Pengalaman Lari di Sibayak Altitude Run

Niat saya mendaftarkan diri pada Sibayak Altitude Run sebenarnya adalah untuk membangkitkan kembali motivasi lari yang sedang turun-turunnya. Namun ternyata sama aja. Masih dilanda kemalasan luar biasa. Masih payah. Sampai hari-h pun saya belum sempat melaksanakan satu long run yang cukup sama sekali. Waktu acara? Keteteran. Saya peserta yang finish terakhir. Paling belakang.

 

Begini kronologis ceritanya:

 

  1. Perjalanan awal.

 

Bersama seorang rekan kerja serumah dinas yang hendak pulang cuti, saya berangkat menuju Medan. Di pesawat sempat terjadi guncangan. Saya ketakutan, lalu meringkuk ke perutnya. Saat itulah saya berpikir, mengapa saya takut mati, apa yang sesungguhnya saya takutkan? Segala pemikiran yang belum tersampaikan, atau minimal tertuliskan; yang tertunda, yang terlupa, dan yang belum matang; saya tidak rela. Oke. Mungkin memang sudah panggilannya; selalu ingin kembali menulis lebih banyak, apapun wujudnya.

 

 

  1. Pisah di Medan.

 

Teman saya lanjut menuju Palembang untuk menghadiri acara pesta pernikahan seorang teman. Sementara saya, memuaskan diri melahap waffle sebelum kemudian buru-buru menemui pihak panitia yang menjemput. Panitia yang menjemput saya protes, karena saya tidak memakai kaca mata hitam seperti yang saya bilang di telepon. Lho,tapi framenya hitam kok. Lagipula, lensanya nanti hitam kalau kena sinar matahari.

 

 

  1. Menuju Sibayak.

 

Masuk ke Mobil. Saya disambut oleh penumpang lain yang kemudian diketahui ternyata adalah seorang jurnalis majalah olah raga. Ia sibuk dengan gadgetnya, saya asik membaca Foundation Trilogy. Lalu mobil bergerak menjemput satu orang lagi di Medan, peserta juga. Jalanan waktu itu macet cukup panjang. Kami memutar mengambil jalur alternatif. Di jalan saya mendengarkan obrolan menarik, yakni adanya doorsmeer plus-plus di daerah menuju Sibayak yang saat itu sedang kami lalui. Haha, jadi, itu maksudnya tempat cuci mobil yang supirnya juga sekalian “dicuci”. Obrolan sampai ke topik tersebut bermula dari respon pihak penjemput terhadap keinginan salah seorang dari kami untuk berhenti turun izin buang air kecil.

 

 

  1. Sampai di Sibayak.

 

Tepatnya di daerah pemandian air panas Ncole. Wah. Awkward. Saya malu. Saya minder. Belum kenal siapa-siapa. Bingung. Oh ya, ambil BIB dulu! Begitulah, lalu, bersama seorang peserta lain, saya mengambil racepack lalu melanjutkan proses administrasi. Setelahnya kami duduk-duduk di samping kolam pemandian air panas, berbincang-bincang. Ia makan indomie rebus, lalu saya ditraktir teh hangat; terima kasih! Oh ya, kami juga foto-foto. Kemudian setelah mendapatkan kunci hotel, saya segera berangkat, bongkar barang bawaan, istirahat sebentar, lalu malam-malamnya saya kembali ke pemandian air panas itu sendirian; berendam. Fuah! Mantab.

13096128_10206610299640096_505311643562960366_n

13124785_10206630189297325_872215670253686425_n

13083145_10206630189377327_1921819121584197040_n

 

  1. Sebelum Start.

 

Gila. Rasa khawatir telat bangun itu gak enak banget. Saya pasang alarm berlapis-lapis. Bangun lebih awal, yakni sekitar pukul tiga pagi. Namun itu terbangun karena mimpi buruk. Mimpi apa? MIMPI TELAT BANGUN. Hal ini persis banget terulang seperti saat-saat dulu saya hendak lari di Jakarta Marathon 2015. Justru karena kekhawatiran itulah tidur jadi terasa kurang dan tidak nyenyak. Setelah tersiksa bangun-tidur-bangun-tidur-bangun dalam kegelisahan mengerikan, saya putuskan untuk bersiap segera menuju ke tempat start.

13087705_10206622240018598_2371098260347500087_n13139294_10206630190377352_2120111498706958932_n

 

Di sana belum ramai saat saya sampai. Saya duduk bengong, pusing, dan bingung. Takut juga. Apa saya mampu? Saya tidak bawa headlamp, hanya lampu senter genggam yang baterainya sudah mau mampus. Menjelang start, kami berkumpul. Angin bertiup dingin. Gelap. Gerimis.

 

 

  1. Mulai lari.

 

Saya start termasuk di barisan paling depan. Namun belum tiga langkah saya ambil, saya sudah diserbu orang bersalip-salipan di kanan kiri saya. Ngebut sekali mereka. Saya lari, mencoba mengejar, namun tetap menjaga pace sesuai batas aerobic saja sembari berulang-kali melirik penunjuk heartbeat di garmin. Gelap. Gelap. Gelap. Saya terpisah sendiri. Terlalu ke depan untuk pelari selambat saya. Terlalu lambat untuk sok buru-buru. Lalu ketika kemudian mulai masuk ke jalur hutan, saat itulah keraguan mulai terakumulasi menjadi beban di hati.

 

 

  1. Cek Poin Pertama.

 

Di hutan gelap sendirian, awalnya saya mampu mencari jalan. Memang dituntut untuk mampu mengira-ngira jalan, mencari jejak sepatu manusia di antara lumpur dan mencari penanda jalan entah di pohon, entah di batu, entah di mana. Tapi akhirnya saya berhenti di tempat karena betul-betul tidak tahu mesti ke mana. Lama saya menunggu, akhirnya datanglah dua pria berpakaian biru dari belakang. Mereka sangat baik dan mau melanjutkan perjalanan bersama saya. Kami sempat tersesat bersama-sama di hutan itu. Lampu senter sayapun sempat mati, beruntung ada headlamp mereka. Menanjak hutan terjal terus sampai akhirnya terang. Ketika pria di depan memperingatkan saya atas duri; saya teringat seorang teman yang dulu pernah lari trail di bogor hingga kepalanya sobek kena tanaman. Takut.

13095734_10206622240858619_1163765199890099816_n
Mulai Meninggalkan Gelapnya Hutan

 

Keluar hutan, kami terus menanjak ke cek poin pertama. Saya sampai lebih dulu, lalu turun gunung sendirian di depan. Turunannya sangat licin. Saya tidak berani jalan. Hanya berani duduk merosot. Mengadu pantat dengan lumut dan batu. Saya bergerak dengan semangatnya karena masih begitu naif mencoba mengejar Cut Off Time; hal ini saya sesali. Karena kemudian saya tersasar. Terima kasih lagi kepada mereka, karena  mendengar sahutan mereka dari jauhlah saya sadar bahwa saya salah arah dan perlu lari naik kembali. Jadilah saya kemudian yang berada di belakang.

 

 

  1. Cek Poin Kedua.

 

Menanjak gunung lagi. Yah, setidaknya kali ini tidak melalui hutan-hutan lagi. Tapi tetap saja berat. Lebih tinggi pula. Saya kapok melesat sendirian lagi. Takut tersasar karena sok tahu. Jadilah kali ini saya ikut bergerak seiringan dengan dua orang lain lagi. Tepat sebelum puncak, ada jalur batu besar yang harus dipanjat; saya pikir tadinya saya tak mampu, namun setelah ditawari pertolongan, ternyata saya mampu naik sendiri. Woah, kok bisa ya, sayapun bingung; mungkin saya hanya takut. Ah, lupakan, yang penting sampai!

13124845_10206622245178727_4193797606520635172_n

13076840_10206630206537756_5239476758979326665_n
Makan Jeruk dan Nanas

Setelah sampai puncak dan mendapatkan gelang cek poin kedua, kami turun. Di bawah, kami menyempatkan diri makan jeruk dan nanas dan minum air pada water station yang disediakan panitia. Kemudian kami melesat terus. Pada jalur sebelumnya nyaris tidak bisa dibuat lari saking terjal dan licinnya. Barulah pada jalur ini kami bisa betul-betul lari macam di acara lomba lari.

13124955_10206630207017768_1822902622083343239_n

 

 

  1. Cek Poin Ketiga

 

Jalanan turun. Kaki ini dipaksa untuk bergerak lebih cepat oleh gravitasi. Lutut menerima tekanan yang lebih kuat karenanya. Sakit! Serius. Kami terbawa momentum, lari terlalu cepat sampai kesulitan berhenti sendiri. Seorang peserta mencoba berhenti dengan meraih tanaman, tapi gagal, dan terpelanting jatuh. Katanya, kalau ada rekaman youtubenya, dia mau lihat. Tapi begitu diminta diulang lari lalu jatuh, ia tidak mau. Yeah, ngeri memang. Kamipun akhirnya bergerak pelan karena takut kesulitan berhenti kalau lari. Hahaha. Ternyata jalur menuju cek poin ketiga ini cukup panjang. Seorang dari kami lari duluan, saya dan seorang lagi mengekor di belakang. Sialnya, ternyata di jalur ini kami harus melewati hutan lagi.

13076860_10206622246658764_7860297787550612235_n
Keraaaaaaaaam!!!

 

Di sana saya terpeleset jatuh, kaki terbenam lumpur, dan paha kiri saya keram. Peserta lain itu membantu meluruskan kaki saya yang keram dan terbenam lumpur, kemudian saya beri tahu ia untuk pergi duluan saja. Begitulah, saya tergeletak sendirian tak bisa bergerak. Yah itulah hidup. Tapi setelah beristirahat sampai dirasa sembuh, saya segera maju lagi seperti pada lirik lagu Frank Sinatra yang berjudul That’s Life:

Each time I find myself lying flat on my face,

I just picked myself up and get back in the race!

 

Perjalanan hingga mencapai cek poin ketiga ini kurang menarik, kecuali saat saya harus terpaksa melalui jalan yang dijaga dua anjing besar yang semangat sekali menggonggong. Saya yang lelah hanya berjalan lunglai pasrah, melambat, membisu, sampai akhirnya mereka minggir dan saya berhasil lalu. Sampai di cek poin tiga, saya berhasil berkumpul kembali dengan dua peserta sebelumnya. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan bersama dengan lebih santai berdasarkan saran panitia yang menjaga cek poin ketiga. Saking lelahnya, setiap beberapa ratus meter kami duduk istirahat, bahkan sesekali berbaring di jalanan. Ada salah satu dari kami yang membawa Snickers yang kemudian dipatah dan dibagi tiga. Panitia-panitia, entah dengan mobil, entah dengan motor, berkali-kali menawarkan tumpangan agar kami segera diangkut ke finish. Namun kami dengan keras kepala menolak.

 

Menjelang dekat finish, kami ditemani lari oleh seorang pelari senior yang bercerita tentang intrik-intrik lari trail. Ia berkisah, pada event-event trail run di Jawa sana, tidak jarang ada kelompok pelari yang bagi-bagi peran, yakni peran untuk sengaja menyesatkan pelari lain. Jadi kata senior itu, janganlah terlalu semangat mengikuti pelari di depan, lihatlah pada penanda lomba, kalau sudah beberapa ratus meter tak terlihat lagi penanda, maka segeralah kembali. Begitu. Wow. Lucunya di kasus saya tadi setelah cek poin pertama, justru saya yang semangat menyesatkan diri sendiri dan justru terselamatkan oleh petunjuk sahutan peserta lain. Terima kasih!

Dari kami bertiga, seorang akhirnya memutuskan lari lebih dulu ke depan. Kemudian seorang lagi lari di depan saya disemangati teman-temannya. Terakhirlah saya di belakang. Begitu terus sampai akhirnya kami sampai tujuan.

 

Dari seluruh peserta.

Saya manusia yang finish terakhir.

Keren gak? Banget! Ha! Ha! Ha!

 

13124914_10206622245338731_5004139125957574451_n
Akhirnya selesai 18 kilometer altitude run!

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Pengalaman Lari di Sibayak Altitude Run

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s