Preview: Bulletproof -Fortified

Seorang teman menerbitkan buku. Berdasarkan pengalaman membaca tulisan-tulisan teman ini sebelumnya, saya tertarik untuk membaca bukunya. Dia kemudian memberikan saya satu kopi bukunya dalam format digital. Terima kasih!

Kisah ini dibuka dengan kehidupan sehari-hari anak-anak panti asuhan. Mereka tinggal pada sebuah puri di samping pantai. Tak jauh dari situ, ada sebuah desa. Ada pula markas militer. Ada bukit dan hutan. Setting ini menyuguhkan suasana damai nan ramah namun tetap menjanjikan suatu konflik menarik bagi pembaca.

Saya sungguh senyum-senyum sendiri membaca bagian cerita saat Mandy –seorang siswi dari panti asuhan– menyajikan tugas sekolahnya. Untuk mengilustrasikan apa beda reptil dan mamalia, Mandy menceritakan bagaimana nona cicak mengajak nona kucing pergi ke pesta dansa. Nona kucing menolak, karena saat hamil, anaknya harus dibawa-bawa dalam perut, tidak seperti nona cicak yang walau sedang hamil anaknya bisa ditinggal di rumah.

Saat membaca bagian cerita tentang Dimitar dan Strego yang berani berniat menembus hutan dengan bersenjatakan ketapel saja, saya jadi teringat sesuatu pada masa kecil saya sendiri. Saat kecil, saya suka sekali menonton film dokumentasi tentang fauna. Karenanya saya sempat tiba-tiba begitu percaya diri dan gatal ingin menangkap ular lalu memanen bisanya sendiri. Untung saja tidak ada ular liar yang benar-benar saya temui sampai keinginan itu akhirnya pudar sendiri.

Ada bagian cerita tentang bagaimana anak-anak panti sedang bermain bola lalu terlibat masalah dengan tentara. Wes, salah satu bocah panti, kemudian berlarian ke sana ke mari menyelamatkan kawan-kawannya dari tentara. Saat membaca bagian tersebut, simpati saya terbangkitkan. Khususnya terkait rasa tidak suka terhadap orang dewasa dan tentara. Ayo Wes! Lempari mereka dengan batu!

Selain kisah-kisah anak-anak tersebut, ada juga dimensi cerita yang membangkitkan rasa penasaran dan menggugah imajinasi. Beberapa yang menjadi sorot utama adalah tentang Dimitar dan Wes. Dimitar mampu meramalkan kejadian hujan-hujan serangga dan berbicara dengan bintang di langit malam. Sementara Wes memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, orang-orang menuduhnya android. Settingnya, walaupun di tempat yang jauh dari keramaian kota, memberikan indikasi-indikasi bahwa teknologi di dunia tersebut menyentuh ranah Sci Fi.

Sesungguhnya jika satu buku ini hanya bercerita tentang anak-anak panti itupun saya sudah senang membacanya. Namun kalau diperhatikan dari simpul depan, juga bagian-bagian cerita yang menyiratkan suatu konflik besar, cerita ini sepertinya akan berkembang menjadi kisah-kisah penuh aksi dan pertempuran. Saya belum membaca buku format digital ini sampai selesai, dan tidak akan saya selesaikan. Kenapa? Karena saya berniat melanjutkan membeli dan membaca buku ini dalam bentuk hardcopy secara langsung!

Sang penulis telah mampu membawakan kisah-kisah sederhana tentang keseharian anak panti asuhan dengan menarik. Saya percaya sisa cerita yang akan saya lanjut baca dalam hardcopy nanti akan tidak kalah menghibur.

Kamu penasaran? Mau menjajal bukunya juga? Mau beli langsung? Di mana?
Bisa di sini: Bulletproof – Fortified.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s