Terima Kasih Kelompok OJT 18

There were too much data. My outdated brain couldn’t process them adequately in such a short time frame to do them justice. So I was just spitting slow, random, distracted, and almost-irrelevant phrases. Pardon me, for boring you guys when the camera was on me. The least I can do to make up for it, is to write this blogpost.

Pertemuan Pertama Kelompok 18 di Novotel

Program induksi calon pegawai baru Dirjen Perbendaharaan dilaksanakan di hotel Novotel. Saya kurang ingat, entah program itu dilaksanakan selama satu atau dua minggu, yang jelas rasanya melelahkan sekali pulang pergi dari Bekasi ke Jakarta Utara mengendarai motor. Macetnya itu lho!

Para calon pegawai baru dibagi menjadi beberapa kelas untuk menjalani jadwal kuliah soft skill dan hard skill. Kemudian, untuk menjalani On The Job Training setelah induksi di Novotel usai, para calon pegawai baru dibagi lagi ke dalam kelompok-kelompok. Saya ditempatkan ke dalam Kelompok 18.

Actually, I never fancy this kind of shit; being forced into a team. Back then in school and college, it was painful for me trying to fit in a team, and it was just for assignments that lasted for a week or two. AND FOR THIS OJT PROGRAM? MONTHS.

Saya ini makhluk serba salah, kutipan Fernando Pessoa berikut rasanya cukup tepat menggambarkan diri saya: “Solitude desolates me; company oppresses me.”

Fortunately, I was in some kind of an unfortunate abstract condition that needed to be eased with reality. Thus, I decided that I have to hold them as an anchor for me to stay within this dimension, so I try my best to suppress unnecessary hostility and just enjoy the moment. Hell, I didn’t regret it a bit. They’re such a blessing. Love you humans!

Entah pada malam ke berapa pada program induksi waktu itu, yang pasti seingat saya, pertemuan itu terjadi setelah dibagikannya celana dan kaus untuk program olahraga di hari terakhir induksi. Waktu itu sepertinya entah ada kesalahan apa, entah kesalahan ukuran atau kurang stok, tapi intinya, proses pembagian kaus dan celana itu sempat memakan waktu yang cukup lama. Saya sudah cukup muak dengan kegiatan induksi hari itu, belum lagi membayangkan macetnya perjalanan pulang, jadi ketika memenuhi koordinasi untuk pertemuan pertama kali dengan sesama anggota Kelompok 18, saya merasa sekadar bertemu wajah saja sudah cukup. Mau apa lagi? Toh belum ada kepentingan yang perlu diselesaikan. OJT belum mulai. But to be honest, esoknya saya sudah melupakan wajah mereka, jadi rasanya pertemuan malam itupun percuma karena langsung lupa. Yah, mungkin memang karena terlalu singkat juga, my bad. Kesan pertama terhadap kelompok ini sebenarnya saya lumayan bersyukur karena sudah kenal dengan dua orang di antara mereka, Hizby dan Pandu, juga Erwin,  yang dulu pernah sekelas saat kuliah. Di luar itu tidak ada ekspektasi apa-apa, tak ada keinginan dan harapan yang muluk-muluk, asalkan mereka makhluk yang damai rasanya sudah cukup.

Kisah Singkat Perjalanan OJT Saya di Kelompok 18

Pertama-tama kami ditempatkan di KPH di Juanda bersama Kelompok 19. Disambut oleh kepala kantor yang ramah dan suka berbagi kisah. Ia berceria tentang penempatannya, ia sempat dapat enak di Bali, lalu dapat pengalaman berharga di Tanjung Redeb, dan sebagainya. Di kantor itulah saya mulai sedikit-sedikit belajar untuk menikmati bermain tenis meja bersama Hizby (18). Pada kantor itu jugalah kedahsyatan gerakan senam saya mulai terkumandang. HAHA.

Sedikit out of topic, pak Haryatno kepala kantor KPH waktu itu, rupanya cukup pandai dalam bidang retorik, entah secara sadar atau tidak sadar. Jadi begini, pada suatu pagi, ia mengumpulkan para pegawai KPH. Ia berada di tengah di antara kami sembari melemparkan candaan-candaan yang mampu membuat pegawai menjadi nyaman. Ia membuat kami ceria. Dalam kajian retorika, ini masuk ke dalam ranah Pathos, pendekatan emosi. Kemudian barulah ia memberikan penyampaian inti, yakni terkait disiplin pegawai untuk memakai nametag, dalam mendukung tuntutannya itu, ia kemudian menunjuk kami para pegawai OJT yang belum menjadi pns saja dapat bersikap disiplin karena semuanya memakai nametag. Dalam sudut pandang retorika, ini adalah Logos, pendekatan logika. Tapi yang paling membuat saya salut adalah unsur Ethos yang digunakannya, khususnya decorum, yakni: saat pertama ia datang dan melakukan penyampaiannya di antara kami, ia sendiri TIDAK mengenakan nametag, but this is actually a good thing, karena ia memulai suatu momentum perubahan dari suatu posisi yang sama dengan pihak yang akan ia ubah, barulah setelah ia menyampaikan Pathos dan Logos,kemudian ia mengeluarkan nametag dari saku lalu memakainya sembari mengajak para pegawai untuk bersama-sama memakai. This is nice. Really. I respect that. Woops, maaf out of topicnya jadi terlalu banyak, selanjutnya semoga enggak OOT lagi deh ya, yuk lanjut bahas perjalanan K-18 lagi.

Kalau tidak salah kantor selanjutnya adalah Kanwil DJPB Jakarta di Otista. Di sana 18 masih bersama 19, namun juga ditambah satu kelompok lain lagi. Saya sendiri ditempatkan di Bidang PPAPK. Di sana saya ditempatkan bersama Azim (19) dan Wyndo (dari kelompok satunya lagi). Waktu itu sekretaris kepala bidang pergi cuti, sehingga saya ditunjuk mengisi posisinya sementara. Di sana saya sempat ketiduran di ruang kepala bidang dengan mulut terbuka di siang bolong. Waktu itu sembari menanti surat masuk untuk diurus, saya iseng belajar pre-calculus; sepertinya pilihan keisengan yang salah. Hoahm. Zzz.

Selanjutnya di Direktorat Transformasi Perbendaharaan. Masih bersama 19. Di sini mulai semakin dekat karena meski kami semua terpisah ke berbagai seksi lagi, namun kini kami memiliki basecamp untuk kembai berkumpul-kumpul dalam suatu ruangan. Di sana, Saya, Hizby (18), Erwin (18), dan Ganang (19) ditempatkan ke seksi TTI, yang berkepentingan untuk mendukung infrastruktur teknologi dalam transformasi perbendaharaan DJPB. Seksi TTI berbagi ruangan dengan tim LG-CNS dari Korea, jadi ya, rasanya seperti ada tayangan drama korea rasanya kalau di dalam ruangan itu. Hal-hal bersama yang dilakukan di sana ada beberapa, di antaranya ada foto-foto bersama di depan logo Direktorat Transformasi Perbendaharaan, makan bakso malang, mengerjakan tugas subtitle video SPAN, saling adu kebolehan bertanding PES di komputer kantor, bergosip tentang office girl bersama, dsb. Spesifiknya, di TTI, kami disambut oleh Mas Supyan yang di kemudian harinya membantu kami menyiapkan presentasi serta mengajarkan tentang monitoring storage, pernah juga saya dan Hizby pergi ke roxy dalam upaya memperbaiki smartphonenya, dan juga haha, bermain football manager 2015 berdua.

Sebelumnya di setiap kantor berlangsung selama 2 minggu, namun di Direktorat Sistem Manajemen Investasi, kami mendapat perpanjangan waktu sampai 3 minggu karena memang sedang dibutuhkannya tenaga tambahan. Dua minggu pertama kami dibagi ke seksi masing-masing, lalu pada minggu ketiga kami semua diperbantukan pada seksi VSAP. Saya dan Hizby ditempatkan di seksi P5D pada dua minggu pertama, ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikenang di sini. Kami ditraktir makan pegawai ke suatu restoran di Matraman. Saya dan Hizby ekspedisi mengantar surat ke kantor menteri di gedung biru dan di sana kami tersesat berputar-putar, kebingungan, dioper-oper, naik turun lantai sampai terbahak terkentut-kentut dengan epiknya, HAHA, “ke gedung menteri bikin rusuh dan numpang kentut doang.” Bu Direktur SMI pernah masuk ke ruang P5D, dia sempat bertanya di antara kami berdua apa pernah kerja sebelumnya, si Hizby pernah, saya tidak, lalu Bu Direkturnya memberikan tatapan merendahkan ke saya, berpaling lalu memerintah, “Yang ini aja suruh kerja,” sambil menunjuk Hizby; saya merasa tidak dianggap, tidak nyata, hanya debu, hanya kentut, sedihnya. Minggu ke-3 di VSAP, sibuk sekali, rekonsiliasi, penataan arsip, perombakan tata ruang sehingga kami dorong-dorong lemari besi angkat-angkat meja. Meski sibuk, kami diberi makan banyak, sehari dua kali, plus snack-snacknya. Kami biasa menumpang makan di ruang rapat sambil bercanda dan foto-foto. Pada hari terakhir, Maic, ketua kelompok kami yang baru dapat uang upah magangnya di Pemprov DKI, membelikan kami donat J-co. Terima kasih Maic.

Setelah SMI, kami pindah lagi ke KPH, namun karena di SMI 3 minggu, di KPH kami hanya selama 1 minggu. Kembali berpingpong dengan asik di sana. Ada suatu saat ketika bola hilang masuk ke selipan langit-langit, kami menggeser-geser meja pingpong untuk menjadikannya tumpuan mengambil bola. Meja itu ambruk jadi dua, untungnya bisa diperbaiki. Tapi bola tetap tidak dapat diraih, jadi kemudian saya dan Hizby hujan-hujanan mencari toko yang jual bola pingpong, dari gang samping kantor, terus, memutar sampai pecenongan, akhirnya dapat, 15000 tiga. Oh ya, pada saat di KPH itu juga K-18 pergi karaoke bersama di Atrium. Saat berangkat saya dan Pandu sempat tersasar berputar-putar mencari tempat masuk Atrium, sementara itu Joko kena tilang polisi. Malamnya, kami karaoke sampai 3 jam. Pulangnya, helm saya hilang “diamankan” oleh petugas, dan karena panik, saya karcis di tangan saya jatuh, dan saya berupaya mengambilnya dengan telapak yang memegang gas, maka tak sengaja gas motor jalan, saya kaget, motor melompat ke depan, saya jatuh, dan karcis parkirpun hilang entah ke mana. Pokoknya situasi jadi ribet, helm tidak ada, karcis hilang, badan sakit karena jatuh. Namun segala kesusahan itu jadi terasa lebih ringan karena dikelilingi oleh teman yang peduli. Terima kasih banyak! Sungguh!

Setelah KPH, barulah K-18 mulai merasakan kerja di KPPN. Mulai dari KPPN I, lalu KPPN V, kemudian KPPN VII, KPPN II, dan terakhir sekarang di KPPN IV. KPPN I bagus fasilitasnya, tempat pingpongnya asik, tapi di sana, saya pernah jatuh sampai celana sobek satu jengkal di selangkangan saat main pingpong. Di KPPN V, saya pernah telat selama 4 jam, berangkat jam 6 pagi, sampai kantor jam 10. Keterlambatan tersebut disebabkan oleh kemacetan parah di daerah Lubang Buaya Pondok Gede, pinggang saya sampai keram di sana. Di KPPN V jugalah saya, Hizby, Wahid, dan Erwin sempat berwisata ke Kebun Binatang Ragunan, di sana ada monyet yang awalnya bergelayutan dengan keren namun kemudian menabrak tembok di akhir; epic fail. Di KPPN VII, meski satu gedung dengan Kanwil, rasanya sangat berbeda, seperti beda dimensi, KPPN VII itu luar biasa bersih dan rapi. Di sana saya sempat mendapat tugas membuat analisis kinerja dan profil kepala kantor. Pada hari terakhir di KPPN VII, kami karaoke di ruang rapat dan disediakan makanan dan suvenir oleh pihak kantor, asik sekali. Selanjutnya di KPPN II, yang berkesan adalah adanya studio, saya yang tidak bisa apa-apa kadang-kadang ikut jadi drummer menggebuk asal-asalan sementara Pandu dan Wahid dan Krishna bermain gitar, bass, dan keyboard. Di KPPN terakhir, saat ini ditulis, baru berjalan selama seminggu di KPPN IV. Kemarin jumat kami ada acara kecil, merekam kesan pesan atas satu sama lain; kemudian, Vincen, Amanda, dan Joko pulang, sementara saya, Maic, dan Akbar menginap di kantor, baru pada pagi harinya setelah bermain tenis meja, kami pulang. Minggu depan hanya tersisa saya, Pandu, dan Amanda dari K-18 yang ada di KPPN IV ini, lainnya pergi DTSD, Prajab, dan Profiling. Ini kantor terakhir kami bersama, karena pada OJT tahap selanjutnya, kami akan dipencar lagi, ada yang ke Surabaya, ada yang ke Semarang, dan sebagainya.

Pesan dan Kesan Untuk Teman-Teman K-18

Maic:

Perfect. Mungkin bisa dibilang keseringterlambatannya Maic adalah salah satu sisi buruknya. Namun, justru bagi saya ini justru penyempurnanya. Jadi setidaknya kalau saya terlambat, atau kalau anggota lain terlambat, jadi tidak merasa begitu tertekan karena toh ketuanya saja terlambat. Hahahaha. Di luar itu, Maic sepertinya terlatih sekali ya menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah, he’s calm and collected, thoughtful and bold. Salah satu yang saya suka dari Maic adalah saat ia belajar PMK tentang supplier dan kontrak di KPPN I, ia membuat powerpointnya, lalu mau berbagi apa yang ia pelajari kepada saya. Begitu juga tentang ilmu menguasai diri yang ia pelajari dari bukunya yang tertinggal di tukang jahit. Terima kasih! Ia juga terlihat punya semangat dalam melayani, ia tidak memimpin setengah-setengah, sering berbagi makanan yeay. Berkah deh dipimpin Maic.

Pingpong asikkan Maic? Ayo terus main. Yakin deh, sebentar lagi Maic akan jauh lebih ahli daripada saya.

Vincencia:

Dulu di KPH, saya salut banget sama Vincen. Apalagi ketika presentasi berbicara di depan kepala kantor, yang dijelaskan oleh Vincen mengenai apa-apa yang dilakukan di seksi Vera KPH begitu detail. Saya ingat tepuk tangan para pegawai waktu itu adalah tepuk tangan yang genuine, bukan tepuk sekadar tepuk. Pokoknya briliant. Mungkin memang sayanya saja yang bodoh, tapi rasanya, anak-anak Akuntansi yang masuk DJPB di kelompok ini, sekarang lebih paham tentang perben daripada saya padahal saya dari jurusan KBN. Hebat kau, kalian. Di kamera kemarin, banyak yang bilang Vincen itu anggun namun kemudian citra itu lama-lama rusak dan beralih ke citra mamak-mamak. Wew, entah ya, salut pada kepandaiannya sih iya, tapi anggun rasanya enggak juga deh, tak ada citra macam itu. Bukan bermaksud rasis ya, tapi dari cara bicaranya, apalagi kalau bicara dengan Maic, memang seperti mamak-mamak kok. Cocok. Bakat kau jadi mamak.

Saya berharap kalau Vincen kembali ke Nias nanti, semoga ia tak hanya berpuas mencari kestabilan keuangan dan rumah tangga saja, semoga ada api dalam hatinya untuk membangun Nias dengan segala keringatnya supaya kepandaiannya menjadi semakin berguna.

Joko:

Joko is a dutiful person. Give him the tools and time and he shall move mountains. A preserver, a guardian, he cares, he helps, and he protects. Joko juga penjaga gawang yang handal. Saat di KPPN II, kami futsal dengan pegawai, dan Joko jatuh bangun berjibaku melindungi gawangnya. Aksinya saat itu bisa dibilang sebagai potret yang mewakili kejokoannya banget. Apalagi setelah futsal, grumpynya muncul ketika ia mengeluh soal kaos yang kotor. Hahahahahahahaha. Mungkin waktu itu dia lapar dan  sedang butuh pisang. Joko ini orangnya sering ngajak berantem, tapi omdo, omong doang, hehe, mungkin karena sesungguhnya hatinya selembut pisang yang diemut selama satu jam.

Jok. Terima kasih telah menjadi Joke yang handal selama ini. Teruskanlah mengemban tugas muliamu menjadi Joke yang baik, pandai menabung, dan tidak sombong. Mmuach.

Akbar:

Wah ini. Wah ini. Wah ini. Cocok banget memang sama Joko. Dynamic Duo. Sinergi keduanya mampu membuat samudera bergejolak dan angin topan jadi sopan. Akbar ini sama kerennya dengan Joko dalam sigap membantu orang, namun ada satu keunggulan lain, yakni dia tidak sebawel Joko dan lebih enak dipeluk. He’s warm, nice, and helpful. Dia itu mmmmm mirip Baymax!

Oh ya, belakangan ini saya suka sekali dengan Coldplay, Muse, dan The Script, dan saya dapatkan sebagian besar musik mereka dari koleksinya Akbar. Terima kasih Bar! Banget. Musics save me from the insanities that always lurk beneath my shadows. Seperti kata Niezstche, “ … tragic insight which, merely to be endured, needs art as a protection and a remedy.”

Salah satu strategi saya dalam mencoba berpijak pada realita pada umumnya adalah dengan mencoba mengkonsumsi produk seni yang juga dikonsumsi orang umunya, salah satunya adalah ya dengan mendengarkan musik-musik tersebut. Salah satu manfaat mendengarkan mereka adalah tentunya jadi lebih mempunyai hubungan dengan manusia lain, minimal jadi ada lagu yang bisa dinyanyikan bersama-sama. Dan menyanyi itu, apalagi bersama orang lain yang dekat, mampu memberi dampak menyembuhkan. Semoga Akbar bisa terus menyentuh, membantu, dan menyembuhkan orang-orang di sekitarnya entah sengaja atau tidak sengaja. Amin.

Sementara itu, terkait kebiasaan candid yang dilakukan Akbar, bagi saya itu tidak mengganggu sama sekali, justru menjadi sumber hiburan yang dapat diandalkan mengusir sedih. Terima kasih Bar.

Amanda:

Dari semua manusia di K-18, kesan awal yang dipancarkan aura si manusi nama merk brownies ini yang sepertinya paling hostile. Tapi yah manusia, paling cuma defense mechanism atas suatu insecurity entah apa itu, atau bisa jadi karena mood swing sedikit, atau karena lelah perjalanan jauh, yah, apapun itu saya santai aja. Manda sepertinya manusia yang kreatif, saat procrast ia menggambar burung hantu warna biru yang bagus, tapi ya percuma man sebagus apapun itu tidak akan berpengaruh pada penyelesaian KTImu. Waktu itu si Amanda ini sempat ganti tema KTI, namun akhirnya balik lagi, kocak.

Yak, pesan saya sementara ini, marilah semangat mengerjakan KTI, jangan procras mulu kayak saya, lha ini buktinya malah menulis blogpost ini HAHAHA. Jangan menyesali keputusanmu waktu itu balik lagi ke tema yang lama ya. Mari nikMATI saja.

Pandu:

Asik banget Pandu ini. Teman bermesraan sejak di KPPN V sampai si Manda merasa ngeri hahaha. Pandu ini keren, apalagi saat ketika ia ada kesempatan untuk pindah tema KTI namun tetap setia satu tema dengan saya. Kalau diperhatikan, sebenarnya Pandu ini juga agak-agak setipe dengan Akbar atau Joko dalam hal dutifulness dan helpfulness, hanya saja ia adalah versi lebih gilanya dari mereka, yeay yeay yeay.

Minggu depan tinggal kita berdua Ndu, plus Manda, di KPPN IV, mari semangat KTI, semangat kerja. Mari lanjutkan dan pererat hubungan kita saat DTSD nanti hahaha.

Wahid:

Wah, personil band Netral ini. Wah, Pak Firbana ini. Haha. Saya ingat dulu awal-awal kenal di KPH, Wahid berkisah tentang cerita-cerita terkait pelatihan bersama Kopassus yang seru banget. Lalu kita berbincang tentang extreme metal saat di KPPN VII. Maaf ya saya tidak bisa main drum dengan benar saat kita ngejam di KPPN II. Maaf. Oh, selain bicara musik, kita juga pernah asik berbicara tentang fauna-fauna, berlanjut ke pembahasan mengapa Marsupial merajai daerah Australia. Dari Wahid juga saya diberi tahu tentang Edwin Manansang, seorang alumni STAN yang terus berkarir sebagai PNS sampai eselon II namun juga gemilang sebagai penyanyi dan presenter di dunia entertainment; terima kasih infonya, inspiratif, sungguh.

Ayo Hid, bikin band Metal woakakakak. Mantabkan niatmu untuk jadi aktivis fauna. Bisa!

Erwin:

Badannya bagus, bicaranya tenang dan sopan. Misterius dan cool banget. Erwin pernah cerita soal keinginannya masuk Akpol sehingga matanya perlu dilasik sampai normal kembali, tapi kenapa jadinya ke STAN.

Saya punya pesan. I know you’re an Introvert and you seem to be proud of it. I just wanna say, don’t use it as a crutch, don’t let it define you, you’re a human being, capable of wonders beyond imaginations.

Hizby:

Halo cuk. Lesung pipitnya imut banget sih. Nyanyinya merdu banget sih. Bagaimana, apakah Pak-You-Know-Who masih menghubungi dirimu? HOAHAHAHAH. Kalau KTI stuck, ganti pembimbing aja ke dia, siapa tahu jadi lancar. Hizby ini makhluk dari Ponorogo yang manis sekali. Kamerad saya dalam berbagai kegiatan “cari angin” yang keterusan, sampai Monaslah, sampai Tanjung Prioklah, hahahaha. Ia juga kamerad saya dalam membicarakan hantu masa lalu, saya cukup nyaman cerita-cerita ke dia. Oh kadang pembicaraan kitapun juga melayang sampai ke arah-arah agama dengan perspektif yang jujur, blak-blak-an dan sangat manusiawi, lepas dari pretensi. Ia juga pandai melawak, saya sering tertawa dibuatnya. Hizby juga jago banget pingpongnya. Lengkap deh.

Hizby ini sekilas aja innocent begitu, tapi kalau dia sudah cerita tentang sepak terjangnya di dunia persilatan, anda akan jawdropped, entah akan berkembang jadi apa nanti setelah penempatan, saya sangat penasaran.

Kapan kita duet karaoke lagi Bi? Kapan jalan kaki keluyuran gak jelas lagi? Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Terima kasih. Sampai jumpa.

1466300_10202203787095266_4345609503183866513_n 10376047_10203958337502700_9126834374579300671_n 10421622_10202203797175518_2908689207940738101_n 10428662_10202190730008847_6694449957861827012_n 10685376_10202203735973988_1383160822594054113_n 10888533_10202203782295146_6560648395581411721_n 10898102_10203958337462699_603785141058133920_n 10917925_10203826898936818_3968966126871870544_o 10985528_10204022314382082_5823913781214874470_n

Kepada seluruh teman K-18, saya mohon maaf atas segala perilaku saya yang menjijikkan dan membuat kalian muak. Saya mohon maaf atas segala kemalasan dan keapatisan saya. Saya bersyukur kepada segala macam tuhan dan hantu dan dewa dan dewi yang ada karena telah menyatukan saya dengan kalian di K-18. Saya berharap segala keinginan kalian dapat terwujud. Semoga kesehatan dan kewarasan selalu menyertai kalian. Semoga mendapatkan penempatan yang terbaik untuk masa depan kalian. Untuk yang sudah berpasangan semoga hubungannya langgeng dan semakin mesra. Untuk yang belum, semoga nanti dipertemukan dengan yang terbaik. Semoga semangat hidup tetap ada. Yang KTInya sudah, semoga nilainya baik. Yang belum, semoga cepat selesai. Bangsat memang, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, bajingan, untuk apa hidup kalau ada mati ya, ah sudahlah percuma menggerutu melulu, bye, best wishes to all of you!

We are all small now, but I know we’ll make it big.

Omnium Rerum Principia Parva Sunt.

Kalau suatu saat nanti saya berhasil entah release album atau buku, tolong dibeli ya, atau minimal bantu promosi hehehe. Terima kasih banget. Now, now, now, cukup procrasnya, saya harus lanjut mengerjakan KTI.

Advertisements

One thought on “Terima Kasih Kelompok OJT 18

  1. Hohohooo komen pertamax nih.
    Ketua tak ada artinya tanpa anggota, ketua tak ada artinya kalo tidak bisa meng-keluarga-kan anggotanya. Syukurlah di kelompok 18 meski di awal terasa awkward namun indah di penghujung. Terima kasih Mito untuk kontribusimu di kelompok kita. Jangan bilang tidak ada, bahkan kehadiranmu adalah syarat kalo kelompok ini mau dikatakan lengkap. C u another time, ambil baiknya dari pribadi kami semua dan jauhi yg gk baik (misalnya gue suka terlambat, hahaha)

    Perpisahan dengan tangisan/kesedihan adalah sia-sia, senyumlah, karena sesungguhnya perpisahan hanya bumbu yang membuat kangen. Bayangkan pertemuan selanjutnya kita nanti dengan kangen yg menumpuk, pasti lebih manis. Oleh karena itu take care and do your best hingga suatu saat pertemuan itu tiba 🙂

    Baidewei jgn lupa rencana kita jenjalan ke luar kota ya 😉

    Bye bye pal 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s