DTSD Gelombang 2 Melalui Kacamata Sasmito

Gelombang 2 Diklat Dasar Tingkat II Perbendaharaan Kelas Reguler Bagi Pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Tahun Anggaran 2015 di Bogor

Seluruh angkatan

Angkatan IV, V, dan VI


Bersama Aldinov di minggu pagi, saya berangkat menuju tempat diklat dari otista, tepatnya dari halte Bidara Cina depan kanwil DJPB Jakarta.  APTB yang kami tumpangi meluncur lancar. Tak sampai dua jam kami sampai di Ciawi. Begitu turun dari kendaraan, kami segera diserbu tukang ojek yang menawarkan jasa. Saya tak sempat berpikir banyak, rencananya, kami akan naik angkot, tapi saya sudah melihat Aldinov naik ke atas motor ojek, ya sudahlah, jadinya sayapun turut berojek ria—30ribu sampai di pusdiklat AP.  *Sigh*

Di pos satpam gerbang pusdiklat, terjadi semacam suatu pendaftaran, nama dicek, lalu kami dapat kertas karton merah berisi keterangan asrama tempat menginap, dan jadwal pendek sampai acara pembukaan. Setelah itu, kami berpisah menuju kamar masing-masing, Aldinov ke asrama Dahlia, sementara saya ke Flamboyan. Saya mendapat kamar nomor 205, tepat di samping tangga di lantai dua Flamboyan. Dalam kamar tersebut terdapat tiga tempat tidur, tiga meja belajar, sebuah kamar mandi, dua lemari, dan satu televisi. Kami kemudian bertemu kembali untuk berjalan melihat-lihat situasi pusdiklat; sederhananya, pusdiklat ini semacam kompleks hijau segar yang terdiri dari beberapa gedung terpisah dengan fungsi masing-masing, dan juga disertai beberapa fasilitas olahraga. Setelah berkeliling dalam kompleks pusdiklat, kami juga keluar dan menemukan banyak sekali minimarket berderet-deret, jadi rasanya tak perlu khawatir kalau dirasa nanti perlu belanja sesuatu.

Setelah belanja makanan ringan, kami kembali ke asrama masing-masing. Tak lama kemudian, Oki Rifki sampai di Flamboyan. Beberapa jam kemudian, pusdiklat mulai ramai. Lalu datanglah teman sekamar saya, Senik Entropi pada tengah hari. Sementara itu, satu rekan sekamar lagi, Pandu Waskito menyusul datang pada sore harinya. Lengkap sudah kru F205. Yeah.

Begitulah kira-kira, sedikit gambaran awal bagaimana saya memulai kegiatan diklat teknis substantif dasar selama tiga minggu di Gadog. Untuk selanjutnya, saya akan menuliskan gambarannya dengan berdasarkan lingkup berikut:

  1. Kegiatan Keseluruhan
  2. Kegiatan Angkatan 6
  3. Kegiatan F205
  4. Ending

Kegiatan Keseluruhan

Diklat ini dilaksanakan selama tiga minggu. Sabtu dan minggu, umumnya libur, boleh pulang atau pergi rekreasi. Pada hari senin minggu kedua dilaksanakan ujian seharian penuh; sementara pada hari sabtu minggu keduanya dilaksanakan ujian akuntansi. Pada hari kamis minggu ketiga dilaksanakan PKL ke KPPN. Hari terakhir masih ada satu pelajaran lagi ditambah penutupan diklat dengan evaluasi.

Di Kelas
Di Kelas

Keberadaan pihak militer sebagai pembina siswa, menyebabkan beberapa dampak. Beberapa dampak yang paling mencolok adalah penambahan kegiatan yaitu kewajiban apel setiap pagi dan malam serta  peraturan untuk memulai dan mengakhiri makan secara serempak.

Kami diberi makan tiga kali sehari, sarapan, makan siang, dan makan malam. Setiap makan, setelah semua peserta telah menyiapkan piring masing-masing, salah satu peserta berdiri untuk memimpin doa. Pertama ia akan berseru DUDUK SIAP GRAK kemudian seluruh peserta akan menghentakkan kaki, menegakkan punggung, dan mengepalkan tangan di atas lutut. Lalu ia akan berbicara memberikan komando untuk berdoa. Selesai berdoa, ia akan berseru ISTIRAHAT DITEMPAT GRAK yang kemudian dibalas oleh seluruh peserta dengan seruan SELAMAT MAKAN. Begitu juga saat makan usai. Ketika dirasa sebagian besar sudah selesai makan atau waktu sudah menunjukkan perlunya kegiatan untuk segera dihentikan, maka seseorang akan berdiri, berseru duduk siap lagi, lalu mengajak berdoa, setelah doa selesai, peserta diistirahatkan sambil ramai-ramai berseru TERIMA KASIH. Selain makan, ada juga coffee break dua kali, yakni di antara sarapan dan makan siang, dan saat istirahat solat ashar. Saat coffee break ini tidak diwajibkan untuk serempak.

apel pagi
Apel Pagi

Apel dilaksanakan setiap selesai sarapan dan sesudah makan malam. Kegiatan yang dilaksanakan saat apel umumnya hanyalah penyampaian jumlah peserta yang datang apel dari masing-masing ketua, ditambah materi-materi baris berbaris, serta nasihat-nasihat dari pembina. Oh ya, untuk hiearki koordinasinya, terdapat 1 koordinator dan 3 ketua kelas masing-masing angkatan yang wajib diganti setiap minggunya. Koordinator minggu pertama Tsani, minggu kedua Satria, minggu terakhir Ryan.

Untuk kegiatan olahraganya, setiap selasa dan kamis pukul lima pagi kami diwajibkan untuk senam. Senam bukan dipimpin instruktur senam … tapi … … … dipimpin pihak militernya, tanpa musik, dan hanya diiringi hitungan SATU DUA TIGA SATU SATU DUA TIGA DUA SATU DUA TIGA TIGA dan seterusnya. Entah, bagi yang lain, tapi bagi saya sendiri senamnya terasa kaku, tidak semangat, tidak keluar keringat, hanya bikin perut nyaris keram karena push up, sit up, dan sikap lilinnya. Selain senam, kami melaksanakan inisiatif olahraga masing-masing dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Sejauh yang saya tahu, ada yang ke tempat gym tepat di depan Flamboyan, ada yang lari keliling kompleks, ada yang bermain tenis meja, ada yang voli, dan ada yang futsal.

Senam pagi
Senam pagi

Futsalnya seru. Kadang dilaksanakan saat pagi sebelum kuliah, kadang malam seusai apel, kadang juga sore. Lumayan, dengan bola yang agak rusak dan kempes, saya cukup sering mencetak gol, kadang-kadang 4 dalam satu kali main, sementara saat susah-susahnya yah minimal 1 lah. Saya berterima kasih kepada teman-teman yang dengan dermawannya mengoper bola ke saya, seperti operan Arifin, Sulton, Tino, dan lainya. Namun setelah bola diganti jadi yang tidak rusak, saya kehilangan produktivitas. Mungkin memang, makhluk rusak cocoknya hanya dengan yang rusak juga haha. Begini lho, dengan bola rusak kempes, bola jadi lebih susah memantul, maka saya sebagai poacher jadi lebih mudah menerima bola meski bola dioper dengan keras. Dengan bola sempurna, saya jadi lebih sulit menerima bola karena bola lebih mudah memantul ke mana-mana.

Pada libur sabtu minggu, khususnya pada akhir minggu pertama, ada yang pulang entah untuk mengurus tugas Karya Tulis Ilmiah atau urusan lain, dan ada juga yang bertamasya ke tempat wisata setempat. Saya sendiri waktu itu agak kurang sehat sehingga hanya istirahat di kamar asrama. Barulah pada akhir minggu kedua saya ikut berwisata ke Cimory Riverside bersama teman seangkatan.

Kamis minggu terakhir adalah jadwal kami untuk PKL ke KPPN. Di KPPN kami bertugas untuk melakukan observasi pekerjaan-pekerjaan yang ada pada setiap seksi. Observasi dilakukan dengan pembagian tiap angkatan ke kantor yang berbeda. Angkatan saya, yakni angkatan 6, ke KPPN VII Jakarta. Lalu sesampainya kami dibagi lagi menjadi tiga kelompok kecil yang kemudian melakukan observasi bergilliran. Masing-masing peserta diberikan kertas kerja yang perlu diisi sebagai pencatatan pengamatan. Setelah PKL selesai, kami, masing-masing peserta diklat, mengerjakan suatu laporan berbentuk karya tulis ilmiah yang harus segera dikumpulkan esok harinya. HA HA HA.

di bus
Di Bus Perjalanan PKL

 Kegiatan Angkatan 6

Angkatan 6 alias kelas C, mendapat jatah kelas di lantai tiga gedung Anggrek. Sementara saat mata kuliah terkait aplikasi keuangan, kami mendapat jatah di Laboratorium di Gedung Kenanga, tepat di depan gedung Flamboyan. Ariefka yang pertama kali menjadi ketua kelas. Kemudian pada minggu kedua giliran Suwarga memimpin. Barulah pada minggu terakhir Tino yang menampuk tanggung jawab tersebut.

Pada tiap malam di asrama, kegiatan yang paling saya ingat  adalah bermain poker di depan tangga tepat di samping kamar saya. Saya ingat bagaimana Tino dan Okitaro mengeluhkan gaya bermain poker saya, entahlah kenapa. Selain poker, ada juga tanding PES di laptop Arifin. Hanya dua itu yang saya jelas-jelas ikuti langsung, sementara ada juga kegiatan-kegiatan lain yang sepertinya ada namun saya kurang tahu menahu seperti: main uno dan main mafia, entah apalah itu.

Saat menjelang ujian akuntansi pada hari sabtu, jumat malamnya kami belajar sampai larut. Materi yang diujikan, kalau tidak salah ingat, adalah akuntansi pemerintahan akrual. Sulit sekali rasanya. Ketakutan melanda saya. Sepanjang malam hingga pagi saya belajar, membaca slide power point narasumber, juga membaca soal-soal latihan. Pada pagi harinya, saya merasaan suatu firasat, lalu di dalam kelas saya berseru-seru berharap agar yang diujikan bukanlah siklus melainkan pilihan ganda saja. Harapan saya terkabul. Wew. YEAY BUKAN SIKLUS YEAY YEAY YEAY!!!

Belajar Akuntansi Bersama
Belajar Akuntansi Bersama

Setelah ujian akun usai, kami angkatan 6 mengikuti acara class meeting di depan gedung asrama Bougenville. Ada tiga lomba, estafet makan, terong tertangguh, dan perang air. Pada saat mendukung perwakilan angkatan kami, ada sebuah candaan yang terlempar, yaitu, supaya jangan sampa juara 1, karena mendapat juara 2 itu lebih susah hahahaha.

Estafet dimulai dengan Gilang yang berlarian dari sebuah titik ke titik lain untuk terus memakai pakaian berlapis-lapis pada tiap titiknya. Kemudian ia sampai ke titik makan pertama, yakni Oki Rifki yang bertugas menghabiskan Slai Olai. Oki Rifki selesai kemudian ia bergerak ke titik tempat Ariefka harus melahap cokelat, selanjutnya ke Swanda yang mendapat tugas menggerogoti semangka, barulah pada tahap akhir Okitaro menggarap menyedoti popmie … tanpa bumbu. Saya sendiri hanya menonton, berusaha memberi semangat dengan Thu’um alias Dragon Shout saya. Rupanya, dukungan saya memberikan kegagalan angkatan 6 dalam mencapai target juara 2, karena justru … juara 1. Sedihnya.

Barisan Berani Estafet
Barisan Berani Estafet
Oki Rifki Makan Slai Olai
Oki Rifki Makan Slai Olai
Ariefka Makan Cokelat
Ariefka Makan Cokelat
Saya Menyemangati Swanda Makan Semangka
Saya Menyemangati Swanda Makan Semangka
Makan PopMie Tanpa Bumbu
Makan PopMie Tanpa Bumbu

Terong Tertangguh adalah lomba estafet menggiring bola dengan mengayunkan terong/timun yang diikat dengan tali rafia ke pinggang. Pada pertandingan ini juga, perwakilan angkatan 6, yakni Senik, Tino, dan Kibai, gagal mencapai target menjadi juara dua, karena … mereka juara 1.

Para Petarung Terong/Timun
Para Petarung Terong/Timun

Lalu pada perlombaan terakhir, yakni perang air, saya, Suwarga, dan Sanchez turun ke medan perang mewakili angkatan 6. Ada tiga buah area berbentuk kotak yang berdempetan. Pada setiap sisinya terdapat kantung-kantung air. Kantung-kantung air itu adalah amunisi yang dapat digunakan untuk membasahi baju kertas lawan hingga copot. Tim yang dapat mempertahankan baju kertasnya hingga akhirlah yang menang. Saat pertandingan baru saja dimulai saya yang terburu-buru hendak berlari mengambil amunisi justru menabrak Sanchez, lalu saya kebingungan, terpaku ditempat, melempar kantung tanpa mengenai sasaran sama sekali, dan terjebak di tengah crossfire. Chaos. Diserbu bertubi-tubi dari berbagai arah. Baju kertas saya basah kuyup dan rusak. Saya tereliminasi, dan dikeluarkan dari permainan. Namun dengan keluarnya saya, rupanya mampu membuat hasil permainan mencapai target, yakni … juara 2. HAHA. Tapi, secara keseluruhan angkatan 6 tetap juara 1. Ckckck.

Berhasil Mencapai Target
Berhasil Mencapai Target

Pada hari minggunya di minggu kedua, saya tidak mengalami kekurangsehatan seperti pada weekend minggu pertama, jadi saya memutuskan untuk ikut bersama rekan angkatan 6 berwisata ke Cimory Riverside. Kami sampai, berfoto-foto, menyantap pesanan, lalu berbincang-bincang. Perbincangannya cukup menarik, yang saya ingat ada dua tema pokok yang membagi meja jadi dua waktu itu, ada sisi yang sedang seru-serunya membahas dan memberi semangat kepada salah satu teman kami untuk menjadi lebih sosial, ada juga sisi meja yang membahas cecintaan. Ouch. By the way, saya cukup kecewa dengan oleh-oleh yang dijual di Cimory Riverside. Sebagai tempat yang identik dengan produk susu, toko oleh-olehnya justru lebih banyak menjual cokelat. Saya sesungguhnya berharap adanya bermacam produk keju yang diolah dari susu segar mereka. Payah ah. Kekecewaan ini serupa dengan kekecawaan saya saat dulu ke Richeese Factory yang ternyata cuma seperti resto cepat saji; kejunyaaaa kuraaaang.

Usai Makan SIang Sebelum Berangkat Ke Cimory
Usai Makan SIang Sebelum Berangkat Ke Cimory

IMG-20150419-WA0009

di cimory


Kegiatan F205

Oh yeah. This is it. Senik, Pandu, rekan sekamar Flamboyan nomor 205, I love you guys! Thanks!

Trio F205
Trio F205

Gila. Asik banget sekamar dengan mereka. Cocok banget rasanya. Kompak juga. Bahkan sampai di kelaspun sampai memanipulasi nametag supaya duduk berderet. Hehe. So, apa saja yang menyatukan kami? Satu hal yang paling mencolok adalah menyanyi. Holyshit, everyday, , everynight, everytime, setia saat bersama, seperti ada dorongan dalam diri untuk terus mencoba menyanyi bersama sesering mungkin. Tak hanya di kamar, kami juga menyanyi di ruang makan, bahkan di kelas. Tak perlu lagu yang sama, bahkan ketika kami bertiga saling menyanyikan lagu yang berbeda-beda dalam waktu bersamaan, rasanya tetap asik. Banget.

20150424_115212
Mantab Gan

It’s a common thing that boys are united by their dirty mind. So. I couldn’t hold my filthy mouth and my foul tongue. I cracked a lot –maybe too much– of dirty jokes. I even said to them, that, with a sprinkle of perversion here and there, everything becomes much more merrier. HAHA. This overindulgence of dirty jokes almost became a problem when I went back to my own home where I have to keep myself shut.

Kami juga sempat dua kali nobar. Kebetulan kami bertiga sama-sama belum menonton Frozen, maka kami tontonlah film animasi tersebut. That snowman character was fucking hilarious. Nobar yang satu lagi adalah nobar Fifty Shades of Grey. Wiw. Sayangnya nobar 50SOG ini tidak sempat terselesaikan karena berbagai alasan.

We’ve done weird fun shit together. Sewaktu saya dan pandu gendong-gendongan saat dalam perjalanan sebelum/sesudah (lupa) apel di tanjakkan. Juga sewaktu mengangkat kedua tangan ke kepala untuk membentuk sepasang mata akibat bayangan yang terproyeksi lampu jalanan bersama Senik. Saat coffee break, kami bertiga sempat bersama-sama menghabiskan snack dan minuman tanpa menggunakan tangan sama sekali di meja. Omnomnomnom. Yang sulit ketika hendak menghabiskan teh/kopi di dasar gelas karena bibir tak sampai. Saya berikan solusinya: menggigit gagang gelas, mengangkat, lalu menuang isinya ke tatakan gelas. Barulah diseruput seperti kucing sedang minum. Hehe. Oh ya saat di bis perjalanan menuju/pulang (lupa) PKL, kami bertiga juga kompak minum aqua ala saya. Muwahahaha. Fun accomplished.

20150423_152205

?????????????

Kita berpisah kawan, namun kita berpisah untuk menatap masa depan yang lebih meriah bagai kompor mleduk! 

?????????????


Ending

Ehm. I hate endings. Pada apel malam terakhir. Ehm. Ada beberapa peristiwa. Ada kejutan nyanyian lagu Ciawi dan kue untuk pembina kami Pak Sukijo. Ada pemilihan dua suapan pertama kue tersebut yang oleh Pak Sukijo diberikan kepada Satria sebagai koordinator minggu kedua dan kepada Ardilla sebagai ketua kelas perempuan. Kemudian, sesuai perintah pak Sukijo, seluruh peserta berkumpul berkelompok-kelompok sesuai asal daerah masing-masing untuk berembug lalu nantinya tampil membawakan lagu daerah masing-masing.

Apel terakhir

Kelompok Jawa Tengah

Jawa Timur

Sumatera

Saya yang tinggal di Jatibening namun lahir dan tumbuh di Jakarta tak punya pilihan lain untuk membawakan lagu daerah Jakarta. Namun saya sudah ada firasat buruk, bahwa kebanyakan yang dari Jakarta akan memilih bergabung dengan unsur daerah yang lain karena akan lebih banyak anggotanya. Meh. So be it then. I didn’t need them. This kind of event happened frequently in my life. Abandoned, outcasted, excluded, exiled, and being forgotten (sori agak lebay) is a common theme in the very atmosphere I fucking breathe. Despite my fury and resentment, I actually like it. It’s just a chance to shine. Seperti saat saya dahulu sma, pada pelajaran bahasa ada tugas untuk drama. Saya memiliki perbedaan pendapat dengan anggota kelompok lain, dan hal itu berujung pada tidak dipakainya naskah saya untuk drama mereka. Saya bersikeras dan membuat masalah. Bikin ramai. Jadi kemudian guru bahasanya memberikan saya kesempatan untuk melakukan drama … sendirian … yakni bermonologue. Monologue saya waktu itu menceritakan Battle of Wuzhang Plains dengan fokus cerita menyorot kepada dua pemimpin perang yang saling bertikai: Zhuge Liang dan Sima Yi. So? The audience liked it. One of them said she was impressed by my facial expression. Jadi begitulah, pada kejadian ini juga, saya maju sendirian, sementara kelompok lain kebanyakan maju beramai-ramai. Saya menyanyikan lagu kicir-kicir dengan ala saya, ditambah harsh vocal, serta Thu’um (Dragon Shout).

Kicir
Berkicir-kicir sendirian.

DTSD ditutup dengan evaluasi di gedung Cattleya setelah kuliah terakhir pada jumat sore. Aduh, yang bikin saya jadi geleng-geleng adalah adanya beberapa usulan-usulan yang sengaja diajukan sebagai upaya untuk menyusahkan gelombang diklat selanjutnya. I was like, DUDE ARE YOU OUT OF YOUR MIND? Bagaimana kalau nanti kena batunya sendiri, bagaimana nanti kalau waktu prajab atau entah diklat lainnya kita jadi kena susah karena usulan evaluasi gelombang sebelumnya? Duh manusia.


Begitulah sedikit kisah yang dapat saya ingat dan saya tuliskan untuk dibagikan kepada anda. Keep in mind that, the whole thing I’ve written down here was from my extremely limited point of view. Pasti banyak hal menarik terjadi yang terlewatkan oleh saya karena saya bukanlah pusar dunia. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan. Mohon saya segera dikoreksi jika terdapat ketidakakuratan data dari apa-apa yang saya sajikan. Terima kasih telah membaca.

[Foto-foto ini sebagian besar saya ambil dari grup wasap, jika ada yang keberatan terhadap publikasi ini mohon beritahu saya]

Advertisements

One thought on “DTSD Gelombang 2 Melalui Kacamata Sasmito

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s