Bakwan: Mengampuni Manusia

Kepala Kantor: “Ikhlas?”

Saya: “Enggak ikhlas.”

 

Terdengar kepala seksi saya terhenyak, lalu bergumam lirih mengulangi kata-kata saya, “Eh, enggak ikhlas.” Ia seakan-akan tiba-tiba menciut.

Saya lanjutkan makan saya tanpa sudi menatap manusia yang sedang mengunyah bakwan rampasan dari piring saya. “Kok pahit ya?” Tambah Bos kantor kami itu. Saya abaikan pertanyaannya bagai angin lalu. Setelah bertanya-tanya ke pegawai lain di ruangan itu tentang ketidakberadaan telepon di ruangan kami, ia pergi. Ia selamat. Ia saya ampuni.

 

Sungguh, ketika ia mempertanyakan keikhlasan setelah mengambil dan mengunyah bakwan satu-satunya di piring yang sedang saya makan, terlintas pikiran-pikiran berikut:

 

“I am unattached to this world. I don’t have any stake or anything I’m afraid to lose. I don’t feel that I have ever any actual family. I don’t have a home. Past and present are pretty illusions. Not even future, for all living thing, shall perish, and goals are a mere device to fool oneself just to breathe another day. I don’t fear god. I don’t fear prison. I am lost, I am alone, I am free. Even reciprocal altruism is at my mercy. Right in this moment, I can snap your neck, rip open your belly, eat your heart raw, bathe your corpse with my semen, and make paintings with your blood and feces. Go away quick. Begone. Off you pop. Hurry!”

 

Mengerikan rasanya. Saya sangat takut. Takut bahwa pikiran-pikiran itu bukan sekadar hal yang dilebih-lebihkan karena emosi sesaat. Bagaimana jika hal tersebut merupakan kebenaran? Selama berjam-jam kemudian, pikiran saya merosot berputar-putar ke dalam jurang-jurang gelap kotor bau tengik, keji dan busuk dan tolol dan basah becek air mata. Malu-malu asu mengharapkan ikatan dengan dunia, tapi begitu sombong atas perbedaan yang diada-ada. Apalagi sesungguhnya tidak ada materi diri yang dapat dijadikan alasan andalan atau leverage dalam argumen keberadaan; karena saya memang faktanya hanya seonggok daging tak tahu diri yang berimajinasi terlalu tinggi.

 

Tapi akhirnya saya tertawa saat menulis ini. Karena sungguh lucu, ketika pikiran saya meledak dengan segala khayal ketidakterikatan diri dengan dunia, justru dan justru disebabkan oleh emotional attachment terhadap bakwan.

 

ANJIR GOBLOK HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. LET IT GO BRO. LET IT GO.

.

.

.

Then kill yourself.

.

.

.

Guus Hiddink.

292px-guus_hiddink_2012

Eh Just Kidding maksudnya.

 

 

 

 

Advertisements

Ulasan: PK

Jarang-jarang. Banget. Nonton film dari bollywood. Ini pertama kalinya saya mengunduh sendiri sebuah film india untuk ditonton. Jadi ceritanya, pada suatu siang yang membosankan, seorang teman dari Lhokseumawe menghubungi saya. Ia merekomendasikan sebuah film berjudul PK. Sebenarnya saya sedang malas menonton film karena sedang tekun-tekunnya mencoba mengkhatamkan Silmarilion. But, what the hell, why not?  Lagipula saya mulai sebal dengan para elf di dunia ciptaan Tolkien itu; for all their wisdom and longevity, these fancy elves are too fucking obsessed with mere goddamn jewelleries. Yuck.

requ
PK ini film bercerita tentang Alien. Seorang pencuri merampas alat untuk memanggil pesawat ruang angkasanya. Bingung dan sendirian ia terjebak tak bisa pulang. Orang-orang yang ia mintai tolong memberinya jawaban: hanya Tuhanlah yang dapat membantunya. Maka dimulailah pencarian akan Tuhan melalui sudut pandang seorang alien.

boredofcoconutwater

Menyaksikan Alien ini bermanuver atas bermacam budaya dan agama yang tak hanya seakan-akan saling berkontradiksi namun juga dipaksakan kepada setiap individu, berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak dan tersentuh tersedu-sedu. It was very funny but also sad. Sampai setengah film, saya sampai berhenti sejenak untuk memberitahu teman saya bahwa film ini keren dan saya merasa sangat simpati terhadap alien ini.

label

cluelessbreaking

Alien tersebut kemudian bekerja sama dengan Jaggu, seorang pencari berita untuk mengambil alat pemanggil pesawatnya dari seorang figur ahli agama. Menurut saya, mulai dari sini, kualitas cerita agak turun. Meskipun memiliki wajah konsep yang lugu “Wrong Number”, tindak-tanduk si Alien yang diarahkan Jaggu untuk “menyerang” agama jadi seperti menodai keluguan si Alien itu sendiri. Ia menjadi boneka. Alat media untuk meraup keuntungan. It seemed to me, the aggressive public questioning was too violent for his innocent nature. Jaggu’s campaign was effective, but vulgar and annoying. Reminded me of the strong atheist’s braggadocio. This could be delivered more subtly; but, oh well, at least the message was delivered clearly.

Selain pencarian kebenaran tentang Tuhan dan keinginan pulang si Alien. Ada satu lagi unsur yang menjadi sorot utama cerita. Yakni kisah cinta beda agama antara Jaggu seorang hindu, dan Sarfaraz seorang muslim, juga campur tangan si Alien untuk menyatukan mereka berdua meskipun ia sesungguhnya mencintai Jaggu. Ah, saya sesunguhnya ingin membahas lebih lanjut tentang ini, tapi, aduh saya lapar, belum makan lebih dari dua puluh jam hahaha. Yah, pokoknya secara keseluruhan saya sangat puas menyaksikan film ini. Recommended.

Nih sedikit bocoran screenshot lagi:

donlie
Tapi kemudian, dari penghuni bumilah ia belajar untuk berbohong. Dan. Jaggu tahu ia bohong.

 

 

 

Pengakuan Tentang Tuhan dan Agama

Menginjak umur ke-23 ini, saya tidak mau lagi membohongi diri sendiri dan hidup dalam keterpaksaan. Dengan tulisan ini, saya akan mencoba menggambarkan kira-kira seperti apa kepercayaan yang ada dalam diri saya. Maafkan saya jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih telah sudi membaca.

 

***

 

Saya tumbuh dalam keluarga yang menganut kepercayaan kelompok Islam tertentu. Secara praktik, dan garis besar, saya salut dan kagum atas orang-orang dalam kelompok tersebut, karena mereka memiliki kejujuran,  ketekunan, dan integritas yang bisa dibilang cukup dapat diandalkan.

Tapi bagaimanapun, saya menemukan ketidakcocokkan.

 

Kelompok ini menganggap bahwa Islam di luar mereka tidak sah amal perbuatannya sehingga tidak akan masuk surga dan akan jatuh ke neraka. Dulu, sebelum menyadari kepercayaan ini adalah hal yang ganjil, saya sangatlah sombong. Misalnya, ketika terjadi pertengkaran dengan teman yang tidak “seiman”, dalam pikiran saya akan terngiang suara yang meyakinkan diri bahwa nanti mereka akan masuk neraka, sementara saya dijamin ahli surga. Dampak pikiran ini bisa dilihat pada rekam jejak hidup saya sejak TK hingga SMP yang penuh dengan perkelahian karena saya dulu merasa manusia paling benar.

Seiring bertambahnya usia dan pendidikan, saya mulai menyadari bahwa kepercayaan semacam itu jangan dijadikan sandaran karena akan membawa kesedihan dan perpecahan. Pada suatu waktu, teman saya bercerita tentang “kelompok-kelompok” sesat dalam Islam. Tanpa diketahuinya, salah satu yang dijelaskannya adalah kelompok yang saya dan orang tua saya anut. Waktu itu saya diam-diam menitikkan air mata. Bukan hanya karena merasa terhina, namun juga karena timbulnya suatu kesadaran kecil yang perlahan menjadi renungan-renungan keras dan menyakitkan.

Begini, jika adalah sesat ketika sebuah variasi Islam, sebut saja X mengklaim variasi agama Islam lainnya tidak sah; maka ketika agama Islam secara umum mengklaim X adalah sesat, bukankah secara tidak langsung agama Islam menerapkan logika kesesatannya terhadap diri agama Islam itu sendiri? Kemudian, kalau dilihat melalui sudut pandang yang lebih besar, bukankah agama Islam itu sendiri merupakan variasi dari agama lain yang juga mengklaim kesesatan terhadap variasi lainnya. Segalanya seperti sebuah lingkaran permusuhan yang kelam dan tak ada ujungnya.

Bukankah agama seharusnya suci dan mensucikan? Mengapa justru saling memelihara benci dibalik kesombongan surgawi masing-masing? Saya ingat pernah mendengarkan suatu nasihat keagamaan yang intinya berpesan: setan mampu membuat hal-hal yang sesat menjadi indah di mata manusia. Kemudian waktu itu saya berpikir, mungkinkah, sebagian aspek agama dan janji surgawinya merupakan hal sesat yang dibuat jadi indah oleh setan di mata manusia?

Sementara itu di satu sisi, saya mulai curiga bahwa saya sebenarnya tidak betul-betul percaya, mungkin, hanya “ingin” percaya karena berbagai ancaman neraka. Karena, kalau diingat-ingat, pada masa-masa SD, saya pernah berkhayal bahwa jagoan-jagoan masa kecil seperti Son Goku, Power Rangers, Ultraman, dan sebagainya berkumpul bersatu membunuh memusnahkan Tuhan. Hal tersebut adalah imajinasi bocah kecil ingusan yang jujur dari dalam benaknya tanpa hasutan siapa-siapa.

Sampai sekarang, saya masih berusaha menghargai orang-orang dalam kelompok tersebut, begitu juga kepercayaan mereka. Karena saya percaya, bahwa memang, agama dan berbagai variasinya merupakan sesuatu yang alami dan dibutuhkan oleh sebagian besar manusia. Sayapun masih percaya kepada Tuhan. Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Yang saya tidak percaya adalah batasan-batasan yang diberikan kitab-kitab agama kepada Tuhan. Hal tersebut membuat seakan-akan Tuhan adalah budak agama; ada untuk memenuhi tugas-tugasnya yang tertulis di sana.

Orang bodohpun tahu, bahwa tidak hanya manusia dari agamanya masing-masing yang hidup di dunia ini. Manusia beragama lain tersebut tentu banyak juga yang melakukan kebaikan bermanfaat bagi seluruh manusia lainnya. Namun kekonyolan agama memperbudak Tuhan untuk hanya menghargai manusia dari agamanya masing-masing untuk menghukum dengan keji kepada manusia dari agama lainnya. Sungguh, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih seharusnya tak tunduk pada ikatan semacam itu.

Tapi mengapa Tuhan membiarkan ada janji-janji surga neraka seperti itu pada kitab-kitabnya? Mungkin karena memang mayoritas populasi pada zaman turunnya kitab-kitab tersebut memerlukan insentif dan disinsentif semacam itu untuk menggerakan perbaikan peradaban dengan cepat. Mungkin juga karena, Tuhan percaya, seiring dengan dewasanya kesadaran kolektif manusia, manusia akan mampu mengoreksi kepercayaan-kepercayaan tersebut dengan sendirinya.

Begini, karena mau sekuat apapun usaha manusia untuk menjaga kemurnian agama dari kitabnya, ujung-ujungnya yang melakukan tatap muka dengan tulisan wahyu Tuhan tersebut adalah manusia. Manusia memproses informasi dengan bahasa dan logika. Perkembangan zaman sangat mempengaruhi kedua unsur tersebut. Sehingga, biarpun misalnya isi sebuah kitab suci mampu tetap dijaga dari A tetap A sejak zamannya turun hingga seribu tahun lagi, interpretasi akan maknanya akan terus berubah. Intinya, biarpun sumbernya wahyunya murni, pihak penafsir tidak akan mungkin menafsirkan dengan sempurna. Agamapun bukannya setuju bahwa manusia adalah sumber segala kelemahan dan kerusakan? Apakah para penafsir, para guru agama, adalah spesies bukan manusia yang mampu menafsirkan dengan sempurna?         

Saya menyimpulkan bahwa Tuhan-Tuhan yang digambarkan agama-agama, hanyalah potongan teka-teki yang tak sempurna. Gambaran tersebut disajikan keberadaannya oleh Tuhan agar setidaknya manusia mampu mengenal konsep Tuhan. Saya sendiripun sadar, sebagai manusia, saya sangat tidak berdaya dalam menafsirkan apalagi menggambarkanNya; sayapun bukan seorang ahli agama, bukan filsuf, bukan ilmuwan; bukan siapa-siapa selain bocah ingusan yang terlalu banyak melamun. Maka sesungguhnya yang saya pegang dan sajikan di sini hanyalah semacam wujud harapan, bahwa ia, Tuhan, adalah Zat yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Saya tumbuh bergaul dengan non muslim, bahkan teman dekat pertama saya dulu di SD adalah seorang Kristen Protestan, Philip namanya. Seiring beranjak lebih dewasa, saya semakin menyadari bahwa non muslim adalah manusia seutuhnya, yang sama memiliki perasaan dan kehidupan setara, seiribg itu juga saya mulai mengutarakan doa seusai sembahyang kepada Tuhan untuk mengampuni SEMUA makhluknya. Karena dalam ketakutan saya di bawah ancaman akhirat yang keji, saya punya harapan besar pada sifat Tuhan yang utama, yakni Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Pernahkah kamu manusia sekalian berpikir? Bahwa berdasarkan sifat Maha Kuasanya, Tuhan mampu membatalkan SELURUH janji-janji pada kitab-kitabnya. Ia juga mampu menghapus dan mengubah ingatan kita dalam sekejap.

Bayangkan suatu kejadian pada satu waktu di akhirat nanti: ada golongan yang protes kepada Tuhan, “Wahai Tuhan, mengapa kamu tidak memasukkan golongan-golongan selain kami ke Neraka?”

Tuhan tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, dengan kekuasaannya ia mampu menghapus dan mengubah isi kepala seluruh golongan manusia tersebut sesukanya. Atau, Tuhan bisa saja menyelesaikan protes ini dengan menciptakan dunia paralel yang berjalan berdampingan untuk memenuhi setiap hasrat berpandangan sempit setiap kepercayaan yang ada; yakni dengan penciptaan versi akhirat masing-masing yang dihuni oleh fotokopi sempurna seluruh umat manusia dalam berbagai garis takdir dan nasib. Intinya: 

Tuhan YANG MAHA KUASA mampu membuat isi seluruh kitab agama menjadi tak bermakna, atau tetap bermakna secara paralel tanpa ada kontradiksi yang mampu dideteksi makhluk rendahan seperti kita. Terkait sifat tersebut, yang kita dapat lakukan sebagai manusia hanyalah pasrah dan berharap ia akan menggunakan segala kemahakuasaannya untuk menunjang, mewujudkan, dan menunjukkan sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayangnya.

Saya tidak peduli apakah agama A, atau agama B, atau agama C yang benar. Segalanya merupakan bagian dari serpihan teka-teki kebenaran yang lebih besar yang mungkin memang tak akan pernah dipahami manusia. Banyak sekali kemungkinan yang ada! Bisa jadi memang tidak ada Tuhan. Bisa jadi ada!

Saya tidak memihak posisi percaya ada (theist) atau percaya tidak ada (atheist). Saya hanya memihak posisi berharap, yang tidak terikat agama, yang tidak terikat anti-agama. Terkait boleh, tapi tidak terikat.

Tapi mungkin bagi sebagian orang, berharap saja tidak cukup. Mungkin selain berharap, kita juga harus bekerja. Dalam berbagai kemungkinan ketuhanan yang ada, saya berandai-andai suatu saat kita mampu menemui Tuhan secara langsung, tanpa melalui mati dulu dan tanpa akhirat. Mungkin inilah yang harus kita upayakan. Untuk apa? Untuk bersyukur tentunya. Juga untuk memuaskan rasa penasaran, dan untuk memohon langsung kepadanya agar memberikan sebuah proses dan akhir yang terbaik bagi seluruh makhluk yang telah mati, sedang hidup, dan akan lahir.

Saya pernah mempunyai imajinasi, bahwa manusia pergi meninggalkan bumi, mengarungi seluruh ruang angkasa untuk mencari keberadaan fisik Tuhan. Meski jika pencarian itu tidak akan pernah menemukan jawaban, upaya-upaya gigih manusia dalam berdamai bersatu dengan sesamanya akan menjadi berkah tersendiri yang sangat berharga.

 

***

Untuk Ibu dan Bapak. Semoga kalian kuat dan tabah membaca ini. Semoga Allah menjaga kesehatan kalian setelah mengetahui ini. Saya memohon maaf jika saya mengkhianati harapan kalian untuk tumbuh menjadi anak beriman dan bertakwa. 

Setidaknya ada dua alasan yang dapat menjelaskan segala pengakuan ini. Pertama karena memang saya percaya hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Kedua, mungkin karena saya hanya ingin menghiasi alasan yang paling sederhana, yakni kemalasan. Saya akui memang saya sudah sangat muak dan malas menjalani tekanan dan paksaan mengikuti harapan-harapan kalian, juga jadwal pengajian yang banyak menyita waktu dan rasa bersalah saat mengabaikan jadwal tersebuy yang membuat saya depresi sehingga hidup ini terasa sangat busuk dan pantas untuk ditinggalkan. Tak jarang saya berpikir, bahwa untuk segera mendapatkan kebenaran, mungkin baiknya saya segera mati saja demi menodong langsung jawabannya kepada Sang Pencipta.

Ibu pernah sempat mengizinkan saya untuk mencari calon dari luar kelompok agama kita, tapi kemudian Ibu seperti membatalkan izin tersebut dan mengutarakan peringatan, bahwa akan susah hidup berdampingan dengan orang yang tidak seiman. Nah, bayangkan hidup sesusah apa yang akan saya lalui jika saya tidak pernah berani mengakui bentuk kepercayaan saya yang sesungguhnya seperti sekarang ini? Apa-apa yang terbentuk dari kepura-puraan dan kesalahpahaman: hancur.

Hidup ini berat. Seringkali saya merasa terlalu lemah dan bodoh untuk menjalaninya. Tak jarang sejak kecil saya rasanya ingin meledak saja menjadi orang gila sepenuhnya untuk bebas dari dunia. Karenanya saya ingin menjalani hidup sesederhana mungkin dari bermacam faktor yang ada. Saya enggan belajar menyetir mobil, karena tidak ada keinginan memiliki mobil. Rumahpun saya enggan memilikinya karena berat rasanya untuk merawat. Apalagi keluarga dan anak. Apakah mampu saya memberikan kehidupan yang layak?

Selain itu, hal tersebut berpotensi banyak menghadirkan kekecewaan dan penderitaan. Tak jarang manusia tertekan karena khawatir hartanya hilang. Habis hidup mereka sibuk untuk mengejar mengurus menjaga rumah, mobil, dan lain-lainnnya yang sesungguhnya dapat tiba-tiba saja rusak atau hilang. Begitupun keluarga. Istri dan anak bisa jadi sumber kekecewaan dan patah hati yang luar biasa. Mampukah saya ikhlas jika nanti mereka diambil atau lepas atau mengkhianati harapan saya? Jika anak saya nanti berbeda jalan pikirannya sama sekali dengan saya, mampukah saya tetap tabah dan bijak atas segala sakit hati yang mendera? Jika Bapak dan Ibu mampu memberi contoh bahwa keikhlasan semacam itu mampu dilakukan atas segala dosa saya dalam pengakuan ini, mungkin saya akan mempertimbangkan kembali untuk memiliki keluarga nanti.

Saya tidak perlu macam-macam hidup di dunia ini, saya tidak perlu janji surga kenikmatan abadi, saya tidak perlu kekayaan berlimpah, saya tidak perlu istri cantik dan anak yang berbakti; yang saya perlukan sekarang hanyalah kesempatan hidup tanpa tekanan batin, tanpa teror rasa bersalah dan kepura-puraan, sehingga saya mampu lebih tenang dalam menjalani hidup seadanya sembari mencoba menekuni hobi-hobi yang saya gemari. Saya harap Bapak dan Ibu akan tetap menganggap saya sebagai anak meski memang saya bukan anak yang baik. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa mengampuni kita semua. Amin.


Maaf dan terima kasih.

#1: Saling Menyalahkan

Jadi, sebenarnya saya dari dulu kepingin iseng mencoba membuat web comic singkat. Namun karena ide-ide yang muncul rasanya terlalu panjang, dan saya malas memangkasnya, akhirnya belum kesampaian. Beberapa waktu lalu, saya kebetulan menemukan suatu ide yang rasanya cocok untuk jadi web comic singkat. Ide ini saya temukan pada status updatenya Melisa Yulia. Terima kasih.

Manusia dan Tuhan

Manusia dan Tuhan

Potensial Koruptor Terbesar Di Dunia

Disclaimer:

Waspada. Laten sesat!

Not for the faint hearted.

Hohoho.

Saya pagi ini melalui ujian akhir semester dengan mata kuliah etika profesi. Oleh karena itu, pada dini harinya saya belajar. Materi bab 9, tentang korupsi, menarik perhatian saya, jadi saya mulai berpikir ngelantur dan sesat ….. Pada akhirnya saya putuskan untuk menyusun tulisan ini.

Di sini, saya akan membahas apa itu korupsi dan penyebab timbulnya korupsi sesuai materi yang saya pelajari tadi pagi. Juga bahasan sesat saya tentang dari dan di manakah potensial korupsi terbesar di dunia yang paling berpengaruh?

Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crimes), karena perbuatan korupsi bukan delik berdiri sendiri, tetapi selalu terkait dengan berbagai perbuatan pidana lain seperti pidana perdagangan anak atau manusia (human trafficking), pidana narkotika, perdagangan senjata, perjudian, pemalsuan uang, money launder, sulit pembuktiannya dan lain sebagainya;

Korupsi adalah kejahatan internasional, international crimes karena lingkup perbuatan korupsi tidak terbatas pada wilayah negara tertentu, tetapi meluas dan ada hubungan antara perbuatan korupsi pada satu Negara dengan Negara lainnya;

Korupsi disebut juga organized crimes, karena pembuat dan pelaku korupsi sering kali terjalin antara organisasi formal dengan organisasi kejahatan. Mastermindnya sering kali adalah pejabat resmi yang terlibat dalam kegiatan illegal lainnya, misalnya dalam kasus perjudian, illegal logging, illegal fishing, human trafficking dan sebagainya;

Korupsi terjadi di segala sektor kehidupan, baik sektor publik maupun sektor swasta;

Pertanyaan yang timbul adalah:

Bagaimana korupsi bisa begitu luar biasa?

Terjadi dalam skala yang begitu luas dengan rapih dan terorganisasi di segala sektor?

Kekuatan macam apa yang mampu membuat kebusukan menjadi begitu licin, menarik, dan lekat di hati manusia?

Lord Acton mengatakan Power tend to Corrupt. Kekuasaan adalah sumber perbuatan korupsi, terutama sekali apabila Power (Kekuasaan) tidak diikuti oleh Accountability atau (C=P-A); artinya dalam suatu pemerintahan yang tidak diikuti system pengawasan, pembagian kekuasaan yang memadai, serta tiada akuntabilitas, yang berdampak mismanagement.

Prof Klittgard (Prof. DR Muladi, 2007) menyatakan bahwa Corruption timbul karena adanya Monopoly kekuasaan ditambah Discretion, tidak diimbangi dengan Accountability atau (C=M+D-A). Perinsipnya seperti uraian pada butir 1, perlu digaris bawahi bahwa discretion adalah suatu kewenangan yang melekat pada setiap orang atau manajer untuk mengambil pilihan dari beberapa alternatif Namun discretion yang dilakukan tanpa ada kendali akuntabilitas akan merupakan sumber korupsi.

 

Corruption = Power – Accountability

Corruption = Monopoly + Discretion – Accountability

Power = Monopoly + Discretion

Dari sini, saya menyimpulkan bahwa MONOPOLI kekuasaan yang memberikan kewenangan tindakan tanpa akuntabilitas memiliki potensi untuk menimbulkan terjadinya praktik korupsi. Maka, apakah kekuatan dengan monopoli kekuasaan tanpa akuntabilitas yang sangat dan mungkin terbesar di dunia?

Jawaban saya adalah, konsepsi Tuhan dalam ajaran MONOTEIS. Konsepsi tuhan dalam ajaran monoteis intinya adalah berupa zat berwujud satu dan hanya satu, yang memiliki kekuatan ber-maha-maha-maha-maha, dan memiliki kekuasaan kewenangan penuh atas segala ciptaannya. Tuhanlah zat dengan potensial terkorup di dunia!

Tuhan Yang Maha Esa. Satu, sendiri, begitu tamak konsepsi monoteis ini dibanding dengan konsepsi politeis yang di dalamnya terdapat division of labour dan kemungkinan terjadinya check and balance dalam bentuk pembagian kekuasaan Tuhan menjadi bermacam-macam kedewaan. Tidak ada kontrol terhadap kekuasaan tunggal-Nya dari kekuasaan lain. Ia sendiri. Ia berpotensi sangat korup. Power tend to corrupt, absolute power corrupt absolutely.

Tuhan dengan berbagai klaim maha-Nya, menuntut kekuasaan kewenangan atas manusia melalui buku-buku dengan tulisan dan bahasa manusia. Melalui buku-buku itu ia mencengkeramkan monopoli kekuasaan tanpa akuntabilitasnya kepada sejarah manusia hingga sekarang. Bahkan memaksakan kewenangan tanpa akuntabiliatas itu sebagai pedoman hidup manusia. Memaksakan? Mungkin lebih tepat disebut dengan mengancam. Patuhi kekuasaannya atau disiksa selama-lamanya. Sayang siksaan itu tidak dalam jangkauan akuntabilitas yang logis.

Masalah utamanya ada di akuntabilitas. Melalui buku, Dia melakukan banyak klaim. Namun kebanyakan klaim-klaim tersebut berupa sesuatu yang fantastis, diluar jangkauan pembuktian, tidak spesifik, tidak jelas, dan terbuka dengan revisi interpretasi( misal: pada tahun 1500-an interpretasi disesuaikan(bahan memberi pengaruh) dengan penemuan-penemuan saat itu, namun di tahun 1900-an ketika penemuan dunia berubah, maka interpretasi terhadap klaim itu diganti lagi untuk terus memaksakan sifat keilahiahan dan kemahaan). Intinya adalah, kekuasaan monopoli kekuasaan kewenangan-Nya sungguh kurang akuntabel, sekalipun ada sedikit, akuntabilitas ini hanyalah paksaan, cocok-cocok-an(dengan variabel Tuhan yang bisa direplace variabel lain).

Potensi korupsi Tuhan yang sangat tinggi ini menimbulkan dampak yang jelas bagi Indonesia. Pada pancasila, sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Logikanya, jika rakyatnya terbiasa menerima dan mematuhi sebuah kekuasaan kewenangan yang tidak akuntabel dari Tuhan Yang Maha Esa, maka rakyat pula akan mudah menerima dan mematuhi pemerintahan negara yang juga tidak akuntabel bahkan korup. Terbiasa dengan ketidaktransparanan dan ketidakakuntabelan yang berbasis kepatuhan terhadap monopoli kekuasaan.

Pada Januari 2012, diberitakan bahwa Indonesia kehilangan Rp 2.13 trillion (US$238.6 million) akibat korupsi pada tahun 2011.

Pada CORRUPTION PERCEPTIONS INDEX 2012, Indonesia menempati peringkat 118 [http://cpi.transparency.org/cpi2012/results/#myAnchor1].

Saya mesti bilang wow.

Langkah pertama menuju pembebasan diri dari korupsi adalah, minimal mulai mempertanyakan akuntabilitas siapa-siapa yang mengklaim kuasa atasmu. 

O God

O God.

The idea of your existence and your perfection mesmerize my logic, my sanity, and my humanity.

O God.

The more I want you, the more I try to reject you because of the fear of broken heart.

O God.

The more I adore you, the more I want to erase you because of the pain of my suffocating lust.

O God.

I really want to having you as my own treasure, in the way I lead, in the place I set, on the bed of nail, under the hammering love of my mortal flesh.

O God. 

Afterall this romantic nonsense. I think I’m just lazy to worship you lololol :P. I just want to be equal okay? If you answer with silence, I’ll take that as YES. 

Silence? Its a YES. We’re equal. We trade in each other faith okay.

Incomplete Guide To Hate

Incomplete Guide To Hate

Written by Sasmito Yudha Husada, 29 June 2012.

Disclaimer :

This was written by a retarded boy whose native language isn’t English. So please bear with the grammatical errors. LOL. Why the boy did so? Because he wanted to convey his messages to more people, in assumption that a lot of people understand English more.

Once I saw an awesome meme in the internet. A meme that advocates people to “Fuck your Nationalism! We are all Earthlings!”(Simply means we should not become fragmented and violating each other for the sake of nationalism) Oh yes, yes, from that point I started to wonder. I tried to expand that meme into some idea that sounds bad ass to me at the time. The problem I saw, the main crack of unnecessary fragmentation of humans as an Earthlings, I think, maybe, ummm, pointed to … Hate.

These are the stuffs I pondered and wondered:

Fuck your God, If it makes you hate people.

Fuck your Atheism, If it makes you hate people.

Fuck your Capitalism if it makes you hate people.

Fuck your Socialism if it makes you hate people.

The formula is here :

Fuck your (insert Idea, Ideal, the unreal things, the novel motif, the shits, etc) if it makes you hate people (‘People’ here serves as an example of the reality. The existence in front of us with their own ethic and moral)

The Ill mannered use of the word ‘Fuck’, is intended to be an active vocal approach towards the reasonings in the formula. But … now I pondered it again. The statement itself seems very awfully hateful. Damn it, can we avoid hate at all?

LOL. I knew it. Trying to erase hate is futile. But please, do not hate my effort.

First thing first, let us review what hate is?  But because I’m a lazy ass, I suggest you just go google them yourself, or here have some of hate quotes I stole from Internet :

If you hate a person, you hate something in him that is part of yourself.  What isn’t part of ourselves doesn’t disturb us.  ~Hermann Hesse

The price of hating other human beings is loving oneself less.  ~Eldridge Cleaver

The opposite of love is not hate, it’s indifference. The opposite of art is not ugliness, it’s indifference. The opposite of faith is not heresy, it’s indifference. And the opposite of life is not death, it’s indifference.

― Elie Wiesel

Most hatred is based on fear, one way or another. Yeah. I wrapped myself in anger, with a dash of hate, and at the bottom of it all was an icy center of pure terror.
― Laurell K. Hamilton

So, what does hate, hatred, serve?

In my opinion, Hate, Hatred, is the main point of connector between [the reasoning] and [the action of inflicting pain] or even [transmitting the disease of hatred] itself.

Ugly reasoning, which may come from idea, emotion, impulse or anything, well, what funny is, that even a non-hateful idea may very well trigger a hate. Example : An Idea that teach people not to become drunk because of its potential damage, may become a trigger of hate when the people who grasped the idea are incapable of controlling themselves. Some may even wreak havoc, destroying people’s liquor business for the sake of  that idea.

More example of the action of inflicting pain, the disease transmitting, the retardation of hatred, I quote from ‘How To Respond To Hate’ of The Chronicle’s article which written by Abdullah Antepli’s : “Just to mention a few: An American soldier named Robert Bales walked into the midst of an Afghan community and in cold blood shot 16 people dead, including nine children and three women, one of whom was pregnant. A 17-year-old black high school student, Trayvon Martin, was tragically shot and killed by a racist in Florida. A terrorist in France killed seven people in a nine-day shooting rampage against paratroopers, two of whom were fellow Muslims, and innocent Jewish schoolchildren. Last, but not least, Shaima AlAwadi, a California resident of Iraqi Muslim background and mother of five children, was beaten to death with an iron bar in her own home. According to the police reports, there was a note left on her body, which read: “Go back to your country, you terrorist.”

Really, reading that makes me really want to shout “Fuck your racism, we are all earthlings! “

I cannot do anything significant to prevent the future retardation of hate and massive damage and fragmentation it may cause. It is an unresistable existence. So, I think we should just guide our hatred. Put it behind the cage.

Here are my imperfect, incomplete, and fragile suggestions for the cage …

  1. Do not Hate! If something disturb you, if there are external factors that bother your internal values and principles and logics and comfort and anything that may give ways to hate rooted as the authority of your act and your main reasoning. You must quickly! Hurry! As soon as possible to work out your mind to intercept the concept of hate with the concept of Indifference. Just ignore, do not hate! Occupy your attention to more important matters at hand. IGNORE.
  2. What about the reasoning? Reasons of hate are incredibly varied, it really depends on the situations and the only thing I can suggest are :
    1. -The best way to improve control of your hatred is to confront your reasoning, understand it, challenge it, modifiy it, prevent it.
    2. -The worst and quickest way is to ignore your reasoning. Mark it as dangerous substances.
    3. -THE FORBIDDEN SHIT IS TOO GIVE UP AND LET YOUR MIND SLAUGHTERED BY YOUR OWN HATRED!
  3. The only hatred you should keep and feed is the Hatred for Hatred itself. Hate the Hate. Enforce your cage of hate, with hate. Prison the fiery demons with their own fire as fuel.
  4. This list is incomplete … sorry 🙂

BERSEPEDA

cerpen ini juga saya posting di http://id.kemudian.com/node/264286

BERSEPEDA

Oleh Sasmito Yudha Husada

 

 

 

Halo! Namaku Yudo, dan aku sangat suka bersepeda. Seingatku, sepeda pertamaku dulu berwarna hijau dan beroda empat. Sepeda itu aku dapat dari Bapak ketika berumur lima atau enam tahun. Mulanya aku senang sekali, namun kemudian aku memperhatikan bahwa sepeda beroda dua bergerak lebih cepat, hal itu membuat aku mengambil peralatan dari kotak usang milik Bapak untuk mencopot dua roda tambahan itu. Maka, empat dikurang dua sama dengan dua! Huhuhu. Aku ingat dulu aku begitu sombongnya, begitu semangatnya mengayuh lalu jatuh. Bruk! Sakit dong, tapi asyik juga banget dong. Apalagi setelah akhirnya mulai bisa mengayuh sepeda beroda dua dengan lincah. Selincah cacing kepanasan, setidaknya itu kata Pakdeku.

 

Dengan sepeda aku berpetualang. Tertawa-tawa bersama kawan ketika meluncur di turunan. Membuat wajah letih yang lucu ketika mengayuh tanjakan. Menikmati angin sejuk yang mengibarkan rambut kami. Mengunjungi banyak tempat, tanpa mengetahui nama, dan di mana sebenarnya tempat itu berada. Tersesat bersama. Pulang bersama. Kembali ke rumah dengan segala keringat bahagia. Dan ketika malam tidur, terkadang aku juga bersepeda di dalam mimpi.

 

Tidak selamanya bersepeda menyenangkan. Karena, sayang sekali sepeda bukan barang yang awet. Uh, atau aku saja yang tidak pandai merawat barang? Sepedaku sering rusak. Rantai copot di tengah jalan, jok kendor, rem blong, ban kempes, ban bocor, dan sebagainya. Suatu saat ketika sepedaku rusak cukup parah, aku hanya bisa sedih dan kecewa. Berdoa agar Bapak mendapat rezeki untuk membetulkan Si Belalang Tempur. Ah aku belum bilang ya kalau sepedaku kunamakan Belalang Tempur?

 

***

 

Bulan Ramadhan. Hari pertama puasa. Menjelang buka puasa, keadaan toko Bapak begitu sibuk dan ramai. Beruntung Belalang Tempurku dalam keadaan sempurna, karena aku mendapat tugas dari Bapak untuk mengantarkan beberapa pesanan Cendol kepada pelanggan. Aku suka tugas ini. Aku suka kepercayaan yang Bapak berikan kepadaku. Aku suka bersepeda. Petualangan!

 

Tujuh kotak super cendol spesial sudah ditata dengan rapih ke dalam tas besar di punggungku. Peta sederhana dan alamat lengkap sudah kusiapkan di kantung baju. Setelah berpamitan kepada Bapak dan Ibu yang masih sangat sibuk mengatur toko, aku berdoa kepada Allah semoga petualanganku mengantar Cendol ini lancar. Kemudian aku menarik nafas sekuat-kuatnya, diikuti dengan kayuhan perkasa dan ban sepedaku oh Belalang Tempur yang meluncur lincah di atas aspal.

 

Menuju komplek sebelah. Aku mengayuh banyak tanjakkan. Letih sekali, sehingga terkadang aku tergoda untuk membatalkan puasaku dengan meminum cendol yang seharusnya aku antar, tapi … ah … itu pasti akan membuat Bapak kecewa. Oleh karena itu, seribu tanjakkanpun akan kulalui! Oh di depan ada turunan! Asyik! Yeaaaaaaaaaaaaaaaah!

 

Turunan ini terus sampai ke gerbang komplek di mana ada seorang satpam yang meski terlihat seram tapi tersenyum lembut menyapaku.

“Permisi Pak! Mau nganter Cendol nih hehe,” Seruku padanya.

“Ya, silahkan,” balasnya.

Belalang Tempurku melesat belok ke kanan setelah turunan, dan setelah sampai kepada lapangan basket aku berhenti sejenak untuk melihat peta dan alamat, namun sesaat kemudian aku mendengar suara yang kukenal.

“Yud! Yud!”

Panggil seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir yang sedang bermain basket.

“Yud, mau ikut main gak?” Serunya lagi, kali ini sambil melempar bola ke dalam keranjang dan masuk tepat ke dalamnya.

Walaupun aku tidak terlalu suka basket, tapi aku berminat sih, uh, tapi … pesanan cendol.

“Nggak deh Li, mau nganter Cendol nih, eh tahu Rumahnya Bu Widya Kusuma nggak?”

Lalu dia menjawab, “Oke, rumah Bu Widya tuh lurus aja, sampe kolam renang terus belok  kiri mentok, rumahnya yang sebelah kanan, yang ada pohon jambunya. Dah!”

 

Kayuh demi kayuh aku dan Belalang Tempur melalui bermacam rintangan dan godaan, namun akhirnya berhasil mengantar ketujuh pesanan ke pelanggannya. Dan aku kini sedang berada di rumah pelanggan terakhir, cukup jauh dari rumah, dan kebetulan orangnya sangat baik dan ramah, sehingga ia mengundang aku berbuka puasa dan bersembahyang maghrib di rumahnya. Sebelum aku pulang, ia juga memberikan aku oleh-oleh berupa Helm Sepeda yang super kereeeeeeen!

 

Oh Terima Kasih Allah atas segala petualangan hari ini!

 

 

 

Agnostic, Gnostic, dan Ungkapan Cinta

Agnostik tanpa disandingkan apa-apa memiliki makna ‘tanpa pengetahuan yang pasti’, maka Agnostik bukanlah suatu sistem kepercayaan agama. Jika disandingkan dengan kata-kata ini, maka :

Agnostic atheist : Tidak percaya keberadaan tuhan, but no claim of absolute certainty.

Gnostic atheist : Tidak percaya keberadaan tuhan, plus absolute certainty.

Agnostic theist : Percaya keberadaan tuhan, but no claim of absolute certainty.

Gnostic theist : Percaya keberadaan tuhan, plus claim of absolute certainty.

Begini, anggap ada dua kutub : Gnostic Atheist dan Gnostic Theist, sementara yang benar-benar murni Agnostic ada di tengahnya, dan di antara Gnostic dan Murni Agnostic itu ada Agnostic Theist dan Agnostic Atheist.

Susunannya :

Gnostic Atheist – Agnostic Atheist – Agnostic – Agnostic Theist – Gnostic Theist

Semakin orang merasa paling tahu, maka orang itu akan merasa paling benar, sementara semakin orang mengetahui sesuatu, maka akan semakin banyak ia memiliki pertanyaan dan merasa tidak tahu apa-apa. Eh, nggak juga sih, tergantung orangnya 😛

Haha

Menurut saya, yang berada di ujung kutub itu cenderung orang-orang yang lebih senang dan nyaman memiliki kepastian dalam hidup, dan, ehm, mungkin lho ya, malas/takut/dilarang untuk mencoba berpikir lewat sudut pandang lain atau menatap ke arah lain. Salah satu keunggulan pada tipe yang di ujung kutub adalah, mereka tinggal melaksanakan saja kepercayaan dan keabsolutan, tanpa repot-repot berpikir macam-macam, dan mereka, saya yakin, memiliki kompetensi cukup tinggi dalam ilmu-ilmu yang menjadi bidang di ujung kutub kepercayaan masing-masing.

Sementara orang-orang dalam sisi tengah dan sekitarnya, cenderung untuk orang-orang yang lebih senang dengan proses lebih lama dalam berpikir, merenung, dan menikmati proses mencari kebenaran dari berbagai pola cara kepercayaan dari sudut pandang yang lebih objektif, bukan sekedar memandang sesuatu sebagai sesuatu karena sebuah ajaran menyatakan bahwa sesuatu itu adalah sesuatu.

Hihi

Saya sendiri sedari kecil berada di kutub paling kanan, lalu perlahan tumbuh, dan menyaksikan banyak inkonsistensi, maka saya sekarang [masih mencoba] bergeser satu langkah ke kiri. Agnostic Theist, di mana, saya masih sangat percaya keberadaan Tuhan, dan percaya dengan agama saya, masih beribadah, masih berdoa, masih memasrahkan diri, namun juga mulai mencoba untuk menjadi lebih objektif, membuka diri untuk belajar hal-hal yang sedari dulu ditutup-tutupi, membuka diri untuk mencoba menghargai kepercayaan orang lain yang di mana sebelumnya semuanya saya anggap salah kecuali apa-apa yang sama persis dengan apa yang diajarkan kepada saya yang waktu itu masih 1000permil Gnostic Theist.

Dalam proses menuju Agnostic Theist, saya merasakan suatu sensasi kenikmatan, di mana saya malah merasa lebih dekat dengan tuhan secara pribadi. Sungguh. Kebebasan dalam berpikir itu bagai telaga susu di tengah padang pasir.

Kenapa merasa lebih dekat dengan tuhan secara pribadi?

Karena tuhan dalam pandangan saya, bukan HANYA sekedar sebagai sosok pencipta yang maha kuasa, yang maha segalanya, yang tak terjangkau, yang mengancam seluruh manusia ciptaannya sendiri (yang sangat bervariasi cara berpikirnya dan budayanya) dengan siksa kecuali jika mereka menuruti satu macam perosedur kepercayaan absolut, bukan lagi sekedar sosok yang menyebabkan bencana-bencana alam, yang mengawasimu selalu tanpa menghargai privasi, yang … … … tak terpikirkan

Sementara sekarang, saya lebih bisa menganggap tuhan sebagai sahabat, sebagai kakak kelas, sebagai gadis pujaan hati yang membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama, sebagai orang tua yang saya buat kesal karena cara saya mencari perhatian, sebagai rival, sebagai kawan lama yang sedang bertengkar, sebagai orang asing baik hati yang tiba-tiba mengulurkan tangan pertolongan, sebagai kekasih yang begitu imut dan dapat saya berikan peluk cium ketika shalat, dan sebagainya …

Hehe

Saya sadar, ketika, ehem, misalnya saya sedang suka menyindir-nyindirnya, melanggar peraturannya, men-share artikel-artikel yang seakan-akan menyudutkan keberadaannya, dan bahkan mempermainkan sosok populernya dalam cerita pendek karangan saya, bahkan berkhayal membuat agama saingannya, bermimpi lebih kuat darinya, maka sebenernya saya sedang cari perhatian kepadanya, saya cinta, dengan cinta yang begitu lugu dan bodoh …

Hoho

Oh Allah Yang Maha Esa ♥

Engkau inspirasi yang membuat saya mabuk. Begitu tajam aroma engkau menusuk hidung saya, melumpuhkan, maka saya bertarung tolol dan serampangan, sehingga tak mampu jadinya tinju saya ini melukai dunia.

Lalu saya jatuh terlentang dalam ketidakberdayaan dan kepasrahan yang nikmat, karena saya jatuh di atas bayangan engkau yang selembut puisi cinta.

The idea of your existence and your perfection mesmerize my logic, my sanity, and my humanity.

The more i want you, the more i try to reject you because of the fear of broken heart.

The more i adore you, the more i want to erase you because of the pain of my suffocating lust.

I really want to having you as my own treasure, in the way i lead, in the place i set, on the bed of nail, under the hammering love of my mortal flesh.

Kill my conscience

Kill my love

Love is the only truth

Nirtangis : Sekilas Sejarah Kelahiran Saya

Ibu saya sering sekali bercerita tentang hal ini. Dengan rasa bangga, yang agak lucu. Yaitu ketika saya lahir, sebagai bayi yang pertama kali mengenal dunia. Yang dengan gagah beraninya lahir tanpa menangis dan pula langsung dapat membuka mata dan mengamati sekelilingnya.

Kerenkan? Langsung melek dan tidak menangis? Hehe. Namun rupanya hal itu malah membuat tim medis ketakutan, hingga, ugh, kata Ibu saya, waktu itu susternya malah sengaja mencubit saya supaya menangis. Kurang ajar!

Well, maklum, ada kepercayaan seperti ini sih : setiap bayi yang lahir pasti menangis, kecuali bayi yang lahir tanpa ruh didalamnya, atau telah meninggal ketika dalam kandungan. Hoho, saya lahir tanpa ruh?! Keren keren keren :D, oh dan juga ehm, kalau tidak salah, ada referensi kepercayaan yang menyebutkan juga bahwa, Hanya Maryam dan anaknya nabi Isa saja, yang lahir dengan tidak disertai tangisan seperti umumnya bayi yang sedang lahir, karena sesungguhnya setiap keturunan Adam katanya tuh ketika dilahirkan pasti dipegang setan. Haha, dan setannya ternyata malah tuh susternya! CMIIW lho ya, komen aja kalo mau mengkoreksi. Bagaimana? Saya sendiri masih mempertanyakan fenomena ini sampai sekarang. Hmmm. Mungkin ada yang mampu memberikan pencerahan bagi saya?

Mungkin dari sejarah kelahiran di atas memiliki dampak terhadap perkembangan psikologi saya, sehingga secara alam bawah sadar, ehm, ada sesuatu yang menuntut saya untuk berperilaku berbeda, mencari celah,  melawan arus, dan super duper gaje?!?!?

LOL

Because crying is too mainstream 😛

And open your eyes, see the world with your intuition and sense, and then think about it while considering the feelings of everyone, including yourself.