Pengalaman Lari di Sibayak Altitude Run

Niat saya mendaftarkan diri pada Sibayak Altitude Run sebenarnya adalah untuk membangkitkan kembali motivasi lari yang sedang turun-turunnya. Namun ternyata sama aja. Masih dilanda kemalasan luar biasa. Masih payah. Sampai hari-h pun saya belum sempat melaksanakan satu long run yang cukup sama sekali. Waktu acara? Keteteran. Saya peserta yang finish terakhir. Paling belakang.

 

Begini kronologis ceritanya:

 

  1. Perjalanan awal.

 

Bersama seorang rekan kerja serumah dinas yang hendak pulang cuti, saya berangkat menuju Medan. Di pesawat sempat terjadi guncangan. Saya ketakutan, lalu meringkuk ke perutnya. Saat itulah saya berpikir, mengapa saya takut mati, apa yang sesungguhnya saya takutkan? Segala pemikiran yang belum tersampaikan, atau minimal tertuliskan; yang tertunda, yang terlupa, dan yang belum matang; saya tidak rela. Oke. Mungkin memang sudah panggilannya; selalu ingin kembali menulis lebih banyak, apapun wujudnya.

 

 

  1. Pisah di Medan.

 

Teman saya lanjut menuju Palembang untuk menghadiri acara pesta pernikahan seorang teman. Sementara saya, memuaskan diri melahap waffle sebelum kemudian buru-buru menemui pihak panitia yang menjemput. Panitia yang menjemput saya protes, karena saya tidak memakai kaca mata hitam seperti yang saya bilang di telepon. Lho,tapi framenya hitam kok. Lagipula, lensanya nanti hitam kalau kena sinar matahari.

 

 

  1. Menuju Sibayak.

 

Masuk ke Mobil. Saya disambut oleh penumpang lain yang kemudian diketahui ternyata adalah seorang jurnalis majalah olah raga. Ia sibuk dengan gadgetnya, saya asik membaca Foundation Trilogy. Lalu mobil bergerak menjemput satu orang lagi di Medan, peserta juga. Jalanan waktu itu macet cukup panjang. Kami memutar mengambil jalur alternatif. Di jalan saya mendengarkan obrolan menarik, yakni adanya doorsmeer plus-plus di daerah menuju Sibayak yang saat itu sedang kami lalui. Haha, jadi, itu maksudnya tempat cuci mobil yang supirnya juga sekalian “dicuci”. Obrolan sampai ke topik tersebut bermula dari respon pihak penjemput terhadap keinginan salah seorang dari kami untuk berhenti turun izin buang air kecil.

 

 

  1. Sampai di Sibayak.

 

Tepatnya di daerah pemandian air panas Ncole. Wah. Awkward. Saya malu. Saya minder. Belum kenal siapa-siapa. Bingung. Oh ya, ambil BIB dulu! Begitulah, lalu, bersama seorang peserta lain, saya mengambil racepack lalu melanjutkan proses administrasi. Setelahnya kami duduk-duduk di samping kolam pemandian air panas, berbincang-bincang. Ia makan indomie rebus, lalu saya ditraktir teh hangat; terima kasih! Oh ya, kami juga foto-foto. Kemudian setelah mendapatkan kunci hotel, saya segera berangkat, bongkar barang bawaan, istirahat sebentar, lalu malam-malamnya saya kembali ke pemandian air panas itu sendirian; berendam. Fuah! Mantab.

13096128_10206610299640096_505311643562960366_n

13124785_10206630189297325_872215670253686425_n

13083145_10206630189377327_1921819121584197040_n

 

  1. Sebelum Start.

 

Gila. Rasa khawatir telat bangun itu gak enak banget. Saya pasang alarm berlapis-lapis. Bangun lebih awal, yakni sekitar pukul tiga pagi. Namun itu terbangun karena mimpi buruk. Mimpi apa? MIMPI TELAT BANGUN. Hal ini persis banget terulang seperti saat-saat dulu saya hendak lari di Jakarta Marathon 2015. Justru karena kekhawatiran itulah tidur jadi terasa kurang dan tidak nyenyak. Setelah tersiksa bangun-tidur-bangun-tidur-bangun dalam kegelisahan mengerikan, saya putuskan untuk bersiap segera menuju ke tempat start.

13087705_10206622240018598_2371098260347500087_n13139294_10206630190377352_2120111498706958932_n

 

Di sana belum ramai saat saya sampai. Saya duduk bengong, pusing, dan bingung. Takut juga. Apa saya mampu? Saya tidak bawa headlamp, hanya lampu senter genggam yang baterainya sudah mau mampus. Menjelang start, kami berkumpul. Angin bertiup dingin. Gelap. Gerimis.

 

 

  1. Mulai lari.

 

Saya start termasuk di barisan paling depan. Namun belum tiga langkah saya ambil, saya sudah diserbu orang bersalip-salipan di kanan kiri saya. Ngebut sekali mereka. Saya lari, mencoba mengejar, namun tetap menjaga pace sesuai batas aerobic saja sembari berulang-kali melirik penunjuk heartbeat di garmin. Gelap. Gelap. Gelap. Saya terpisah sendiri. Terlalu ke depan untuk pelari selambat saya. Terlalu lambat untuk sok buru-buru. Lalu ketika kemudian mulai masuk ke jalur hutan, saat itulah keraguan mulai terakumulasi menjadi beban di hati.

 

 

  1. Cek Poin Pertama.

 

Di hutan gelap sendirian, awalnya saya mampu mencari jalan. Memang dituntut untuk mampu mengira-ngira jalan, mencari jejak sepatu manusia di antara lumpur dan mencari penanda jalan entah di pohon, entah di batu, entah di mana. Tapi akhirnya saya berhenti di tempat karena betul-betul tidak tahu mesti ke mana. Lama saya menunggu, akhirnya datanglah dua pria berpakaian biru dari belakang. Mereka sangat baik dan mau melanjutkan perjalanan bersama saya. Kami sempat tersesat bersama-sama di hutan itu. Lampu senter sayapun sempat mati, beruntung ada headlamp mereka. Menanjak hutan terjal terus sampai akhirnya terang. Ketika pria di depan memperingatkan saya atas duri; saya teringat seorang teman yang dulu pernah lari trail di bogor hingga kepalanya sobek kena tanaman. Takut.

13095734_10206622240858619_1163765199890099816_n
Mulai Meninggalkan Gelapnya Hutan

 

Keluar hutan, kami terus menanjak ke cek poin pertama. Saya sampai lebih dulu, lalu turun gunung sendirian di depan. Turunannya sangat licin. Saya tidak berani jalan. Hanya berani duduk merosot. Mengadu pantat dengan lumut dan batu. Saya bergerak dengan semangatnya karena masih begitu naif mencoba mengejar Cut Off Time; hal ini saya sesali. Karena kemudian saya tersasar. Terima kasih lagi kepada mereka, karena  mendengar sahutan mereka dari jauhlah saya sadar bahwa saya salah arah dan perlu lari naik kembali. Jadilah saya kemudian yang berada di belakang.

 

 

  1. Cek Poin Kedua.

 

Menanjak gunung lagi. Yah, setidaknya kali ini tidak melalui hutan-hutan lagi. Tapi tetap saja berat. Lebih tinggi pula. Saya kapok melesat sendirian lagi. Takut tersasar karena sok tahu. Jadilah kali ini saya ikut bergerak seiringan dengan dua orang lain lagi. Tepat sebelum puncak, ada jalur batu besar yang harus dipanjat; saya pikir tadinya saya tak mampu, namun setelah ditawari pertolongan, ternyata saya mampu naik sendiri. Woah, kok bisa ya, sayapun bingung; mungkin saya hanya takut. Ah, lupakan, yang penting sampai!

13124845_10206622245178727_4193797606520635172_n

13076840_10206630206537756_5239476758979326665_n
Makan Jeruk dan Nanas

Setelah sampai puncak dan mendapatkan gelang cek poin kedua, kami turun. Di bawah, kami menyempatkan diri makan jeruk dan nanas dan minum air pada water station yang disediakan panitia. Kemudian kami melesat terus. Pada jalur sebelumnya nyaris tidak bisa dibuat lari saking terjal dan licinnya. Barulah pada jalur ini kami bisa betul-betul lari macam di acara lomba lari.

13124955_10206630207017768_1822902622083343239_n

 

 

  1. Cek Poin Ketiga

 

Jalanan turun. Kaki ini dipaksa untuk bergerak lebih cepat oleh gravitasi. Lutut menerima tekanan yang lebih kuat karenanya. Sakit! Serius. Kami terbawa momentum, lari terlalu cepat sampai kesulitan berhenti sendiri. Seorang peserta mencoba berhenti dengan meraih tanaman, tapi gagal, dan terpelanting jatuh. Katanya, kalau ada rekaman youtubenya, dia mau lihat. Tapi begitu diminta diulang lari lalu jatuh, ia tidak mau. Yeah, ngeri memang. Kamipun akhirnya bergerak pelan karena takut kesulitan berhenti kalau lari. Hahaha. Ternyata jalur menuju cek poin ketiga ini cukup panjang. Seorang dari kami lari duluan, saya dan seorang lagi mengekor di belakang. Sialnya, ternyata di jalur ini kami harus melewati hutan lagi.

13076860_10206622246658764_7860297787550612235_n
Keraaaaaaaaam!!!

 

Di sana saya terpeleset jatuh, kaki terbenam lumpur, dan paha kiri saya keram. Peserta lain itu membantu meluruskan kaki saya yang keram dan terbenam lumpur, kemudian saya beri tahu ia untuk pergi duluan saja. Begitulah, saya tergeletak sendirian tak bisa bergerak. Yah itulah hidup. Tapi setelah beristirahat sampai dirasa sembuh, saya segera maju lagi seperti pada lirik lagu Frank Sinatra yang berjudul That’s Life:

Each time I find myself lying flat on my face,

I just picked myself up and get back in the race!

 

Perjalanan hingga mencapai cek poin ketiga ini kurang menarik, kecuali saat saya harus terpaksa melalui jalan yang dijaga dua anjing besar yang semangat sekali menggonggong. Saya yang lelah hanya berjalan lunglai pasrah, melambat, membisu, sampai akhirnya mereka minggir dan saya berhasil lalu. Sampai di cek poin tiga, saya berhasil berkumpul kembali dengan dua peserta sebelumnya. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan bersama dengan lebih santai berdasarkan saran panitia yang menjaga cek poin ketiga. Saking lelahnya, setiap beberapa ratus meter kami duduk istirahat, bahkan sesekali berbaring di jalanan. Ada salah satu dari kami yang membawa Snickers yang kemudian dipatah dan dibagi tiga. Panitia-panitia, entah dengan mobil, entah dengan motor, berkali-kali menawarkan tumpangan agar kami segera diangkut ke finish. Namun kami dengan keras kepala menolak.

 

Menjelang dekat finish, kami ditemani lari oleh seorang pelari senior yang bercerita tentang intrik-intrik lari trail. Ia berkisah, pada event-event trail run di Jawa sana, tidak jarang ada kelompok pelari yang bagi-bagi peran, yakni peran untuk sengaja menyesatkan pelari lain. Jadi kata senior itu, janganlah terlalu semangat mengikuti pelari di depan, lihatlah pada penanda lomba, kalau sudah beberapa ratus meter tak terlihat lagi penanda, maka segeralah kembali. Begitu. Wow. Lucunya di kasus saya tadi setelah cek poin pertama, justru saya yang semangat menyesatkan diri sendiri dan justru terselamatkan oleh petunjuk sahutan peserta lain. Terima kasih!

Dari kami bertiga, seorang akhirnya memutuskan lari lebih dulu ke depan. Kemudian seorang lagi lari di depan saya disemangati teman-temannya. Terakhirlah saya di belakang. Begitu terus sampai akhirnya kami sampai tujuan.

 

Dari seluruh peserta.

Saya manusia yang finish terakhir.

Keren gak? Banget! Ha! Ha! Ha!

 

13124914_10206622245338731_5004139125957574451_n
Akhirnya selesai 18 kilometer altitude run!

 

 

 

 

 

Advertisements

Preview: Bulletproof -Fortified

Seorang teman menerbitkan buku. Berdasarkan pengalaman membaca tulisan-tulisan teman ini sebelumnya, saya tertarik untuk membaca bukunya. Dia kemudian memberikan saya satu kopi bukunya dalam format digital. Terima kasih!

Kisah ini dibuka dengan kehidupan sehari-hari anak-anak panti asuhan. Mereka tinggal pada sebuah puri di samping pantai. Tak jauh dari situ, ada sebuah desa. Ada pula markas militer. Ada bukit dan hutan. Setting ini menyuguhkan suasana damai nan ramah namun tetap menjanjikan suatu konflik menarik bagi pembaca.

Saya sungguh senyum-senyum sendiri membaca bagian cerita saat Mandy –seorang siswi dari panti asuhan– menyajikan tugas sekolahnya. Untuk mengilustrasikan apa beda reptil dan mamalia, Mandy menceritakan bagaimana nona cicak mengajak nona kucing pergi ke pesta dansa. Nona kucing menolak, karena saat hamil, anaknya harus dibawa-bawa dalam perut, tidak seperti nona cicak yang walau sedang hamil anaknya bisa ditinggal di rumah.

Saat membaca bagian cerita tentang Dimitar dan Strego yang berani berniat menembus hutan dengan bersenjatakan ketapel saja, saya jadi teringat sesuatu pada masa kecil saya sendiri. Saat kecil, saya suka sekali menonton film dokumentasi tentang fauna. Karenanya saya sempat tiba-tiba begitu percaya diri dan gatal ingin menangkap ular lalu memanen bisanya sendiri. Untung saja tidak ada ular liar yang benar-benar saya temui sampai keinginan itu akhirnya pudar sendiri.

Ada bagian cerita tentang bagaimana anak-anak panti sedang bermain bola lalu terlibat masalah dengan tentara. Wes, salah satu bocah panti, kemudian berlarian ke sana ke mari menyelamatkan kawan-kawannya dari tentara. Saat membaca bagian tersebut, simpati saya terbangkitkan. Khususnya terkait rasa tidak suka terhadap orang dewasa dan tentara. Ayo Wes! Lempari mereka dengan batu!

Selain kisah-kisah anak-anak tersebut, ada juga dimensi cerita yang membangkitkan rasa penasaran dan menggugah imajinasi. Beberapa yang menjadi sorot utama adalah tentang Dimitar dan Wes. Dimitar mampu meramalkan kejadian hujan-hujan serangga dan berbicara dengan bintang di langit malam. Sementara Wes memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, orang-orang menuduhnya android. Settingnya, walaupun di tempat yang jauh dari keramaian kota, memberikan indikasi-indikasi bahwa teknologi di dunia tersebut menyentuh ranah Sci Fi.

Sesungguhnya jika satu buku ini hanya bercerita tentang anak-anak panti itupun saya sudah senang membacanya. Namun kalau diperhatikan dari simpul depan, juga bagian-bagian cerita yang menyiratkan suatu konflik besar, cerita ini sepertinya akan berkembang menjadi kisah-kisah penuh aksi dan pertempuran. Saya belum membaca buku format digital ini sampai selesai, dan tidak akan saya selesaikan. Kenapa? Karena saya berniat melanjutkan membeli dan membaca buku ini dalam bentuk hardcopy secara langsung!

Sang penulis telah mampu membawakan kisah-kisah sederhana tentang keseharian anak panti asuhan dengan menarik. Saya percaya sisa cerita yang akan saya lanjut baca dalam hardcopy nanti akan tidak kalah menghibur.

Kamu penasaran? Mau menjajal bukunya juga? Mau beli langsung? Di mana?
Bisa di sini: Bulletproof – Fortified.

Siapa Kamu?

Kamu bukanlah adalah

Tiada adalah yang tepat bermakna

Kamu yang tiada berbukan

Adalah makna-makna haus syarat

Yang lewati celah ganda bagai partikel

Membentuk interferensi bagai gelombang

Mewujud senyata-nyatanya jawaban

Di balik pertanyaan yang kusimpan

Bersama kucing dalam kurungan

Abstraksi Sang Fisikawan

DTU + PENEMPATAN + TOEFL

Akhirnya kami harus menatap DTU juga. Apa itu DTU? Diklat Teknis Umum, yang kali ini diberi embel-embel “pembentukan karakter”. Intinya sih pelatihan selama seminggu bersama para pelatih dari Kopassus. Pertama-tama kami dikumpulkan di Pusdiklat AP di Gadog. Kemudian setelah melalui serangkaian proses administratif dan diberi makan siang, kami diberangkatkan secara bergelombang menggunakan truk-truk tentara menuju Ciampea.

Ini truknya! Seperti mau dikirim perang saja!

Kami tiba di lokasi menjelang petang. Terdapat spanduk bertuliskan DTU Pembentukan Karakter yang menghiasi jalan sempit berbatu menuju perkemahan. Belasan tenda tentara telah didirikan. Sesuai urutan berdasarkan nama, saya mendapat jatah tinggal di tenda 9 bersama rekan sekamar saya saat dulu DTSD, yakni Senik Entrostop. Kami berduapun bercengkerama bersenda gurau sembari meminum es degan di salah satu warung warga yang berdiri di sekitar tenda. Setelah itu kami bertemu dengan mantan presiden Amerika Serikat, Harry Truman, sebelum kemudian bersama-sama melakukan reconnaissance menuju warnet, alias tempat mandi gay party, alias kamar mandi berbilik-bilik bernuansa biru yang akan menjadi sahabat sejati tuk melakukan investasi kotoran para peserta DTU selama seminggu. Ah ya, entah saat maghrib atau isya, saya dan Senik mendapat jitakan dari pelatih “S” di dekat kamar mandi karena menggunakan jaket. Begitulah kira-kira apa-apa yang terjadi pada hari ke-0.

Situasi Ciampea:

Jalan-jalan sempit, suasana berbukit-bukit. Ada gunung kapur. Cuaca terik, bahkan hingga malam terasa panas. Namun menjelang subuh suhu turun drastis. Satu hal yang menarik adalah tidak adanya nyamuk! Bahkan ketika bertelanjang diri di hutanpun kami tidak digigit nyamuk. Suasana hening, kecuali jika sedang diadakannya latihan perang di hutan-hutan sana. Suara tembakan, ledakan, helikopter, dan bermacam pekak mematikan yang mengagetkan menjadi background soundtrack kami selama pelatihan.

Kegiatan Selama DTU:

Diambil dari photo yang bertebaran di Path

Formulanya, mirip prajab kok, ketua tenda bergiliran, piketpun juga bergiliran, ada senat dan wakil-wakil senat.

Sebagian besar kegiatan dilaksanakan bukan di perkemahan, melainkan di lapangan. Terdapat dua lapangan, yang dekat namun lebih sempit, dan yang jauh tapi lebih luas. Yang lebih sering digunakan adalah lapangan yang lebih luas. Berbaris dua banjar kami berjalan dan berlarian sembari bernyanyi entah lagu-lagu apa saja yang sempat terpikirkan hingga mencapai lapangan. Kegiatan di lapangan biasanya serupa MFD saat prajab, yakni instruksi-instruksi yang berujung kepada tindakan berupa: merayap, merangkak, lari, berguling, jalan jongkok, dan sebagainya. Korban-korban mulai dari sekadar pusing dan muntah hingga yang tak mampu/mau melanjutkan kegiatan sementara berjatuhan pada kegiatan ini. Satu hal yang nyaris mendera seluruh siswa pada akhir DTU adalah: batuk masal layaknya sepasukan zombie. Debunya itu lho!

Dari senin sampai jumat kami terus merayap berguling seperti ini. Pada hari selasa (atau rabu?) kegiatan MFDnya jadi sedikit lebih sebentar karena ditambahkan kegiatan “perendaman” kami ke dalam selokan. Saat kegiatan berendam ini pulalah para siswa yang membawa uang di nametag jadi ketahuan dan harus merelakannya. Saya sendiri sebenarnya juga membawa uang, tapi tidak saya kumpulkan, toh hanya uang koin seribu, dan itupun sebenarnya uang koin hasil temuan teman saat kegiatan membersihkan sampah di tenda setelah sarapan pagi. Sepertinya pada hari itu jugalah saya mengalami blunder: pada materi latihan penghormatan pada sesama siswa, saya yang lelah tangan kanannya, khilaf melakukan penghormatan dengan tangan kiri. Saya tertangkap basah pelatih “L” dan mendapatkan cacimakinya, lalu diguling bolak-balik lapangan berkerikil tajam. Usai menerima tindakan, saya diberi perintah untuk kembali melaksanakan kegiatan. Namun rupanya jatah saya belum habis, karena menjelang akhir, saya kembali dipanggil ke depan oleh pelatih “S”, dan setelah dicaci lagi, saya diperintahkan untuk melaksanakan penghormatan dengan tangan kiri lama sekali hingga lengan saya sakit. Saya laksanakan tindakan itu sesempurna mungkin tanpa tangan turun sama sekali, karena saya tahu, jika ada satu kali saja turun, kemungkinan besar akan semakin menjadi berlipat-lipat hukuman saya. Namun pada akhirnya saya berhasil melalui itu dengan cukup aman.

Seusai istirahat ibadah dzuhur, biasanya MFD dihentikan dan digantikan dengan materi-materi lainnya, ada baris berbaris, ada bela diri, ada materi medis, ceramah dari KPK, ceramah keagamaan, dan lainnya. Lumayan banyak istirahatnya dari dzuhur hingga maghrib, apalagi ditambah schedule extra fooding dan ibadah bergilir dikarenakan kondisi tempat ibadah yang kurang memadai. Saat-saat banyak waktu istirahat inilah biasanya yang dimanfaatkan para siswa untuk berbincang dengan kawan lama atau berbaring melepas lelah pada daun kering atau bersandar pada batang pohon atau melirik-lirik tempat siswi duduk. Sementara itu, waktu-waktu seperti ini dimanfaatkan para pelatih untuk mencari “mainan” dari segala keunikan para siswa yang dapat dibuat lucu-lucuan. Salah satu contoh lucu-lucuannya adalah berikut: seorang siswa diperintah berseru bak burung beo, “Mana cowok? Mana cowok?” yang kemudian dibalas para siswa dengan dehem, “Hemmmm Hemmmmm Hemmm.” Kemudian pihak siswipun tak mau kalah dengan, “Mana cewek? Mana cewek? Yiiiiihaaaaaaa!!! Yiiiiiihaaaaa!!!”

Tiap maghrib kami pulang ke kemah, dan setelah pembersihan dan ibadah, biasanya ada tambahan pengarahan-pengarahan. Terkait yang sakit, terkait laundry, terkait kegiatan esoknya, terkait yell-yell, lagu mars djpb, dan sebagainya.

Pada malam hari, setiap tenda harus ada jaga serambi, dua orang di masing-masing ujung tenda, dan bergantian sepanjang malam. Kemudian pada pukul 4 pagi, kecuali pada hari pertama (senin) dan terakhir (sabtu), ada jadwal senam pagi. Menu senam paginya serupa seperti saat prajab, bahkan bisa dibilang relatif lebih ringan karena tidak ditambah porsi lari. Setelah itu pembersihan dan ibadah, barulah sarapan dengan nasi kotak.

Pada jumat malam, terdapat kegiatan caraka malam. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 manusia. Lalu secara bergiliran kami masuk ke dalam hutan. Pertama-tama kami diberi tahu bahwa kami akan berperan sebagai pembawa pesan. Kami harus memahami dan mengingat pesan tersebut serta juga harus menjaga pesan tersebut dari pihak lain dengan sebuah sandi  sebagai alat identifikasi mana lawan mana kawan.

Saya masuk ke dalam kelompok 23. Kami melakukan kesalahan di awal, yakni memberitahukan jumlah dan nama anggota kami kepada pihak yang belum disandi, sehingga kami diperintah untuk lepas pakaian. Setelah itupun dalam perjalanan topi kami diambil pelatih. Namun memang situasinya membingungkan, mana batas-batas roleplay, mana batas-batas hubungan pelatih-siswa. Jadi saya mengusulkan kepada rekan sekelompok untuk memakai kembali pakaian, toh untuk apa menuruti perintah musuh? (jika masih dihitung roleplay). Di tengah kebingungan itu, setidaknya kami kelompok 23 berhasil sampai ujung mengantarkan pesan dengan terhormat, dan tidak mendapat tindakan berupa merangkak telanjang sembari berseru, “kami telah membocorkan rahasia negara.”

Yah, meski esoknya pada sabtu pagi, ujung-ujungnya kami harus mendapat tindakan karena hilang topi.

Hari terakhir ditutup dengan demo baris berbaris dan demo bela diri karate. Saya sebenarnya sempat diperintah pelatih “S” untuk ikut barisan karate, namun waktu itu melalui pertimbangan yang super sangat serius. saya lebih memilih istirahat bersama yang tidak terpilih di bawah pohon dari pada bergabung dengan para siswa-siswi terpilih.

Setelah demo dan upacara penutupan, kami dipulangkan ke Gadog dengan truk tentara.

Foto-foto dulu di Gadog seusai bertempur di Ciampea selama seminggu:

Foto-foto dulu di Pusdiklat AP

Bareng Senik dan Gamaliel

Di Gadog, sebelum pulang ke rumah masing-masing, ada pengarahan sedikit terkait kewajiban datang pada senin pagi untuk pembagian SK Penempatan.

Oh.

Yeah.

P

E

N

E

M

P

A

T

A

N

Minggu sorenya, saya, Harry, Dinov, dan Fry menginap di sebuah villa dekat Cimory Riverside supaya senin pagi dapat tiba tepat waktu di Gadog. Kami dikumpulkan di lantai tiga gedung utama, duduk sesuai gugus banjar abjad nama.

IMG-20150921-WA0003

Acara utama dibuka dengan laporan dari kepala kepegawaian, lalu sedikit arahan dari Pak Sekretariat Ditjen Perben, yang segera dilanjutkan dengan pemanggilan nama dan pembagian amplop berisi SK penempatan.

Rupanya banyak yang tidak sabar untuk membuka amplop secara bersama-sama, karena belum lama pembagian berlangsung, suasana berangsur-angsur menjadi sangat ramai dengan berbagai luapan ekspresi dan emosi. Saya dan Senik bertukar amplop, saya membuka punyanya dan ia membuka punya saya.

Senik mendapat penempatan di Ruteng.

Sementara saya.

Akan ditempatkan pada lokasi yang berjarak sekitar dua ribu dua ratus enam puluh kilometer dari tempat tinggal saya sekarang.

Jauh di sebelah barat Indonesia sana.

Tempat dahulu Tsunami singgah dan mempertontonkan keperkasaannya.

Meulaboh.

KPPN tipe A1, Meulaboh. Yang jaraknya kira-kira tak sampai 10 km dari pantai, dan 20.5 km dari bandara.

m

Untitled

Ya, setidaknya lokasi tersebut cukup jelas pada peta, dan namanya tidak begitu asing. Meski jauh, Meulaboh tidak terpencil. Ada akses bandara di sana, itu yang penting. Oke deh. Semoga bisa dioptimalkan penempatan di sana.

Sepulangnya dari Gadog Pusdiklat AP, saya dan Harry berangkat menuju Lembaga Bahasa Internasional FIB Universitas Indonesia untuk mengambil hasil TOEFL kami pada tanggal 10 September lalu.

Lumayan, saya naik 26 point. Meski masih kurang 24 point dari sempurna. Hasil sebelumnya saya 627, lalu sekarang naik jadi 653. Ya sudahlah, walau sebenarnya saya juga ragu entah hasil TOEFL ini mau digunakan untuk apa. Hoahm.

TOEFL SMITH_001

0000

Begitulah, selamat lulus DTU!

Selamat penempatan!

Perbendaharaan Jaya!

Treasury! Treasury! Treasury!

Hurray!

Sekilas Tentang Diklat Prajabatan Kemenkeu Gol 2 Gel 4

Yeah. Prajab sudah selesai. Tinggal tunggu pengumuman. Semoga lulus semua. Sebelum saya lupa semuanya, saya akan coba mengingat-ingat dan menuliskan pengalaman saya berjuang dalam diklat prajabatan tersebut. Postingan ini telat banget ya, karena memang sewaktu prajab selesai itu badan masih sangat lelah, lalu kemudian disela mudik pula. Jadi mohon maaf dan koreksinya kalau-kalau ingatan saya mengkhianati kebenaran. Terima kasih. Silakan membaca.


Lokasi tempat saya menjalani diklat prajab adalah di Wisma Pembina di daerah Petukangan di Jakarta Selatan. Tempatnya agak tersembunyi dan cukup jauh dari keramaian. Sementara, kalau dari desas desus yang ada, porsi “tekanan hidup” di Wisma Pembina ini cukup di tengah-tengah, tidak sesantai di LPMP, tidak sekeras di WDW. Ya, bersyukur saja.

Saya masuk ke dalam kelas N yang dipimpin oleh Yahya Wibowo sebagai ketua kelas tetap. Dia dari instansi Bea Cukai dan memang tepat dalam menampuk tugas semacam itu. Saya mendapatkan kamar di Anggrek 205, bersama Sevtiandi dari Bea Cukai, dan Salam dari Pajak. Ah sesungguhnya, pada dua malam pertama MFD, saya sudah menulis kerangka-kerangka kira-kira blogpost ini akan disusun seperti apa, namun rasa-rasanya sudah terlalu banyak yang ingin ditulis sehingga malaslah saya untuk berpikir, hence, sepertinya the rest of this post will be written dalam struktur yang berantakan. Sorry.

°

Menu prajab dibuka dengan tiga hari MFD. Apa itu MFD? Mental Fisik Disiplin. Menurut pelatih kami yang berasal dari anggota kopassus, MFD ini disajikan kepada kami supaya kami lebih siap menghadapi tahap prajab selanjutnya.

°

Berikut kira-kira bekal mater apa saja yang diberikan kepada kami saat MFD:

– Ilmu baris-berbaris seperti jalan di tempat, lencang kanan, dll.

– Ilmu tata cara menghadap atasan, tata cara berpapasan/mendahului atasan. Intinya, lambatkan jalan, sapa lebih dahulu, lalu hormat. Setelah atasan/senior selesai membalas hormat, barulah turunkan hormat kita.

– Tata cara masuk ruangan: teriak, “IZIN MASUK!” lalu hormat, lalu maju selangkah sembari berseru, “SISWA!”

– Sementara itu ada pula tata cara keluar ruangan: menghadap ke dalam ruangan, teriak,”IZIN KELUAR!” lalu hormat, balik kanan, maju selangkah teriak, “SISWA!”

– Tata cara menyiapkan kelas dan lapor kepada Widyaiswara (dosen).

– Jargon-jargon pembangkit semangat:

“SIAPA KITA? SISWA!”

“SEMANGAT PAGI! HUA HUA HAUUUUUA!” *sambil berpose macam gorila*

“ADAKAH KEMENKEU DI DADAMU? ADA! MANA? INI DIA!”

– Lagu doa apel malam:

“Ya Allah yang maha esa, yang maha kuasa, yang memiliki se(t/k)alian alam … (dst)”

– Lagu mars prajab:

DULU AKU BERCITA CITA

MENJADI SEORANG PEGAWAI NEGERI

BERDIRI TEGAP GAGAH PERKASA

TUNAIKAN TUGAS YANG MULIA

TEGAP TEGAK PENUH WIBAWA

SEMANGAT YANG TAK KUNJUNG PADAM

TUNAIKAN TUGAS PARA PEMBINA

TUNAIKAN DENGAN PENUH RASA BANGGA

KINI AKU SEDANG DITEMPA DALAM DIKLAT PRAJABATAN

LUPA KAWAN LUPA SAUDARA LUPAKAN SAJA SEMUANYA

SAYA TAHAN SAKIT-SAKIT PANTANG MASUK RUMAH SAKIT

SAYA TAHAN MENDERITA SIANG MALAM KU DITEMPA

WALAU DIRIKU DITEMPA HATIKU SELALU GEMBIRA

GEMBIRA GEMBIRA SELAMANYA

BERGEMBIRA SENANTIASA SELALU GEMBIRA

HILANGKANLAH RASA SUSAH SEJAUH-JAUHNYA

RASA SUSAH RASA SEDIH TAK ADA GUNANYA

BERLATIH DENGAN GEMBIRA

SISWA BERMENTAL BAJA

– dan lainnya.

°

Sementara itu, selain diberi materi, pada MFD kami juga diberi porsi latihan fisik seperti berikut:

Kami dibawa ke lapangan bertanah merah dan berumput. Di sana kami awal-awalnya diberi semacam tugas untuk berbaris serapi dan secepat mungkin. Namun tentu saja upaya kami dianggap gagal dan tidak memuaskan, maka diberilah kami tindakan berupa: merayap, guling-guling, merangkak, dan jalan jongkok.  Yak, dan saat guling-guling, banyak yang tidak kuat, sehingga, jadilah lapangan tersebut dibanjiri muntah para siswa.

Tak lupa, saat setiap tiga kali makan berat dan tiga kali makan snack, waktu makan kami dihitung oleh pelatih. Jika ada yang telat dari hitungan, maka ia akan diberi perintah untuk lompat-lompat, lalu hitungan diperpanjang. Toleransi perpanjangan hitungan ada batasnya, sampai hukuman berpindah posisi, bukan yang terlambat makannya yang dihukum, melainkan yang sudah selesai; kami diperintahkan untuk mempertahankan posisi sikap push up sampai para siswa yang terlambat tersebut berhasil menghabiskan makannya.

Dan hmmm. Di MFD hari terakhir kalau tidak salah, ehm, kami makan komando. Tradisi. Makan satu box yang isinya sudah diaduk-aduk tidak keruan. Pisang campur bihun, campur segala-gala yang ada di box itu. Setiap siswa yang selesai makan, harus memisahkan diri dan siaga bersikap push up atau diperintah berguling-guling di aspal, sampai seluruh siswa selesai makan.

°

Kami setiap kelas juga diperintah membuat yell-yell. Mmmm. Apa lagi ya? Ya, ada aja kejadian-kejadian seperti: ada yang ulang tahun diperintah merayap, lalu disiram air kotor dan tepung, ada yang disuruh peluk pohon, ada yang jadi bulan-bulanan dipanggil Shinchan, Doraemon, dan sebagainya. Dalam MFD ini, saya sendiri berhasil low profile, nyaris tidak terlihat, baik dalam bentuk penunjukkan fungsi penugasan, ataupun dalam bentuk bahan candaan.


Selesai MFD, kami para siswa memasuki tahap selanjutnya, yakni tahap Internalisasi. Internalisasi ini maksudnya adalah mempelajari nilai-nilai ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, dan Anti Korupsi) yang harus dihayati dan dilaksanakan saat tahap Aktualisasi nanti. Intinya sih kuliah, dari pagi sampai malam. Selama, mmmm dua minggu kalau tidak salah. Lelah sekali. Apalagi saat proses kuliah tersebut, kami juga harus menyiapkan Rencana Aktualisasi yang akan disidangkan nanti pada hari-hari terakhir tahap Internalisasi. Ditambah juga ada ujian tertulisnya sebelum sidang. Lengkap padat deh jadwalnya. Dan selama seluruh tahap itu berlangsung, kami tetap diawasi dan jadwal diatur ketat oleh para pelatih dari kopassus; intinya, susah cari napas. Santai? Sabtu minggupun rasanya masih dikejar-kejar hantu kalau dengar bunyi peluit harus segera kumpul, entah itu kumpul untuk jadwal makan (6 kali sehari), atau peluit apel, atau peluit senam pagi.

Ujian tertulisnya lumayan susah-susah gampang. Sementara seminar RPAnya tergantung kemampuan public speaking dan penguasaan terhadap pekerjaan kantor masing-masing. Intinya, kami mempresentasikan rencana-rencana kami dalam mengimplementasikan nilai-nilai ANEKA ke dalam pekerjaan-pekerjaan kantor. Misal, nilai Nasionalisme pada pekerjaan Splitting SPM diwujudkan dengan bergotong royong. Nah, hitungan nilai prajab nanti salah satunya ya dari seminar ini, lainnya dari disiplin, dari ujian tertulis, dari seminar evaluasi, dan sebagainya.

Banyak detail yang ingin saya ceritakan di sini, seperti tentang keluarnya Dragon Shout saya pada kuliah Anti Korupsi. Namun saya rasa, lebih baik cukup segini saja terkait tahap internalisasi.


Tahap aktualisasi dilaksanakan di kantor masing-masing. Kami berusaha mewujudkan rencana kami, lalu membuat laporan beserta pembuktiannya dengan dokumentasi-dokumentasi. Cukup merepotkan, tapi ya apa boleh buat. NAH, yang menjengkelkan adalah, pada tahap aktualisasi yang cuma dua mingguan ini, tiba-tiba muncul surat tugas (bagi para CCPNS DJPB) untuk profiling di Bogor selama tiga hari + 1 hari pengarahan di awal. Entah karena waktu yang terpotong profiling atau karena memang malas, dari rencana 10 kegiatan, saya menghapus 4 dan menambah 2, sehingga laporan dan presentasi yang saya susun hanya tersisa 8 kegiatan.


Tahap evaluasi! Kami kembali ke Wisma Pembina. Mendapat pengarahan. Mendapat jadwal urutan sidang presentasi hasil aktualisasi. Saya dapat hari pertama. Presentasi saya cukup lancar meski menurut Widyaiswara penguji, bukti-bukti yang saya sediakan sangat minimalis. Setelah lega presentasi sisanya hanya menunggu saja. Oh ya, di malam kedua, Senat mengadakan acara renungan malam, semacam flag-kissing ceremony. Lalu setelahnya kami bermain kembang api dan menyaksikan penampilan persembahan dari masing-masing kelas. Kelas saya, kelas N, menampilkan semacam pertunjukkan musik yang diatur sang maestro dari BKF, Nopri! Sukses pokoknya! Lalu ada juga lomba bertanding tiup balon melawan kopassus, ada joget penguin dengan lagu Ievan Polka versi Hatsune Miku, yeah dan seperti biasa … foto-foto.

IMG-20150710-WA0006

Setelah hari terakhir selesai. Usai upacara penutupan, salam-salaman dengan kopassus. Honor dan lapis legit dibagi. Barulah kami pulang. Terima kasih pelatih! Terima kasih kelas N!


Begitulah kira-kira yang saya sanggup ingat dan tulis.

Oh, iya, ada teman yang mengajukan beberapa pertanyaan terkait prajab ini. Saya coba jawab sebisanya saja ya.

1. Berapa lama prajab?

Sepertinya sih 2 minggu-an (MFD dan internalisasi) + 3 hari (evaluasi).

2. Tugasnya susah?

Susah sih susah kalau kurang paham pekerjaan kantor, kalau paham sih enggak susah, cuma ya repot aja.

3. Adakah penyiksaan fisik dan mental?

Kalau dari sudut pandang kopassusnya sih bukan penyiksaan, tapi pelatihan.

4.Ada yang enggak lulus?

Saat awal-awal pengarahan tahap evaluasi, pihak penyelenggara cerita ada yang tidak buat laporan. Hmmm, ya, sepertinya ya nasibnya tidak lulus.

5. Ujian penentuan kelulusannya seperti apa?

Banyak faktor. Ada hitung-hitungan persentasinya.

6. Kamar gimana?

Satu kamar diisi tiga siswa.

7. Materi yang diajarin apa?

Banyak, setiap nilai ANEKA ada satu kuliah, dan ditambah materi kuliah pendukung seperti Dinamika Kelompok.

8. Ada baris berbaris?

Ada apel setiap pagi dan malam.

9. Makanannya apa?

Banyak. Ganti-ganti.

Akhir Pekan Dengan Kawan Lama

Saya mengenal Gerry sejak kelas sepuluh di SMA 61 Jakarta Timur. Dulu kami sekelas dan sering bersama duduk di barisan paling depan. Kelas sepuluh, saya ekskul bahasa jepang dan dia ekskul KIR. Dulu pada hari ekskul di sabtu pagi, kami tak jarang bermain catur di pojokkan sekolah. Kelas sebelas dan dua belas kami tidak sekelas lagi, namun kami bergabung dalam ekskul yang sama: pencak silat. Ia pernah membanting saya sekali. Saya pernah membantingnya sekali. Impas. Lalu setelah lulus, ia ke ITB saya ke STAN. Di sana sepak terjang Gerry dalam sport menggila. Saya pernah dengar kabar ia sempat juara 2 karate di sana. Whoa. Ngeri. Lalu pada akhir 2013 seusai suatu acara reuni alumni, Gerry mulai rajin bersepeda. Saya melihat track record sepedanya langsung terkejut. Dia tidak sekadar main-main santai tapi rutin dan intensif. Saya yang penasaran segera menanyakan tentang ini, dan kalau tidak salah, ia waktu itu bilang, ia rajin sepeda supaya kuat lari. Whoa. Eh lalu ternyata benar, di 2014 dia mulai lari dengan mengerikan. Larinya enggak kira-kira, rutin banget, dan jauh-jauh sampai puluhan kilometer. Gila. Gila. Gila. Monster.

Saya dan Gerry di Kelas 10 dulu di SMA
Saya dan Gerry dulu di SMA
1234307_10200833524584330_1340066560_n
Saya, Gerry, dan Irghan (Trio Pesilat) sewaktu reuni alumni 61 pada tahun 2013
Saat kami bertemu sabtu 23 Mei kemarin
Saat kami bertemu sabtu 23 Mei 2015 kemarin

Jadi ceritanya, Gerry sedang tidak di Bandung karena kepalanya cidera terkena duri saat melaksanakan Trail Run di Bogor. Maka datanglah saya ke rumahnya di Pondok Kopi untuk menemui monster itu secara langsung dan nyata dengan berharap untuk tertular semangatnya.

Kepalanya sudah sembuh. Hanya ada pitak sedikit. Haha. Kami bercerita-cerita sedikit tentang kuliah. Ia bercerita kepada saya tentang bentuk solidaritas di jurusan kuliahnya. Katanya, kalau ada mahasiswa yang tidak masuk, sampai perlu dihampiri. Ia pernah begitu, kediamannya dihampiri. Untuk memberikan impresi lebih meyakinkan kepada yang menghampirinya bahwa ia sedang tidak sehat, Gerry bilang, ia sengaja berjalan berputar-putar di tempat sampai pusing-pusing. Terbahak-bahaklah saya. Selain berbincang, kami juga iseng bermain tembak-tembakan menembak boneka Patrick Star dengan senapan mainannya. Jadi ingat, dulu sewaktu sma, saya pernah berkunjung, dan ditembaknya saya dengan senapan itu. Kampret lu Ger.

Setelah ashar dan menjelang pukul 5 kami berlari bersama sejauh 6.57 km dalam waktu 50 menit. Berlari bersama teman ternyata memang menambah semangat. Saya rata-rata mungkin hanya kuat lari sejauh 2 atau 3 km nonstop. Jarang-jarang bisa sampai di atas 5 km tanpa istirahat disela jalan. Selama berlari kami berbincang terkait beberapa hal. Saya mengeluh terkait pendapat saya bahwa lari adalah olahraga yang sangat membosankan, jadi kadang saya berhenti lari bukan karena capek, namun karena bosan. Gerry bilang kadang supaya lebih asyik saat berlari, ia membayangkan sedang bermain Skyrim. Kemudian berlanjut ke seputar Fallout New Vegas tentang bagaimana saya berburu Deathclaw dengan bersenjatakan katana. Saya merasa sebenarnya renang lebih cocok untuk saya, namun ya mahal di ongkos. Kemudian ia pamer di tempatnya kuliah ada kolam yang hanya meminta uang sebesar 3000 rupiah jika ada kartu mahasiswa. Wew. Lalu ada juga ketika kami menyebut-nyebut soal renang gaya kupu-kupu. Sangat susah dan berkali lipat lebih melelahkan dibanding gaya lain. Namun ada lagi yang lebih susah menurut saya. Yaitu gaya orang cacat. Ya, itu komitmen sendiri aja, silakan nyemplung, lalu imajinasikan bagian mana saja yang cacat, lalu berusahalah berenang dengan sisa bagian tubuh yang dianggap berfungsi. Teruslah perbincangan sambil lari itu berputar ke mana-mana sampai akhirnya Gerry bilang, “Tinggal satu kilo lagi nih Sas, lari yuk.”

Yeah right. Jadi dari tadi bagi dia belum terasa lari! Hahaha! Saya iyakan usulnya. Lalu kami mulai ngebut. Namun tak sampai beberapa detik saya sudah tertinggal puluhan meter. CURANG! PAKAI GAMESHARK! 

Setelah melihat lambaian tangan saya dari jauh, barulah ia berhenti menunggu saya menyusulnya. Oh ya, di jalan kami juga sempat foto-foto.

*Gerry berlari secepat ninja konoha*
*Gerry berlari secepat ninja konoha*
*Sasmito berlari secepat TINJA konoha*
*Sasmito berlari secepat TINJA konoha*

Sesampainya kembali ke rumah Gerry, saya celamitan meminta-minta eskrim, buah, dan cemilan-cemilannya. Lalu solat, ngobrol, mondar-mandir ga jelas, foto-foto. Pulang. Sebelum pulang, saya ditawarkan sekantung jambu hijau yang manis. Hmmm. Tentu mau. Thanks! Makasih banget Ger untuk segalanya, inspirasinya, juga eskrimnya, dan sebagainya! Mmuach.

Jpeg


Jpeg

Puisi Untuk Arief dan Hani

Jadi, tadi saya baru saja menghadiri undangan pernikahan seorang teman saya, seorang scientist keren yang juga pandai menulis dan menggambar. Saya ada sedikit hadiah kecil berupa puisi untuknya, ini dia.


Puisi Untuk Arief dan Hani

oleh Sasmito Yudha Husada

Setenang logam di awang-awang

Dunia runtuhpun tak boleh toreh arang

Setiap kata dari yang lampau dan akan datang

Berbondong berbaris meregang doa-doa panjang

Berenanglah tanpa takut bersama senang berpeluk sayang

  •

Benamkan kaki ke dalam dasar palung

Lilitkan tungkai kalian erat-erat lekat-lekat hingga jantung

Saling menabuh dekat dan selaras bagai kepak sepasang sayap burung

Teruslah terbang saling menopang dan menjunjung hingga sampai langit surga di ujung

  •

Apalah kerikil apalah badai apalah gempa apa pula tsunami

Nerakapun perlahan sejuk dalam kesucian kasih bertahta janji

Pikullah bumi, raihlah mars, jagalah venus, dan jadilah matahari

Meski ada petang, dan ada pula malam, busungkan paru, terus bernyanyi

  •

Segala untaian rima ini

Tak mungkin mampu menggambarkan kebesaran cinta

Yang dapat sangat mengerikan namun dapat jua indah tak terkira

 •

Selamat jalan untuk Arief dan Hani

Arungilah laut tanpa takut dan jelajahilah angkasa tanpa dusta

Yakinlah dunia turut merona hangat ke mana nada anda berdua akan bersua

DTSD Gelombang 2 Melalui Kacamata Sasmito

Gelombang 2 Diklat Dasar Tingkat II Perbendaharaan Kelas Reguler Bagi Pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan Tahun Anggaran 2015 di Bogor

Seluruh angkatan

Angkatan IV, V, dan VI


Bersama Aldinov di minggu pagi, saya berangkat menuju tempat diklat dari otista, tepatnya dari halte Bidara Cina depan kanwil DJPB Jakarta.  APTB yang kami tumpangi meluncur lancar. Tak sampai dua jam kami sampai di Ciawi. Begitu turun dari kendaraan, kami segera diserbu tukang ojek yang menawarkan jasa. Saya tak sempat berpikir banyak, rencananya, kami akan naik angkot, tapi saya sudah melihat Aldinov naik ke atas motor ojek, ya sudahlah, jadinya sayapun turut berojek ria—30ribu sampai di pusdiklat AP.  *Sigh*

Di pos satpam gerbang pusdiklat, terjadi semacam suatu pendaftaran, nama dicek, lalu kami dapat kertas karton merah berisi keterangan asrama tempat menginap, dan jadwal pendek sampai acara pembukaan. Setelah itu, kami berpisah menuju kamar masing-masing, Aldinov ke asrama Dahlia, sementara saya ke Flamboyan. Saya mendapat kamar nomor 205, tepat di samping tangga di lantai dua Flamboyan. Dalam kamar tersebut terdapat tiga tempat tidur, tiga meja belajar, sebuah kamar mandi, dua lemari, dan satu televisi. Kami kemudian bertemu kembali untuk berjalan melihat-lihat situasi pusdiklat; sederhananya, pusdiklat ini semacam kompleks hijau segar yang terdiri dari beberapa gedung terpisah dengan fungsi masing-masing, dan juga disertai beberapa fasilitas olahraga. Setelah berkeliling dalam kompleks pusdiklat, kami juga keluar dan menemukan banyak sekali minimarket berderet-deret, jadi rasanya tak perlu khawatir kalau dirasa nanti perlu belanja sesuatu.

Setelah belanja makanan ringan, kami kembali ke asrama masing-masing. Tak lama kemudian, Oki Rifki sampai di Flamboyan. Beberapa jam kemudian, pusdiklat mulai ramai. Lalu datanglah teman sekamar saya, Senik Entropi pada tengah hari. Sementara itu, satu rekan sekamar lagi, Pandu Waskito menyusul datang pada sore harinya. Lengkap sudah kru F205. Yeah.

Begitulah kira-kira, sedikit gambaran awal bagaimana saya memulai kegiatan diklat teknis substantif dasar selama tiga minggu di Gadog. Untuk selanjutnya, saya akan menuliskan gambarannya dengan berdasarkan lingkup berikut:

  1. Kegiatan Keseluruhan
  2. Kegiatan Angkatan 6
  3. Kegiatan F205
  4. Ending

Kegiatan Keseluruhan

Diklat ini dilaksanakan selama tiga minggu. Sabtu dan minggu, umumnya libur, boleh pulang atau pergi rekreasi. Pada hari senin minggu kedua dilaksanakan ujian seharian penuh; sementara pada hari sabtu minggu keduanya dilaksanakan ujian akuntansi. Pada hari kamis minggu ketiga dilaksanakan PKL ke KPPN. Hari terakhir masih ada satu pelajaran lagi ditambah penutupan diklat dengan evaluasi.

Di Kelas
Di Kelas

Keberadaan pihak militer sebagai pembina siswa, menyebabkan beberapa dampak. Beberapa dampak yang paling mencolok adalah penambahan kegiatan yaitu kewajiban apel setiap pagi dan malam serta  peraturan untuk memulai dan mengakhiri makan secara serempak.

Kami diberi makan tiga kali sehari, sarapan, makan siang, dan makan malam. Setiap makan, setelah semua peserta telah menyiapkan piring masing-masing, salah satu peserta berdiri untuk memimpin doa. Pertama ia akan berseru DUDUK SIAP GRAK kemudian seluruh peserta akan menghentakkan kaki, menegakkan punggung, dan mengepalkan tangan di atas lutut. Lalu ia akan berbicara memberikan komando untuk berdoa. Selesai berdoa, ia akan berseru ISTIRAHAT DITEMPAT GRAK yang kemudian dibalas oleh seluruh peserta dengan seruan SELAMAT MAKAN. Begitu juga saat makan usai. Ketika dirasa sebagian besar sudah selesai makan atau waktu sudah menunjukkan perlunya kegiatan untuk segera dihentikan, maka seseorang akan berdiri, berseru duduk siap lagi, lalu mengajak berdoa, setelah doa selesai, peserta diistirahatkan sambil ramai-ramai berseru TERIMA KASIH. Selain makan, ada juga coffee break dua kali, yakni di antara sarapan dan makan siang, dan saat istirahat solat ashar. Saat coffee break ini tidak diwajibkan untuk serempak.

apel pagi
Apel Pagi

Apel dilaksanakan setiap selesai sarapan dan sesudah makan malam. Kegiatan yang dilaksanakan saat apel umumnya hanyalah penyampaian jumlah peserta yang datang apel dari masing-masing ketua, ditambah materi-materi baris berbaris, serta nasihat-nasihat dari pembina. Oh ya, untuk hiearki koordinasinya, terdapat 1 koordinator dan 3 ketua kelas masing-masing angkatan yang wajib diganti setiap minggunya. Koordinator minggu pertama Tsani, minggu kedua Satria, minggu terakhir Ryan.

Untuk kegiatan olahraganya, setiap selasa dan kamis pukul lima pagi kami diwajibkan untuk senam. Senam bukan dipimpin instruktur senam … tapi … … … dipimpin pihak militernya, tanpa musik, dan hanya diiringi hitungan SATU DUA TIGA SATU SATU DUA TIGA DUA SATU DUA TIGA TIGA dan seterusnya. Entah, bagi yang lain, tapi bagi saya sendiri senamnya terasa kaku, tidak semangat, tidak keluar keringat, hanya bikin perut nyaris keram karena push up, sit up, dan sikap lilinnya. Selain senam, kami melaksanakan inisiatif olahraga masing-masing dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Sejauh yang saya tahu, ada yang ke tempat gym tepat di depan Flamboyan, ada yang lari keliling kompleks, ada yang bermain tenis meja, ada yang voli, dan ada yang futsal.

Senam pagi
Senam pagi

Futsalnya seru. Kadang dilaksanakan saat pagi sebelum kuliah, kadang malam seusai apel, kadang juga sore. Lumayan, dengan bola yang agak rusak dan kempes, saya cukup sering mencetak gol, kadang-kadang 4 dalam satu kali main, sementara saat susah-susahnya yah minimal 1 lah. Saya berterima kasih kepada teman-teman yang dengan dermawannya mengoper bola ke saya, seperti operan Arifin, Sulton, Tino, dan lainya. Namun setelah bola diganti jadi yang tidak rusak, saya kehilangan produktivitas. Mungkin memang, makhluk rusak cocoknya hanya dengan yang rusak juga haha. Begini lho, dengan bola rusak kempes, bola jadi lebih susah memantul, maka saya sebagai poacher jadi lebih mudah menerima bola meski bola dioper dengan keras. Dengan bola sempurna, saya jadi lebih sulit menerima bola karena bola lebih mudah memantul ke mana-mana.

Pada libur sabtu minggu, khususnya pada akhir minggu pertama, ada yang pulang entah untuk mengurus tugas Karya Tulis Ilmiah atau urusan lain, dan ada juga yang bertamasya ke tempat wisata setempat. Saya sendiri waktu itu agak kurang sehat sehingga hanya istirahat di kamar asrama. Barulah pada akhir minggu kedua saya ikut berwisata ke Cimory Riverside bersama teman seangkatan.

Kamis minggu terakhir adalah jadwal kami untuk PKL ke KPPN. Di KPPN kami bertugas untuk melakukan observasi pekerjaan-pekerjaan yang ada pada setiap seksi. Observasi dilakukan dengan pembagian tiap angkatan ke kantor yang berbeda. Angkatan saya, yakni angkatan 6, ke KPPN VII Jakarta. Lalu sesampainya kami dibagi lagi menjadi tiga kelompok kecil yang kemudian melakukan observasi bergilliran. Masing-masing peserta diberikan kertas kerja yang perlu diisi sebagai pencatatan pengamatan. Setelah PKL selesai, kami, masing-masing peserta diklat, mengerjakan suatu laporan berbentuk karya tulis ilmiah yang harus segera dikumpulkan esok harinya. HA HA HA.

di bus
Di Bus Perjalanan PKL

 Kegiatan Angkatan 6

Angkatan 6 alias kelas C, mendapat jatah kelas di lantai tiga gedung Anggrek. Sementara saat mata kuliah terkait aplikasi keuangan, kami mendapat jatah di Laboratorium di Gedung Kenanga, tepat di depan gedung Flamboyan. Ariefka yang pertama kali menjadi ketua kelas. Kemudian pada minggu kedua giliran Suwarga memimpin. Barulah pada minggu terakhir Tino yang menampuk tanggung jawab tersebut.

Pada tiap malam di asrama, kegiatan yang paling saya ingat  adalah bermain poker di depan tangga tepat di samping kamar saya. Saya ingat bagaimana Tino dan Okitaro mengeluhkan gaya bermain poker saya, entahlah kenapa. Selain poker, ada juga tanding PES di laptop Arifin. Hanya dua itu yang saya jelas-jelas ikuti langsung, sementara ada juga kegiatan-kegiatan lain yang sepertinya ada namun saya kurang tahu menahu seperti: main uno dan main mafia, entah apalah itu.

Saat menjelang ujian akuntansi pada hari sabtu, jumat malamnya kami belajar sampai larut. Materi yang diujikan, kalau tidak salah ingat, adalah akuntansi pemerintahan akrual. Sulit sekali rasanya. Ketakutan melanda saya. Sepanjang malam hingga pagi saya belajar, membaca slide power point narasumber, juga membaca soal-soal latihan. Pada pagi harinya, saya merasaan suatu firasat, lalu di dalam kelas saya berseru-seru berharap agar yang diujikan bukanlah siklus melainkan pilihan ganda saja. Harapan saya terkabul. Wew. YEAY BUKAN SIKLUS YEAY YEAY YEAY!!!

Belajar Akuntansi Bersama
Belajar Akuntansi Bersama

Setelah ujian akun usai, kami angkatan 6 mengikuti acara class meeting di depan gedung asrama Bougenville. Ada tiga lomba, estafet makan, terong tertangguh, dan perang air. Pada saat mendukung perwakilan angkatan kami, ada sebuah candaan yang terlempar, yaitu, supaya jangan sampa juara 1, karena mendapat juara 2 itu lebih susah hahahaha.

Estafet dimulai dengan Gilang yang berlarian dari sebuah titik ke titik lain untuk terus memakai pakaian berlapis-lapis pada tiap titiknya. Kemudian ia sampai ke titik makan pertama, yakni Oki Rifki yang bertugas menghabiskan Slai Olai. Oki Rifki selesai kemudian ia bergerak ke titik tempat Ariefka harus melahap cokelat, selanjutnya ke Swanda yang mendapat tugas menggerogoti semangka, barulah pada tahap akhir Okitaro menggarap menyedoti popmie … tanpa bumbu. Saya sendiri hanya menonton, berusaha memberi semangat dengan Thu’um alias Dragon Shout saya. Rupanya, dukungan saya memberikan kegagalan angkatan 6 dalam mencapai target juara 2, karena justru … juara 1. Sedihnya.

Barisan Berani Estafet
Barisan Berani Estafet
Oki Rifki Makan Slai Olai
Oki Rifki Makan Slai Olai
Ariefka Makan Cokelat
Ariefka Makan Cokelat
Saya Menyemangati Swanda Makan Semangka
Saya Menyemangati Swanda Makan Semangka
Makan PopMie Tanpa Bumbu
Makan PopMie Tanpa Bumbu

Terong Tertangguh adalah lomba estafet menggiring bola dengan mengayunkan terong/timun yang diikat dengan tali rafia ke pinggang. Pada pertandingan ini juga, perwakilan angkatan 6, yakni Senik, Tino, dan Kibai, gagal mencapai target menjadi juara dua, karena … mereka juara 1.

Para Petarung Terong/Timun
Para Petarung Terong/Timun

Lalu pada perlombaan terakhir, yakni perang air, saya, Suwarga, dan Sanchez turun ke medan perang mewakili angkatan 6. Ada tiga buah area berbentuk kotak yang berdempetan. Pada setiap sisinya terdapat kantung-kantung air. Kantung-kantung air itu adalah amunisi yang dapat digunakan untuk membasahi baju kertas lawan hingga copot. Tim yang dapat mempertahankan baju kertasnya hingga akhirlah yang menang. Saat pertandingan baru saja dimulai saya yang terburu-buru hendak berlari mengambil amunisi justru menabrak Sanchez, lalu saya kebingungan, terpaku ditempat, melempar kantung tanpa mengenai sasaran sama sekali, dan terjebak di tengah crossfire. Chaos. Diserbu bertubi-tubi dari berbagai arah. Baju kertas saya basah kuyup dan rusak. Saya tereliminasi, dan dikeluarkan dari permainan. Namun dengan keluarnya saya, rupanya mampu membuat hasil permainan mencapai target, yakni … juara 2. HAHA. Tapi, secara keseluruhan angkatan 6 tetap juara 1. Ckckck.

Berhasil Mencapai Target
Berhasil Mencapai Target

Pada hari minggunya di minggu kedua, saya tidak mengalami kekurangsehatan seperti pada weekend minggu pertama, jadi saya memutuskan untuk ikut bersama rekan angkatan 6 berwisata ke Cimory Riverside. Kami sampai, berfoto-foto, menyantap pesanan, lalu berbincang-bincang. Perbincangannya cukup menarik, yang saya ingat ada dua tema pokok yang membagi meja jadi dua waktu itu, ada sisi yang sedang seru-serunya membahas dan memberi semangat kepada salah satu teman kami untuk menjadi lebih sosial, ada juga sisi meja yang membahas cecintaan. Ouch. By the way, saya cukup kecewa dengan oleh-oleh yang dijual di Cimory Riverside. Sebagai tempat yang identik dengan produk susu, toko oleh-olehnya justru lebih banyak menjual cokelat. Saya sesungguhnya berharap adanya bermacam produk keju yang diolah dari susu segar mereka. Payah ah. Kekecewaan ini serupa dengan kekecawaan saya saat dulu ke Richeese Factory yang ternyata cuma seperti resto cepat saji; kejunyaaaa kuraaaang.

Usai Makan SIang Sebelum Berangkat Ke Cimory
Usai Makan SIang Sebelum Berangkat Ke Cimory

IMG-20150419-WA0009

di cimory


Kegiatan F205

Oh yeah. This is it. Senik, Pandu, rekan sekamar Flamboyan nomor 205, I love you guys! Thanks!

Trio F205
Trio F205

Gila. Asik banget sekamar dengan mereka. Cocok banget rasanya. Kompak juga. Bahkan sampai di kelaspun sampai memanipulasi nametag supaya duduk berderet. Hehe. So, apa saja yang menyatukan kami? Satu hal yang paling mencolok adalah menyanyi. Holyshit, everyday, , everynight, everytime, setia saat bersama, seperti ada dorongan dalam diri untuk terus mencoba menyanyi bersama sesering mungkin. Tak hanya di kamar, kami juga menyanyi di ruang makan, bahkan di kelas. Tak perlu lagu yang sama, bahkan ketika kami bertiga saling menyanyikan lagu yang berbeda-beda dalam waktu bersamaan, rasanya tetap asik. Banget.

20150424_115212
Mantab Gan

It’s a common thing that boys are united by their dirty mind. So. I couldn’t hold my filthy mouth and my foul tongue. I cracked a lot –maybe too much– of dirty jokes. I even said to them, that, with a sprinkle of perversion here and there, everything becomes much more merrier. HAHA. This overindulgence of dirty jokes almost became a problem when I went back to my own home where I have to keep myself shut.

Kami juga sempat dua kali nobar. Kebetulan kami bertiga sama-sama belum menonton Frozen, maka kami tontonlah film animasi tersebut. That snowman character was fucking hilarious. Nobar yang satu lagi adalah nobar Fifty Shades of Grey. Wiw. Sayangnya nobar 50SOG ini tidak sempat terselesaikan karena berbagai alasan.

We’ve done weird fun shit together. Sewaktu saya dan pandu gendong-gendongan saat dalam perjalanan sebelum/sesudah (lupa) apel di tanjakkan. Juga sewaktu mengangkat kedua tangan ke kepala untuk membentuk sepasang mata akibat bayangan yang terproyeksi lampu jalanan bersama Senik. Saat coffee break, kami bertiga sempat bersama-sama menghabiskan snack dan minuman tanpa menggunakan tangan sama sekali di meja. Omnomnomnom. Yang sulit ketika hendak menghabiskan teh/kopi di dasar gelas karena bibir tak sampai. Saya berikan solusinya: menggigit gagang gelas, mengangkat, lalu menuang isinya ke tatakan gelas. Barulah diseruput seperti kucing sedang minum. Hehe. Oh ya saat di bis perjalanan menuju/pulang (lupa) PKL, kami bertiga juga kompak minum aqua ala saya. Muwahahaha. Fun accomplished.

20150423_152205

?????????????

Kita berpisah kawan, namun kita berpisah untuk menatap masa depan yang lebih meriah bagai kompor mleduk! 

?????????????


Ending

Ehm. I hate endings. Pada apel malam terakhir. Ehm. Ada beberapa peristiwa. Ada kejutan nyanyian lagu Ciawi dan kue untuk pembina kami Pak Sukijo. Ada pemilihan dua suapan pertama kue tersebut yang oleh Pak Sukijo diberikan kepada Satria sebagai koordinator minggu kedua dan kepada Ardilla sebagai ketua kelas perempuan. Kemudian, sesuai perintah pak Sukijo, seluruh peserta berkumpul berkelompok-kelompok sesuai asal daerah masing-masing untuk berembug lalu nantinya tampil membawakan lagu daerah masing-masing.

Apel terakhir

Kelompok Jawa Tengah

Jawa Timur

Sumatera

Saya yang tinggal di Jatibening namun lahir dan tumbuh di Jakarta tak punya pilihan lain untuk membawakan lagu daerah Jakarta. Namun saya sudah ada firasat buruk, bahwa kebanyakan yang dari Jakarta akan memilih bergabung dengan unsur daerah yang lain karena akan lebih banyak anggotanya. Meh. So be it then. I didn’t need them. This kind of event happened frequently in my life. Abandoned, outcasted, excluded, exiled, and being forgotten (sori agak lebay) is a common theme in the very atmosphere I fucking breathe. Despite my fury and resentment, I actually like it. It’s just a chance to shine. Seperti saat saya dahulu sma, pada pelajaran bahasa ada tugas untuk drama. Saya memiliki perbedaan pendapat dengan anggota kelompok lain, dan hal itu berujung pada tidak dipakainya naskah saya untuk drama mereka. Saya bersikeras dan membuat masalah. Bikin ramai. Jadi kemudian guru bahasanya memberikan saya kesempatan untuk melakukan drama … sendirian … yakni bermonologue. Monologue saya waktu itu menceritakan Battle of Wuzhang Plains dengan fokus cerita menyorot kepada dua pemimpin perang yang saling bertikai: Zhuge Liang dan Sima Yi. So? The audience liked it. One of them said she was impressed by my facial expression. Jadi begitulah, pada kejadian ini juga, saya maju sendirian, sementara kelompok lain kebanyakan maju beramai-ramai. Saya menyanyikan lagu kicir-kicir dengan ala saya, ditambah harsh vocal, serta Thu’um (Dragon Shout).

Kicir
Berkicir-kicir sendirian.

DTSD ditutup dengan evaluasi di gedung Cattleya setelah kuliah terakhir pada jumat sore. Aduh, yang bikin saya jadi geleng-geleng adalah adanya beberapa usulan-usulan yang sengaja diajukan sebagai upaya untuk menyusahkan gelombang diklat selanjutnya. I was like, DUDE ARE YOU OUT OF YOUR MIND? Bagaimana kalau nanti kena batunya sendiri, bagaimana nanti kalau waktu prajab atau entah diklat lainnya kita jadi kena susah karena usulan evaluasi gelombang sebelumnya? Duh manusia.


Begitulah sedikit kisah yang dapat saya ingat dan saya tuliskan untuk dibagikan kepada anda. Keep in mind that, the whole thing I’ve written down here was from my extremely limited point of view. Pasti banyak hal menarik terjadi yang terlewatkan oleh saya karena saya bukanlah pusar dunia. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan. Mohon saya segera dikoreksi jika terdapat ketidakakuratan data dari apa-apa yang saya sajikan. Terima kasih telah membaca.

[Foto-foto ini sebagian besar saya ambil dari grup wasap, jika ada yang keberatan terhadap publikasi ini mohon beritahu saya]

Terima Kasih Kelompok OJT 18

There were too much data. My outdated brain couldn’t process them adequately in such a short time frame to do them justice. So I was just spitting slow, random, distracted, and almost-irrelevant phrases. Pardon me, for boring you guys when the camera was on me. The least I can do to make up for it, is to write this blogpost.

Pertemuan Pertama Kelompok 18 di Novotel

Program induksi calon pegawai baru Dirjen Perbendaharaan dilaksanakan di hotel Novotel. Saya kurang ingat, entah program itu dilaksanakan selama satu atau dua minggu, yang jelas rasanya melelahkan sekali pulang pergi dari Bekasi ke Jakarta Utara mengendarai motor. Macetnya itu lho!

Para calon pegawai baru dibagi menjadi beberapa kelas untuk menjalani jadwal kuliah soft skill dan hard skill. Kemudian, untuk menjalani On The Job Training setelah induksi di Novotel usai, para calon pegawai baru dibagi lagi ke dalam kelompok-kelompok. Saya ditempatkan ke dalam Kelompok 18.

Actually, I never fancy this kind of shit; being forced into a team. Back then in school and college, it was painful for me trying to fit in a team, and it was just for assignments that lasted for a week or two. AND FOR THIS OJT PROGRAM? MONTHS.

Saya ini makhluk serba salah, kutipan Fernando Pessoa berikut rasanya cukup tepat menggambarkan diri saya: “Solitude desolates me; company oppresses me.”

Fortunately, I was in some kind of an unfortunate abstract condition that needed to be eased with reality. Thus, I decided that I have to hold them as an anchor for me to stay within this dimension, so I try my best to suppress unnecessary hostility and just enjoy the moment. Hell, I didn’t regret it a bit. They’re such a blessing. Love you humans!

Entah pada malam ke berapa pada program induksi waktu itu, yang pasti seingat saya, pertemuan itu terjadi setelah dibagikannya celana dan kaus untuk program olahraga di hari terakhir induksi. Waktu itu sepertinya entah ada kesalahan apa, entah kesalahan ukuran atau kurang stok, tapi intinya, proses pembagian kaus dan celana itu sempat memakan waktu yang cukup lama. Saya sudah cukup muak dengan kegiatan induksi hari itu, belum lagi membayangkan macetnya perjalanan pulang, jadi ketika memenuhi koordinasi untuk pertemuan pertama kali dengan sesama anggota Kelompok 18, saya merasa sekadar bertemu wajah saja sudah cukup. Mau apa lagi? Toh belum ada kepentingan yang perlu diselesaikan. OJT belum mulai. But to be honest, esoknya saya sudah melupakan wajah mereka, jadi rasanya pertemuan malam itupun percuma karena langsung lupa. Yah, mungkin memang karena terlalu singkat juga, my bad. Kesan pertama terhadap kelompok ini sebenarnya saya lumayan bersyukur karena sudah kenal dengan dua orang di antara mereka, Hizby dan Pandu, juga Erwin,  yang dulu pernah sekelas saat kuliah. Di luar itu tidak ada ekspektasi apa-apa, tak ada keinginan dan harapan yang muluk-muluk, asalkan mereka makhluk yang damai rasanya sudah cukup.

Kisah Singkat Perjalanan OJT Saya di Kelompok 18

Pertama-tama kami ditempatkan di KPH di Juanda bersama Kelompok 19. Disambut oleh kepala kantor yang ramah dan suka berbagi kisah. Ia berceria tentang penempatannya, ia sempat dapat enak di Bali, lalu dapat pengalaman berharga di Tanjung Redeb, dan sebagainya. Di kantor itulah saya mulai sedikit-sedikit belajar untuk menikmati bermain tenis meja bersama Hizby (18). Pada kantor itu jugalah kedahsyatan gerakan senam saya mulai terkumandang. HAHA.

Sedikit out of topic, pak Haryatno kepala kantor KPH waktu itu, rupanya cukup pandai dalam bidang retorik, entah secara sadar atau tidak sadar. Jadi begini, pada suatu pagi, ia mengumpulkan para pegawai KPH. Ia berada di tengah di antara kami sembari melemparkan candaan-candaan yang mampu membuat pegawai menjadi nyaman. Ia membuat kami ceria. Dalam kajian retorika, ini masuk ke dalam ranah Pathos, pendekatan emosi. Kemudian barulah ia memberikan penyampaian inti, yakni terkait disiplin pegawai untuk memakai nametag, dalam mendukung tuntutannya itu, ia kemudian menunjuk kami para pegawai OJT yang belum menjadi pns saja dapat bersikap disiplin karena semuanya memakai nametag. Dalam sudut pandang retorika, ini adalah Logos, pendekatan logika. Tapi yang paling membuat saya salut adalah unsur Ethos yang digunakannya, khususnya decorum, yakni: saat pertama ia datang dan melakukan penyampaiannya di antara kami, ia sendiri TIDAK mengenakan nametag, but this is actually a good thing, karena ia memulai suatu momentum perubahan dari suatu posisi yang sama dengan pihak yang akan ia ubah, barulah setelah ia menyampaikan Pathos dan Logos,kemudian ia mengeluarkan nametag dari saku lalu memakainya sembari mengajak para pegawai untuk bersama-sama memakai. This is nice. Really. I respect that. Woops, maaf out of topicnya jadi terlalu banyak, selanjutnya semoga enggak OOT lagi deh ya, yuk lanjut bahas perjalanan K-18 lagi.

Kalau tidak salah kantor selanjutnya adalah Kanwil DJPB Jakarta di Otista. Di sana 18 masih bersama 19, namun juga ditambah satu kelompok lain lagi. Saya sendiri ditempatkan di Bidang PPAPK. Di sana saya ditempatkan bersama Azim (19) dan Wyndo (dari kelompok satunya lagi). Waktu itu sekretaris kepala bidang pergi cuti, sehingga saya ditunjuk mengisi posisinya sementara. Di sana saya sempat ketiduran di ruang kepala bidang dengan mulut terbuka di siang bolong. Waktu itu sembari menanti surat masuk untuk diurus, saya iseng belajar pre-calculus; sepertinya pilihan keisengan yang salah. Hoahm. Zzz.

Selanjutnya di Direktorat Transformasi Perbendaharaan. Masih bersama 19. Di sini mulai semakin dekat karena meski kami semua terpisah ke berbagai seksi lagi, namun kini kami memiliki basecamp untuk kembai berkumpul-kumpul dalam suatu ruangan. Di sana, Saya, Hizby (18), Erwin (18), dan Ganang (19) ditempatkan ke seksi TTI, yang berkepentingan untuk mendukung infrastruktur teknologi dalam transformasi perbendaharaan DJPB. Seksi TTI berbagi ruangan dengan tim LG-CNS dari Korea, jadi ya, rasanya seperti ada tayangan drama korea rasanya kalau di dalam ruangan itu. Hal-hal bersama yang dilakukan di sana ada beberapa, di antaranya ada foto-foto bersama di depan logo Direktorat Transformasi Perbendaharaan, makan bakso malang, mengerjakan tugas subtitle video SPAN, saling adu kebolehan bertanding PES di komputer kantor, bergosip tentang office girl bersama, dsb. Spesifiknya, di TTI, kami disambut oleh Mas Supyan yang di kemudian harinya membantu kami menyiapkan presentasi serta mengajarkan tentang monitoring storage, pernah juga saya dan Hizby pergi ke roxy dalam upaya memperbaiki smartphonenya, dan juga haha, bermain football manager 2015 berdua.

Sebelumnya di setiap kantor berlangsung selama 2 minggu, namun di Direktorat Sistem Manajemen Investasi, kami mendapat perpanjangan waktu sampai 3 minggu karena memang sedang dibutuhkannya tenaga tambahan. Dua minggu pertama kami dibagi ke seksi masing-masing, lalu pada minggu ketiga kami semua diperbantukan pada seksi VSAP. Saya dan Hizby ditempatkan di seksi P5D pada dua minggu pertama, ada beberapa hal yang cukup menarik untuk dikenang di sini. Kami ditraktir makan pegawai ke suatu restoran di Matraman. Saya dan Hizby ekspedisi mengantar surat ke kantor menteri di gedung biru dan di sana kami tersesat berputar-putar, kebingungan, dioper-oper, naik turun lantai sampai terbahak terkentut-kentut dengan epiknya, HAHA, “ke gedung menteri bikin rusuh dan numpang kentut doang.” Bu Direktur SMI pernah masuk ke ruang P5D, dia sempat bertanya di antara kami berdua apa pernah kerja sebelumnya, si Hizby pernah, saya tidak, lalu Bu Direkturnya memberikan tatapan merendahkan ke saya, berpaling lalu memerintah, “Yang ini aja suruh kerja,” sambil menunjuk Hizby; saya merasa tidak dianggap, tidak nyata, hanya debu, hanya kentut, sedihnya. Minggu ke-3 di VSAP, sibuk sekali, rekonsiliasi, penataan arsip, perombakan tata ruang sehingga kami dorong-dorong lemari besi angkat-angkat meja. Meski sibuk, kami diberi makan banyak, sehari dua kali, plus snack-snacknya. Kami biasa menumpang makan di ruang rapat sambil bercanda dan foto-foto. Pada hari terakhir, Maic, ketua kelompok kami yang baru dapat uang upah magangnya di Pemprov DKI, membelikan kami donat J-co. Terima kasih Maic.

Setelah SMI, kami pindah lagi ke KPH, namun karena di SMI 3 minggu, di KPH kami hanya selama 1 minggu. Kembali berpingpong dengan asik di sana. Ada suatu saat ketika bola hilang masuk ke selipan langit-langit, kami menggeser-geser meja pingpong untuk menjadikannya tumpuan mengambil bola. Meja itu ambruk jadi dua, untungnya bisa diperbaiki. Tapi bola tetap tidak dapat diraih, jadi kemudian saya dan Hizby hujan-hujanan mencari toko yang jual bola pingpong, dari gang samping kantor, terus, memutar sampai pecenongan, akhirnya dapat, 15000 tiga. Oh ya, pada saat di KPH itu juga K-18 pergi karaoke bersama di Atrium. Saat berangkat saya dan Pandu sempat tersasar berputar-putar mencari tempat masuk Atrium, sementara itu Joko kena tilang polisi. Malamnya, kami karaoke sampai 3 jam. Pulangnya, helm saya hilang “diamankan” oleh petugas, dan karena panik, saya karcis di tangan saya jatuh, dan saya berupaya mengambilnya dengan telapak yang memegang gas, maka tak sengaja gas motor jalan, saya kaget, motor melompat ke depan, saya jatuh, dan karcis parkirpun hilang entah ke mana. Pokoknya situasi jadi ribet, helm tidak ada, karcis hilang, badan sakit karena jatuh. Namun segala kesusahan itu jadi terasa lebih ringan karena dikelilingi oleh teman yang peduli. Terima kasih banyak! Sungguh!

Setelah KPH, barulah K-18 mulai merasakan kerja di KPPN. Mulai dari KPPN I, lalu KPPN V, kemudian KPPN VII, KPPN II, dan terakhir sekarang di KPPN IV. KPPN I bagus fasilitasnya, tempat pingpongnya asik, tapi di sana, saya pernah jatuh sampai celana sobek satu jengkal di selangkangan saat main pingpong. Di KPPN V, saya pernah telat selama 4 jam, berangkat jam 6 pagi, sampai kantor jam 10. Keterlambatan tersebut disebabkan oleh kemacetan parah di daerah Lubang Buaya Pondok Gede, pinggang saya sampai keram di sana. Di KPPN V jugalah saya, Hizby, Wahid, dan Erwin sempat berwisata ke Kebun Binatang Ragunan, di sana ada monyet yang awalnya bergelayutan dengan keren namun kemudian menabrak tembok di akhir; epic fail. Di KPPN VII, meski satu gedung dengan Kanwil, rasanya sangat berbeda, seperti beda dimensi, KPPN VII itu luar biasa bersih dan rapi. Di sana saya sempat mendapat tugas membuat analisis kinerja dan profil kepala kantor. Pada hari terakhir di KPPN VII, kami karaoke di ruang rapat dan disediakan makanan dan suvenir oleh pihak kantor, asik sekali. Selanjutnya di KPPN II, yang berkesan adalah adanya studio, saya yang tidak bisa apa-apa kadang-kadang ikut jadi drummer menggebuk asal-asalan sementara Pandu dan Wahid dan Krishna bermain gitar, bass, dan keyboard. Di KPPN terakhir, saat ini ditulis, baru berjalan selama seminggu di KPPN IV. Kemarin jumat kami ada acara kecil, merekam kesan pesan atas satu sama lain; kemudian, Vincen, Amanda, dan Joko pulang, sementara saya, Maic, dan Akbar menginap di kantor, baru pada pagi harinya setelah bermain tenis meja, kami pulang. Minggu depan hanya tersisa saya, Pandu, dan Amanda dari K-18 yang ada di KPPN IV ini, lainnya pergi DTSD, Prajab, dan Profiling. Ini kantor terakhir kami bersama, karena pada OJT tahap selanjutnya, kami akan dipencar lagi, ada yang ke Surabaya, ada yang ke Semarang, dan sebagainya.

Pesan dan Kesan Untuk Teman-Teman K-18

Maic:

Perfect. Mungkin bisa dibilang keseringterlambatannya Maic adalah salah satu sisi buruknya. Namun, justru bagi saya ini justru penyempurnanya. Jadi setidaknya kalau saya terlambat, atau kalau anggota lain terlambat, jadi tidak merasa begitu tertekan karena toh ketuanya saja terlambat. Hahahaha. Di luar itu, Maic sepertinya terlatih sekali ya menghadapi dan menyelesaikan berbagai masalah, he’s calm and collected, thoughtful and bold. Salah satu yang saya suka dari Maic adalah saat ia belajar PMK tentang supplier dan kontrak di KPPN I, ia membuat powerpointnya, lalu mau berbagi apa yang ia pelajari kepada saya. Begitu juga tentang ilmu menguasai diri yang ia pelajari dari bukunya yang tertinggal di tukang jahit. Terima kasih! Ia juga terlihat punya semangat dalam melayani, ia tidak memimpin setengah-setengah, sering berbagi makanan yeay. Berkah deh dipimpin Maic.

Pingpong asikkan Maic? Ayo terus main. Yakin deh, sebentar lagi Maic akan jauh lebih ahli daripada saya.

Vincencia:

Dulu di KPH, saya salut banget sama Vincen. Apalagi ketika presentasi berbicara di depan kepala kantor, yang dijelaskan oleh Vincen mengenai apa-apa yang dilakukan di seksi Vera KPH begitu detail. Saya ingat tepuk tangan para pegawai waktu itu adalah tepuk tangan yang genuine, bukan tepuk sekadar tepuk. Pokoknya briliant. Mungkin memang sayanya saja yang bodoh, tapi rasanya, anak-anak Akuntansi yang masuk DJPB di kelompok ini, sekarang lebih paham tentang perben daripada saya padahal saya dari jurusan KBN. Hebat kau, kalian. Di kamera kemarin, banyak yang bilang Vincen itu anggun namun kemudian citra itu lama-lama rusak dan beralih ke citra mamak-mamak. Wew, entah ya, salut pada kepandaiannya sih iya, tapi anggun rasanya enggak juga deh, tak ada citra macam itu. Bukan bermaksud rasis ya, tapi dari cara bicaranya, apalagi kalau bicara dengan Maic, memang seperti mamak-mamak kok. Cocok. Bakat kau jadi mamak.

Saya berharap kalau Vincen kembali ke Nias nanti, semoga ia tak hanya berpuas mencari kestabilan keuangan dan rumah tangga saja, semoga ada api dalam hatinya untuk membangun Nias dengan segala keringatnya supaya kepandaiannya menjadi semakin berguna.

Joko:

Joko is a dutiful person. Give him the tools and time and he shall move mountains. A preserver, a guardian, he cares, he helps, and he protects. Joko juga penjaga gawang yang handal. Saat di KPPN II, kami futsal dengan pegawai, dan Joko jatuh bangun berjibaku melindungi gawangnya. Aksinya saat itu bisa dibilang sebagai potret yang mewakili kejokoannya banget. Apalagi setelah futsal, grumpynya muncul ketika ia mengeluh soal kaos yang kotor. Hahahahahahahaha. Mungkin waktu itu dia lapar dan  sedang butuh pisang. Joko ini orangnya sering ngajak berantem, tapi omdo, omong doang, hehe, mungkin karena sesungguhnya hatinya selembut pisang yang diemut selama satu jam.

Jok. Terima kasih telah menjadi Joke yang handal selama ini. Teruskanlah mengemban tugas muliamu menjadi Joke yang baik, pandai menabung, dan tidak sombong. Mmuach.

Akbar:

Wah ini. Wah ini. Wah ini. Cocok banget memang sama Joko. Dynamic Duo. Sinergi keduanya mampu membuat samudera bergejolak dan angin topan jadi sopan. Akbar ini sama kerennya dengan Joko dalam sigap membantu orang, namun ada satu keunggulan lain, yakni dia tidak sebawel Joko dan lebih enak dipeluk. He’s warm, nice, and helpful. Dia itu mmmmm mirip Baymax!

Oh ya, belakangan ini saya suka sekali dengan Coldplay, Muse, dan The Script, dan saya dapatkan sebagian besar musik mereka dari koleksinya Akbar. Terima kasih Bar! Banget. Musics save me from the insanities that always lurk beneath my shadows. Seperti kata Niezstche, “ … tragic insight which, merely to be endured, needs art as a protection and a remedy.”

Salah satu strategi saya dalam mencoba berpijak pada realita pada umumnya adalah dengan mencoba mengkonsumsi produk seni yang juga dikonsumsi orang umunya, salah satunya adalah ya dengan mendengarkan musik-musik tersebut. Salah satu manfaat mendengarkan mereka adalah tentunya jadi lebih mempunyai hubungan dengan manusia lain, minimal jadi ada lagu yang bisa dinyanyikan bersama-sama. Dan menyanyi itu, apalagi bersama orang lain yang dekat, mampu memberi dampak menyembuhkan. Semoga Akbar bisa terus menyentuh, membantu, dan menyembuhkan orang-orang di sekitarnya entah sengaja atau tidak sengaja. Amin.

Sementara itu, terkait kebiasaan candid yang dilakukan Akbar, bagi saya itu tidak mengganggu sama sekali, justru menjadi sumber hiburan yang dapat diandalkan mengusir sedih. Terima kasih Bar.

Amanda:

Dari semua manusia di K-18, kesan awal yang dipancarkan aura si manusi nama merk brownies ini yang sepertinya paling hostile. Tapi yah manusia, paling cuma defense mechanism atas suatu insecurity entah apa itu, atau bisa jadi karena mood swing sedikit, atau karena lelah perjalanan jauh, yah, apapun itu saya santai aja. Manda sepertinya manusia yang kreatif, saat procrast ia menggambar burung hantu warna biru yang bagus, tapi ya percuma man sebagus apapun itu tidak akan berpengaruh pada penyelesaian KTImu. Waktu itu si Amanda ini sempat ganti tema KTI, namun akhirnya balik lagi, kocak.

Yak, pesan saya sementara ini, marilah semangat mengerjakan KTI, jangan procras mulu kayak saya, lha ini buktinya malah menulis blogpost ini HAHAHA. Jangan menyesali keputusanmu waktu itu balik lagi ke tema yang lama ya. Mari nikMATI saja.

Pandu:

Asik banget Pandu ini. Teman bermesraan sejak di KPPN V sampai si Manda merasa ngeri hahaha. Pandu ini keren, apalagi saat ketika ia ada kesempatan untuk pindah tema KTI namun tetap setia satu tema dengan saya. Kalau diperhatikan, sebenarnya Pandu ini juga agak-agak setipe dengan Akbar atau Joko dalam hal dutifulness dan helpfulness, hanya saja ia adalah versi lebih gilanya dari mereka, yeay yeay yeay.

Minggu depan tinggal kita berdua Ndu, plus Manda, di KPPN IV, mari semangat KTI, semangat kerja. Mari lanjutkan dan pererat hubungan kita saat DTSD nanti hahaha.

Wahid:

Wah, personil band Netral ini. Wah, Pak Firbana ini. Haha. Saya ingat dulu awal-awal kenal di KPH, Wahid berkisah tentang cerita-cerita terkait pelatihan bersama Kopassus yang seru banget. Lalu kita berbincang tentang extreme metal saat di KPPN VII. Maaf ya saya tidak bisa main drum dengan benar saat kita ngejam di KPPN II. Maaf. Oh, selain bicara musik, kita juga pernah asik berbicara tentang fauna-fauna, berlanjut ke pembahasan mengapa Marsupial merajai daerah Australia. Dari Wahid juga saya diberi tahu tentang Edwin Manansang, seorang alumni STAN yang terus berkarir sebagai PNS sampai eselon II namun juga gemilang sebagai penyanyi dan presenter di dunia entertainment; terima kasih infonya, inspiratif, sungguh.

Ayo Hid, bikin band Metal woakakakak. Mantabkan niatmu untuk jadi aktivis fauna. Bisa!

Erwin:

Badannya bagus, bicaranya tenang dan sopan. Misterius dan cool banget. Erwin pernah cerita soal keinginannya masuk Akpol sehingga matanya perlu dilasik sampai normal kembali, tapi kenapa jadinya ke STAN.

Saya punya pesan. I know you’re an Introvert and you seem to be proud of it. I just wanna say, don’t use it as a crutch, don’t let it define you, you’re a human being, capable of wonders beyond imaginations.

Hizby:

Halo cuk. Lesung pipitnya imut banget sih. Nyanyinya merdu banget sih. Bagaimana, apakah Pak-You-Know-Who masih menghubungi dirimu? HOAHAHAHAH. Kalau KTI stuck, ganti pembimbing aja ke dia, siapa tahu jadi lancar. Hizby ini makhluk dari Ponorogo yang manis sekali. Kamerad saya dalam berbagai kegiatan “cari angin” yang keterusan, sampai Monaslah, sampai Tanjung Prioklah, hahahaha. Ia juga kamerad saya dalam membicarakan hantu masa lalu, saya cukup nyaman cerita-cerita ke dia. Oh kadang pembicaraan kitapun juga melayang sampai ke arah-arah agama dengan perspektif yang jujur, blak-blak-an dan sangat manusiawi, lepas dari pretensi. Ia juga pandai melawak, saya sering tertawa dibuatnya. Hizby juga jago banget pingpongnya. Lengkap deh.

Hizby ini sekilas aja innocent begitu, tapi kalau dia sudah cerita tentang sepak terjangnya di dunia persilatan, anda akan jawdropped, entah akan berkembang jadi apa nanti setelah penempatan, saya sangat penasaran.

Kapan kita duet karaoke lagi Bi? Kapan jalan kaki keluyuran gak jelas lagi? Terima kasih banyak. Terima kasih banyak. Terima kasih. Sampai jumpa.

1466300_10202203787095266_4345609503183866513_n 10376047_10203958337502700_9126834374579300671_n 10421622_10202203797175518_2908689207940738101_n 10428662_10202190730008847_6694449957861827012_n 10685376_10202203735973988_1383160822594054113_n 10888533_10202203782295146_6560648395581411721_n 10898102_10203958337462699_603785141058133920_n 10917925_10203826898936818_3968966126871870544_o 10985528_10204022314382082_5823913781214874470_n

Kepada seluruh teman K-18, saya mohon maaf atas segala perilaku saya yang menjijikkan dan membuat kalian muak. Saya mohon maaf atas segala kemalasan dan keapatisan saya. Saya bersyukur kepada segala macam tuhan dan hantu dan dewa dan dewi yang ada karena telah menyatukan saya dengan kalian di K-18. Saya berharap segala keinginan kalian dapat terwujud. Semoga kesehatan dan kewarasan selalu menyertai kalian. Semoga mendapatkan penempatan yang terbaik untuk masa depan kalian. Untuk yang sudah berpasangan semoga hubungannya langgeng dan semakin mesra. Untuk yang belum, semoga nanti dipertemukan dengan yang terbaik. Semoga semangat hidup tetap ada. Yang KTInya sudah, semoga nilainya baik. Yang belum, semoga cepat selesai. Bangsat memang, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, bajingan, untuk apa hidup kalau ada mati ya, ah sudahlah percuma menggerutu melulu, bye, best wishes to all of you!

We are all small now, but I know we’ll make it big.

Omnium Rerum Principia Parva Sunt.

Kalau suatu saat nanti saya berhasil entah release album atau buku, tolong dibeli ya, atau minimal bantu promosi hehehe. Terima kasih banget. Now, now, now, cukup procrasnya, saya harus lanjut mengerjakan KTI.