WHISPERS OF STARS

To my ear, gentle caresses came at last

Upon me, they fell from heaven past

When my stars never blink

And the clouds never bring

A curtain so thick hiding you from my longing

I told myself to shut

No breath or word let out

But my vein they throbbed

And my heart unstopped

         They refused to let me listen in peace

         Hence, I awoke with tears unreleased

                   Inside me the whispers went silent

                   Around me I felt world gone barren

                                       The heart and blood was my foe

                                       Upon cold steel I let them go

                                                 As clouded sky was torn therefore

                                                 The songs were heard once more

And with everything I parted

But with more than everything,

I was then escorted

To the stars long gone

          Beyond the night, beyond the day

          Beyond the curtain, beyond lone and beyond lorn

The Alliance

Not every power

Measured justly

Not every flower

Survived your mystery

Please, pardon my constant assertion

Regarding how weak I am

It’s an insult to the proportion

Of all the beauty in the realm

Of your unchallenged dominion

  Where, I submit there

to superstitious belief

That one day some day

I shall rise to lordship

To a throne equal

With armies evenly matched

So we can form everlasting alliance

To unleash havoc without mercy

To slay the beasts of misery

And for us, to become the cause

And for us, to ensure safety

Of our citizens, borders, and laws

And your pregnancy, of my baby

Ulasan: PK

Jarang-jarang. Banget. Nonton film dari bollywood. Ini pertama kalinya saya mengunduh sendiri sebuah film india untuk ditonton. Jadi ceritanya, pada suatu siang yang membosankan, seorang teman dari Lhokseumawe menghubungi saya. Ia merekomendasikan sebuah film berjudul PK. Sebenarnya saya sedang malas menonton film karena sedang tekun-tekunnya mencoba mengkhatamkan Silmarilion. But, what the hell, why not?  Lagipula saya mulai sebal dengan para elf di dunia ciptaan Tolkien itu; for all their wisdom and longevity, these fancy elves are too fucking obsessed with mere goddamn jewelleries. Yuck.

requ
PK ini film bercerita tentang Alien. Seorang pencuri merampas alat untuk memanggil pesawat ruang angkasanya. Bingung dan sendirian ia terjebak tak bisa pulang. Orang-orang yang ia mintai tolong memberinya jawaban: hanya Tuhanlah yang dapat membantunya. Maka dimulailah pencarian akan Tuhan melalui sudut pandang seorang alien.

boredofcoconutwater

Menyaksikan Alien ini bermanuver atas bermacam budaya dan agama yang tak hanya seakan-akan saling berkontradiksi namun juga dipaksakan kepada setiap individu, berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak dan tersentuh tersedu-sedu. It was very funny but also sad. Sampai setengah film, saya sampai berhenti sejenak untuk memberitahu teman saya bahwa film ini keren dan saya merasa sangat simpati terhadap alien ini.

label

cluelessbreaking

Alien tersebut kemudian bekerja sama dengan Jaggu, seorang pencari berita untuk mengambil alat pemanggil pesawatnya dari seorang figur ahli agama. Menurut saya, mulai dari sini, kualitas cerita agak turun. Meskipun memiliki wajah konsep yang lugu “Wrong Number”, tindak-tanduk si Alien yang diarahkan Jaggu untuk “menyerang” agama jadi seperti menodai keluguan si Alien itu sendiri. Ia menjadi boneka. Alat media untuk meraup keuntungan. It seemed to me, the aggressive public questioning was too violent for his innocent nature. Jaggu’s campaign was effective, but vulgar and annoying. Reminded me of the strong atheist’s braggadocio. This could be delivered more subtly; but, oh well, at least the message was delivered clearly.

Selain pencarian kebenaran tentang Tuhan dan keinginan pulang si Alien. Ada satu lagi unsur yang menjadi sorot utama cerita. Yakni kisah cinta beda agama antara Jaggu seorang hindu, dan Sarfaraz seorang muslim, juga campur tangan si Alien untuk menyatukan mereka berdua meskipun ia sesungguhnya mencintai Jaggu. Ah, saya sesunguhnya ingin membahas lebih lanjut tentang ini, tapi, aduh saya lapar, belum makan lebih dari dua puluh jam hahaha. Yah, pokoknya secara keseluruhan saya sangat puas menyaksikan film ini. Recommended.

Nih sedikit bocoran screenshot lagi:

donlie
Tapi kemudian, dari penghuni bumilah ia belajar untuk berbohong. Dan. Jaggu tahu ia bohong.

 

 

 

Review: Hyperion

I read the prologue and thought that I would be disappointed by the book. The words written and arranged, mostly to describe sceneries, and the acts of the character. Seemed lacking in the presentation of ideas for a sci-fi book. But when I read the awesome sceneries of Templar Treeship and the might of Tesla Tree in Flame Forest, I was convinced that, this Dan Simmons is the real deal. I kept reading, and still somewhat a bit disappointed though for different reasons.

The book itself is about a pilgrimage. A weird one, it involved a mysterious vicious creature and many death and a number of tragic events. Also, it happened when the world was about to be burned in flames of war. The seven pilgrims gathered and traveled together to the Time Tombs. The earlier banters between these people felt a bit cheesy at first, but when The Priest story unfolded, I was, WOAH, mesmerized, pretty much hooked by the book.

Each story of them are memorable. From the wonders of the flame forest, and the horror of the Bikura tribe in The Priest’s story, The Soldier’s nut-busting adventure and his magical time-manipulating mirror armor, The Poet’s bloody goddamn muse, the merlin disease of The Scholar’s daughter, the ala-matrix adventure in AI datumplane with The Detective’s cybrid boyfriend, to the love story of The Consul’s grandparents. They’re definitely rich, varied, and worth reading and rereading. Wonderful.

Even after finished reading the book, I still think about them sometimes. This afternoon, I wondered about The Consul’s grandmother and grandfather. It was almost tragic and sad when I read it at first, but something felt odd. The story of their encounter, was first, a non abnormal passion of youth, then became a myth, then became a part of subtle political machination, then a legend, and eventually a kickstart of rebellion. There were several reunion happened between them; between the shipman who flew among the stars with a time-debt that made him seem to stay young (compared to her) and the beautiful poet who stayed and waited and got old in her home planet. When was the love ended? Perhaps it never ended, perhaps it never started, perhaps it never mattered. Perhaps I need to read the story once again. Yes, this book is begging to be read and reread over again.

This reminds me of what Gene Wolfe once said in a chain letter to George R. R. Martin and Greg Benford:

“My definition of a great story has nothing to do with “a varied and interesting background.” It is: One that can be read with pleasure by a cultivated reader and reread with increasing pleasure. The business about a varied and interesting background belongs to my definition of a good story.

But. It was just that. This whole book, Hyperion, is just that. Six great background stories of the seven pilgrims. Only six? Why? The Templar was mysteriously separated from the group. No, even until the book ended, I failed to find a decent explanation about it. What about the pilgrimage? No, the pilgrimage didn’t even finish. They didn’t even encounter The Shrike yet. The book ended with these guys singing some wizard of oz soundtrack, holding hands, walking to the Time Tombs together. Yeah. Just that.

If I were the author, I would end this book by using The Templar disappearance as a device so that he would reappear at the end, with a revelation of something worthy. Perhaps, that would make the book ended in more pleasing cadence; giving readers more sense of completion though the pilgrimage didn’t actually finish.

Anyway, I admit that I love this book, despite tossing it away in anger after I finished reading it.  As I read the story after story, each added a larger perspective of the setting. About the Web, the AI, the Farcaster, the Ousters, the Shrike. They’re more than the sum of its parts. Great job Dan Simmons. Love your work.

Because of this book, perhaps, I’ll break my own promise not to buy new books until I read all of the book I already bought. But, damn, now I really want to buy and read the sequel. Yes, I’ll break my own promise for the Fall Of Hyperion.

Preview: Bulletproof -Fortified

Seorang teman menerbitkan buku. Berdasarkan pengalaman membaca tulisan-tulisan teman ini sebelumnya, saya tertarik untuk membaca bukunya. Dia kemudian memberikan saya satu kopi bukunya dalam format digital. Terima kasih!

Kisah ini dibuka dengan kehidupan sehari-hari anak-anak panti asuhan. Mereka tinggal pada sebuah puri di samping pantai. Tak jauh dari situ, ada sebuah desa. Ada pula markas militer. Ada bukit dan hutan. Setting ini menyuguhkan suasana damai nan ramah namun tetap menjanjikan suatu konflik menarik bagi pembaca.

Saya sungguh senyum-senyum sendiri membaca bagian cerita saat Mandy –seorang siswi dari panti asuhan– menyajikan tugas sekolahnya. Untuk mengilustrasikan apa beda reptil dan mamalia, Mandy menceritakan bagaimana nona cicak mengajak nona kucing pergi ke pesta dansa. Nona kucing menolak, karena saat hamil, anaknya harus dibawa-bawa dalam perut, tidak seperti nona cicak yang walau sedang hamil anaknya bisa ditinggal di rumah.

Saat membaca bagian cerita tentang Dimitar dan Strego yang berani berniat menembus hutan dengan bersenjatakan ketapel saja, saya jadi teringat sesuatu pada masa kecil saya sendiri. Saat kecil, saya suka sekali menonton film dokumentasi tentang fauna. Karenanya saya sempat tiba-tiba begitu percaya diri dan gatal ingin menangkap ular lalu memanen bisanya sendiri. Untung saja tidak ada ular liar yang benar-benar saya temui sampai keinginan itu akhirnya pudar sendiri.

Ada bagian cerita tentang bagaimana anak-anak panti sedang bermain bola lalu terlibat masalah dengan tentara. Wes, salah satu bocah panti, kemudian berlarian ke sana ke mari menyelamatkan kawan-kawannya dari tentara. Saat membaca bagian tersebut, simpati saya terbangkitkan. Khususnya terkait rasa tidak suka terhadap orang dewasa dan tentara. Ayo Wes! Lempari mereka dengan batu!

Selain kisah-kisah anak-anak tersebut, ada juga dimensi cerita yang membangkitkan rasa penasaran dan menggugah imajinasi. Beberapa yang menjadi sorot utama adalah tentang Dimitar dan Wes. Dimitar mampu meramalkan kejadian hujan-hujan serangga dan berbicara dengan bintang di langit malam. Sementara Wes memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, orang-orang menuduhnya android. Settingnya, walaupun di tempat yang jauh dari keramaian kota, memberikan indikasi-indikasi bahwa teknologi di dunia tersebut menyentuh ranah Sci Fi.

Sesungguhnya jika satu buku ini hanya bercerita tentang anak-anak panti itupun saya sudah senang membacanya. Namun kalau diperhatikan dari simpul depan, juga bagian-bagian cerita yang menyiratkan suatu konflik besar, cerita ini sepertinya akan berkembang menjadi kisah-kisah penuh aksi dan pertempuran. Saya belum membaca buku format digital ini sampai selesai, dan tidak akan saya selesaikan. Kenapa? Karena saya berniat melanjutkan membeli dan membaca buku ini dalam bentuk hardcopy secara langsung!

Sang penulis telah mampu membawakan kisah-kisah sederhana tentang keseharian anak panti asuhan dengan menarik. Saya percaya sisa cerita yang akan saya lanjut baca dalam hardcopy nanti akan tidak kalah menghibur.

Kamu penasaran? Mau menjajal bukunya juga? Mau beli langsung? Di mana?
Bisa di sini: Bulletproof – Fortified.

Siapa Kamu?

Kamu bukanlah adalah

Tiada adalah yang tepat bermakna

Kamu yang tiada berbukan

Adalah makna-makna haus syarat

Yang lewati celah ganda bagai partikel

Membentuk interferensi bagai gelombang

Mewujud senyata-nyatanya jawaban

Di balik pertanyaan yang kusimpan

Bersama kucing dalam kurungan

Abstraksi Sang Fisikawan

Hasil Survei Naga

Saya iseng menghabiskan weekend saya untuk melakukan sedikit survei tentang naga. Saya penasaran, kira-kira, dalam pikiran orang, naga apa yang dianggap paling kuat? Naga apa yang paling bijak? Naga apa yang paling berkesan? Maka dengan muka tembok, saya serbulah secara acak manusia-manusia di media sosial.

Masih banyak yang belum menjawab, namun saya rasa cukup segini, toh polanya sudah agak terlihat, lagipula ini bukan survei akademis. Iseng aja. Begini hasilnya.

strongest

Dari 78 data masuk. Pada bagian Naga Terkuat, posisi pertama diduduki oleh Smaug dengan suara 12%, sementara posisi kedua diduduki bersama dengan perolehan suara 8% oleh naga berikut: Acnologia, Ancalagon, Jormungandr, dan Shen Long.

The Wisest

Sementara pada bagian Naga Terbijak, dipimpin dengan telak oleh Paarthurnax yang mencapai suara 23%, dibelakangnya Bahamut dan Shen Long dengan masing-masing memperoleh 7%.

most memorable

Gelar naga yang paling berkesan, diraih dengan suara 15% oleh Smaug, dibuntuti oleh Shen Long dari Dragon Ball Z dengan 11%, lalu dibuntuti oleh Fafnir, Bahamut, dan Alduin dengan suara masing-masing 7%.

Dari semua nama naga yang disebut saat survei, ada dua yang sama-sama paling banyak disebut. Yang satu naga dari timur, yang satu dari barat. Yang satu dari serial televisi animasi, yang satu dari film yang diangkat dari buku. Shen Long dari Dragon Ball Z, dan Smaug dari The Hobbit. Kemudian disusul bersama-sama oleh Bahamut dan Paarthurnax, lalu ada Alduin mengejar di belakang.

most mentioned

Kesimpulan seadanya dari data seadanya:

Kepopuleran seekor naga, mampu membuatnya terlihat paling kuat. Ancalagon, naga terbesar dalam dunia ciptaan JRR Tolkien baru mampu dikalahkan dengan kapal Earendil yang dipersenjatai oleh Silmaril langsung, itupun dibantu pula dengan burung Manwe. Sementara Smaug yang hanya digugurkan oleh seorang manusia, mampu meraih posisi pertama naga terkuat.

Meskipun sama-sama paling banyak disebut dalam survei, Shen Long dari seri Dragon Ball Z tercinta gagal menjadi pemuncak kategori manapun. Seiring waktu ingatan-ingatan masa kecil akan tergerus dengan terus datangnya hiburan-hiburan baru dalam berbagai bentuk. Tapi, satu keunggulan Shen Long dibanding Smaug adalah Shen Long berhasil dominan masuk ke setiap nominasi yang ada, bahkan ke nominasi Naga Terbijak, meski masih kalah dengan Paarthurnax dari Skyrim.

Sementara itu, Paarthurnax bisa dibilang memiliki karakter yang paling kuat dan spesifik. Dibandingkan dengan naga-naga lain dalam kategori masing-masing, Paarthurnax memuncaki naga terbijak dengan telak. Ia duduk di puncak gunung, memimpin para Greybeards. Menghabiskan sisa hidupnya merenungi kejahatan masa lampau, bertanya, “What is better  –  to be born good, or to overcome your evil nature through great effort?”

Salah satu tujuan saya melakukan survei ini adalah mencari referensi naga-naga untuk dipelajari, dan dijadikan sebagai model dasar untuk pengembangan konsep naga saya pribadi. Dengan ini saya sekarang mulai memiliki sedikit bayangan tentang naga-naga seperti apa yang akan saya ciptakan untuk proyek ke depan. Ada baiknya jika saya mempertimbangkan kembali niat untuk menciptakan konsep naga terkuat lalu mengalihkan fokus penciptaan ke naga-naga yang berkesan.

Terima kasih.