Pengalaman Lari di Sibayak Altitude Run

Niat saya mendaftarkan diri pada Sibayak Altitude Run sebenarnya adalah untuk membangkitkan kembali motivasi lari yang sedang turun-turunnya. Namun ternyata sama aja. Masih dilanda kemalasan luar biasa. Masih payah. Sampai hari-h pun saya belum sempat melaksanakan satu long run yang cukup sama sekali. Waktu acara? Keteteran. Saya peserta yang finish terakhir. Paling belakang.

 

Begini kronologis ceritanya:

 

  1. Perjalanan awal.

 

Bersama seorang rekan kerja serumah dinas yang hendak pulang cuti, saya berangkat menuju Medan. Di pesawat sempat terjadi guncangan. Saya ketakutan, lalu meringkuk ke perutnya. Saat itulah saya berpikir, mengapa saya takut mati, apa yang sesungguhnya saya takutkan? Segala pemikiran yang belum tersampaikan, atau minimal tertuliskan; yang tertunda, yang terlupa, dan yang belum matang; saya tidak rela. Oke. Mungkin memang sudah panggilannya; selalu ingin kembali menulis lebih banyak, apapun wujudnya.

 

 

  1. Pisah di Medan.

 

Teman saya lanjut menuju Palembang untuk menghadiri acara pesta pernikahan seorang teman. Sementara saya, memuaskan diri melahap waffle sebelum kemudian buru-buru menemui pihak panitia yang menjemput. Panitia yang menjemput saya protes, karena saya tidak memakai kaca mata hitam seperti yang saya bilang di telepon. Lho,tapi framenya hitam kok. Lagipula, lensanya nanti hitam kalau kena sinar matahari.

 

 

  1. Menuju Sibayak.

 

Masuk ke Mobil. Saya disambut oleh penumpang lain yang kemudian diketahui ternyata adalah seorang jurnalis majalah olah raga. Ia sibuk dengan gadgetnya, saya asik membaca Foundation Trilogy. Lalu mobil bergerak menjemput satu orang lagi di Medan, peserta juga. Jalanan waktu itu macet cukup panjang. Kami memutar mengambil jalur alternatif. Di jalan saya mendengarkan obrolan menarik, yakni adanya doorsmeer plus-plus di daerah menuju Sibayak yang saat itu sedang kami lalui. Haha, jadi, itu maksudnya tempat cuci mobil yang supirnya juga sekalian “dicuci”. Obrolan sampai ke topik tersebut bermula dari respon pihak penjemput terhadap keinginan salah seorang dari kami untuk berhenti turun izin buang air kecil.

 

 

  1. Sampai di Sibayak.

 

Tepatnya di daerah pemandian air panas Ncole. Wah. Awkward. Saya malu. Saya minder. Belum kenal siapa-siapa. Bingung. Oh ya, ambil BIB dulu! Begitulah, lalu, bersama seorang peserta lain, saya mengambil racepack lalu melanjutkan proses administrasi. Setelahnya kami duduk-duduk di samping kolam pemandian air panas, berbincang-bincang. Ia makan indomie rebus, lalu saya ditraktir teh hangat; terima kasih! Oh ya, kami juga foto-foto. Kemudian setelah mendapatkan kunci hotel, saya segera berangkat, bongkar barang bawaan, istirahat sebentar, lalu malam-malamnya saya kembali ke pemandian air panas itu sendirian; berendam. Fuah! Mantab.

13096128_10206610299640096_505311643562960366_n

13124785_10206630189297325_872215670253686425_n

13083145_10206630189377327_1921819121584197040_n

 

  1. Sebelum Start.

 

Gila. Rasa khawatir telat bangun itu gak enak banget. Saya pasang alarm berlapis-lapis. Bangun lebih awal, yakni sekitar pukul tiga pagi. Namun itu terbangun karena mimpi buruk. Mimpi apa? MIMPI TELAT BANGUN. Hal ini persis banget terulang seperti saat-saat dulu saya hendak lari di Jakarta Marathon 2015. Justru karena kekhawatiran itulah tidur jadi terasa kurang dan tidak nyenyak. Setelah tersiksa bangun-tidur-bangun-tidur-bangun dalam kegelisahan mengerikan, saya putuskan untuk bersiap segera menuju ke tempat start.

13087705_10206622240018598_2371098260347500087_n13139294_10206630190377352_2120111498706958932_n

 

Di sana belum ramai saat saya sampai. Saya duduk bengong, pusing, dan bingung. Takut juga. Apa saya mampu? Saya tidak bawa headlamp, hanya lampu senter genggam yang baterainya sudah mau mampus. Menjelang start, kami berkumpul. Angin bertiup dingin. Gelap. Gerimis.

 

 

  1. Mulai lari.

 

Saya start termasuk di barisan paling depan. Namun belum tiga langkah saya ambil, saya sudah diserbu orang bersalip-salipan di kanan kiri saya. Ngebut sekali mereka. Saya lari, mencoba mengejar, namun tetap menjaga pace sesuai batas aerobic saja sembari berulang-kali melirik penunjuk heartbeat di garmin. Gelap. Gelap. Gelap. Saya terpisah sendiri. Terlalu ke depan untuk pelari selambat saya. Terlalu lambat untuk sok buru-buru. Lalu ketika kemudian mulai masuk ke jalur hutan, saat itulah keraguan mulai terakumulasi menjadi beban di hati.

 

 

  1. Cek Poin Pertama.

 

Di hutan gelap sendirian, awalnya saya mampu mencari jalan. Memang dituntut untuk mampu mengira-ngira jalan, mencari jejak sepatu manusia di antara lumpur dan mencari penanda jalan entah di pohon, entah di batu, entah di mana. Tapi akhirnya saya berhenti di tempat karena betul-betul tidak tahu mesti ke mana. Lama saya menunggu, akhirnya datanglah dua pria berpakaian biru dari belakang. Mereka sangat baik dan mau melanjutkan perjalanan bersama saya. Kami sempat tersesat bersama-sama di hutan itu. Lampu senter sayapun sempat mati, beruntung ada headlamp mereka. Menanjak hutan terjal terus sampai akhirnya terang. Ketika pria di depan memperingatkan saya atas duri; saya teringat seorang teman yang dulu pernah lari trail di bogor hingga kepalanya sobek kena tanaman. Takut.

13095734_10206622240858619_1163765199890099816_n
Mulai Meninggalkan Gelapnya Hutan

 

Keluar hutan, kami terus menanjak ke cek poin pertama. Saya sampai lebih dulu, lalu turun gunung sendirian di depan. Turunannya sangat licin. Saya tidak berani jalan. Hanya berani duduk merosot. Mengadu pantat dengan lumut dan batu. Saya bergerak dengan semangatnya karena masih begitu naif mencoba mengejar Cut Off Time; hal ini saya sesali. Karena kemudian saya tersasar. Terima kasih lagi kepada mereka, karena  mendengar sahutan mereka dari jauhlah saya sadar bahwa saya salah arah dan perlu lari naik kembali. Jadilah saya kemudian yang berada di belakang.

 

 

  1. Cek Poin Kedua.

 

Menanjak gunung lagi. Yah, setidaknya kali ini tidak melalui hutan-hutan lagi. Tapi tetap saja berat. Lebih tinggi pula. Saya kapok melesat sendirian lagi. Takut tersasar karena sok tahu. Jadilah kali ini saya ikut bergerak seiringan dengan dua orang lain lagi. Tepat sebelum puncak, ada jalur batu besar yang harus dipanjat; saya pikir tadinya saya tak mampu, namun setelah ditawari pertolongan, ternyata saya mampu naik sendiri. Woah, kok bisa ya, sayapun bingung; mungkin saya hanya takut. Ah, lupakan, yang penting sampai!

13124845_10206622245178727_4193797606520635172_n

13076840_10206630206537756_5239476758979326665_n
Makan Jeruk dan Nanas

Setelah sampai puncak dan mendapatkan gelang cek poin kedua, kami turun. Di bawah, kami menyempatkan diri makan jeruk dan nanas dan minum air pada water station yang disediakan panitia. Kemudian kami melesat terus. Pada jalur sebelumnya nyaris tidak bisa dibuat lari saking terjal dan licinnya. Barulah pada jalur ini kami bisa betul-betul lari macam di acara lomba lari.

13124955_10206630207017768_1822902622083343239_n

 

 

  1. Cek Poin Ketiga

 

Jalanan turun. Kaki ini dipaksa untuk bergerak lebih cepat oleh gravitasi. Lutut menerima tekanan yang lebih kuat karenanya. Sakit! Serius. Kami terbawa momentum, lari terlalu cepat sampai kesulitan berhenti sendiri. Seorang peserta mencoba berhenti dengan meraih tanaman, tapi gagal, dan terpelanting jatuh. Katanya, kalau ada rekaman youtubenya, dia mau lihat. Tapi begitu diminta diulang lari lalu jatuh, ia tidak mau. Yeah, ngeri memang. Kamipun akhirnya bergerak pelan karena takut kesulitan berhenti kalau lari. Hahaha. Ternyata jalur menuju cek poin ketiga ini cukup panjang. Seorang dari kami lari duluan, saya dan seorang lagi mengekor di belakang. Sialnya, ternyata di jalur ini kami harus melewati hutan lagi.

13076860_10206622246658764_7860297787550612235_n
Keraaaaaaaaam!!!

 

Di sana saya terpeleset jatuh, kaki terbenam lumpur, dan paha kiri saya keram. Peserta lain itu membantu meluruskan kaki saya yang keram dan terbenam lumpur, kemudian saya beri tahu ia untuk pergi duluan saja. Begitulah, saya tergeletak sendirian tak bisa bergerak. Yah itulah hidup. Tapi setelah beristirahat sampai dirasa sembuh, saya segera maju lagi seperti pada lirik lagu Frank Sinatra yang berjudul That’s Life:

Each time I find myself lying flat on my face,

I just picked myself up and get back in the race!

 

Perjalanan hingga mencapai cek poin ketiga ini kurang menarik, kecuali saat saya harus terpaksa melalui jalan yang dijaga dua anjing besar yang semangat sekali menggonggong. Saya yang lelah hanya berjalan lunglai pasrah, melambat, membisu, sampai akhirnya mereka minggir dan saya berhasil lalu. Sampai di cek poin tiga, saya berhasil berkumpul kembali dengan dua peserta sebelumnya. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan bersama dengan lebih santai berdasarkan saran panitia yang menjaga cek poin ketiga. Saking lelahnya, setiap beberapa ratus meter kami duduk istirahat, bahkan sesekali berbaring di jalanan. Ada salah satu dari kami yang membawa Snickers yang kemudian dipatah dan dibagi tiga. Panitia-panitia, entah dengan mobil, entah dengan motor, berkali-kali menawarkan tumpangan agar kami segera diangkut ke finish. Namun kami dengan keras kepala menolak.

 

Menjelang dekat finish, kami ditemani lari oleh seorang pelari senior yang bercerita tentang intrik-intrik lari trail. Ia berkisah, pada event-event trail run di Jawa sana, tidak jarang ada kelompok pelari yang bagi-bagi peran, yakni peran untuk sengaja menyesatkan pelari lain. Jadi kata senior itu, janganlah terlalu semangat mengikuti pelari di depan, lihatlah pada penanda lomba, kalau sudah beberapa ratus meter tak terlihat lagi penanda, maka segeralah kembali. Begitu. Wow. Lucunya di kasus saya tadi setelah cek poin pertama, justru saya yang semangat menyesatkan diri sendiri dan justru terselamatkan oleh petunjuk sahutan peserta lain. Terima kasih!

Dari kami bertiga, seorang akhirnya memutuskan lari lebih dulu ke depan. Kemudian seorang lagi lari di depan saya disemangati teman-temannya. Terakhirlah saya di belakang. Begitu terus sampai akhirnya kami sampai tujuan.

 

Dari seluruh peserta.

Saya manusia yang finish terakhir.

Keren gak? Banget! Ha! Ha! Ha!

 

13124914_10206622245338731_5004139125957574451_n
Akhirnya selesai 18 kilometer altitude run!

 

 

 

 

 

Advertisements

Bakwan: Mengampuni Manusia

Kepala Kantor: “Ikhlas?”

Saya: “Enggak ikhlas.”

 

Terdengar kepala seksi saya terhenyak, lalu bergumam lirih mengulangi kata-kata saya, “Eh, enggak ikhlas.” Ia seakan-akan tiba-tiba menciut.

Saya lanjutkan makan saya tanpa sudi menatap manusia yang sedang mengunyah bakwan rampasan dari piring saya. “Kok pahit ya?” Tambah Bos kantor kami itu. Saya abaikan pertanyaannya bagai angin lalu. Setelah bertanya-tanya ke pegawai lain di ruangan itu tentang ketidakberadaan telepon di ruangan kami, ia pergi. Ia selamat. Ia saya ampuni.

 

Sungguh, ketika ia mempertanyakan keikhlasan setelah mengambil dan mengunyah bakwan satu-satunya di piring yang sedang saya makan, terlintas pikiran-pikiran berikut:

 

“I am unattached to this world. I don’t have any stake or anything I’m afraid to lose. I don’t feel that I have ever any actual family. I don’t have a home. Past and present are pretty illusions. Not even future, for all living thing, shall perish, and goals are a mere device to fool oneself just to breathe another day. I don’t fear god. I don’t fear prison. I am lost, I am alone, I am free. Even reciprocal altruism is at my mercy. Right in this moment, I can snap your neck, rip open your belly, eat your heart raw, bathe your corpse with my semen, and make paintings with your blood and feces. Go away quick. Begone. Off you pop. Hurry!”

 

Mengerikan rasanya. Saya sangat takut. Takut bahwa pikiran-pikiran itu bukan sekadar hal yang dilebih-lebihkan karena emosi sesaat. Bagaimana jika hal tersebut merupakan kebenaran? Selama berjam-jam kemudian, pikiran saya merosot berputar-putar ke dalam jurang-jurang gelap kotor bau tengik, keji dan busuk dan tolol dan basah becek air mata. Malu-malu asu mengharapkan ikatan dengan dunia, tapi begitu sombong atas perbedaan yang diada-ada. Apalagi sesungguhnya tidak ada materi diri yang dapat dijadikan alasan andalan atau leverage dalam argumen keberadaan; karena saya memang faktanya hanya seonggok daging tak tahu diri yang berimajinasi terlalu tinggi.

 

Tapi akhirnya saya tertawa saat menulis ini. Karena sungguh lucu, ketika pikiran saya meledak dengan segala khayal ketidakterikatan diri dengan dunia, justru dan justru disebabkan oleh emotional attachment terhadap bakwan.

 

ANJIR GOBLOK HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. LET IT GO BRO. LET IT GO.

.

.

.

Then kill yourself.

.

.

.

Guus Hiddink.

292px-guus_hiddink_2012

Eh Just Kidding maksudnya.

 

 

 

 

Jurnal Mamam

Dulu, awal-awal mulai lari. Salah satu hal yang membangkitkan motivasi adalah pencatatan. Perekaman data-data setiap lari dapat membuat saya menjadi semangat karena jadi tertantang untuk mengalahkan catatan pribadi diri sendiri sebelumnya. Lalu saya mau iseng coba melakukan pencatatan, manual, pada apa-apa yang saya konsumsi selain air putih. Dalam konteks makan umumnya semakin sedikit semakin bagus, semakin tidak konsumtif, semakin hemat. Sementara itu dalam konteks intermittent fasting, jarak antara makan terakhir dalam satu hari ke makan pertama hari berikutnya semakin jauh semakin baik. Ternyata, setelah dicatat, ternyata parah, saya masih makan terlalu banyak. Banget. Ada rekan kerja bilang, Meulaboh ini bikin gemuk, sejak pindah ke sini, ia dan satu rekan kerja lain, jadi menggelembung. Haha, mungkin karena memang minim hiburan, sehingga manusia-manusia beralih ke makanan.

Ternyata, setelah dicatat, ternyata parah, saya masih makan terlalu banyak. Banget. Ada rekan kerja bilang, Meulaboh ini bikin gemuk, sejak pindah ke sini, ia dan satu rekan kerja lain, jadi menggelembung. Haha, mungkin karena memang minim hiburan, sehingga manusia-manusia beralih ke makanan.

Berikut merupakan Jurnal Mamam yang saya mulai sejak 11 April 2016 hingga malam ini 16 April 2016:

11 April 2016

0900

2 bakwan minta ke farhan

1247

1 piring lontong sayur

1 gelas kopi susu

1330

1 botol youc1000 mg vit c

–Jarak 1330 ke 0800 = 18,5 jam—

12 April 2016

0800

1 bungkus nasi gurih telur lado

1 risol minta ke syuban

1 gelas teh manis

0930

1 bakpau minta ke pak erwin

2 kue basah minta ke pak erwin

1 serabi minta ke pak erwin

1330

1 yakiniku bento

1 twisty

1 mocha float

–1330 ke 0830 = 19 jam–

13 April 2016

0830

1 porsi lontong pecel

1 bakwan

0900

1 nestle crunch

2 tablet vitacimin

1 yakult

1241

1 mie tiauw + kerupuk

1 es teh manis

1320

1 es campur

–Jarak 1320 ke 0815 =  18 jam 55 menit–

14 April 2016

0815

1 nasi gurih telor ceplok

1 gelas sanger

1 cheddar mini kraft

2 tablet vitamin c

1100

2 permen tamarind

3 nestle crunch

1 tablet vitamin c

1230

1 piring nasi pecel + ikan

1 es jeruk minta ke zainul

1530

1 plastik kerupuk

1 buah oreo minta ke Bu Rusni

1800

1 ciki cikian rasa keju minta ke Syubban

1 yakult minta ke syubban

1900

1 piring nasi lemak sulo sulo

1 botol frestea

–1900 ke 0800 = 13 jam–

15 April 2016

0800

3 gelas kopi pahit

7 macam kue

0930

1 porsi lontong pecel

1200

2 tablet vitamin c

1400

1 sari roti keju

1 soyjoy kacang

1 botol niu milk tea

1830

1 piring nasi goreng bumbu penyet

1 gelas jus wortel susu

–1830 ke 0910 = 14 jam 40 menit–

16 April 2016

0910

1 botol youc1000 mg vit c

0945

1 botol pocari sweat

1030

1 piring nasi gurih telor mata sapi

1 gelas sanger dingin

1230

1 permen green tea

1700

5 gorengan

1 botol nutriboost milk orange

1 botol frestea

1800

1 botol kiyora matcha

1830

Secuil abon solo minta ke Farhan

2200

1 piring serabi keju cokelat

1 piring mie aceh pake telur

1 gelas ice chocolate vanilla

—–

Umumnya manusia melakukan intermittent fasting dengan pola 16/8, yakni 16 jam puasa, 8 jam makan. Tapi susah plek banget begitu. Kalau lagi malas, saya bisa sampai 24 jam gak makan. Ya malas aja. Tapi kalau lagi sibuk, atau stress, atau karena dikasih makanan, ditawarin makanan orang, yah gitu deh mumpung gratis, maka biasanya start puasapun jadi saya undur. Silakan cari tahu sendiri tentang intermittent fasting, sudah malam, saya malas ngetik, yah, intinya macam ocdnya om deddy sih.

 

Pengakuan Tentang Tuhan dan Agama

Menginjak umur ke-23 ini, saya tidak mau lagi membohongi diri sendiri dan hidup dalam keterpaksaan. Dengan tulisan ini, saya akan mencoba menggambarkan kira-kira seperti apa kepercayaan yang ada dalam diri saya. Maafkan saya jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih telah sudi membaca.

 

***

 

Saya tumbuh dalam keluarga yang menganut kepercayaan kelompok Islam tertentu. Secara praktik, dan garis besar, saya salut dan kagum atas orang-orang dalam kelompok tersebut, karena mereka memiliki kejujuran,  ketekunan, dan integritas yang bisa dibilang cukup dapat diandalkan.

Tapi bagaimanapun, saya menemukan ketidakcocokkan.

 

Kelompok ini menganggap bahwa Islam di luar mereka tidak sah amal perbuatannya sehingga tidak akan masuk surga dan akan jatuh ke neraka. Dulu, sebelum menyadari kepercayaan ini adalah hal yang ganjil, saya sangatlah sombong. Misalnya, ketika terjadi pertengkaran dengan teman yang tidak “seiman”, dalam pikiran saya akan terngiang suara yang meyakinkan diri bahwa nanti mereka akan masuk neraka, sementara saya dijamin ahli surga. Dampak pikiran ini bisa dilihat pada rekam jejak hidup saya sejak TK hingga SMP yang penuh dengan perkelahian karena saya dulu merasa manusia paling benar.

Seiring bertambahnya usia dan pendidikan, saya mulai menyadari bahwa kepercayaan semacam itu jangan dijadikan sandaran karena akan membawa kesedihan dan perpecahan. Pada suatu waktu, teman saya bercerita tentang “kelompok-kelompok” sesat dalam Islam. Tanpa diketahuinya, salah satu yang dijelaskannya adalah kelompok yang saya dan orang tua saya anut. Waktu itu saya diam-diam menitikkan air mata. Bukan hanya karena merasa terhina, namun juga karena timbulnya suatu kesadaran kecil yang perlahan menjadi renungan-renungan keras dan menyakitkan.

Begini, jika adalah sesat ketika sebuah variasi Islam, sebut saja X mengklaim variasi agama Islam lainnya tidak sah; maka ketika agama Islam secara umum mengklaim X adalah sesat, bukankah secara tidak langsung agama Islam menerapkan logika kesesatannya terhadap diri agama Islam itu sendiri? Kemudian, kalau dilihat melalui sudut pandang yang lebih besar, bukankah agama Islam itu sendiri merupakan variasi dari agama lain yang juga mengklaim kesesatan terhadap variasi lainnya. Segalanya seperti sebuah lingkaran permusuhan yang kelam dan tak ada ujungnya.

Bukankah agama seharusnya suci dan mensucikan? Mengapa justru saling memelihara benci dibalik kesombongan surgawi masing-masing? Saya ingat pernah mendengarkan suatu nasihat keagamaan yang intinya berpesan: setan mampu membuat hal-hal yang sesat menjadi indah di mata manusia. Kemudian waktu itu saya berpikir, mungkinkah, sebagian aspek agama dan janji surgawinya merupakan hal sesat yang dibuat jadi indah oleh setan di mata manusia?

Sementara itu di satu sisi, saya mulai curiga bahwa saya sebenarnya tidak betul-betul percaya, mungkin, hanya “ingin” percaya karena berbagai ancaman neraka. Karena, kalau diingat-ingat, pada masa-masa SD, saya pernah berkhayal bahwa jagoan-jagoan masa kecil seperti Son Goku, Power Rangers, Ultraman, dan sebagainya berkumpul bersatu membunuh memusnahkan Tuhan. Hal tersebut adalah imajinasi bocah kecil ingusan yang jujur dari dalam benaknya tanpa hasutan siapa-siapa.

Sampai sekarang, saya masih berusaha menghargai orang-orang dalam kelompok tersebut, begitu juga kepercayaan mereka. Karena saya percaya, bahwa memang, agama dan berbagai variasinya merupakan sesuatu yang alami dan dibutuhkan oleh sebagian besar manusia. Sayapun masih percaya kepada Tuhan. Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Yang saya tidak percaya adalah batasan-batasan yang diberikan kitab-kitab agama kepada Tuhan. Hal tersebut membuat seakan-akan Tuhan adalah budak agama; ada untuk memenuhi tugas-tugasnya yang tertulis di sana.

Orang bodohpun tahu, bahwa tidak hanya manusia dari agamanya masing-masing yang hidup di dunia ini. Manusia beragama lain tersebut tentu banyak juga yang melakukan kebaikan bermanfaat bagi seluruh manusia lainnya. Namun kekonyolan agama memperbudak Tuhan untuk hanya menghargai manusia dari agamanya masing-masing untuk menghukum dengan keji kepada manusia dari agama lainnya. Sungguh, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih seharusnya tak tunduk pada ikatan semacam itu.

Tapi mengapa Tuhan membiarkan ada janji-janji surga neraka seperti itu pada kitab-kitabnya? Mungkin karena memang mayoritas populasi pada zaman turunnya kitab-kitab tersebut memerlukan insentif dan disinsentif semacam itu untuk menggerakan perbaikan peradaban dengan cepat. Mungkin juga karena, Tuhan percaya, seiring dengan dewasanya kesadaran kolektif manusia, manusia akan mampu mengoreksi kepercayaan-kepercayaan tersebut dengan sendirinya.

Begini, karena mau sekuat apapun usaha manusia untuk menjaga kemurnian agama dari kitabnya, ujung-ujungnya yang melakukan tatap muka dengan tulisan wahyu Tuhan tersebut adalah manusia. Manusia memproses informasi dengan bahasa dan logika. Perkembangan zaman sangat mempengaruhi kedua unsur tersebut. Sehingga, biarpun misalnya isi sebuah kitab suci mampu tetap dijaga dari A tetap A sejak zamannya turun hingga seribu tahun lagi, interpretasi akan maknanya akan terus berubah. Intinya, biarpun sumbernya wahyunya murni, pihak penafsir tidak akan mungkin menafsirkan dengan sempurna. Agamapun bukannya setuju bahwa manusia adalah sumber segala kelemahan dan kerusakan? Apakah para penafsir, para guru agama, adalah spesies bukan manusia yang mampu menafsirkan dengan sempurna?         

Saya menyimpulkan bahwa Tuhan-Tuhan yang digambarkan agama-agama, hanyalah potongan teka-teki yang tak sempurna. Gambaran tersebut disajikan keberadaannya oleh Tuhan agar setidaknya manusia mampu mengenal konsep Tuhan. Saya sendiripun sadar, sebagai manusia, saya sangat tidak berdaya dalam menafsirkan apalagi menggambarkanNya; sayapun bukan seorang ahli agama, bukan filsuf, bukan ilmuwan; bukan siapa-siapa selain bocah ingusan yang terlalu banyak melamun. Maka sesungguhnya yang saya pegang dan sajikan di sini hanyalah semacam wujud harapan, bahwa ia, Tuhan, adalah Zat yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Saya tumbuh bergaul dengan non muslim, bahkan teman dekat pertama saya dulu di SD adalah seorang Kristen Protestan, Philip namanya. Seiring beranjak lebih dewasa, saya semakin menyadari bahwa non muslim adalah manusia seutuhnya, yang sama memiliki perasaan dan kehidupan setara, seiribg itu juga saya mulai mengutarakan doa seusai sembahyang kepada Tuhan untuk mengampuni SEMUA makhluknya. Karena dalam ketakutan saya di bawah ancaman akhirat yang keji, saya punya harapan besar pada sifat Tuhan yang utama, yakni Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Pernahkah kamu manusia sekalian berpikir? Bahwa berdasarkan sifat Maha Kuasanya, Tuhan mampu membatalkan SELURUH janji-janji pada kitab-kitabnya. Ia juga mampu menghapus dan mengubah ingatan kita dalam sekejap.

Bayangkan suatu kejadian pada satu waktu di akhirat nanti: ada golongan yang protes kepada Tuhan, “Wahai Tuhan, mengapa kamu tidak memasukkan golongan-golongan selain kami ke Neraka?”

Tuhan tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, dengan kekuasaannya ia mampu menghapus dan mengubah isi kepala seluruh golongan manusia tersebut sesukanya. Atau, Tuhan bisa saja menyelesaikan protes ini dengan menciptakan dunia paralel yang berjalan berdampingan untuk memenuhi setiap hasrat berpandangan sempit setiap kepercayaan yang ada; yakni dengan penciptaan versi akhirat masing-masing yang dihuni oleh fotokopi sempurna seluruh umat manusia dalam berbagai garis takdir dan nasib. Intinya: 

Tuhan YANG MAHA KUASA mampu membuat isi seluruh kitab agama menjadi tak bermakna, atau tetap bermakna secara paralel tanpa ada kontradiksi yang mampu dideteksi makhluk rendahan seperti kita. Terkait sifat tersebut, yang kita dapat lakukan sebagai manusia hanyalah pasrah dan berharap ia akan menggunakan segala kemahakuasaannya untuk menunjang, mewujudkan, dan menunjukkan sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayangnya.

Saya tidak peduli apakah agama A, atau agama B, atau agama C yang benar. Segalanya merupakan bagian dari serpihan teka-teki kebenaran yang lebih besar yang mungkin memang tak akan pernah dipahami manusia. Banyak sekali kemungkinan yang ada! Bisa jadi memang tidak ada Tuhan. Bisa jadi ada!

Saya tidak memihak posisi percaya ada (theist) atau percaya tidak ada (atheist). Saya hanya memihak posisi berharap, yang tidak terikat agama, yang tidak terikat anti-agama. Terkait boleh, tapi tidak terikat.

Tapi mungkin bagi sebagian orang, berharap saja tidak cukup. Mungkin selain berharap, kita juga harus bekerja. Dalam berbagai kemungkinan ketuhanan yang ada, saya berandai-andai suatu saat kita mampu menemui Tuhan secara langsung, tanpa melalui mati dulu dan tanpa akhirat. Mungkin inilah yang harus kita upayakan. Untuk apa? Untuk bersyukur tentunya. Juga untuk memuaskan rasa penasaran, dan untuk memohon langsung kepadanya agar memberikan sebuah proses dan akhir yang terbaik bagi seluruh makhluk yang telah mati, sedang hidup, dan akan lahir.

Saya pernah mempunyai imajinasi, bahwa manusia pergi meninggalkan bumi, mengarungi seluruh ruang angkasa untuk mencari keberadaan fisik Tuhan. Meski jika pencarian itu tidak akan pernah menemukan jawaban, upaya-upaya gigih manusia dalam berdamai bersatu dengan sesamanya akan menjadi berkah tersendiri yang sangat berharga.

 

***

Untuk Ibu dan Bapak. Semoga kalian kuat dan tabah membaca ini. Semoga Allah menjaga kesehatan kalian setelah mengetahui ini. Saya memohon maaf jika saya mengkhianati harapan kalian untuk tumbuh menjadi anak beriman dan bertakwa. 

Setidaknya ada dua alasan yang dapat menjelaskan segala pengakuan ini. Pertama karena memang saya percaya hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Kedua, mungkin karena saya hanya ingin menghiasi alasan yang paling sederhana, yakni kemalasan. Saya akui memang saya sudah sangat muak dan malas menjalani tekanan dan paksaan mengikuti harapan-harapan kalian, juga jadwal pengajian yang banyak menyita waktu dan rasa bersalah saat mengabaikan jadwal tersebuy yang membuat saya depresi sehingga hidup ini terasa sangat busuk dan pantas untuk ditinggalkan. Tak jarang saya berpikir, bahwa untuk segera mendapatkan kebenaran, mungkin baiknya saya segera mati saja demi menodong langsung jawabannya kepada Sang Pencipta.

Ibu pernah sempat mengizinkan saya untuk mencari calon dari luar kelompok agama kita, tapi kemudian Ibu seperti membatalkan izin tersebut dan mengutarakan peringatan, bahwa akan susah hidup berdampingan dengan orang yang tidak seiman. Nah, bayangkan hidup sesusah apa yang akan saya lalui jika saya tidak pernah berani mengakui bentuk kepercayaan saya yang sesungguhnya seperti sekarang ini? Apa-apa yang terbentuk dari kepura-puraan dan kesalahpahaman: hancur.

Hidup ini berat. Seringkali saya merasa terlalu lemah dan bodoh untuk menjalaninya. Tak jarang sejak kecil saya rasanya ingin meledak saja menjadi orang gila sepenuhnya untuk bebas dari dunia. Karenanya saya ingin menjalani hidup sesederhana mungkin dari bermacam faktor yang ada. Saya enggan belajar menyetir mobil, karena tidak ada keinginan memiliki mobil. Rumahpun saya enggan memilikinya karena berat rasanya untuk merawat. Apalagi keluarga dan anak. Apakah mampu saya memberikan kehidupan yang layak?

Selain itu, hal tersebut berpotensi banyak menghadirkan kekecewaan dan penderitaan. Tak jarang manusia tertekan karena khawatir hartanya hilang. Habis hidup mereka sibuk untuk mengejar mengurus menjaga rumah, mobil, dan lain-lainnnya yang sesungguhnya dapat tiba-tiba saja rusak atau hilang. Begitupun keluarga. Istri dan anak bisa jadi sumber kekecewaan dan patah hati yang luar biasa. Mampukah saya ikhlas jika nanti mereka diambil atau lepas atau mengkhianati harapan saya? Jika anak saya nanti berbeda jalan pikirannya sama sekali dengan saya, mampukah saya tetap tabah dan bijak atas segala sakit hati yang mendera? Jika Bapak dan Ibu mampu memberi contoh bahwa keikhlasan semacam itu mampu dilakukan atas segala dosa saya dalam pengakuan ini, mungkin saya akan mempertimbangkan kembali untuk memiliki keluarga nanti.

Saya tidak perlu macam-macam hidup di dunia ini, saya tidak perlu janji surga kenikmatan abadi, saya tidak perlu kekayaan berlimpah, saya tidak perlu istri cantik dan anak yang berbakti; yang saya perlukan sekarang hanyalah kesempatan hidup tanpa tekanan batin, tanpa teror rasa bersalah dan kepura-puraan, sehingga saya mampu lebih tenang dalam menjalani hidup seadanya sembari mencoba menekuni hobi-hobi yang saya gemari. Saya harap Bapak dan Ibu akan tetap menganggap saya sebagai anak meski memang saya bukan anak yang baik. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa mengampuni kita semua. Amin.


Maaf dan terima kasih.

My First Marathon: Analogy To Life Hardships

I wasn’t that serious about running. But I needed a result to convince myself that this dabbling in running wasn’t in vain. So, in August I registered mysef for a Full Marathon at Jakarta Marathon 2015.

At October 5th, I was deployed to my new office in Meulaboh.  I did consider canceling my participation in the race since the flight would be expensive, but arrogance and recklessness pushed me to disregard money in exchange for experience. At October 23th, I flew to Jakarta.

But why? Why would someone wasted his cash to put himself through  42.195 km of torture? What is so special about finishing a marathon? We’ll see the answer to this question later. For know, let’s keep going.

***

It’s a lie if I didn’t prepare at all, but it’s also a lie to call it adequate. I didn’t train enough. That’s one excuse, and yeah, I have a lot more excuses in my arsenal, for examples:  I didn’t sleep enough the night before the race (I blamed the mosquitos , the nightmare I had, and the broken air conditioner) and the visit to a sushi restaurant with my family was also a blunder (digestion problem! Not enough rest time!), etc. Damn, I’m a man of excuse indeed, what a fool. These crappy characters of mine then manifested in how I ran the race.

I arrived at Monas 5 minutes before 5 am. I was anxious that I’d be late; panicked and confused. Where should I go? Where’s the starting line for Full Marathon? Damn. So many people!  While I was feeling lost in the crowd, I heard some young men shouting about rushing for the Full Marathon, then I quietly followed them. Fortunately, I made it to the Full Marathon starting line in time; gasping for breath but glad.

When the race started, the weariness of lacking sleep and rushing about in panic was gone. I felt a surge of euphoria. I was overwhelmed by people’s desires. The mood was excellent. Amazing.

The first half of the race was really fun. I enjoyed the pace, the sweat, the energy, the pumping of the blood, the beating of the heart, the breathing through my nose and mouth, the scenery, the variety of people running around me, the frustrated citizens who complained about the road blocked because of the marathon, and of course: the sight of the elite runners when they passed by, running with the agility and grace of prideful wild beasts.

People were talking, cheering, joking, laughing, smiling. But after we passed the 20th km, those signs of jollyness slowly replaced with teeth gritting, limping, and cramping. Because the people who participated in the 5k, 10k, and half-marathon had finished their course before us, we marathoners were getting lonelier and lonelier in our struggle. This, worsened by the fact that our lines were stretched thin; not all marathoners were equal in terms of speed and stamina.

The despair and agony we suffered, made every gesture of kindness by anyone –the girls, the boys, the old folks, the children lined up to cheer us; the fruits, snacks, and drinks provided; the ice and the  cold-wet-sponge; the pain relieving gel; the shades provided by the trees and buildings; etc– felt like blessings.

The second half of the race was the true test of endurance and also, willpower. I knew that, so I slowed my pace down to a walk, grabbed my phone and played my favourite songs. I sang my favourite songs to welcome the great torture ahead with a wide smile. If any of you Jakarta Marathoners reading this recalled a man singing so carelessly like no one is watching, that’s probably me.

But then I got bored, and thought that, I wasted too much energy singing. Even, merely listening to songs were tiring. So I turned the songs off then switched to another method to distract my mind from pain and exhaustion. I took out a paper from my pocket, it’s a list of things I wanted to ponder while doing the marathon. There, after reading it for a while, I continued my run, deep in thoughts, mostly about hardships I survived since childhood, schools, college; my visions and plans for the future plus its possible obstacles; abandoned dreams and regrets; etc.

Past the 30th km: my garmin watch’s battery was almost emptied, so I saved the run before it died. I was too tired to run and think, then I stopped pondering about the things in the list. I also sat, and drank a 500ml of coffee I kept at the back pocket of my running vest. After the cafein jolted my brain, I tried to run again. But goddamn. It wasn’t merely a matter of mental fatigue, it’s an actual physical limitation. Almost at every running attempt after that, ended up in me limping because my legs were in the state of soon-to-be-cramped-if-I-pushed-even-a-little-more.

Near the 38th km, while limping on a flyover, tears flooded my cheeks. I cried my eyes out when I realized I cannot finish the marathon before Cut Off Time. I thought of this marathon as an analogy of life hardships;  that roads to achieve worthy goals may include tedious steps over and over and over wrapped in misery, such as these steps we took under the merciless heat of the sun, and the breath we inhaled from the polluted atmosphere of Jakarta. The truth is even worse: this marathon is actually far far simpler and easier than LIFE. I was strucked with the vision of my dreams crumbling before me. I was saddened to acknowledge that I may not possess the discipline and endurance to achieve the thing I aspire. The road bellow the flyover was so tempting to jump into.

I kept going. Because thepossibility of failure was already calculated and predicted. Even the emotional outburst was logically foreseen. I had anticipated these things before the race, and I already promised myself to keep pushing no matter what. Because it’s a fact that not every struggle reciprocated with the intended result. Hit and miss. That’s life. Keep hitting. Hurt the self. Pain is the gift of life. Pain is the curse of life. Whatever. Burn and learn. Then possibly earn. No? Burn again. Burn. Burn. Burn.

I finished the race in 7 hours and a half. Half an hour past the cut off time. I was given a finisher medal, but not given a finisher t-shirt. I laid myself down on the road under the refreshment tent, where other runners were also resting. My whole body was pained and weakened. I wondered: Why am I doing this?

IMG_20151025_181133_056

Screenshot_2015-10-28-10-46-50

But why? Why would someone wasted his cash to put himself through  42.195 km of torture? What is so special about finishing a marathon? Why would someone want to run a marathon?

I read answers to such question in quora, and I fancy Michael Boeke’s answer:
“When presented with the choice between a 5k, 10k, or marathon, knowing that marathon may bring me a bit closer to my inevitable meeting with the Grim Reaper, I choose the marathon – cause fuck him, that’s why.”

In Jessica Long’s answer to such question, she mentioned that, “Running is about overcoming yourself. It tests how strong a belief (the necessity of stopping) you can overcome with your mind. You learn how to choose what to believe.”

In his Galloway’s Marathon FAQ book, Jeff Galloway answered the question with this:
“Thousands of runners, many who have been high achievers in their career, have told me that finishing a marathon gave them the greatest sense of accomplishment and achievement ever. Not only do you have to put together 4-6 months of hard training, but during every long run and the race itself, each person has to draw upon resources inside. The empowerment gained from completing this journey often leads to other positive life changes.”

I’m plagued with failures in my whole life. I gave up too frequently and too early in so many aspects of life. I lost so many war before the first skirmish even fought. That’s why I always aim so low. Yet, recently, in this year of 2015, I dared myself to set myself a vision, that maybe too big for mindless worm such as I.

Failure is death. My Grim Reaper. I choose marathon. Cause fuck failure, that’s why. As I ran the miles, I fought against the belief that I needed to stop. Yeah, I rested indeed once in a while. But I continued and finished the race.

Who would’ve thought this strange lonely psychotic boy who grew up fat, even obese, managed to finish a marathon?

I surprised even myself.

I want to,
I must,
I will surprise myself even more.

If the marathon was my life, then I failed to reach my goal in time. Unfortunately, life is far more complicated and harder than mere marathon. I may starting to limp at some points of my life, I may cry at the 38th km of my life. Fortunately, the marathon wasn’t my life. This means I still possess a lot of chances to prepare for and struggle in the war ahead. I just have to make sure that I don’t jump at the next flyover I find myself weeping at.

DTU + PENEMPATAN + TOEFL

Akhirnya kami harus menatap DTU juga. Apa itu DTU? Diklat Teknis Umum, yang kali ini diberi embel-embel “pembentukan karakter”. Intinya sih pelatihan selama seminggu bersama para pelatih dari Kopassus. Pertama-tama kami dikumpulkan di Pusdiklat AP di Gadog. Kemudian setelah melalui serangkaian proses administratif dan diberi makan siang, kami diberangkatkan secara bergelombang menggunakan truk-truk tentara menuju Ciampea.

Ini truknya! Seperti mau dikirim perang saja!

Kami tiba di lokasi menjelang petang. Terdapat spanduk bertuliskan DTU Pembentukan Karakter yang menghiasi jalan sempit berbatu menuju perkemahan. Belasan tenda tentara telah didirikan. Sesuai urutan berdasarkan nama, saya mendapat jatah tinggal di tenda 9 bersama rekan sekamar saya saat dulu DTSD, yakni Senik Entrostop. Kami berduapun bercengkerama bersenda gurau sembari meminum es degan di salah satu warung warga yang berdiri di sekitar tenda. Setelah itu kami bertemu dengan mantan presiden Amerika Serikat, Harry Truman, sebelum kemudian bersama-sama melakukan reconnaissance menuju warnet, alias tempat mandi gay party, alias kamar mandi berbilik-bilik bernuansa biru yang akan menjadi sahabat sejati tuk melakukan investasi kotoran para peserta DTU selama seminggu. Ah ya, entah saat maghrib atau isya, saya dan Senik mendapat jitakan dari pelatih “S” di dekat kamar mandi karena menggunakan jaket. Begitulah kira-kira apa-apa yang terjadi pada hari ke-0.

Situasi Ciampea:

Jalan-jalan sempit, suasana berbukit-bukit. Ada gunung kapur. Cuaca terik, bahkan hingga malam terasa panas. Namun menjelang subuh suhu turun drastis. Satu hal yang menarik adalah tidak adanya nyamuk! Bahkan ketika bertelanjang diri di hutanpun kami tidak digigit nyamuk. Suasana hening, kecuali jika sedang diadakannya latihan perang di hutan-hutan sana. Suara tembakan, ledakan, helikopter, dan bermacam pekak mematikan yang mengagetkan menjadi background soundtrack kami selama pelatihan.

Kegiatan Selama DTU:

Diambil dari photo yang bertebaran di Path

Formulanya, mirip prajab kok, ketua tenda bergiliran, piketpun juga bergiliran, ada senat dan wakil-wakil senat.

Sebagian besar kegiatan dilaksanakan bukan di perkemahan, melainkan di lapangan. Terdapat dua lapangan, yang dekat namun lebih sempit, dan yang jauh tapi lebih luas. Yang lebih sering digunakan adalah lapangan yang lebih luas. Berbaris dua banjar kami berjalan dan berlarian sembari bernyanyi entah lagu-lagu apa saja yang sempat terpikirkan hingga mencapai lapangan. Kegiatan di lapangan biasanya serupa MFD saat prajab, yakni instruksi-instruksi yang berujung kepada tindakan berupa: merayap, merangkak, lari, berguling, jalan jongkok, dan sebagainya. Korban-korban mulai dari sekadar pusing dan muntah hingga yang tak mampu/mau melanjutkan kegiatan sementara berjatuhan pada kegiatan ini. Satu hal yang nyaris mendera seluruh siswa pada akhir DTU adalah: batuk masal layaknya sepasukan zombie. Debunya itu lho!

Dari senin sampai jumat kami terus merayap berguling seperti ini. Pada hari selasa (atau rabu?) kegiatan MFDnya jadi sedikit lebih sebentar karena ditambahkan kegiatan “perendaman” kami ke dalam selokan. Saat kegiatan berendam ini pulalah para siswa yang membawa uang di nametag jadi ketahuan dan harus merelakannya. Saya sendiri sebenarnya juga membawa uang, tapi tidak saya kumpulkan, toh hanya uang koin seribu, dan itupun sebenarnya uang koin hasil temuan teman saat kegiatan membersihkan sampah di tenda setelah sarapan pagi. Sepertinya pada hari itu jugalah saya mengalami blunder: pada materi latihan penghormatan pada sesama siswa, saya yang lelah tangan kanannya, khilaf melakukan penghormatan dengan tangan kiri. Saya tertangkap basah pelatih “L” dan mendapatkan cacimakinya, lalu diguling bolak-balik lapangan berkerikil tajam. Usai menerima tindakan, saya diberi perintah untuk kembali melaksanakan kegiatan. Namun rupanya jatah saya belum habis, karena menjelang akhir, saya kembali dipanggil ke depan oleh pelatih “S”, dan setelah dicaci lagi, saya diperintahkan untuk melaksanakan penghormatan dengan tangan kiri lama sekali hingga lengan saya sakit. Saya laksanakan tindakan itu sesempurna mungkin tanpa tangan turun sama sekali, karena saya tahu, jika ada satu kali saja turun, kemungkinan besar akan semakin menjadi berlipat-lipat hukuman saya. Namun pada akhirnya saya berhasil melalui itu dengan cukup aman.

Seusai istirahat ibadah dzuhur, biasanya MFD dihentikan dan digantikan dengan materi-materi lainnya, ada baris berbaris, ada bela diri, ada materi medis, ceramah dari KPK, ceramah keagamaan, dan lainnya. Lumayan banyak istirahatnya dari dzuhur hingga maghrib, apalagi ditambah schedule extra fooding dan ibadah bergilir dikarenakan kondisi tempat ibadah yang kurang memadai. Saat-saat banyak waktu istirahat inilah biasanya yang dimanfaatkan para siswa untuk berbincang dengan kawan lama atau berbaring melepas lelah pada daun kering atau bersandar pada batang pohon atau melirik-lirik tempat siswi duduk. Sementara itu, waktu-waktu seperti ini dimanfaatkan para pelatih untuk mencari “mainan” dari segala keunikan para siswa yang dapat dibuat lucu-lucuan. Salah satu contoh lucu-lucuannya adalah berikut: seorang siswa diperintah berseru bak burung beo, “Mana cowok? Mana cowok?” yang kemudian dibalas para siswa dengan dehem, “Hemmmm Hemmmmm Hemmm.” Kemudian pihak siswipun tak mau kalah dengan, “Mana cewek? Mana cewek? Yiiiiihaaaaaaa!!! Yiiiiiihaaaaa!!!”

Tiap maghrib kami pulang ke kemah, dan setelah pembersihan dan ibadah, biasanya ada tambahan pengarahan-pengarahan. Terkait yang sakit, terkait laundry, terkait kegiatan esoknya, terkait yell-yell, lagu mars djpb, dan sebagainya.

Pada malam hari, setiap tenda harus ada jaga serambi, dua orang di masing-masing ujung tenda, dan bergantian sepanjang malam. Kemudian pada pukul 4 pagi, kecuali pada hari pertama (senin) dan terakhir (sabtu), ada jadwal senam pagi. Menu senam paginya serupa seperti saat prajab, bahkan bisa dibilang relatif lebih ringan karena tidak ditambah porsi lari. Setelah itu pembersihan dan ibadah, barulah sarapan dengan nasi kotak.

Pada jumat malam, terdapat kegiatan caraka malam. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 manusia. Lalu secara bergiliran kami masuk ke dalam hutan. Pertama-tama kami diberi tahu bahwa kami akan berperan sebagai pembawa pesan. Kami harus memahami dan mengingat pesan tersebut serta juga harus menjaga pesan tersebut dari pihak lain dengan sebuah sandi  sebagai alat identifikasi mana lawan mana kawan.

Saya masuk ke dalam kelompok 23. Kami melakukan kesalahan di awal, yakni memberitahukan jumlah dan nama anggota kami kepada pihak yang belum disandi, sehingga kami diperintah untuk lepas pakaian. Setelah itupun dalam perjalanan topi kami diambil pelatih. Namun memang situasinya membingungkan, mana batas-batas roleplay, mana batas-batas hubungan pelatih-siswa. Jadi saya mengusulkan kepada rekan sekelompok untuk memakai kembali pakaian, toh untuk apa menuruti perintah musuh? (jika masih dihitung roleplay). Di tengah kebingungan itu, setidaknya kami kelompok 23 berhasil sampai ujung mengantarkan pesan dengan terhormat, dan tidak mendapat tindakan berupa merangkak telanjang sembari berseru, “kami telah membocorkan rahasia negara.”

Yah, meski esoknya pada sabtu pagi, ujung-ujungnya kami harus mendapat tindakan karena hilang topi.

Hari terakhir ditutup dengan demo baris berbaris dan demo bela diri karate. Saya sebenarnya sempat diperintah pelatih “S” untuk ikut barisan karate, namun waktu itu melalui pertimbangan yang super sangat serius. saya lebih memilih istirahat bersama yang tidak terpilih di bawah pohon dari pada bergabung dengan para siswa-siswi terpilih.

Setelah demo dan upacara penutupan, kami dipulangkan ke Gadog dengan truk tentara.

Foto-foto dulu di Gadog seusai bertempur di Ciampea selama seminggu:

Foto-foto dulu di Pusdiklat AP

Bareng Senik dan Gamaliel

Di Gadog, sebelum pulang ke rumah masing-masing, ada pengarahan sedikit terkait kewajiban datang pada senin pagi untuk pembagian SK Penempatan.

Oh.

Yeah.

P

E

N

E

M

P

A

T

A

N

Minggu sorenya, saya, Harry, Dinov, dan Fry menginap di sebuah villa dekat Cimory Riverside supaya senin pagi dapat tiba tepat waktu di Gadog. Kami dikumpulkan di lantai tiga gedung utama, duduk sesuai gugus banjar abjad nama.

IMG-20150921-WA0003

Acara utama dibuka dengan laporan dari kepala kepegawaian, lalu sedikit arahan dari Pak Sekretariat Ditjen Perben, yang segera dilanjutkan dengan pemanggilan nama dan pembagian amplop berisi SK penempatan.

Rupanya banyak yang tidak sabar untuk membuka amplop secara bersama-sama, karena belum lama pembagian berlangsung, suasana berangsur-angsur menjadi sangat ramai dengan berbagai luapan ekspresi dan emosi. Saya dan Senik bertukar amplop, saya membuka punyanya dan ia membuka punya saya.

Senik mendapat penempatan di Ruteng.

Sementara saya.

Akan ditempatkan pada lokasi yang berjarak sekitar dua ribu dua ratus enam puluh kilometer dari tempat tinggal saya sekarang.

Jauh di sebelah barat Indonesia sana.

Tempat dahulu Tsunami singgah dan mempertontonkan keperkasaannya.

Meulaboh.

KPPN tipe A1, Meulaboh. Yang jaraknya kira-kira tak sampai 10 km dari pantai, dan 20.5 km dari bandara.

m

Untitled

Ya, setidaknya lokasi tersebut cukup jelas pada peta, dan namanya tidak begitu asing. Meski jauh, Meulaboh tidak terpencil. Ada akses bandara di sana, itu yang penting. Oke deh. Semoga bisa dioptimalkan penempatan di sana.

Sepulangnya dari Gadog Pusdiklat AP, saya dan Harry berangkat menuju Lembaga Bahasa Internasional FIB Universitas Indonesia untuk mengambil hasil TOEFL kami pada tanggal 10 September lalu.

Lumayan, saya naik 26 point. Meski masih kurang 24 point dari sempurna. Hasil sebelumnya saya 627, lalu sekarang naik jadi 653. Ya sudahlah, walau sebenarnya saya juga ragu entah hasil TOEFL ini mau digunakan untuk apa. Hoahm.

TOEFL SMITH_001

0000

Begitulah, selamat lulus DTU!

Selamat penempatan!

Perbendaharaan Jaya!

Treasury! Treasury! Treasury!

Hurray!

My Dabbling In Triath-alone

Shame is a great burden to shoulder. But do not drop the shame to pretend everything is fine. Even, I suggest to prolong and to enhance the weight (use your imagination! Be creative!). Because, its detrimental effects are actually rare resources we can try to use to our advantage. It may give way for strength and willpower to rise. To shoulder great shame, one must possess the necessary endurance, and this endurance we’d cultivate in mental and physical distractions.

First. I tried to swim, for an obese class one like me(at the time), it was the most comfortable sport. But it is costly so I turned to walk. Then slowly I tried to run. Well, god be damned, even after quite sometime and changed from obese class one to “just” overweight, I’m still struggling to finish even a 5 km run. My self-esteem rise and fall frequently just like my weight. Just not long ago, I lost 6 kg, but then I gained 2 kg. So what, I’ll just shed them again. Sometimes I feel like Sisyphus who’s condemned to push a boulder to the top just to watch it fall again and push it up again forever. But like Camus said, one must imagine Sisyphus happy!

º

At 20 July 2015, having just arrived the day before from a long trip to my grandmother’s village, I tried to perform a Triathlon Sprint Distance. Triathlon is an endurance sport that possesses death rate almost twice the death rate of marathon (says howstuffwork), awesome right? It consists of –conventionally in this sequence– swimming, biking, and running. It’s not merely dangerous to the health, but also to the wealth, duh, it’s an expensive sport! There are a lot of gears that screams, “Purchase me please!” like: swimsuit/wetsuit/trisuit/cyclingsuit, bike, goggles, bike shorts, running shoes, running belt, tracking device, etc. Whoa. Man. I don’t have enough resources to pay for those. and even the fee to triathlon events is probably too much for me. So, man, what the fuck, I just gotta do this shit my own way: minimum gears and solo (I think it would be cute to call this a triath-alone).
For Sprint Distance, the usual sequence and distance is swim (750 m), bike (20 km), then run (5 km). What I did was in the opposite sequence, run 5 km, bike 20 km, then swim 750 m. The logic behind the usual sequence is to prevent people from drowning out of exhaustion; because well, they actually sprint the race. Me? I didn’t intend to sprint at all, I merely trying to survive the distance and the pain, that’s it. Also, I kinda don’t like the idea of biking and running after being wet with chlorine in a pool; that’s why I rearrange the sequence so the running came first and the swimming came last.

As I said before, finishing a 5 km run is still not an easy thing for me. Especially when I just got home from a long trip; I was trapped inside a car for days, bored and kept shoving any food within arm’s reach into my mouth. That’s why, that morning, after I started my run at 07.00, I only managed to constantly running for (maybe) the first  km, and the rest of the run was filled with a run-walk-run switch; I finished it (5.09 km), in 38 minutes, with average pace of 7.33 min/km. I started and finished it at my home, there I took a piss, and drank a lot. But when I just wanted to grab my bike, I felt a slight cramp at my right thigh. It was not that painful, but the concern of what might follow that hurt so much. I doubted myself, “Stop this, you have two excuses, you just got home from a long trip, and now you got cramp!”. I was discouraged and disheartened, even my parents told me to stop. I took a deep breath, rested on the couch, browsing about cramps in my phone; in wikipedia, it says that one possibility that may cause cramping include low blood salt. I forced myself to stand up and then I ate a spoon of salt. I don’t know whether that really did the cramp justice or it merely served as a placebo treatment; the fact is, I decided to continue.
first tri running

I wasted 20 minutes in the first transition because of that cramps, and I rode my bike really slowly in fear of cramps. But after quite a while, I decided to be faster. At some point I went too fast for my own capacity, my knees felt like they have turned into stone, so I had to slow down to the point of almost standing still again. Overall, it went better than the run, I finished it (20.94 km) in 1 hr 6 min with average speed 18 km/h. I finished it at the Permata Timur pool.

first tri cycling

The pool’s area is 24 m x 12 m. To achieve 750 m, I had to swim the 12 m, 62,5 times. I thought it was going to be easy, but what the hell, I was wrong. After merely swimming for 12 x 4 in freestyle stroke, I was already hurting my arms. I was in despair. The innocence laughter of children playing at the pool suddenly felt like merciless mockery directed at me. I closed my eyes, rested myself for a while; brooding. Then I proceeded the swim with body facing the side, both hands stay still close, and I was only using my leg to stroke the water horizontally. With that form, I slowly regained calmness and focus, hence, I was able to use my arms again.  I didn’t have the device to track my swimming directly, so I merely using a stopwatch to count the time and my mind to count the distance. The result: I finished it (12 m x 64 = 768 m) in 51 minutes.

My phone's stopwatch
My phone’s stopwatch
The pool's ticket
The pool’s ticket
It was a bit crowded
It was a bit crowded

I started at 07.00 and ended it at 10.06. Of course the time was embarassingly slow. But I’m also quite proud and pleased. At least now I know I can survive the distance … and, am I allowed to call myself a Triathlete now? :p I wonder, should I try the olympic distance next (when?) or focus to increase my time in this distance?


Live slow!
Die whenever!

Nyaris Nyolong Sepatu Karena Melamun: A Foolish Discourse

Kemarin sore. Seusai menunaikan ibadah shalat ashar. Saya duduk. Di tangga pendek masjid dekat tempat wudhu yang menghadap ke lapangan. Saya meraih kaus kaki sembari memandangi permainan voli sekaligus melamunkan sesuatu juga. Di sudut mata saya, saya menyadari ada seorang bapak-bapak sedang menatap; rasanya ada yang salah. Kemudian, kaus kaki saya pakai. Dan memang ada yang salah. Mengapa warnanya hitam? Lanjut pakai sepatu. Talinya ke mana? Sepatu saya kan ada talinya.

10299541_10203296603559765_3547334252208825737_n

Ternyata, saya lupa kalau tadi pergi ke masjid pakai sandal bukan sepatu. Sepatu saya tinggal di kantor. Setelah tepuk jidat dan menunduk malu. Saya bangkit, memakai sandal, lalu segera pergi.

Ah. Malunya. Nyaris maling sepatu orang.

Tapi.

Bukan itu yang sekadar saya hendak bahas di sini. Melainkan lamunan yang menyebabkan kejadian konyol tersebut. Aduh. Ini dia:


A Foolish Discourse

♠♣♥♦

It was indeed my folly

To use

Other people as

A simulation fulcrum of the self

As if trying

To poke myself in the eye

With a thorn

But not through my own

Because I knew

This particular person

Would resort

To similar pattern of thoughts

With mine

If

Faced with such sudden abrasions

So

It was indeed my folly

To assume too much

Firing

Barrage of insecure accussations

In the form

Of arrogant and ignorant preaching

I felt

An enormous shame

When the mirror

Cracked

Songs of truth

About longing

Was unleashed

Damn

It was indeed my folly

To continue

The frantic downhill roll

As my fingers reached out

For roots, trunks, and anything

Yet I refused to hold them cause I kept pushing

Bruises proliferating

As walls being crushed

The frictions ignited a trail of madfire

As my interest in Epicureanism

And Thomas Jefferson

Rekindled

It was indeed a greater folly of me

To persist that all of these was complete follies

Because even in such a foolish discourse

Of pretentious philosophies

I unexpectedly

Rediscovered some portions of myself

Across these incisions of unsolicited advices

It is indeed one of my greatest folly ever

To keep regurgitating nonsense

To cover

To shade

To besmirch

The tiny illumination

From a supposedly forgotten candle

That [NOT] accidentally ignited

By the waltz and salsa of my madfire

Oh God

Will it burn bright to bless me with warmth?

Will it burn as blight and caress me with harm?

Oh

God

P H U C K

∗∗∗

Ruminations On Lost Love: A Calamity and A Miracle

Saya sudah merencanakan, dan menulis sebagian tulisan ini dari akhir September. Tadinya saya hendak menulis berbagai “good reason” sebagai alasan untuk menulis ini. Mulai dari sebagai “memberi pigura pada memori” hingga “litmus test sore-loserness-of-my-mental-state”.

PRET.

In the end, there are always only two shits, the good reason and the real reason. The real reason, the wrenching urgency, for me I realize now, is just simply to unleash these beasts that oppress my mind. Couldn’t let it be, couldn’t let it live any longer, they’ve been taking up so much space in my brain’s Random Access Memory. Haha. Jadi. Silakan membaca. I’ll try not to worry too much about what readers might infer from this piece of shit I’m about to tell. Whatever!

Akhirnya terus tertunda sampai tahun berganti. Nice. What a delay. Tertunda secara sengaja dan tidak sengaja. Menanti diri ini menjadi cukup distant supaya mampu menggambarkan dengan lebih objektif. Susah. Mau ditunggu sampai mampus juga sulit. Dalam rentang waktu sejak awal niat tulisan ini dipikirkan hingga terus tertunda sampai sekarang, terjadi sesuatu dalam diri saya. Dari yang awalnya stabil, perlahan bergerak ke semacam emotional roulette, lalu bergulir menuju stabil lagi. Kalau diilustrasikan dengan kurva, mungkin seperi kurva Law of Diminishing Return. Semoga saja tidak naik turun lagi nanti, jadi seperti kurva sinus dong ya kalau begitu.

Sebelumnya, saya minta maaf kalau-kalau ada yang menyinggung perasaan. Juga mohon maaf kalau misalnya kebelang-belangan bahasa pada tulisan ini mengurangi kenyamanan membaca anda. Kadang, untuk menjaga jarak dengan emosi, menulis dalam bahasa inggris itu cukup membantu lho; sepertinya dulu saya pernah membaca ada riset yang menunjukkan hal ini—respon emosi lebih dekat ke bahasa induk dibanding dengan bahasa lain yang dipelajari setelahnya. Semoga tulisan ini tidak berdampak jelek, semoga cukup jujur dan jelas. Thanks for reading.


KEGERAUAN

10599155_774435805948896_482793742409666787_n

This is true. But when the other one is actually braver. I’d be reduced to a scared little cat. Hissing fearfully. Almost crying. Because it’s too good to be true and there’s a big chance I’m just being played at. I tried so not to give in. I really did.

Awalnya saya berusaha mengabaikan,  mendinginkan diri, dan berusaha tidak tertarik. Bahkan sampai dia pernah bertanya kepada saya, apakah saya homosex atau straight, haha. Kemudian karena merasa sangat cocok dan memiliki banyak keselarasan jalan pikir, saya mulai berani lebih menerima interaksi itu. I think it’s fair to say that we respect, admire, and even “fear” each other, in similar ways. Like a truthful mirror that shows not only the nice things, but also the ugly. Momentum penting yang perlu digaris bawahi adalah ketika pada suatu waktu, percakapan “spekulatif” dengan nada bercanda terjadi: ia bertanya, apakah saya mau menjalani pacaran dengannya, yang waktu itu saya jawab entah.

Dikombinasikan dengan berbagai faktor lainnya sesudah percakapan bercanda itu, saya jadi semakin menderita “kegerauan” yakni galau akibat geer. Kegerauan itu pun lama-lama berubah menjadi bola salju raksasa yang terus menggulung menakutkan. Saya orangnya cenderung berpikir berlebihan terlalu jauh, sehingga karena pikiran-pikiran saja saya sampai jatuh sakit waktu itu. Sungguh mengerikan rasanya, diri saya terasa sangat lemah, pusing, panik, dan tak berdaya melawan akumulasi emosi. Sebelumnya tidak pernah saya sama sekali merasakan perasaan sampai sejauh itu, sampai saya sakit! Makanya saya, dengan enggannya, berani untuk menyebut itu sebagai “cinta”.

Ada kutipan yang cukup mengilustrasikan kondisi saya waktu itu: dari Paulo Coelho in The Zahir: A Novel of Obsession:

“Love is an untamed force. When we try to control it, it destroys us. When we try to imprison it, it enslaves us. When we try to understand it, it leaves us feeling lost and confused.”

Karena waktu itu tanggal sudah dekat menjelang Tes Kompetensi Dasar yang harus saya jalani, saya harus segera sembuh. Maka dengan nekat saya coba tuntaskan segala kegerauan dengan mengungkapkannya dalam sebuah surat.

Ada beberapa pihak yang saya konsultasikan terkait keputusan ini. Salah satu yang cukup berperan besar dalam mendorong saya bergerak adalah pesan dari Kimi. She told me:

“You could push her away and continue to wonder… But would that be a decision you might regret sometime later in life? You could see how it goes. Maybe it will turn into a beautiful whirlwind romance, maybe you’ll get to know each other even more and she won’t like you or you won’t like her, maybe you’ll be together forever, maybe you’ll last a few weeks, months, or years.

“Maybe you’ll break her heart, or maybe she’ll break yours. You can’t predict the future because humans are complex and the universe is in chaos. What you can do, however, is make choices and act on them. But that is entirely up to you and what you feel comfortable with.”

And I acted on it. I sent it. Bagaimana responnya terhadap surat saya? Menurutnya, surat saya itu adalah surat cinta terbaik yang pernah ia terima; ia bilang saya sinting dan membuatnya sangat terkejut, tapi malam itu ia juga bilang bahwa ia tidak bisa berhenti tersenyum. Sayapun turut berbahagia.

vast-499x600

Mungkin saya bisa berhenti sampai di situ saja, toh saya sudah cukup lega mengeluarkan isi kepala, tapi insting purba memaksa saya untuk menulis surat tambahan keesokan harinya, surat untuk memintanya jadian. Voila, 20 Agustus 2014, cinta pertama saya diterima, dan tak lama setelah itu segala psychosomatic ailments saya turut sembuh. Thanks a lot. The whole thing was really a surprise and also a miracle for me. Should I thank my ailments or the test or her?

Bisa dibilang memang keputusan saya waktu itu memintanya jadi pacar adalah keputusan yang tidak rasional (ia sendiri bilang begitu) dan terburu-buru. Reckless. Gegabah. Ya, memang. Tapi saya sudah punya beberapa pertimbangan sendiri yang membuat saya berani nekat.

10625128_284669745062900_7406565683691539770_n

But.

In the end …


EKSPLORASI DIRI

Pertama-tama waktu itu saya mensyukuri keberanian mengambil risiko mengutarakan perasaan. Saya sendiri tidak pernah menyangka mampu melakukan hal seperti itu. Tak perlu disesali. Tak perlu. Waktu itu juga pertama kalinya otak saya benar-benar mampu memikirkan manusia lain bahkan sampai tubuh jatuh sakit. Sebelumnya, kadang saya merasa aneh karena sering malas memikirkan orang lain sama sekali, bahkan kematian-kematian orang yang dikenalpun, bahkan kerabat, bahkan kematian Kakek saya sendiri terasa hanya sebagai statistik, padahal saya cukup dekat dengannya karena pada saat SD dulu pernah beberapa tahun tinggal di rumah Kakek. Dengan pengalaman ini saya bersyukur dapat mengeksplorasi lebih jauh sisi dalam diri saya yang lebih manusiawi dan umum. Teman sempat berkomentar, syukurlah berarti saya masih cukup normal bisa mengalami derita seperti itu hahaha.

Saat menjalani hubungan, saya juga mulai terus menemukan sisi diri saya yang lain lagi. Saya jadi mampu khawatir pada orang lain; meski mengganggu ketentraman batin, otak ini bersikeras, untuk khawatir tentang kuliahnya, tentang kesehatannya, tentang kebahagiaannya. Ugh, it was goddamn weird, I both disliked and liked it at the same time; saya senang karena bisa mampu merasakan keinginan untuk peduli, namun juga lemas karena saya merasa tak punya cukup kuasa untuk memberikan pengaruh yang berarti. So powerless, so weak, couldn’t do anything significant to help her, because I was and am still just a long streak of nothing.

There’s more. At some point, when she was accused of something bad by her parents, I was crying silently. Saya waktu itu masih dalam perjalanan pulang dari sebuah acara makan-makan bersama tante, masih di dalam mobil, tapi saya tidak sanggup menahan tangis, padahal belum tentu dianya sendiri sampai menangis. What The Hell. Entah, mungkin karena saya juga pernah dituduh hal buruk, atau memang sangat cengeng saja sampai menangis begitu, entah. Yang jelas waktu itu tidak saya ceritakan ke dia kalau saya menangis. It might sounded as a lie and a mere exaggeration; but it actually happened, and I was totally perplexed. Weird huh? Well, uh, fyi, I cried watching an episode of Digimon Adventure when Gabumon evolved to Garurumon because Matt was being tortured by Seadramon.

Juga rasa rindu yang mengerikan. Seakan berjalan menanjak mendorong batu-batu raksasa. Seperti kerasukan. Saya kesulitan bernapas. Saya kira dahulu ungkapan-ungkapan “separuh napas” pada lagu-lagu cinta jijay itu hanya hiperbola, tapi ternyata bukan. Namun, karena demi mengalihkan diri dari derita rindu, saya jadi mulai sedikit hobi berolahraga, yah, contohnya saat saya menghabiskan sisa uang lebaran untuk rutin berenang, setelah uang habis lalu bersepeda, dan bahkan setelah sepeda saya rusak waktu itu, saya putuskan untuk memaksa diri untuk menggunakan kaki saja. Bahkan terkadang saat sedang puasa sunahpun, untuk menenangkan diri, pagi dan sorenya saya berjalan kaki masing-masing dua jam. Lalu ketika jadwal mulai sibuk, saya ubah waktu jalan kakinya ke malam hari (meski belakangan ini jadi semakin susah karena malam sering hujan dan badan sudah terlalu kecapekan setelah pulang kantor). Selain itu, ketika misery dan rindu terkadang tiba-tiba menggulung jadi tsunami setelah putus, saya bahkan sampai mampu berjalan kaki sampai lebih dari 40 km (https://www.endomondo.com/workouts/463235208), yaitu perjalanan pulang-pergi rumah saya di Jatibening hingga sekeliling daerah dekat kantor pusat kemenkkeu di Lapangan Banteng. Because, in the face of exhaustions, the soul stop screaming for her, instead, it asked for food, drink, and rest.

Seperti apa kata Van Gogh, “Love always brings difficulties, that is true, but the good side of it is that it gives energy.”

Selain itu. Saya yang super pemalas ini, juga sempat terpaksa memikirkan hal-hal tidak nyaman terkait tanggung jawab (jika hubungan waktu itu bertahan sampai jauh). Saya selalu, berpikir bahwa apa-apa yang bapak saya lakukan itu repot sekali: mengurus keluarga, membangun rumah, mengurus berbagai surat identitas keluarga, dan bersosialisasi di masyarakat. Ugh, belum kalau tiba-tiba atap bocor, antena terganggu, ac rusak, pompa air rusak, ibu sakit, yak ampun tanggung jawabnya. Saya kalau bisa inginnya sih tidak mau hidup serepot itu, urus diri sendiri aja belum bisa, tapi, tapi, tapi … mungkin, kalau demi orang yang penting bagi diri saya, saya akan mau. Mau. Yeah, but, damn you brain, I was just being too optimistic, thinking too far ahead, kalau di lagunya Muse nih, “hopes and expectations, black holes and revelations,” hahaha. But still, I really enjoyed the thoughts, and so glad I was able to think like that, even if it was just for a moment. I thought I’d never bother with that grown up stuffs; I thought I’d keep myself only to the vision of dying as soon as possible and as lonely as possible in somewhere far away where none of my friends or families could reach me. Well, now I’m considering that direction again. Kalau fantasi saya sih, inginnya mati di puncak gunung yang ada esnya.

Saya yang sebelumnya sangat tidak suka dengan lagu cecintaan umumnya, berubah menjadi lebih toleran, bahkan jadi cukup suka, khususnya kepada lagu-lagu sedihnya. Tak hanya itu, lagu-lagu yang dahulu hanya saya dengar karena suka musiknya saja, kini dapat saya cerna dengan perspektif baru. Rasanya seperti ada sebuah mata yang baru saja terbebas dari kelopaknya.

Dari “people.howstuffworks.com/breakup-song1.htm” saya simpulkan bahwa mendengarkan musik semacam itu memang benar-benar dapat berdampak baik dalam proses meringankan sakit. Oleh karena itu banyak lagu laku di pasaran yang bertemakan hal itu, toh karena memang demandnya tinggi, dan memang berdampak meringankan.

Berikut merupakan sebagian musisi dan lagu-lagu yang cukup berjasa dalam menemani saya, siapa tahu ada yang butuh rekomendasi, silakan. (Oh ya, keep in mind, lagu itu interpretasinya sangat subjektif, mungkin yang bagi orang lain bukan lagu sedih, bagi saya lagu sedih, vice versa):

– The Beatles: I’m A Loser, Yesterday, For No One, I’m Looking Through You, You’ve Got To Hide Your Love Away.

– Elvis Presley: A Fool Such As I, Heartbreak Hotel, Hurt, Kentucky Rain, You Don’t Have To Say You Love Me, They Remind Me Too Much Of You, My Baby Left Me, Separate Ways.

– Frank Sinatra: I’ve Got You Under My Skin, What Now My Love, Goodbye (She Quietly Says), Can’t We Be Friends?, Glad To Be Unhappy, One For My Baby (And One More for the Road).

– Coldplay: Warning Sign, The Scientist, Magic, Trouble, True Love, Ink, The Hardest Part, Fix You, In My Place, Swallowed In The Sea, Ghost Story, A Sky Full Of Stars, Oceans.

– Ed Sheeran: Bloodstream, Drunk, Give Me Love, The Man, One, Don’t, Don’t Think Twice It’s Alright (Bob Dylan Cover), Thinking Out Loud.

-Muse: Starlight, Supermassive Black Hole, Time Is Running Out, Falling Away With You, Hysteria, Map Of The Problematique, Big Freeze, Sunburn, Apocalypse Please, Madness.

-The Script: Six Degrees Of Separation, Exit Wounds, If You See Kay, Nothing, Deadman Walking, The Man Who Can’t Be Moved, Glowing, If You Ever Come Back, Broken Arrow, No Words.

– Kumpulan Soundtrack Fallout New Vegas: It’s A Sin, Something’s Gotta Give, Blue Moon, Heartaches By The Number, Where Have You Been All My Life?

– Beberapa lagu lainnya: The National – Sorrow, Roy Orbison – In Dreams, Otis Redding – I’ve Been Loving You Too Long, Bob Dylan – Don’t Think Twice It’s Alright, John Legend – All Of Me, The Carpenters – Goodbye To Love, Crown The Empire – Makeshift Chemistry, Josh Groban – When You Say You Love Me, Phil Collins – Against All Odds, 5 Seconds Of Summer – Amnesia, Emarosa – Live it Love it Lust it, Dir en grey – Glass Skin, dan lain-lain.

Oh ya, selain itu, saya juga jadi terseret arus emosi untuk membuat lagu-lagu gegalauan. Sejauh ini baru jadi dua, Broke My Promise (https://soundcloud.com/smith61/broke-my-promise) dan You Rhyme With Misery (https://soundcloud.com/smith61/you-rhyme-with-misery). Broke My Promise itu tentang gagal menahan diri untuk tidak bersedih-sedih lagi. You Rhyme With Misery itu tentang niat untuk menyabotase perekonomian dan merusak kehidupan bermasyrakat sebagai luapan emosi negatif. Ada satu lagi yang sudah jadi konsepnya di dalam kepala, namun belum sempat dibuat, tunggu saja.

Bersedih-sedih itu memang menyenangkan dan mengasyikkan bukan?

Lirik lagu Frank Sinatra yang ini sepikiran dengan saya:

Unrequited love’s a bore, and I’ve got it pretty bad

But for someone you adore, it’s a pleasure to be sad

Like a straying baby lamb, with no mammy and no pappy

I’m so unhappy, but oh, so glad!

–Frank Sinatra, Glad To Be Unhappy

Intinya, saya banyak belajar mengenal diri sendiri lagi lebih jauh dengan pengalaman ini. Lebih membuka diri pada emosi dan pikiran yang sangat alien bagi saya. Bing, teman saya mengiyakan perubahan ini, katanya, “Sejak lu jadian ma dia, lu jadi lebih peka sama orang lain. Biasanya kalo lu ditanya apa, diajak diskusi, lu jawabannya nyuruh orang lain mikir atau nyari ke google. Jadi lebih terbuka gitu lah dan komunikatif.”

Semoga momentum perubahan itu terus bergerak, tidak berhenti atau berbalik arah. I don’t want to walk away only to find myself turning to something worse.

“Writing does not cause misery. It is born of misery.”

-Michel de Montaigne-

Oh ya, satu lagi contoh hal yang membuat saya merasa bahwa segala ini cukup bermanfaat adalah, saya berhasil lolos menang sayembara suatu kumpulan cerpen untuk pertama kalinya, dan cerpen itu terinspirasi olehnya.

10150614_10203985184413856_3532023384969442390_n 10991334_10203985184453857_618474668990363013_n

Yeah, bersyukur sekali saya ini punya hobi menulis, jadi derita ini tidak menjadi hal yang sia-sia, bahkan bisa jadi alat eksplorasi emosi supaya mampu menulis lebih baik.

“Whatever happened to me in my life, happened to me as a writer of plays. I’d fall in love, or fall in lust. And at the height of my passion, I would think, ‘So this is how it feels,’ and I would tie it up in pretty words. I watched my life as if it were happening to someone else. My son died. And I was hurt, but I watched my hurt, and even relished it, a little, for now I could write a real death, a true loss. My heart was broken by my dark lady, and I wept, in my room, alone; but while I wept, somewhere inside I smiled. For I knew I could take my broken heart and place it on the stage of The Globe, and make the pit cry tears of their own.”

― Neil Gaiman, The Sandman, Vol. 10: The Wake


BEING SPARED?

I was spared by her. I could see it as an act of mercy. I could, yeah, I could.

I was released from most of my anxieties, from all the uncontrollable uninvited excessive empathy. Relieved from all obligations I thought I had to follow later on. A lot of speculative weights unburdened from my back. And I could return to my own journey towards anything as ugly as I wanted it to be. It’s not that I don’t care anymore, it’s just, I think she has enough, her family, her friends, and someone whom she said loves her very much. She also spared me from doing some reckless things that I had already planned back then. And by dumping me like that, she gave me the moral high ground, thus, she freed me from any potential guilt if this had ended the other way around. Are these enough reasons for me to accept this separation to just let it go?

At first, yes. Really. I thought it was a good mutual ending. She even gave me a really great and precise logical explanations. As a being who appreciates logic, I applauded her way of thinking and accepted it. I was fine. We were done. In a good way. But my intuition kept telling me that there was something a bit off. And yes. There was actually several things she had hidden. While it’s not a lie, I see it as a sin of omission. What hurt me most is not the things she had hidden from me, but the thing she had hidden from “the other man”. Ugh, it’s already too much details and I’m not gonna tell the rest, but here’s my impression: more or less it was something I could accept as fair, but, unfortunately, in my view, it’s unethical. Like a curse, that little taint alone managed to corrupt the good ending into something far more painful. It makes me feel so small and so meaningless.

The Beatles’ You’ve Got To Hide Your Love Away illustrates this existential misery quite properly:

Here I stand, head in hand, turn my face to the wall

If she’s gone I can’t go on, feeling two foot small

Everywhere people stare, each and every day

I can see them laugh at me and I hear them say,

Hey! You’ve got to hide your love away!

Hey! You’ve got to hide your love away!

                                                    

Blame and Introspection

          When I asked her what should I tell my friends if they asked about this separation, she allowed me to blame it on her unstability. But things are far more complicated than that. Me too, got a fair share of mistakes myself. And merely blaming her would makes me feel far smaller, far more meaningless, and totally insignificant passive being.
“What is life’s greatest illusion? Innocence, my brother.”

―Dawnstar Sanctuary Door.

Yes, I was too weak. If I were strong enough, I’d just let things stay cold back then, I’d not let my icy walls melted away, I’d not let myself to write that love letter. But hey! It’s a mistake all people got to make in their lifetime, and I’m glad I made that mistake; I blame it, but I don’t resent it.

There is a bit darker side to that mistake though. Back then, I was interested in politics, it was the time when the presidential election was so popular. In the pursue of my interest, I came upon an interesting book titled, “Thank You For Arguing” written by Jay Heinrichs. It’s a book about rethoric, and by reading it and observing the situation, I understood how Jokowi would triumph through his ethos as a weapon, beating Prabowo along with his logos and pathos. Other than that, I was also very eager to test my rethoric comprehension on writings.

When she came closer to my life, approaching me, and sparked madness in my mind, not only it gave me some psychosomatic ailments, it also gave me the push to apply my rhetoric knowledge into the love letter I wrote. No. No. No. The letter wasn’t filled with lies, it’s an honest letter, I just composed and arranged the words according to some rethoric theories. It served as a silly parameter regarding my rhetoric comprehension; whether I could get her as a girlfriend with my wordcraft or not. And I got her, for a while. Well, while it’s just a fragment of the whole thing, it’s definitely a critical decision moment.

Damn it, Frank Sinatra’s I’ve Got You Under My Skin really really portrays all of this appropriately.

I’ve got you under my skin.

I tried so not to give in.

I’ve said to myself this affair, it never will go so well.

But why should I try to resist when baby, I know damn well,

That I’ve got you under my skin?

I’d sacrifice anything come what might,

For the sake of havin’ you near.

In spite of a warning voice that comes in the night,

And repeats, repeats in my ear,

“Don’t you know you fool, you never can win?”

 “Use your mentality.”

“Wake up to reality.”

But each time I do, just the thought of you makes me stop,

Before I begin, because I’ve got you under my skin.

Sigh. There are a lot of factors that I already knew would made my love beaten to pulp.

One of the biggest factor is: I’m in a “difficult background”. I came from a strict religious family, and even though I never told my family about this, I knew they’d probably against us. Even IF we’re from the same creed, my family would against dating anyway, and the fact that we’re from different creed made it so fucking worse. I already gave her some picture about this bad situation I’m in before I sent her that letter, so when she accepted me, it’s quite logical for me to thought for a while that she’s comitted to fight along with me on that difficult road; and back then I felt really bad about draging her with me.

Considering the obstacles, I thought I had to prepare as if it was a grand political campaign; to make the relationship turns into a vivid argument, a living tool of rethoric, in past, in present, in future, in ethos, in pathos,  in logos, and in kairos, to make the connection fruitful and enhance our growth into far far better individuals (this way, even if our plan thwarted, the effort itself would be enough as a reward; it’s a win-win campaign). I also may use some issues within my family as an extra persuasion tool, for example: my aunt sometimes treated my grandmother like shit, and the fact that my aunt’s relationship with her ex of different creed was not supported back then, might play part in her hostility, this, I could use against my Mom since she’s been constantly warning me not to grow up like my aunt. But then, like I mentioned before, I was spared by her mercy from all the reckless things I might have done to struggle on that difficult path.

I blame myself in this part, I knew all along that doom was almost certain, and I tried to drag her along with me on the account of my selfishness. When she dumped me, she said it’s too risky. Oh, well, I do agreed with her, but still, I was suffocated in a mix of crushing disappointment and awkward reluctant gratitude.

Another great factor of doom is my inherent lack of quality.

10622838_704733282934705_6796688207787357116_n

Who am I compared to her exes? Compared to the regiments of gentlemen chasing her? Compared to “the other man”? Nothing but a mere compound of ashes, dusts, sands, and dirts. Though I’m under contract to serve later in Ministry Of Finance, I was essentialy jobless, and moneyless at the time. I also lacked the resources and willpower to actually reach her. I was also a fucking retard in expressing my affection, shy and awkward; clueless, helpless, so so so much less. I could go on and on to tell you readers about my unattractive traits, but that would bore you, so I’d rather stop now. In short, I wasn’t ready for love, I wasn’t ready to love. Goddamn it.

Analogy!

Ada beberapa analogi yang hendak saya sampaikan.

Anda tahu Pokemon? Magikarp?

New Picture (1)

Magikarp! Famous for being very unreliable. It can be found swimming in seas, lakes, rivers, and shallow puddles. Whoever its opponent, and however horrible the attack it receives, all it does is Splash around. An underpowered, pathetic Pokemon. It may jump high on rare occassions, but never more than seven feet. Its swimming muscles are weak, so it is easily washed away by currents. In places where water pools, you can see many Magikarp deposited by the flow. It is virtually worthless in terms of both power and speed. It is the most weak and pathetic Pokemon in the world.

bAIEr6qDSzKGnXgrwK0b_-Diver+used+bubble+-+it+s+super+effective+_c761583015c75eb3b2ee864fb9e9d655

I feel like a Magikarp that once had been captured by a trainer (her) but eventually thrown away. I had high hope that she would trained me, partnered with me, helped me leveling and evolving into a Gyarados. But before that happened, she gave up on me, threw me back into the wild because I was just taking up space she could fill with any Pokemon far cooler and more useful than me. That’s fair. Okay. Now I have to Splash around alone like a damn right weirdo I am, trying pathetically to become a Gyarados by myself though its odd is very small.

Cukup.

Sekarang analogi yang sedikit lebih baik. Pada suatu hari di sebuah pantai.

BillabongXXL06GerlachTodos_622

Saya sebagai seorang pengunjung pantai biasa saja. Hanya sedang berenang santai di air dangkal. Overweight and definitely tidak bisa berselancar. Namun tiba-tiba saya melihat sebuah ombak yang mulai menggulung. Dan kebetulan ada sebuah papan selancar entah punya siapa menyenggol-nyenggol saya.

Suara gulungan ombak itu menyapa jantung hingga berdebar. Aroma asin laut mendadak jadi begitu tajam hingga lambung bergejolak. Terpesona, otot leher tegang, bulu kuduk berdiri. Mengepalkan tangan. Menggertakan gigi. Dengan gegabah berlari menerjang ombak besar tersebut. Mencoba berselancar dengan papan temuan dan modal nekat. Tentu saja hal itu berujung dengan diri saya terbanting, tergulung, bonyok, dan menenggak begitu banyak air asin yang bercampur darah.

Apa yang sebaiknya dilakukan? Tentu saja segera bangkit lalu berenang kembali ke daratan, jangan berlama-lama terseret arus dan tenggelam! Tapi apa daya, saya ini orang bodoh, entah ada rusak apa di otak ini, masih saja, membatu menikmati basahnya paru, kembungnya lambung, dan membirunya kulit.

Satu analogi lagi.

Sebagai balasan atas panggilan “Ebola”nya kepada saya, saya sering menjulukinya sebagai “Ruh Jahat”.

New Picture (2)

Bisa dibilang memang saya menyebutnya ruh jahat karena saya sudah memperkirakan kemungkinannya akan berakhir seperti ini. Bisa dibilang itu sebagai upaya supaya ketika akhirnya terjadi, setidaknya sudah lebih siap sakit, meski tetap sakit. Namun sebenarnya ada sudut pandang yang lebih saya sukai.

Saya, berperan sebagai entah druid, entah shaman, entah necromancer, entah summoner, atau apapun lainnya yang mampu mengkidungkan mantra sihir ke alam. Menjeratnya –-ruh jahat– ke sisi saya. Dan ketika akhirnya berakhir, anggap saja, saat itulah saat saya kehabisan energi sihir. I was out of manna!

10615442_810975308952666_6411479948448348786_n

A young apprentice in the way of magic once tried his hands on Necromancy. Trying to spellbind an evil spirit to his side, he sneaked his way to the Forbidden Graveyard somewhere near the Valley of Solemn Thoughts. The binding was a success at first. And it gave him not only joy. But also agony. Because he realized his mana pool was too small, and its rate of regeneration was too inadequate; in short, he knew one day his mana would be depleted and the spirit would soar away from him. But it’s a good experience. He took risks, and he did it in his own way. And he was, grateful.


 

FUTURE?

If you paid attention to this post, you now know that my family didn’t know anything regarding my relationship. I also didn’t have any close friend nearby at arms reach. Thus when the sorrow conquered me, I was helpless, I had to hide from my family when I needed to weep. One thing I could do was spamming my online buddies with my sorrow (thanks guys, and sorry if I was being a nuisance!). One of them that I trusted to talk about this was David McElroy, he’s a writer, and he responded my messages with an article he published on his website. Here is the link: http://www.davidmcelroy.org/?p=20269

elroya

He disguised my name into Josh. There are some excerpts I’d like to highlight here:

“So what do you do? You let yourself cry. You feel the hurt. You grieve with a pain that’s just as bad as losing someone to death. And then you slowly start to heal. Very slowly, in many cases.

[…]

“But at some point, you’ll love again. When that happens, the world will seem bright and shiny and new again. You’ll be happy and joyful again.

“That love might or might not last, so I’m not promising it will be any better. You might be hurt again. But there might very well come a day when love comes and stays, when there’s someone you can trust and love and be happy with.

“I can’t make any guarantees that it will happen. I can only say that it’s worth pursuing.

“Love isn’t rational in any of its forms. It will make you do irrational things at times. But love will change you and give you what your heart most needs. It’s worth pursuing — and going through the hurt.

“Have faith in love. It’s the only thing that makes life worth living.”

Pada 4 Agustus 2014, saya pernah me-reshare sebuah gambar bertuliskan, “If you could write a note to your younger self, what would you say in only two words?” Saat itu, Michael Ferguson, Principal di The Polymathic Institute memberikan saran, “Avoid girls.”

*sigh*

CRAP. I don’t know. I’m not sure what to do anymore. Other than occasional weeping, maybe I’ll try not to do anything. Yes. Untill I’m completely calm, until I could handle the “difficult background” I’m in. I think I’d just try to murder every love away. But really, as I have mentioned before, I was spared from the speculative weights in my over-imaginative mind. But that weight was also the one that forced me to think bigger, harder, riskier, it gave me courage and shit and greater desire to live, so David was right when he said love makes life worth living. But I hope, l really hope it’s not the only thing. Please. Dog. I mean God. Don’t make it the only thing. Oh, maybe I could try hatred. Maybe with hatred I could grasp more desire to live? But maybe no; my life is already filled with enough hatred, and I’m still a dumb slowpoke sloth.

I used to disdain people’s infatuation with love stories. I used to look down on people who’re involved in storm of romances. I thought that they’re so weak that they need other parties to feel great. Now I know the pain of losing, I applauded them all. Salute, for those who never give up on trying to find their best match. It’s so fucking painful, yet, these people are all so brave, risking themselves on the open.

I once read a book about Math. It mentioned a story about Thales of Miletus. Though there’s no hard evidence whether this account is true or not, it’s an amusing read regarding love:

His “fatherhood” of demonstrative  mathematics  notwithstanding, Thales never married. When Solon, a contemporary, asked why, Thales arranged a cruel ruse whereby a messenger brought Solon news of his son’s death. According to Plutarch, Solon then began to beat his head and to do and say all that is usual with men in transports of grief. But Thales took his hand, and, with a smile, said, “These things, Solon, keep me from marriage and rearing children, which are too great for even your constancy to support; however, be not concerned at the report, for it is a fiction.”

Yep. What a cruel prank Thales did just to illustrate the pain of loving.

It seems to me. Love exists (mostly) in a war zone, reserved only for the tough, the strong, the brave. Because it’s more frightening than politics; filled with fallacies, biases, frauds, self-deceptions, and unfortunate timings. It resides in a supermassive black hole where even great minds such as Nietzche fell, and Napoleon maddened!

Fucking scary huh? Weakling like me would get bullets burried within my ass, head separated from my shoulders, fireworks on my intestines, in no time. WORSE, it doesn’t kill! I didn’t die. I survived the meteor shower. But. Well. Hmmm. Maybe I’ll just adhere to Michael Ferguson’s word. *sigh*

It’s worse, because by every sip of air to these charred lungs, I feel obligated to learn, to thrive, to march onward, but I know it’s tiring, I don’t want to be tired, shit, I don’t know shit, it’s so primal, framed structured madness, automatic chaotic intentions, whatever ever been so keen of fever. Goddamn it. Stop. Brain. Stop.

Good.

Okay. One other thing I’d like to say is my disappointment towards my way of thinking. As you read along and as I re-read this piece whole patches of abomination over and over, I conclude that I’m such a fool. I rely on external forces such as “the difficult path” and the presence of “love” from other person to grow. Why? Why didn’t I just want to grow just for myself? Why am I too easily pleased with what I have now? Why am I living too small? Bloody hell. It’s a thing I have to work on. I’m lacking passion. I’m lacking fire to pursue big things. I aim too low. I don’t want to stand up for anything. I don’t want to stand up for myself. As if I just want to lay down, drowned in my own piss, burried and choked by my own feces, smiling.

Fuck it. Despite writing this much bullcrap. I’m still clueless in the end. All I know is, there are wrong things ahead of me, and probably there’s no such thing as ready. Fight it.

6F9AEnf

Duka Durhaka

 

Hari ini seseorang mati …

Dialah teman terbaik kita, yang merekatkan kita

Ia yang bernama memori …

Telah kehilangan nyawanya akibat didera penyakit lupa dan durhaka, diperkosa harga diri yang buta, dilaknat ego-ego tanpa tatakrama

Begitu paham-paham identitas merangkul ketidakpedulian, lalu terbang, menjulang tinggi, maka koyaklah langit kasih yang telah lama menaungi kita!

Bersedih rupanya sehingga langit itu meneteskan tangis

Tangis yang kemudian menjelma asam rindu dan kabut nestapa

Asam itu meresap dan membunuh tempat kita berpijak hingga legam

Kabut itu menyembunyikan kita satu sama lain hingga terkam

Kelam

Aku ramalkan, bahwa kelak si Memori akan kembali dari kematiannya!

Ia akan menjelma menjadi mayat hidup yang menghunuskan bilah besi bertahtakan benci!

Kemudian mengintai kita semua dari balik kabut sambil terkekeh dan mengasah goloknya dengan asam

Hendak membuat kita merasakan nikmatnya menjadi mayat jua