cerita keempat terjadi, kemudian cerita sisanya barulah terpencar lagi untuk mengisahkan dengan jelas perubahan-perubahan unsur peradaban yang terjadi seusai cerita keempat.

Berikut merupakan kesan-kesan singkat saya pada cerita-cerita tersebut:

Cerita pertama, Minum. Sebenarnya, mungkin inti ceritanya ada di satu paragraf saja, terkait bagaimana sebenarnya tidak perlu memiliki darah superior untuk dapat menggunakan sihir. Itu saja. Tapi untuk sampai ke poin itu, saya merasa cerita terlalu berputar ke mana-mana, ke duel sihir, ke bangsawan mabuk, kurang relevan aja jadinya. Sayang ide di satu paragraf itu jadi kurang dalam.

Cerita kedua, Dari Petang Hingga Fajar. Ada orang berbincang di kedai minuman. Lalu ada orang rusuh masuk. Lalu bertikai. Nah. Seandainya ceritanya lebih jelas, mungkin bisa saya nikmati. Tapi setelah tiba-tiba tempat itu diserbu panah api, cerita semakin kabur.

Cerita ketiga, Jan dan Penjaga Kubur. Dibandingkan cerita kedua, ini lebih enggak jelas lagi ceritanya, meski memang yang ini mengedepankan unsur misteri. Namun, penulis seakan-akan terlalu mencoba menutup-nutupi fakta cerita demi membangun suspense sehingga cerita jadi buram. Twist di akhir cerita juga terasa kurang penting.

Cerita keempat, The Bull of Minos. Nah. Ini yang ceritanya sejalan dengan ekspektasi saya. Seru dan jelas pula. Ada upaya sabotase oleh penyihir terhadap proyek Automata. Ada perang putus asa yang diusung para engineer melawan keperkasaan sihir. Dan ada Bull of Minos. HANCURKAN! GILAS!

Cerita kelima, Keraguan. Ini juga bersuasana mirip, dibanding tiga cerita pertama. Namun meski, jalan ceritanya tertebak, setidaknya, urutan peristiwanya jelas dan utuh. Saya sedikit lebih menikmati ini dibanding cerita pertama. Saya juga suka penyampaiannya. Tentang upaya seorang petinggi kerajaan yang entah hanya hendak menyelamatkan diri atau hendak menjilat atau benar-benar mengikuti alasan yang ia sebutkan dalam cerita; ia semacam tukang intrik pada momen-momen tertentu, dan kali ini, dengan memenggal kepala rajanya sendiri, lalu diberikan kepada pihak anti sihir. Haha.  Untuk apa hanya mencari kesetaraan, kalau bisa merampas kekuasaan di atas yang lain ya nggak? Hahaha. Dasar. Sama aja.

Cerita keenam, Berhala Bukit Dewa. Yang ini sebenarnya juga cukup samar-samar ceritanya. Namun ada suasana yang berbeda dibanding cerita lainnya. Ada kesegaran tersendiri. Mungkin karena cerita ini mengarahkan sorotan kameranya pada suatu setting suku, bukan bebangsawananan atau perkotaan. Mungkin juga karena pergerakan narasinya terasa lebih dekat ke tokohnya, tidak sejauh pada cerita-cerita sebelumnya.

Cerita terakhir, The Watchkington Club. Ini mungkin cerita paling pendek. Tapi juga yang paling mudah dinikmati. Juga mungkin yang paling segar. Gaya dan ceritanya ringan, namun berkesan. Tentang sebuah kelompok orang-orang sok elit bertemu. Oh juga ada referensi tentang perpaduan teknologi dan sihir yang mungkin memang diniatkan sebagai simbol perdamaian? Ayo terbang ke bulan!

Urutan cerita terfavorit:

  1. The Bull of Minos
  2. The Watchkington Club
  3. Keraguan

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung.

                Terima kasih untuk cerita-ceritanya.

Teruslah menulis! Yang lebih baik dan lebih seru tentunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s