Pengalaman Lari di Sibayak Altitude Run

Niat saya mendaftarkan diri pada Sibayak Altitude Run sebenarnya adalah untuk membangkitkan kembali motivasi lari yang sedang turun-turunnya. Namun ternyata sama aja. Masih dilanda kemalasan luar biasa. Masih payah. Sampai hari-h pun saya belum sempat melaksanakan satu long run yang cukup sama sekali. Waktu acara? Keteteran. Saya peserta yang finish terakhir. Paling belakang.

 

Begini kronologis ceritanya:

 

  1. Perjalanan awal.

 

Bersama seorang rekan kerja serumah dinas yang hendak pulang cuti, saya berangkat menuju Medan. Di pesawat sempat terjadi guncangan. Saya ketakutan, lalu meringkuk ke perutnya. Saat itulah saya berpikir, mengapa saya takut mati, apa yang sesungguhnya saya takutkan? Segala pemikiran yang belum tersampaikan, atau minimal tertuliskan; yang tertunda, yang terlupa, dan yang belum matang; saya tidak rela. Oke. Mungkin memang sudah panggilannya; selalu ingin kembali menulis lebih banyak, apapun wujudnya.

 

 

  1. Pisah di Medan.

 

Teman saya lanjut menuju Palembang untuk menghadiri acara pesta pernikahan seorang teman. Sementara saya, memuaskan diri melahap waffle sebelum kemudian buru-buru menemui pihak panitia yang menjemput. Panitia yang menjemput saya protes, karena saya tidak memakai kaca mata hitam seperti yang saya bilang di telepon. Lho,tapi framenya hitam kok. Lagipula, lensanya nanti hitam kalau kena sinar matahari.

 

 

  1. Menuju Sibayak.

 

Masuk ke Mobil. Saya disambut oleh penumpang lain yang kemudian diketahui ternyata adalah seorang jurnalis majalah olah raga. Ia sibuk dengan gadgetnya, saya asik membaca Foundation Trilogy. Lalu mobil bergerak menjemput satu orang lagi di Medan, peserta juga. Jalanan waktu itu macet cukup panjang. Kami memutar mengambil jalur alternatif. Di jalan saya mendengarkan obrolan menarik, yakni adanya doorsmeer plus-plus di daerah menuju Sibayak yang saat itu sedang kami lalui. Haha, jadi, itu maksudnya tempat cuci mobil yang supirnya juga sekalian “dicuci”. Obrolan sampai ke topik tersebut bermula dari respon pihak penjemput terhadap keinginan salah seorang dari kami untuk berhenti turun izin buang air kecil.

 

 

  1. Sampai di Sibayak.

 

Tepatnya di daerah pemandian air panas Ncole. Wah. Awkward. Saya malu. Saya minder. Belum kenal siapa-siapa. Bingung. Oh ya, ambil BIB dulu! Begitulah, lalu, bersama seorang peserta lain, saya mengambil racepack lalu melanjutkan proses administrasi. Setelahnya kami duduk-duduk di samping kolam pemandian air panas, berbincang-bincang. Ia makan indomie rebus, lalu saya ditraktir teh hangat; terima kasih! Oh ya, kami juga foto-foto. Kemudian setelah mendapatkan kunci hotel, saya segera berangkat, bongkar barang bawaan, istirahat sebentar, lalu malam-malamnya saya kembali ke pemandian air panas itu sendirian; berendam. Fuah! Mantab.

13096128_10206610299640096_505311643562960366_n

13124785_10206630189297325_872215670253686425_n

13083145_10206630189377327_1921819121584197040_n

 

  1. Sebelum Start.

 

Gila. Rasa khawatir telat bangun itu gak enak banget. Saya pasang alarm berlapis-lapis. Bangun lebih awal, yakni sekitar pukul tiga pagi. Namun itu terbangun karena mimpi buruk. Mimpi apa? MIMPI TELAT BANGUN. Hal ini persis banget terulang seperti saat-saat dulu saya hendak lari di Jakarta Marathon 2015. Justru karena kekhawatiran itulah tidur jadi terasa kurang dan tidak nyenyak. Setelah tersiksa bangun-tidur-bangun-tidur-bangun dalam kegelisahan mengerikan, saya putuskan untuk bersiap segera menuju ke tempat start.

13087705_10206622240018598_2371098260347500087_n13139294_10206630190377352_2120111498706958932_n

 

Di sana belum ramai saat saya sampai. Saya duduk bengong, pusing, dan bingung. Takut juga. Apa saya mampu? Saya tidak bawa headlamp, hanya lampu senter genggam yang baterainya sudah mau mampus. Menjelang start, kami berkumpul. Angin bertiup dingin. Gelap. Gerimis.

 

 

  1. Mulai lari.

 

Saya start termasuk di barisan paling depan. Namun belum tiga langkah saya ambil, saya sudah diserbu orang bersalip-salipan di kanan kiri saya. Ngebut sekali mereka. Saya lari, mencoba mengejar, namun tetap menjaga pace sesuai batas aerobic saja sembari berulang-kali melirik penunjuk heartbeat di garmin. Gelap. Gelap. Gelap. Saya terpisah sendiri. Terlalu ke depan untuk pelari selambat saya. Terlalu lambat untuk sok buru-buru. Lalu ketika kemudian mulai masuk ke jalur hutan, saat itulah keraguan mulai terakumulasi menjadi beban di hati.

 

 

  1. Cek Poin Pertama.

 

Di hutan gelap sendirian, awalnya saya mampu mencari jalan. Memang dituntut untuk mampu mengira-ngira jalan, mencari jejak sepatu manusia di antara lumpur dan mencari penanda jalan entah di pohon, entah di batu, entah di mana. Tapi akhirnya saya berhenti di tempat karena betul-betul tidak tahu mesti ke mana. Lama saya menunggu, akhirnya datanglah dua pria berpakaian biru dari belakang. Mereka sangat baik dan mau melanjutkan perjalanan bersama saya. Kami sempat tersesat bersama-sama di hutan itu. Lampu senter sayapun sempat mati, beruntung ada headlamp mereka. Menanjak hutan terjal terus sampai akhirnya terang. Ketika pria di depan memperingatkan saya atas duri; saya teringat seorang teman yang dulu pernah lari trail di bogor hingga kepalanya sobek kena tanaman. Takut.

13095734_10206622240858619_1163765199890099816_n
Mulai Meninggalkan Gelapnya Hutan

 

Keluar hutan, kami terus menanjak ke cek poin pertama. Saya sampai lebih dulu, lalu turun gunung sendirian di depan. Turunannya sangat licin. Saya tidak berani jalan. Hanya berani duduk merosot. Mengadu pantat dengan lumut dan batu. Saya bergerak dengan semangatnya karena masih begitu naif mencoba mengejar Cut Off Time; hal ini saya sesali. Karena kemudian saya tersasar. Terima kasih lagi kepada mereka, karena  mendengar sahutan mereka dari jauhlah saya sadar bahwa saya salah arah dan perlu lari naik kembali. Jadilah saya kemudian yang berada di belakang.

 

 

  1. Cek Poin Kedua.

 

Menanjak gunung lagi. Yah, setidaknya kali ini tidak melalui hutan-hutan lagi. Tapi tetap saja berat. Lebih tinggi pula. Saya kapok melesat sendirian lagi. Takut tersasar karena sok tahu. Jadilah kali ini saya ikut bergerak seiringan dengan dua orang lain lagi. Tepat sebelum puncak, ada jalur batu besar yang harus dipanjat; saya pikir tadinya saya tak mampu, namun setelah ditawari pertolongan, ternyata saya mampu naik sendiri. Woah, kok bisa ya, sayapun bingung; mungkin saya hanya takut. Ah, lupakan, yang penting sampai!

13124845_10206622245178727_4193797606520635172_n

13076840_10206630206537756_5239476758979326665_n
Makan Jeruk dan Nanas

Setelah sampai puncak dan mendapatkan gelang cek poin kedua, kami turun. Di bawah, kami menyempatkan diri makan jeruk dan nanas dan minum air pada water station yang disediakan panitia. Kemudian kami melesat terus. Pada jalur sebelumnya nyaris tidak bisa dibuat lari saking terjal dan licinnya. Barulah pada jalur ini kami bisa betul-betul lari macam di acara lomba lari.

13124955_10206630207017768_1822902622083343239_n

 

 

  1. Cek Poin Ketiga

 

Jalanan turun. Kaki ini dipaksa untuk bergerak lebih cepat oleh gravitasi. Lutut menerima tekanan yang lebih kuat karenanya. Sakit! Serius. Kami terbawa momentum, lari terlalu cepat sampai kesulitan berhenti sendiri. Seorang peserta mencoba berhenti dengan meraih tanaman, tapi gagal, dan terpelanting jatuh. Katanya, kalau ada rekaman youtubenya, dia mau lihat. Tapi begitu diminta diulang lari lalu jatuh, ia tidak mau. Yeah, ngeri memang. Kamipun akhirnya bergerak pelan karena takut kesulitan berhenti kalau lari. Hahaha. Ternyata jalur menuju cek poin ketiga ini cukup panjang. Seorang dari kami lari duluan, saya dan seorang lagi mengekor di belakang. Sialnya, ternyata di jalur ini kami harus melewati hutan lagi.

13076860_10206622246658764_7860297787550612235_n
Keraaaaaaaaam!!!

 

Di sana saya terpeleset jatuh, kaki terbenam lumpur, dan paha kiri saya keram. Peserta lain itu membantu meluruskan kaki saya yang keram dan terbenam lumpur, kemudian saya beri tahu ia untuk pergi duluan saja. Begitulah, saya tergeletak sendirian tak bisa bergerak. Yah itulah hidup. Tapi setelah beristirahat sampai dirasa sembuh, saya segera maju lagi seperti pada lirik lagu Frank Sinatra yang berjudul That’s Life:

Each time I find myself lying flat on my face,

I just picked myself up and get back in the race!

 

Perjalanan hingga mencapai cek poin ketiga ini kurang menarik, kecuali saat saya harus terpaksa melalui jalan yang dijaga dua anjing besar yang semangat sekali menggonggong. Saya yang lelah hanya berjalan lunglai pasrah, melambat, membisu, sampai akhirnya mereka minggir dan saya berhasil lalu. Sampai di cek poin tiga, saya berhasil berkumpul kembali dengan dua peserta sebelumnya. Kamipun kemudian melanjutkan perjalanan bersama dengan lebih santai berdasarkan saran panitia yang menjaga cek poin ketiga. Saking lelahnya, setiap beberapa ratus meter kami duduk istirahat, bahkan sesekali berbaring di jalanan. Ada salah satu dari kami yang membawa Snickers yang kemudian dipatah dan dibagi tiga. Panitia-panitia, entah dengan mobil, entah dengan motor, berkali-kali menawarkan tumpangan agar kami segera diangkut ke finish. Namun kami dengan keras kepala menolak.

 

Menjelang dekat finish, kami ditemani lari oleh seorang pelari senior yang bercerita tentang intrik-intrik lari trail. Ia berkisah, pada event-event trail run di Jawa sana, tidak jarang ada kelompok pelari yang bagi-bagi peran, yakni peran untuk sengaja menyesatkan pelari lain. Jadi kata senior itu, janganlah terlalu semangat mengikuti pelari di depan, lihatlah pada penanda lomba, kalau sudah beberapa ratus meter tak terlihat lagi penanda, maka segeralah kembali. Begitu. Wow. Lucunya di kasus saya tadi setelah cek poin pertama, justru saya yang semangat menyesatkan diri sendiri dan justru terselamatkan oleh petunjuk sahutan peserta lain. Terima kasih!

Dari kami bertiga, seorang akhirnya memutuskan lari lebih dulu ke depan. Kemudian seorang lagi lari di depan saya disemangati teman-temannya. Terakhirlah saya di belakang. Begitu terus sampai akhirnya kami sampai tujuan.

 

Dari seluruh peserta.

Saya manusia yang finish terakhir.

Keren gak? Banget! Ha! Ha! Ha!

 

13124914_10206622245338731_5004139125957574451_n
Akhirnya selesai 18 kilometer altitude run!

 

 

 

 

 

Preview: Bulletproof -Fortified

Seorang teman menerbitkan buku. Berdasarkan pengalaman membaca tulisan-tulisan teman ini sebelumnya, saya tertarik untuk membaca bukunya. Dia kemudian memberikan saya satu kopi bukunya dalam format digital. Terima kasih!

Kisah ini dibuka dengan kehidupan sehari-hari anak-anak panti asuhan. Mereka tinggal pada sebuah puri di samping pantai. Tak jauh dari situ, ada sebuah desa. Ada pula markas militer. Ada bukit dan hutan. Setting ini menyuguhkan suasana damai nan ramah namun tetap menjanjikan suatu konflik menarik bagi pembaca.

Saya sungguh senyum-senyum sendiri membaca bagian cerita saat Mandy –seorang siswi dari panti asuhan– menyajikan tugas sekolahnya. Untuk mengilustrasikan apa beda reptil dan mamalia, Mandy menceritakan bagaimana nona cicak mengajak nona kucing pergi ke pesta dansa. Nona kucing menolak, karena saat hamil, anaknya harus dibawa-bawa dalam perut, tidak seperti nona cicak yang walau sedang hamil anaknya bisa ditinggal di rumah.

Saat membaca bagian cerita tentang Dimitar dan Strego yang berani berniat menembus hutan dengan bersenjatakan ketapel saja, saya jadi teringat sesuatu pada masa kecil saya sendiri. Saat kecil, saya suka sekali menonton film dokumentasi tentang fauna. Karenanya saya sempat tiba-tiba begitu percaya diri dan gatal ingin menangkap ular lalu memanen bisanya sendiri. Untung saja tidak ada ular liar yang benar-benar saya temui sampai keinginan itu akhirnya pudar sendiri.

Ada bagian cerita tentang bagaimana anak-anak panti sedang bermain bola lalu terlibat masalah dengan tentara. Wes, salah satu bocah panti, kemudian berlarian ke sana ke mari menyelamatkan kawan-kawannya dari tentara. Saat membaca bagian tersebut, simpati saya terbangkitkan. Khususnya terkait rasa tidak suka terhadap orang dewasa dan tentara. Ayo Wes! Lempari mereka dengan batu!

Selain kisah-kisah anak-anak tersebut, ada juga dimensi cerita yang membangkitkan rasa penasaran dan menggugah imajinasi. Beberapa yang menjadi sorot utama adalah tentang Dimitar dan Wes. Dimitar mampu meramalkan kejadian hujan-hujan serangga dan berbicara dengan bintang di langit malam. Sementara Wes memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, orang-orang menuduhnya android. Settingnya, walaupun di tempat yang jauh dari keramaian kota, memberikan indikasi-indikasi bahwa teknologi di dunia tersebut menyentuh ranah Sci Fi.

Sesungguhnya jika satu buku ini hanya bercerita tentang anak-anak panti itupun saya sudah senang membacanya. Namun kalau diperhatikan dari simpul depan, juga bagian-bagian cerita yang menyiratkan suatu konflik besar, cerita ini sepertinya akan berkembang menjadi kisah-kisah penuh aksi dan pertempuran. Saya belum membaca buku format digital ini sampai selesai, dan tidak akan saya selesaikan. Kenapa? Karena saya berniat melanjutkan membeli dan membaca buku ini dalam bentuk hardcopy secara langsung!

Sang penulis telah mampu membawakan kisah-kisah sederhana tentang keseharian anak panti asuhan dengan menarik. Saya percaya sisa cerita yang akan saya lanjut baca dalam hardcopy nanti akan tidak kalah menghibur.

Kamu penasaran? Mau menjajal bukunya juga? Mau beli langsung? Di mana?
Bisa di sini: Bulletproof – Fortified.

Siapa Kamu?

Kamu bukanlah adalah

Tiada adalah yang tepat bermakna

Kamu yang tiada berbukan

Adalah makna-makna haus syarat

Yang lewati celah ganda bagai partikel

Membentuk interferensi bagai gelombang

Mewujud senyata-nyatanya jawaban

Di balik pertanyaan yang kusimpan

Bersama kucing dalam kurungan

Abstraksi Sang Fisikawan

DTU + PENEMPATAN + TOEFL

Akhirnya kami harus menatap DTU juga. Apa itu DTU? Diklat Teknis Umum, yang kali ini diberi embel-embel “pembentukan karakter”. Intinya sih pelatihan selama seminggu bersama para pelatih dari Kopassus. Pertama-tama kami dikumpulkan di Pusdiklat AP di Gadog. Kemudian setelah melalui serangkaian proses administratif dan diberi makan siang, kami diberangkatkan secara bergelombang menggunakan truk-truk tentara menuju Ciampea.

Ini truknya! Seperti mau dikirim perang saja!

Kami tiba di lokasi menjelang petang. Terdapat spanduk bertuliskan DTU Pembentukan Karakter yang menghiasi jalan sempit berbatu menuju perkemahan. Belasan tenda tentara telah didirikan. Sesuai urutan berdasarkan nama, saya mendapat jatah tinggal di tenda 9 bersama rekan sekamar saya saat dulu DTSD, yakni Senik Entrostop. Kami berduapun bercengkerama bersenda gurau sembari meminum es degan di salah satu warung warga yang berdiri di sekitar tenda. Setelah itu kami bertemu dengan mantan presiden Amerika Serikat, Harry Truman, sebelum kemudian bersama-sama melakukan reconnaissance menuju warnet, alias tempat mandi gay party, alias kamar mandi berbilik-bilik bernuansa biru yang akan menjadi sahabat sejati tuk melakukan investasi kotoran para peserta DTU selama seminggu. Ah ya, entah saat maghrib atau isya, saya dan Senik mendapat jitakan dari pelatih “S” di dekat kamar mandi karena menggunakan jaket. Begitulah kira-kira apa-apa yang terjadi pada hari ke-0.

Situasi Ciampea:

Jalan-jalan sempit, suasana berbukit-bukit. Ada gunung kapur. Cuaca terik, bahkan hingga malam terasa panas. Namun menjelang subuh suhu turun drastis. Satu hal yang menarik adalah tidak adanya nyamuk! Bahkan ketika bertelanjang diri di hutanpun kami tidak digigit nyamuk. Suasana hening, kecuali jika sedang diadakannya latihan perang di hutan-hutan sana. Suara tembakan, ledakan, helikopter, dan bermacam pekak mematikan yang mengagetkan menjadi background soundtrack kami selama pelatihan.

Kegiatan Selama DTU:

Diambil dari photo yang bertebaran di Path

Formulanya, mirip prajab kok, ketua tenda bergiliran, piketpun juga bergiliran, ada senat dan wakil-wakil senat.

Sebagian besar kegiatan dilaksanakan bukan di perkemahan, melainkan di lapangan. Terdapat dua lapangan, yang dekat namun lebih sempit, dan yang jauh tapi lebih luas. Yang lebih sering digunakan adalah lapangan yang lebih luas. Berbaris dua banjar kami berjalan dan berlarian sembari bernyanyi entah lagu-lagu apa saja yang sempat terpikirkan hingga mencapai lapangan. Kegiatan di lapangan biasanya serupa MFD saat prajab, yakni instruksi-instruksi yang berujung kepada tindakan berupa: merayap, merangkak, lari, berguling, jalan jongkok, dan sebagainya. Korban-korban mulai dari sekadar pusing dan muntah hingga yang tak mampu/mau melanjutkan kegiatan sementara berjatuhan pada kegiatan ini. Satu hal yang nyaris mendera seluruh siswa pada akhir DTU adalah: batuk masal layaknya sepasukan zombie. Debunya itu lho!

Dari senin sampai jumat kami terus merayap berguling seperti ini. Pada hari selasa (atau rabu?) kegiatan MFDnya jadi sedikit lebih sebentar karena ditambahkan kegiatan “perendaman” kami ke dalam selokan. Saat kegiatan berendam ini pulalah para siswa yang membawa uang di nametag jadi ketahuan dan harus merelakannya. Saya sendiri sebenarnya juga membawa uang, tapi tidak saya kumpulkan, toh hanya uang koin seribu, dan itupun sebenarnya uang koin hasil temuan teman saat kegiatan membersihkan sampah di tenda setelah sarapan pagi. Sepertinya pada hari itu jugalah saya mengalami blunder: pada materi latihan penghormatan pada sesama siswa, saya yang lelah tangan kanannya, khilaf melakukan penghormatan dengan tangan kiri. Saya tertangkap basah pelatih “L” dan mendapatkan cacimakinya, lalu diguling bolak-balik lapangan berkerikil tajam. Usai menerima tindakan, saya diberi perintah untuk kembali melaksanakan kegiatan. Namun rupanya jatah saya belum habis, karena menjelang akhir, saya kembali dipanggil ke depan oleh pelatih “S”, dan setelah dicaci lagi, saya diperintahkan untuk melaksanakan penghormatan dengan tangan kiri lama sekali hingga lengan saya sakit. Saya laksanakan tindakan itu sesempurna mungkin tanpa tangan turun sama sekali, karena saya tahu, jika ada satu kali saja turun, kemungkinan besar akan semakin menjadi berlipat-lipat hukuman saya. Namun pada akhirnya saya berhasil melalui itu dengan cukup aman.

Seusai istirahat ibadah dzuhur, biasanya MFD dihentikan dan digantikan dengan materi-materi lainnya, ada baris berbaris, ada bela diri, ada materi medis, ceramah dari KPK, ceramah keagamaan, dan lainnya. Lumayan banyak istirahatnya dari dzuhur hingga maghrib, apalagi ditambah schedule extra fooding dan ibadah bergilir dikarenakan kondisi tempat ibadah yang kurang memadai. Saat-saat banyak waktu istirahat inilah biasanya yang dimanfaatkan para siswa untuk berbincang dengan kawan lama atau berbaring melepas lelah pada daun kering atau bersandar pada batang pohon atau melirik-lirik tempat siswi duduk. Sementara itu, waktu-waktu seperti ini dimanfaatkan para pelatih untuk mencari “mainan” dari segala keunikan para siswa yang dapat dibuat lucu-lucuan. Salah satu contoh lucu-lucuannya adalah berikut: seorang siswa diperintah berseru bak burung beo, “Mana cowok? Mana cowok?” yang kemudian dibalas para siswa dengan dehem, “Hemmmm Hemmmmm Hemmm.” Kemudian pihak siswipun tak mau kalah dengan, “Mana cewek? Mana cewek? Yiiiiihaaaaaaa!!! Yiiiiiihaaaaa!!!”

Tiap maghrib kami pulang ke kemah, dan setelah pembersihan dan ibadah, biasanya ada tambahan pengarahan-pengarahan. Terkait yang sakit, terkait laundry, terkait kegiatan esoknya, terkait yell-yell, lagu mars djpb, dan sebagainya.

Pada malam hari, setiap tenda harus ada jaga serambi, dua orang di masing-masing ujung tenda, dan bergantian sepanjang malam. Kemudian pada pukul 4 pagi, kecuali pada hari pertama (senin) dan terakhir (sabtu), ada jadwal senam pagi. Menu senam paginya serupa seperti saat prajab, bahkan bisa dibilang relatif lebih ringan karena tidak ditambah porsi lari. Setelah itu pembersihan dan ibadah, barulah sarapan dengan nasi kotak.

Pada jumat malam, terdapat kegiatan caraka malam. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 manusia. Lalu secara bergiliran kami masuk ke dalam hutan. Pertama-tama kami diberi tahu bahwa kami akan berperan sebagai pembawa pesan. Kami harus memahami dan mengingat pesan tersebut serta juga harus menjaga pesan tersebut dari pihak lain dengan sebuah sandi  sebagai alat identifikasi mana lawan mana kawan.

Saya masuk ke dalam kelompok 23. Kami melakukan kesalahan di awal, yakni memberitahukan jumlah dan nama anggota kami kepada pihak yang belum disandi, sehingga kami diperintah untuk lepas pakaian. Setelah itupun dalam perjalanan topi kami diambil pelatih. Namun memang situasinya membingungkan, mana batas-batas roleplay, mana batas-batas hubungan pelatih-siswa. Jadi saya mengusulkan kepada rekan sekelompok untuk memakai kembali pakaian, toh untuk apa menuruti perintah musuh? (jika masih dihitung roleplay). Di tengah kebingungan itu, setidaknya kami kelompok 23 berhasil sampai ujung mengantarkan pesan dengan terhormat, dan tidak mendapat tindakan berupa merangkak telanjang sembari berseru, “kami telah membocorkan rahasia negara.”

Yah, meski esoknya pada sabtu pagi, ujung-ujungnya kami harus mendapat tindakan karena hilang topi.

Hari terakhir ditutup dengan demo baris berbaris dan demo bela diri karate. Saya sebenarnya sempat diperintah pelatih “S” untuk ikut barisan karate, namun waktu itu melalui pertimbangan yang super sangat serius. saya lebih memilih istirahat bersama yang tidak terpilih di bawah pohon dari pada bergabung dengan para siswa-siswi terpilih.

Setelah demo dan upacara penutupan, kami dipulangkan ke Gadog dengan truk tentara.

Foto-foto dulu di Gadog seusai bertempur di Ciampea selama seminggu:

Foto-foto dulu di Pusdiklat AP

Bareng Senik dan Gamaliel

Di Gadog, sebelum pulang ke rumah masing-masing, ada pengarahan sedikit terkait kewajiban datang pada senin pagi untuk pembagian SK Penempatan.

Oh.

Yeah.

P

E

N

E

M

P

A

T

A

N

Minggu sorenya, saya, Harry, Dinov, dan Fry menginap di sebuah villa dekat Cimory Riverside supaya senin pagi dapat tiba tepat waktu di Gadog. Kami dikumpulkan di lantai tiga gedung utama, duduk sesuai gugus banjar abjad nama.

IMG-20150921-WA0003

Acara utama dibuka dengan laporan dari kepala kepegawaian, lalu sedikit arahan dari Pak Sekretariat Ditjen Perben, yang segera dilanjutkan dengan pemanggilan nama dan pembagian amplop berisi SK penempatan.

Rupanya banyak yang tidak sabar untuk membuka amplop secara bersama-sama, karena belum lama pembagian berlangsung, suasana berangsur-angsur menjadi sangat ramai dengan berbagai luapan ekspresi dan emosi. Saya dan Senik bertukar amplop, saya membuka punyanya dan ia membuka punya saya.

Senik mendapat penempatan di Ruteng.

Sementara saya.

Akan ditempatkan pada lokasi yang berjarak sekitar dua ribu dua ratus enam puluh kilometer dari tempat tinggal saya sekarang.

Jauh di sebelah barat Indonesia sana.

Tempat dahulu Tsunami singgah dan mempertontonkan keperkasaannya.

Meulaboh.

KPPN tipe A1, Meulaboh. Yang jaraknya kira-kira tak sampai 10 km dari pantai, dan 20.5 km dari bandara.

m

Untitled

Ya, setidaknya lokasi tersebut cukup jelas pada peta, dan namanya tidak begitu asing. Meski jauh, Meulaboh tidak terpencil. Ada akses bandara di sana, itu yang penting. Oke deh. Semoga bisa dioptimalkan penempatan di sana.

Sepulangnya dari Gadog Pusdiklat AP, saya dan Harry berangkat menuju Lembaga Bahasa Internasional FIB Universitas Indonesia untuk mengambil hasil TOEFL kami pada tanggal 10 September lalu.

Lumayan, saya naik 26 point. Meski masih kurang 24 point dari sempurna. Hasil sebelumnya saya 627, lalu sekarang naik jadi 653. Ya sudahlah, walau sebenarnya saya juga ragu entah hasil TOEFL ini mau digunakan untuk apa. Hoahm.

TOEFL SMITH_001

0000

Begitulah, selamat lulus DTU!

Selamat penempatan!

Perbendaharaan Jaya!

Treasury! Treasury! Treasury!

Hurray!

Sekilas Tentang Diklat Prajabatan Kemenkeu Gol 2 Gel 4

Yeah. Prajab sudah selesai. Tinggal tunggu pengumuman. Semoga lulus semua. Sebelum saya lupa semuanya, saya akan coba mengingat-ingat dan menuliskan pengalaman saya berjuang dalam diklat prajabatan tersebut. Postingan ini telat banget ya, karena memang sewaktu prajab selesai itu badan masih sangat lelah, lalu kemudian disela mudik pula. Jadi mohon maaf dan koreksinya kalau-kalau ingatan saya mengkhianati kebenaran. Terima kasih. Silakan membaca.


Lokasi tempat saya menjalani diklat prajab adalah di Wisma Pembina di daerah Petukangan di Jakarta Selatan. Tempatnya agak tersembunyi dan cukup jauh dari keramaian. Sementara, kalau dari desas desus yang ada, porsi “tekanan hidup” di Wisma Pembina ini cukup di tengah-tengah, tidak sesantai di LPMP, tidak sekeras di WDW. Ya, bersyukur saja.

Saya masuk ke dalam kelas N yang dipimpin oleh Yahya Wibowo sebagai ketua kelas tetap. Dia dari instansi Bea Cukai dan memang tepat dalam menampuk tugas semacam itu. Saya mendapatkan kamar di Anggrek 205, bersama Sevtiandi dari Bea Cukai, dan Salam dari Pajak. Ah sesungguhnya, pada dua malam pertama MFD, saya sudah menulis kerangka-kerangka kira-kira blogpost ini akan disusun seperti apa, namun rasa-rasanya sudah terlalu banyak yang ingin ditulis sehingga malaslah saya untuk berpikir, hence, sepertinya the rest of this post will be written dalam struktur yang berantakan. Sorry.

°

Menu prajab dibuka dengan tiga hari MFD. Apa itu MFD? Mental Fisik Disiplin. Menurut pelatih kami yang berasal dari anggota kopassus, MFD ini disajikan kepada kami supaya kami lebih siap menghadapi tahap prajab selanjutnya.

°

Berikut kira-kira bekal mater apa saja yang diberikan kepada kami saat MFD:

– Ilmu baris-berbaris seperti jalan di tempat, lencang kanan, dll.

– Ilmu tata cara menghadap atasan, tata cara berpapasan/mendahului atasan. Intinya, lambatkan jalan, sapa lebih dahulu, lalu hormat. Setelah atasan/senior selesai membalas hormat, barulah turunkan hormat kita.

– Tata cara masuk ruangan: teriak, “IZIN MASUK!” lalu hormat, lalu maju selangkah sembari berseru, “SISWA!”

– Sementara itu ada pula tata cara keluar ruangan: menghadap ke dalam ruangan, teriak,”IZIN KELUAR!” lalu hormat, balik kanan, maju selangkah teriak, “SISWA!”

– Tata cara menyiapkan kelas dan lapor kepada Widyaiswara (dosen).

– Jargon-jargon pembangkit semangat:

“SIAPA KITA? SISWA!”

“SEMANGAT PAGI! HUA HUA HAUUUUUA!” *sambil berpose macam gorila*

“ADAKAH KEMENKEU DI DADAMU? ADA! MANA? INI DIA!”

– Lagu doa apel malam:

“Ya Allah yang maha esa, yang maha kuasa, yang memiliki se(t/k)alian alam … (dst)”

– Lagu mars prajab:

DULU AKU BERCITA CITA

MENJADI SEORANG PEGAWAI NEGERI

BERDIRI TEGAP GAGAH PERKASA

TUNAIKAN TUGAS YANG MULIA

TEGAP TEGAK PENUH WIBAWA

SEMANGAT YANG TAK KUNJUNG PADAM

TUNAIKAN TUGAS PARA PEMBINA

TUNAIKAN DENGAN PENUH RASA BANGGA

KINI AKU SEDANG DITEMPA DALAM DIKLAT PRAJABATAN

LUPA KAWAN LUPA SAUDARA LUPAKAN SAJA SEMUANYA

SAYA TAHAN SAKIT-SAKIT PANTANG MASUK RUMAH SAKIT

SAYA TAHAN MENDERITA SIANG MALAM KU DITEMPA

WALAU DIRIKU DITEMPA HATIKU SELALU GEMBIRA

GEMBIRA GEMBIRA SELAMANYA

BERGEMBIRA SENANTIASA SELALU GEMBIRA

HILANGKANLAH RASA SUSAH SEJAUH-JAUHNYA

RASA SUSAH RASA SEDIH TAK ADA GUNANYA

BERLATIH DENGAN GEMBIRA

SISWA BERMENTAL BAJA

– dan lainnya.

°

Sementara itu, selain diberi materi, pada MFD kami juga diberi porsi latihan fisik seperti berikut:

Kami dibawa ke lapangan bertanah merah dan berumput. Di sana kami awal-awalnya diberi semacam tugas untuk berbaris serapi dan secepat mungkin. Namun tentu saja upaya kami dianggap gagal dan tidak memuaskan, maka diberilah kami tindakan berupa: merayap, guling-guling, merangkak, dan jalan jongkok.  Yak, dan saat guling-guling, banyak yang tidak kuat, sehingga, jadilah lapangan tersebut dibanjiri muntah para siswa.

Tak lupa, saat setiap tiga kali makan berat dan tiga kali makan snack, waktu makan kami dihitung oleh pelatih. Jika ada yang telat dari hitungan, maka ia akan diberi perintah untuk lompat-lompat, lalu hitungan diperpanjang. Toleransi perpanjangan hitungan ada batasnya, sampai hukuman berpindah posisi, bukan yang terlambat makannya yang dihukum, melainkan yang sudah selesai; kami diperintahkan untuk mempertahankan posisi sikap push up sampai para siswa yang terlambat tersebut berhasil menghabiskan makannya.

Dan hmmm. Di MFD hari terakhir kalau tidak salah, ehm, kami makan komando. Tradisi. Makan satu box yang isinya sudah diaduk-aduk tidak keruan. Pisang campur bihun, campur segala-gala yang ada di box itu. Setiap siswa yang selesai makan, harus memisahkan diri dan siaga bersikap push up atau diperintah berguling-guling di aspal, sampai seluruh siswa selesai makan.

°

Kami setiap kelas juga diperintah membuat yell-yell. Mmmm. Apa lagi ya? Ya, ada aja kejadian-kejadian seperti: ada yang ulang tahun diperintah merayap, lalu disiram air kotor dan tepung, ada yang disuruh peluk pohon, ada yang jadi bulan-bulanan dipanggil Shinchan, Doraemon, dan sebagainya. Dalam MFD ini, saya sendiri berhasil low profile, nyaris tidak terlihat, baik dalam bentuk penunjukkan fungsi penugasan, ataupun dalam bentuk bahan candaan.


Selesai MFD, kami para siswa memasuki tahap selanjutnya, yakni tahap Internalisasi. Internalisasi ini maksudnya adalah mempelajari nilai-nilai ANEKA (Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, dan Anti Korupsi) yang harus dihayati dan dilaksanakan saat tahap Aktualisasi nanti. Intinya sih kuliah, dari pagi sampai malam. Selama, mmmm dua minggu kalau tidak salah. Lelah sekali. Apalagi saat proses kuliah tersebut, kami juga harus menyiapkan Rencana Aktualisasi yang akan disidangkan nanti pada hari-hari terakhir tahap Internalisasi. Ditambah juga ada ujian tertulisnya sebelum sidang. Lengkap padat deh jadwalnya. Dan selama seluruh tahap itu berlangsung, kami tetap diawasi dan jadwal diatur ketat oleh para pelatih dari kopassus; intinya, susah cari napas. Santai? Sabtu minggupun rasanya masih dikejar-kejar hantu kalau dengar bunyi peluit harus segera kumpul, entah itu kumpul untuk jadwal makan (6 kali sehari), atau peluit apel, atau peluit senam pagi.

Ujian tertulisnya lumayan susah-susah gampang. Sementara seminar RPAnya tergantung kemampuan public speaking dan penguasaan terhadap pekerjaan kantor masing-masing. Intinya, kami mempresentasikan rencana-rencana kami dalam mengimplementasikan nilai-nilai ANEKA ke dalam pekerjaan-pekerjaan kantor. Misal, nilai Nasionalisme pada pekerjaan Splitting SPM diwujudkan dengan bergotong royong. Nah, hitungan nilai prajab nanti salah satunya ya dari seminar ini, lainnya dari disiplin, dari ujian tertulis, dari seminar evaluasi, dan sebagainya.

Banyak detail yang ingin saya ceritakan di sini, seperti tentang keluarnya Dragon Shout saya pada kuliah Anti Korupsi. Namun saya rasa, lebih baik cukup segini saja terkait tahap internalisasi.


Tahap aktualisasi dilaksanakan di kantor masing-masing. Kami berusaha mewujudkan rencana kami, lalu membuat laporan beserta pembuktiannya dengan dokumentasi-dokumentasi. Cukup merepotkan, tapi ya apa boleh buat. NAH, yang menjengkelkan adalah, pada tahap aktualisasi yang cuma dua mingguan ini, tiba-tiba muncul surat tugas (bagi para CCPNS DJPB) untuk profiling di Bogor selama tiga hari + 1 hari pengarahan di awal. Entah karena waktu yang terpotong profiling atau karena memang malas, dari rencana 10 kegiatan, saya menghapus 4 dan menambah 2, sehingga laporan dan presentasi yang saya susun hanya tersisa 8 kegiatan.


Tahap evaluasi! Kami kembali ke Wisma Pembina. Mendapat pengarahan. Mendapat jadwal urutan sidang presentasi hasil aktualisasi. Saya dapat hari pertama. Presentasi saya cukup lancar meski menurut Widyaiswara penguji, bukti-bukti yang saya sediakan sangat minimalis. Setelah lega presentasi sisanya hanya menunggu saja. Oh ya, di malam kedua, Senat mengadakan acara renungan malam, semacam flag-kissing ceremony. Lalu setelahnya kami bermain kembang api dan menyaksikan penampilan persembahan dari masing-masing kelas. Kelas saya, kelas N, menampilkan semacam pertunjukkan musik yang diatur sang maestro dari BKF, Nopri! Sukses pokoknya! Lalu ada juga lomba bertanding tiup balon melawan kopassus, ada joget penguin dengan lagu Ievan Polka versi Hatsune Miku, yeah dan seperti biasa … foto-foto.

IMG-20150710-WA0006

Setelah hari terakhir selesai. Usai upacara penutupan, salam-salaman dengan kopassus. Honor dan lapis legit dibagi. Barulah kami pulang. Terima kasih pelatih! Terima kasih kelas N!


Begitulah kira-kira yang saya sanggup ingat dan tulis.

Oh, iya, ada teman yang mengajukan beberapa pertanyaan terkait prajab ini. Saya coba jawab sebisanya saja ya.

1. Berapa lama prajab?

Sepertinya sih 2 minggu-an (MFD dan internalisasi) + 3 hari (evaluasi).

2. Tugasnya susah?

Susah sih susah kalau kurang paham pekerjaan kantor, kalau paham sih enggak susah, cuma ya repot aja.

3. Adakah penyiksaan fisik dan mental?

Kalau dari sudut pandang kopassusnya sih bukan penyiksaan, tapi pelatihan.

4.Ada yang enggak lulus?

Saat awal-awal pengarahan tahap evaluasi, pihak penyelenggara cerita ada yang tidak buat laporan. Hmmm, ya, sepertinya ya nasibnya tidak lulus.

5. Ujian penentuan kelulusannya seperti apa?

Banyak faktor. Ada hitung-hitungan persentasinya.

6. Kamar gimana?

Satu kamar diisi tiga siswa.

7. Materi yang diajarin apa?

Banyak, setiap nilai ANEKA ada satu kuliah, dan ditambah materi kuliah pendukung seperti Dinamika Kelompok.

8. Ada baris berbaris?

Ada apel setiap pagi dan malam.

9. Makanannya apa?

Banyak. Ganti-ganti.

Akhir Pekan Dengan Kawan Lama

Saya mengenal Gerry sejak kelas sepuluh di SMA 61 Jakarta Timur. Dulu kami sekelas dan sering bersama duduk di barisan paling depan. Kelas sepuluh, saya ekskul bahasa jepang dan dia ekskul KIR. Dulu pada hari ekskul di sabtu pagi, kami tak jarang bermain catur di pojokkan sekolah. Kelas sebelas dan dua belas kami tidak sekelas lagi, namun kami bergabung dalam ekskul yang sama: pencak silat. Ia pernah membanting saya sekali. Saya pernah membantingnya sekali. Impas. Lalu setelah lulus, ia ke ITB saya ke STAN. Di sana sepak terjang Gerry dalam sport menggila. Saya pernah dengar kabar ia sempat juara 2 karate di sana. Whoa. Ngeri. Lalu pada akhir 2013 seusai suatu acara reuni alumni, Gerry mulai rajin bersepeda. Saya melihat track record sepedanya langsung terkejut. Dia tidak sekadar main-main santai tapi rutin dan intensif. Saya yang penasaran segera menanyakan tentang ini, dan kalau tidak salah, ia waktu itu bilang, ia rajin sepeda supaya kuat lari. Whoa. Eh lalu ternyata benar, di 2014 dia mulai lari dengan mengerikan. Larinya enggak kira-kira, rutin banget, dan jauh-jauh sampai puluhan kilometer. Gila. Gila. Gila. Monster.

Saya dan Gerry di Kelas 10 dulu di SMA
Saya dan Gerry dulu di SMA
1234307_10200833524584330_1340066560_n
Saya, Gerry, dan Irghan (Trio Pesilat) sewaktu reuni alumni 61 pada tahun 2013
Saat kami bertemu sabtu 23 Mei kemarin
Saat kami bertemu sabtu 23 Mei 2015 kemarin

Jadi ceritanya, Gerry sedang tidak di Bandung karena kepalanya cidera terkena duri saat melaksanakan Trail Run di Bogor. Maka datanglah saya ke rumahnya di Pondok Kopi untuk menemui monster itu secara langsung dan nyata dengan berharap untuk tertular semangatnya.

Kepalanya sudah sembuh. Hanya ada pitak sedikit. Haha. Kami bercerita-cerita sedikit tentang kuliah. Ia bercerita kepada saya tentang bentuk solidaritas di jurusan kuliahnya. Katanya, kalau ada mahasiswa yang tidak masuk, sampai perlu dihampiri. Ia pernah begitu, kediamannya dihampiri. Untuk memberikan impresi lebih meyakinkan kepada yang menghampirinya bahwa ia sedang tidak sehat, Gerry bilang, ia sengaja berjalan berputar-putar di tempat sampai pusing-pusing. Terbahak-bahaklah saya. Selain berbincang, kami juga iseng bermain tembak-tembakan menembak boneka Patrick Star dengan senapan mainannya. Jadi ingat, dulu sewaktu sma, saya pernah berkunjung, dan ditembaknya saya dengan senapan itu. Kampret lu Ger.

Setelah ashar dan menjelang pukul 5 kami berlari bersama sejauh 6.57 km dalam waktu 50 menit. Berlari bersama teman ternyata memang menambah semangat. Saya rata-rata mungkin hanya kuat lari sejauh 2 atau 3 km nonstop. Jarang-jarang bisa sampai di atas 5 km tanpa istirahat disela jalan. Selama berlari kami berbincang terkait beberapa hal. Saya mengeluh terkait pendapat saya bahwa lari adalah olahraga yang sangat membosankan, jadi kadang saya berhenti lari bukan karena capek, namun karena bosan. Gerry bilang kadang supaya lebih asyik saat berlari, ia membayangkan sedang bermain Skyrim. Kemudian berlanjut ke seputar Fallout New Vegas tentang bagaimana saya berburu Deathclaw dengan bersenjatakan katana. Saya merasa sebenarnya renang lebih cocok untuk saya, namun ya mahal di ongkos. Kemudian ia pamer di tempatnya kuliah ada kolam yang hanya meminta uang sebesar 3000 rupiah jika ada kartu mahasiswa. Wew. Lalu ada juga ketika kami menyebut-nyebut soal renang gaya kupu-kupu. Sangat susah dan berkali lipat lebih melelahkan dibanding gaya lain. Namun ada lagi yang lebih susah menurut saya. Yaitu gaya orang cacat. Ya, itu komitmen sendiri aja, silakan nyemplung, lalu imajinasikan bagian mana saja yang cacat, lalu berusahalah berenang dengan sisa bagian tubuh yang dianggap berfungsi. Teruslah perbincangan sambil lari itu berputar ke mana-mana sampai akhirnya Gerry bilang, “Tinggal satu kilo lagi nih Sas, lari yuk.”

Yeah right. Jadi dari tadi bagi dia belum terasa lari! Hahaha! Saya iyakan usulnya. Lalu kami mulai ngebut. Namun tak sampai beberapa detik saya sudah tertinggal puluhan meter. CURANG! PAKAI GAMESHARK! 

Setelah melihat lambaian tangan saya dari jauh, barulah ia berhenti menunggu saya menyusulnya. Oh ya, di jalan kami juga sempat foto-foto.

*Gerry berlari secepat ninja konoha*
*Gerry berlari secepat ninja konoha*
*Sasmito berlari secepat TINJA konoha*
*Sasmito berlari secepat TINJA konoha*

Sesampainya kembali ke rumah Gerry, saya celamitan meminta-minta eskrim, buah, dan cemilan-cemilannya. Lalu solat, ngobrol, mondar-mandir ga jelas, foto-foto. Pulang. Sebelum pulang, saya ditawarkan sekantung jambu hijau yang manis. Hmmm. Tentu mau. Thanks! Makasih banget Ger untuk segalanya, inspirasinya, juga eskrimnya, dan sebagainya! Mmuach.

Jpeg


Jpeg