Ruminations On Lost Love: A Calamity and A Miracle

Saya sudah merencanakan, dan menulis sebagian tulisan ini dari akhir September. Tadinya saya hendak menulis berbagai “good reason” sebagai alasan untuk menulis ini. Mulai dari sebagai “memberi pigura pada memori” hingga “litmus test sore-loserness-of-my-mental-state”.

PRET.

In the end, there are always only two shits, the good reason and the real reason. The real reason, the wrenching urgency, for me I realize now, is just simply to unleash these beasts that oppress my mind. Couldn’t let it be, couldn’t let it live any longer, they’ve been taking up so much space in my brain’s Random Access Memory. Haha. Jadi. Silakan membaca. I’ll try not to worry too much about what readers might infer from this piece of shit I’m about to tell. Whatever!

Akhirnya terus tertunda sampai tahun berganti. Nice. What a delay. Tertunda secara sengaja dan tidak sengaja. Menanti diri ini menjadi cukup distant supaya mampu menggambarkan dengan lebih objektif. Susah. Mau ditunggu sampai mampus juga sulit. Dalam rentang waktu sejak awal niat tulisan ini dipikirkan hingga terus tertunda sampai sekarang, terjadi sesuatu dalam diri saya. Dari yang awalnya stabil, perlahan bergerak ke semacam emotional roulette, lalu bergulir menuju stabil lagi. Kalau diilustrasikan dengan kurva, mungkin seperi kurva Law of Diminishing Return. Semoga saja tidak naik turun lagi nanti, jadi seperti kurva sinus dong ya kalau begitu.

Sebelumnya, saya minta maaf kalau-kalau ada yang menyinggung perasaan. Juga mohon maaf kalau misalnya kebelang-belangan bahasa pada tulisan ini mengurangi kenyamanan membaca anda. Kadang, untuk menjaga jarak dengan emosi, menulis dalam bahasa inggris itu cukup membantu lho; sepertinya dulu saya pernah membaca ada riset yang menunjukkan hal ini—respon emosi lebih dekat ke bahasa induk dibanding dengan bahasa lain yang dipelajari setelahnya. Semoga tulisan ini tidak berdampak jelek, semoga cukup jujur dan jelas. Thanks for reading.


KEGERAUAN

10599155_774435805948896_482793742409666787_n

This is true. But when the other one is actually braver. I’d be reduced to a scared little cat. Hissing fearfully. Almost crying. Because it’s too good to be true and there’s a big chance I’m just being played at. I tried so not to give in. I really did.

Awalnya saya berusaha mengabaikan,  mendinginkan diri, dan berusaha tidak tertarik. Bahkan sampai dia pernah bertanya kepada saya, apakah saya homosex atau straight, haha. Kemudian karena merasa sangat cocok dan memiliki banyak keselarasan jalan pikir, saya mulai berani lebih menerima interaksi itu. I think it’s fair to say that we respect, admire, and even “fear” each other, in similar ways. Like a truthful mirror that shows not only the nice things, but also the ugly. Momentum penting yang perlu digaris bawahi adalah ketika pada suatu waktu, percakapan “spekulatif” dengan nada bercanda terjadi: ia bertanya, apakah saya mau menjalani pacaran dengannya, yang waktu itu saya jawab entah.

Dikombinasikan dengan berbagai faktor lainnya sesudah percakapan bercanda itu, saya jadi semakin menderita “kegerauan” yakni galau akibat geer. Kegerauan itu pun lama-lama berubah menjadi bola salju raksasa yang terus menggulung menakutkan. Saya orangnya cenderung berpikir berlebihan terlalu jauh, sehingga karena pikiran-pikiran saja saya sampai jatuh sakit waktu itu. Sungguh mengerikan rasanya, diri saya terasa sangat lemah, pusing, panik, dan tak berdaya melawan akumulasi emosi. Sebelumnya tidak pernah saya sama sekali merasakan perasaan sampai sejauh itu, sampai saya sakit! Makanya saya, dengan enggannya, berani untuk menyebut itu sebagai “cinta”.

Ada kutipan yang cukup mengilustrasikan kondisi saya waktu itu: dari Paulo Coelho in The Zahir: A Novel of Obsession:

“Love is an untamed force. When we try to control it, it destroys us. When we try to imprison it, it enslaves us. When we try to understand it, it leaves us feeling lost and confused.”

Karena waktu itu tanggal sudah dekat menjelang Tes Kompetensi Dasar yang harus saya jalani, saya harus segera sembuh. Maka dengan nekat saya coba tuntaskan segala kegerauan dengan mengungkapkannya dalam sebuah surat.

Ada beberapa pihak yang saya konsultasikan terkait keputusan ini. Salah satu yang cukup berperan besar dalam mendorong saya bergerak adalah pesan dari Kimi. She told me:

“You could push her away and continue to wonder… But would that be a decision you might regret sometime later in life? You could see how it goes. Maybe it will turn into a beautiful whirlwind romance, maybe you’ll get to know each other even more and she won’t like you or you won’t like her, maybe you’ll be together forever, maybe you’ll last a few weeks, months, or years.

“Maybe you’ll break her heart, or maybe she’ll break yours. You can’t predict the future because humans are complex and the universe is in chaos. What you can do, however, is make choices and act on them. But that is entirely up to you and what you feel comfortable with.”

And I acted on it. I sent it. Bagaimana responnya terhadap surat saya? Menurutnya, surat saya itu adalah surat cinta terbaik yang pernah ia terima; ia bilang saya sinting dan membuatnya sangat terkejut, tapi malam itu ia juga bilang bahwa ia tidak bisa berhenti tersenyum. Sayapun turut berbahagia.

vast-499x600

Mungkin saya bisa berhenti sampai di situ saja, toh saya sudah cukup lega mengeluarkan isi kepala, tapi insting purba memaksa saya untuk menulis surat tambahan keesokan harinya, surat untuk memintanya jadian. Voila, 20 Agustus 2014, cinta pertama saya diterima, dan tak lama setelah itu segala psychosomatic ailments saya turut sembuh. Thanks a lot. The whole thing was really a surprise and also a miracle for me. Should I thank my ailments or the test or her?

Bisa dibilang memang keputusan saya waktu itu memintanya jadi pacar adalah keputusan yang tidak rasional (ia sendiri bilang begitu) dan terburu-buru. Reckless. Gegabah. Ya, memang. Tapi saya sudah punya beberapa pertimbangan sendiri yang membuat saya berani nekat.

10625128_284669745062900_7406565683691539770_n

But.

In the end …


EKSPLORASI DIRI

Pertama-tama waktu itu saya mensyukuri keberanian mengambil risiko mengutarakan perasaan. Saya sendiri tidak pernah menyangka mampu melakukan hal seperti itu. Tak perlu disesali. Tak perlu. Waktu itu juga pertama kalinya otak saya benar-benar mampu memikirkan manusia lain bahkan sampai tubuh jatuh sakit. Sebelumnya, kadang saya merasa aneh karena sering malas memikirkan orang lain sama sekali, bahkan kematian-kematian orang yang dikenalpun, bahkan kerabat, bahkan kematian Kakek saya sendiri terasa hanya sebagai statistik, padahal saya cukup dekat dengannya karena pada saat SD dulu pernah beberapa tahun tinggal di rumah Kakek. Dengan pengalaman ini saya bersyukur dapat mengeksplorasi lebih jauh sisi dalam diri saya yang lebih manusiawi dan umum. Teman sempat berkomentar, syukurlah berarti saya masih cukup normal bisa mengalami derita seperti itu hahaha.

Saat menjalani hubungan, saya juga mulai terus menemukan sisi diri saya yang lain lagi. Saya jadi mampu khawatir pada orang lain; meski mengganggu ketentraman batin, otak ini bersikeras, untuk khawatir tentang kuliahnya, tentang kesehatannya, tentang kebahagiaannya. Ugh, it was goddamn weird, I both disliked and liked it at the same time; saya senang karena bisa mampu merasakan keinginan untuk peduli, namun juga lemas karena saya merasa tak punya cukup kuasa untuk memberikan pengaruh yang berarti. So powerless, so weak, couldn’t do anything significant to help her, because I was and am still just a long streak of nothing.

There’s more. At some point, when she was accused of something bad by her parents, I was crying silently. Saya waktu itu masih dalam perjalanan pulang dari sebuah acara makan-makan bersama tante, masih di dalam mobil, tapi saya tidak sanggup menahan tangis, padahal belum tentu dianya sendiri sampai menangis. What The Hell. Entah, mungkin karena saya juga pernah dituduh hal buruk, atau memang sangat cengeng saja sampai menangis begitu, entah. Yang jelas waktu itu tidak saya ceritakan ke dia kalau saya menangis. It might sounded as a lie and a mere exaggeration; but it actually happened, and I was totally perplexed. Weird huh? Well, uh, fyi, I cried watching an episode of Digimon Adventure when Gabumon evolved to Garurumon because Matt was being tortured by Seadramon.

Juga rasa rindu yang mengerikan. Seakan berjalan menanjak mendorong batu-batu raksasa. Seperti kerasukan. Saya kesulitan bernapas. Saya kira dahulu ungkapan-ungkapan “separuh napas” pada lagu-lagu cinta jijay itu hanya hiperbola, tapi ternyata bukan. Namun, karena demi mengalihkan diri dari derita rindu, saya jadi mulai sedikit hobi berolahraga, yah, contohnya saat saya menghabiskan sisa uang lebaran untuk rutin berenang, setelah uang habis lalu bersepeda, dan bahkan setelah sepeda saya rusak waktu itu, saya putuskan untuk memaksa diri untuk menggunakan kaki saja. Bahkan terkadang saat sedang puasa sunahpun, untuk menenangkan diri, pagi dan sorenya saya berjalan kaki masing-masing dua jam. Lalu ketika jadwal mulai sibuk, saya ubah waktu jalan kakinya ke malam hari (meski belakangan ini jadi semakin susah karena malam sering hujan dan badan sudah terlalu kecapekan setelah pulang kantor). Selain itu, ketika misery dan rindu terkadang tiba-tiba menggulung jadi tsunami setelah putus, saya bahkan sampai mampu berjalan kaki sampai lebih dari 40 km (https://www.endomondo.com/workouts/463235208), yaitu perjalanan pulang-pergi rumah saya di Jatibening hingga sekeliling daerah dekat kantor pusat kemenkkeu di Lapangan Banteng. Because, in the face of exhaustions, the soul stop screaming for her, instead, it asked for food, drink, and rest.

Seperti apa kata Van Gogh, “Love always brings difficulties, that is true, but the good side of it is that it gives energy.”

Selain itu. Saya yang super pemalas ini, juga sempat terpaksa memikirkan hal-hal tidak nyaman terkait tanggung jawab (jika hubungan waktu itu bertahan sampai jauh). Saya selalu, berpikir bahwa apa-apa yang bapak saya lakukan itu repot sekali: mengurus keluarga, membangun rumah, mengurus berbagai surat identitas keluarga, dan bersosialisasi di masyarakat. Ugh, belum kalau tiba-tiba atap bocor, antena terganggu, ac rusak, pompa air rusak, ibu sakit, yak ampun tanggung jawabnya. Saya kalau bisa inginnya sih tidak mau hidup serepot itu, urus diri sendiri aja belum bisa, tapi, tapi, tapi … mungkin, kalau demi orang yang penting bagi diri saya, saya akan mau. Mau. Yeah, but, damn you brain, I was just being too optimistic, thinking too far ahead, kalau di lagunya Muse nih, “hopes and expectations, black holes and revelations,” hahaha. But still, I really enjoyed the thoughts, and so glad I was able to think like that, even if it was just for a moment. I thought I’d never bother with that grown up stuffs; I thought I’d keep myself only to the vision of dying as soon as possible and as lonely as possible in somewhere far away where none of my friends or families could reach me. Well, now I’m considering that direction again. Kalau fantasi saya sih, inginnya mati di puncak gunung yang ada esnya.

Saya yang sebelumnya sangat tidak suka dengan lagu cecintaan umumnya, berubah menjadi lebih toleran, bahkan jadi cukup suka, khususnya kepada lagu-lagu sedihnya. Tak hanya itu, lagu-lagu yang dahulu hanya saya dengar karena suka musiknya saja, kini dapat saya cerna dengan perspektif baru. Rasanya seperti ada sebuah mata yang baru saja terbebas dari kelopaknya.

Dari “people.howstuffworks.com/breakup-song1.htm” saya simpulkan bahwa mendengarkan musik semacam itu memang benar-benar dapat berdampak baik dalam proses meringankan sakit. Oleh karena itu banyak lagu laku di pasaran yang bertemakan hal itu, toh karena memang demandnya tinggi, dan memang berdampak meringankan.

Berikut merupakan sebagian musisi dan lagu-lagu yang cukup berjasa dalam menemani saya, siapa tahu ada yang butuh rekomendasi, silakan. (Oh ya, keep in mind, lagu itu interpretasinya sangat subjektif, mungkin yang bagi orang lain bukan lagu sedih, bagi saya lagu sedih, vice versa):

– The Beatles: I’m A Loser, Yesterday, For No One, I’m Looking Through You, You’ve Got To Hide Your Love Away.

– Elvis Presley: A Fool Such As I, Heartbreak Hotel, Hurt, Kentucky Rain, You Don’t Have To Say You Love Me, They Remind Me Too Much Of You, My Baby Left Me, Separate Ways.

– Frank Sinatra: I’ve Got You Under My Skin, What Now My Love, Goodbye (She Quietly Says), Can’t We Be Friends?, Glad To Be Unhappy, One For My Baby (And One More for the Road).

– Coldplay: Warning Sign, The Scientist, Magic, Trouble, True Love, Ink, The Hardest Part, Fix You, In My Place, Swallowed In The Sea, Ghost Story, A Sky Full Of Stars, Oceans.

– Ed Sheeran: Bloodstream, Drunk, Give Me Love, The Man, One, Don’t, Don’t Think Twice It’s Alright (Bob Dylan Cover), Thinking Out Loud.

-Muse: Starlight, Supermassive Black Hole, Time Is Running Out, Falling Away With You, Hysteria, Map Of The Problematique, Big Freeze, Sunburn, Apocalypse Please, Madness.

-The Script: Six Degrees Of Separation, Exit Wounds, If You See Kay, Nothing, Deadman Walking, The Man Who Can’t Be Moved, Glowing, If You Ever Come Back, Broken Arrow, No Words.

– Kumpulan Soundtrack Fallout New Vegas: It’s A Sin, Something’s Gotta Give, Blue Moon, Heartaches By The Number, Where Have You Been All My Life?

– Beberapa lagu lainnya: The National – Sorrow, Roy Orbison – In Dreams, Otis Redding – I’ve Been Loving You Too Long, Bob Dylan – Don’t Think Twice It’s Alright, John Legend – All Of Me, The Carpenters – Goodbye To Love, Crown The Empire – Makeshift Chemistry, Josh Groban – When You Say You Love Me, Phil Collins – Against All Odds, 5 Seconds Of Summer – Amnesia, Emarosa – Live it Love it Lust it, Dir en grey – Glass Skin, dan lain-lain.

Oh ya, selain itu, saya juga jadi terseret arus emosi untuk membuat lagu-lagu gegalauan. Sejauh ini baru jadi dua, Broke My Promise (https://soundcloud.com/smith61/broke-my-promise) dan You Rhyme With Misery (https://soundcloud.com/smith61/you-rhyme-with-misery). Broke My Promise itu tentang gagal menahan diri untuk tidak bersedih-sedih lagi. You Rhyme With Misery itu tentang niat untuk menyabotase perekonomian dan merusak kehidupan bermasyrakat sebagai luapan emosi negatif. Ada satu lagi yang sudah jadi konsepnya di dalam kepala, namun belum sempat dibuat, tunggu saja.

Bersedih-sedih itu memang menyenangkan dan mengasyikkan bukan?

Lirik lagu Frank Sinatra yang ini sepikiran dengan saya:

Unrequited love’s a bore, and I’ve got it pretty bad

But for someone you adore, it’s a pleasure to be sad

Like a straying baby lamb, with no mammy and no pappy

I’m so unhappy, but oh, so glad!

–Frank Sinatra, Glad To Be Unhappy

Intinya, saya banyak belajar mengenal diri sendiri lagi lebih jauh dengan pengalaman ini. Lebih membuka diri pada emosi dan pikiran yang sangat alien bagi saya. Bing, teman saya mengiyakan perubahan ini, katanya, “Sejak lu jadian ma dia, lu jadi lebih peka sama orang lain. Biasanya kalo lu ditanya apa, diajak diskusi, lu jawabannya nyuruh orang lain mikir atau nyari ke google. Jadi lebih terbuka gitu lah dan komunikatif.”

Semoga momentum perubahan itu terus bergerak, tidak berhenti atau berbalik arah. I don’t want to walk away only to find myself turning to something worse.

“Writing does not cause misery. It is born of misery.”

-Michel de Montaigne-

Oh ya, satu lagi contoh hal yang membuat saya merasa bahwa segala ini cukup bermanfaat adalah, saya berhasil lolos menang sayembara suatu kumpulan cerpen untuk pertama kalinya, dan cerpen itu terinspirasi olehnya.

10150614_10203985184413856_3532023384969442390_n 10991334_10203985184453857_618474668990363013_n

Yeah, bersyukur sekali saya ini punya hobi menulis, jadi derita ini tidak menjadi hal yang sia-sia, bahkan bisa jadi alat eksplorasi emosi supaya mampu menulis lebih baik.

“Whatever happened to me in my life, happened to me as a writer of plays. I’d fall in love, or fall in lust. And at the height of my passion, I would think, ‘So this is how it feels,’ and I would tie it up in pretty words. I watched my life as if it were happening to someone else. My son died. And I was hurt, but I watched my hurt, and even relished it, a little, for now I could write a real death, a true loss. My heart was broken by my dark lady, and I wept, in my room, alone; but while I wept, somewhere inside I smiled. For I knew I could take my broken heart and place it on the stage of The Globe, and make the pit cry tears of their own.”

― Neil Gaiman, The Sandman, Vol. 10: The Wake


BEING SPARED?

I was spared by her. I could see it as an act of mercy. I could, yeah, I could.

I was released from most of my anxieties, from all the uncontrollable uninvited excessive empathy. Relieved from all obligations I thought I had to follow later on. A lot of speculative weights unburdened from my back. And I could return to my own journey towards anything as ugly as I wanted it to be. It’s not that I don’t care anymore, it’s just, I think she has enough, her family, her friends, and someone whom she said loves her very much. She also spared me from doing some reckless things that I had already planned back then. And by dumping me like that, she gave me the moral high ground, thus, she freed me from any potential guilt if this had ended the other way around. Are these enough reasons for me to accept this separation to just let it go?

At first, yes. Really. I thought it was a good mutual ending. She even gave me a really great and precise logical explanations. As a being who appreciates logic, I applauded her way of thinking and accepted it. I was fine. We were done. In a good way. But my intuition kept telling me that there was something a bit off. And yes. There was actually several things she had hidden. While it’s not a lie, I see it as a sin of omission. What hurt me most is not the things she had hidden from me, but the thing she had hidden from “the other man”. Ugh, it’s already too much details and I’m not gonna tell the rest, but here’s my impression: more or less it was something I could accept as fair, but, unfortunately, in my view, it’s unethical. Like a curse, that little taint alone managed to corrupt the good ending into something far more painful. It makes me feel so small and so meaningless.

The Beatles’ You’ve Got To Hide Your Love Away illustrates this existential misery quite properly:

Here I stand, head in hand, turn my face to the wall

If she’s gone I can’t go on, feeling two foot small

Everywhere people stare, each and every day

I can see them laugh at me and I hear them say,

Hey! You’ve got to hide your love away!

Hey! You’ve got to hide your love away!

                                                    

Blame and Introspection

          When I asked her what should I tell my friends if they asked about this separation, she allowed me to blame it on her unstability. But things are far more complicated than that. Me too, got a fair share of mistakes myself. And merely blaming her would makes me feel far smaller, far more meaningless, and totally insignificant passive being.
“What is life’s greatest illusion? Innocence, my brother.”

―Dawnstar Sanctuary Door.

Yes, I was too weak. If I were strong enough, I’d just let things stay cold back then, I’d not let my icy walls melted away, I’d not let myself to write that love letter. But hey! It’s a mistake all people got to make in their lifetime, and I’m glad I made that mistake; I blame it, but I don’t resent it.

There is a bit darker side to that mistake though. Back then, I was interested in politics, it was the time when the presidential election was so popular. In the pursue of my interest, I came upon an interesting book titled, “Thank You For Arguing” written by Jay Heinrichs. It’s a book about rethoric, and by reading it and observing the situation, I understood how Jokowi would triumph through his ethos as a weapon, beating Prabowo along with his logos and pathos. Other than that, I was also very eager to test my rethoric comprehension on writings.

When she came closer to my life, approaching me, and sparked madness in my mind, not only it gave me some psychosomatic ailments, it also gave me the push to apply my rhetoric knowledge into the love letter I wrote. No. No. No. The letter wasn’t filled with lies, it’s an honest letter, I just composed and arranged the words according to some rethoric theories. It served as a silly parameter regarding my rhetoric comprehension; whether I could get her as a girlfriend with my wordcraft or not. And I got her, for a while. Well, while it’s just a fragment of the whole thing, it’s definitely a critical decision moment.

Damn it, Frank Sinatra’s I’ve Got You Under My Skin really really portrays all of this appropriately.

I’ve got you under my skin.

I tried so not to give in.

I’ve said to myself this affair, it never will go so well.

But why should I try to resist when baby, I know damn well,

That I’ve got you under my skin?

I’d sacrifice anything come what might,

For the sake of havin’ you near.

In spite of a warning voice that comes in the night,

And repeats, repeats in my ear,

“Don’t you know you fool, you never can win?”

 “Use your mentality.”

“Wake up to reality.”

But each time I do, just the thought of you makes me stop,

Before I begin, because I’ve got you under my skin.

Sigh. There are a lot of factors that I already knew would made my love beaten to pulp.

One of the biggest factor is: I’m in a “difficult background”. I came from a strict religious family, and even though I never told my family about this, I knew they’d probably against us. Even IF we’re from the same creed, my family would against dating anyway, and the fact that we’re from different creed made it so fucking worse. I already gave her some picture about this bad situation I’m in before I sent her that letter, so when she accepted me, it’s quite logical for me to thought for a while that she’s comitted to fight along with me on that difficult road; and back then I felt really bad about draging her with me.

Considering the obstacles, I thought I had to prepare as if it was a grand political campaign; to make the relationship turns into a vivid argument, a living tool of rethoric, in past, in present, in future, in ethos, in pathos,  in logos, and in kairos, to make the connection fruitful and enhance our growth into far far better individuals (this way, even if our plan thwarted, the effort itself would be enough as a reward; it’s a win-win campaign). I also may use some issues within my family as an extra persuasion tool, for example: my aunt sometimes treated my grandmother like shit, and the fact that my aunt’s relationship with her ex of different creed was not supported back then, might play part in her hostility, this, I could use against my Mom since she’s been constantly warning me not to grow up like my aunt. But then, like I mentioned before, I was spared by her mercy from all the reckless things I might have done to struggle on that difficult path.

I blame myself in this part, I knew all along that doom was almost certain, and I tried to drag her along with me on the account of my selfishness. When she dumped me, she said it’s too risky. Oh, well, I do agreed with her, but still, I was suffocated in a mix of crushing disappointment and awkward reluctant gratitude.

Another great factor of doom is my inherent lack of quality.

10622838_704733282934705_6796688207787357116_n

Who am I compared to her exes? Compared to the regiments of gentlemen chasing her? Compared to “the other man”? Nothing but a mere compound of ashes, dusts, sands, and dirts. Though I’m under contract to serve later in Ministry Of Finance, I was essentialy jobless, and moneyless at the time. I also lacked the resources and willpower to actually reach her. I was also a fucking retard in expressing my affection, shy and awkward; clueless, helpless, so so so much less. I could go on and on to tell you readers about my unattractive traits, but that would bore you, so I’d rather stop now. In short, I wasn’t ready for love, I wasn’t ready to love. Goddamn it.

Analogy!

Ada beberapa analogi yang hendak saya sampaikan.

Anda tahu Pokemon? Magikarp?

New Picture (1)

Magikarp! Famous for being very unreliable. It can be found swimming in seas, lakes, rivers, and shallow puddles. Whoever its opponent, and however horrible the attack it receives, all it does is Splash around. An underpowered, pathetic Pokemon. It may jump high on rare occassions, but never more than seven feet. Its swimming muscles are weak, so it is easily washed away by currents. In places where water pools, you can see many Magikarp deposited by the flow. It is virtually worthless in terms of both power and speed. It is the most weak and pathetic Pokemon in the world.

bAIEr6qDSzKGnXgrwK0b_-Diver+used+bubble+-+it+s+super+effective+_c761583015c75eb3b2ee864fb9e9d655

I feel like a Magikarp that once had been captured by a trainer (her) but eventually thrown away. I had high hope that she would trained me, partnered with me, helped me leveling and evolving into a Gyarados. But before that happened, she gave up on me, threw me back into the wild because I was just taking up space she could fill with any Pokemon far cooler and more useful than me. That’s fair. Okay. Now I have to Splash around alone like a damn right weirdo I am, trying pathetically to become a Gyarados by myself though its odd is very small.

Cukup.

Sekarang analogi yang sedikit lebih baik. Pada suatu hari di sebuah pantai.

BillabongXXL06GerlachTodos_622

Saya sebagai seorang pengunjung pantai biasa saja. Hanya sedang berenang santai di air dangkal. Overweight and definitely tidak bisa berselancar. Namun tiba-tiba saya melihat sebuah ombak yang mulai menggulung. Dan kebetulan ada sebuah papan selancar entah punya siapa menyenggol-nyenggol saya.

Suara gulungan ombak itu menyapa jantung hingga berdebar. Aroma asin laut mendadak jadi begitu tajam hingga lambung bergejolak. Terpesona, otot leher tegang, bulu kuduk berdiri. Mengepalkan tangan. Menggertakan gigi. Dengan gegabah berlari menerjang ombak besar tersebut. Mencoba berselancar dengan papan temuan dan modal nekat. Tentu saja hal itu berujung dengan diri saya terbanting, tergulung, bonyok, dan menenggak begitu banyak air asin yang bercampur darah.

Apa yang sebaiknya dilakukan? Tentu saja segera bangkit lalu berenang kembali ke daratan, jangan berlama-lama terseret arus dan tenggelam! Tapi apa daya, saya ini orang bodoh, entah ada rusak apa di otak ini, masih saja, membatu menikmati basahnya paru, kembungnya lambung, dan membirunya kulit.

Satu analogi lagi.

Sebagai balasan atas panggilan “Ebola”nya kepada saya, saya sering menjulukinya sebagai “Ruh Jahat”.

New Picture (2)

Bisa dibilang memang saya menyebutnya ruh jahat karena saya sudah memperkirakan kemungkinannya akan berakhir seperti ini. Bisa dibilang itu sebagai upaya supaya ketika akhirnya terjadi, setidaknya sudah lebih siap sakit, meski tetap sakit. Namun sebenarnya ada sudut pandang yang lebih saya sukai.

Saya, berperan sebagai entah druid, entah shaman, entah necromancer, entah summoner, atau apapun lainnya yang mampu mengkidungkan mantra sihir ke alam. Menjeratnya –-ruh jahat– ke sisi saya. Dan ketika akhirnya berakhir, anggap saja, saat itulah saat saya kehabisan energi sihir. I was out of manna!

10615442_810975308952666_6411479948448348786_n

A young apprentice in the way of magic once tried his hands on Necromancy. Trying to spellbind an evil spirit to his side, he sneaked his way to the Forbidden Graveyard somewhere near the Valley of Solemn Thoughts. The binding was a success at first. And it gave him not only joy. But also agony. Because he realized his mana pool was too small, and its rate of regeneration was too inadequate; in short, he knew one day his mana would be depleted and the spirit would soar away from him. But it’s a good experience. He took risks, and he did it in his own way. And he was, grateful.


 

FUTURE?

If you paid attention to this post, you now know that my family didn’t know anything regarding my relationship. I also didn’t have any close friend nearby at arms reach. Thus when the sorrow conquered me, I was helpless, I had to hide from my family when I needed to weep. One thing I could do was spamming my online buddies with my sorrow (thanks guys, and sorry if I was being a nuisance!). One of them that I trusted to talk about this was David McElroy, he’s a writer, and he responded my messages with an article he published on his website. Here is the link: http://www.davidmcelroy.org/?p=20269

elroya

He disguised my name into Josh. There are some excerpts I’d like to highlight here:

“So what do you do? You let yourself cry. You feel the hurt. You grieve with a pain that’s just as bad as losing someone to death. And then you slowly start to heal. Very slowly, in many cases.

[…]

“But at some point, you’ll love again. When that happens, the world will seem bright and shiny and new again. You’ll be happy and joyful again.

“That love might or might not last, so I’m not promising it will be any better. You might be hurt again. But there might very well come a day when love comes and stays, when there’s someone you can trust and love and be happy with.

“I can’t make any guarantees that it will happen. I can only say that it’s worth pursuing.

“Love isn’t rational in any of its forms. It will make you do irrational things at times. But love will change you and give you what your heart most needs. It’s worth pursuing — and going through the hurt.

“Have faith in love. It’s the only thing that makes life worth living.”

Pada 4 Agustus 2014, saya pernah me-reshare sebuah gambar bertuliskan, “If you could write a note to your younger self, what would you say in only two words?” Saat itu, Michael Ferguson, Principal di The Polymathic Institute memberikan saran, “Avoid girls.”

*sigh*

CRAP. I don’t know. I’m not sure what to do anymore. Other than occasional weeping, maybe I’ll try not to do anything. Yes. Untill I’m completely calm, until I could handle the “difficult background” I’m in. I think I’d just try to murder every love away. But really, as I have mentioned before, I was spared from the speculative weights in my over-imaginative mind. But that weight was also the one that forced me to think bigger, harder, riskier, it gave me courage and shit and greater desire to live, so David was right when he said love makes life worth living. But I hope, l really hope it’s not the only thing. Please. Dog. I mean God. Don’t make it the only thing. Oh, maybe I could try hatred. Maybe with hatred I could grasp more desire to live? But maybe no; my life is already filled with enough hatred, and I’m still a dumb slowpoke sloth.

I used to disdain people’s infatuation with love stories. I used to look down on people who’re involved in storm of romances. I thought that they’re so weak that they need other parties to feel great. Now I know the pain of losing, I applauded them all. Salute, for those who never give up on trying to find their best match. It’s so fucking painful, yet, these people are all so brave, risking themselves on the open.

I once read a book about Math. It mentioned a story about Thales of Miletus. Though there’s no hard evidence whether this account is true or not, it’s an amusing read regarding love:

His “fatherhood” of demonstrative  mathematics  notwithstanding, Thales never married. When Solon, a contemporary, asked why, Thales arranged a cruel ruse whereby a messenger brought Solon news of his son’s death. According to Plutarch, Solon then began to beat his head and to do and say all that is usual with men in transports of grief. But Thales took his hand, and, with a smile, said, “These things, Solon, keep me from marriage and rearing children, which are too great for even your constancy to support; however, be not concerned at the report, for it is a fiction.”

Yep. What a cruel prank Thales did just to illustrate the pain of loving.

It seems to me. Love exists (mostly) in a war zone, reserved only for the tough, the strong, the brave. Because it’s more frightening than politics; filled with fallacies, biases, frauds, self-deceptions, and unfortunate timings. It resides in a supermassive black hole where even great minds such as Nietzche fell, and Napoleon maddened!

Fucking scary huh? Weakling like me would get bullets burried within my ass, head separated from my shoulders, fireworks on my intestines, in no time. WORSE, it doesn’t kill! I didn’t die. I survived the meteor shower. But. Well. Hmmm. Maybe I’ll just adhere to Michael Ferguson’s word. *sigh*

It’s worse, because by every sip of air to these charred lungs, I feel obligated to learn, to thrive, to march onward, but I know it’s tiring, I don’t want to be tired, shit, I don’t know shit, it’s so primal, framed structured madness, automatic chaotic intentions, whatever ever been so keen of fever. Goddamn it. Stop. Brain. Stop.

Good.

Okay. One other thing I’d like to say is my disappointment towards my way of thinking. As you read along and as I re-read this piece whole patches of abomination over and over, I conclude that I’m such a fool. I rely on external forces such as “the difficult path” and the presence of “love” from other person to grow. Why? Why didn’t I just want to grow just for myself? Why am I too easily pleased with what I have now? Why am I living too small? Bloody hell. It’s a thing I have to work on. I’m lacking passion. I’m lacking fire to pursue big things. I aim too low. I don’t want to stand up for anything. I don’t want to stand up for myself. As if I just want to lay down, drowned in my own piss, burried and choked by my own feces, smiling.

Fuck it. Despite writing this much bullcrap. I’m still clueless in the end. All I know is, there are wrong things ahead of me, and probably there’s no such thing as ready. Fight it.

6F9AEnf

Orkan [nanowrimo-first-attempt]

[ditulis, kemarin, 1 Nopember 2012, oleh Sasmito Yudha Husada, dalam rangka berpartisipasi di NaNoWriMo]

 

[I-Orkan]

 

Pendekar Ombak. Itulah pekerjaanku.

 

Berenang di antara gulungan ombak-ombak ganas yang menghantamku bertubi-tubi. Membuat kulitku perih bergesekan dengan garam dan benda-benda laut. Tanganku sudah terlatih untuk terus mengayuh air dengan cepat dan kuat. Sementara kakiku mampu membuat gerakan berulang yang berirama; meninggalkan jejak-jejak buih yang segar. Dan tubuhku yang kekar meliuk-liuk dan melesat seperti ikan yang sudah mengenal betul perairan ini.

 

Aku berenang bersama para pendekar ombak lainnya dari kapal induk menuju sebuah karang di tengah laut. Pada karang itu tersimpan peralatan dan senjata untuk kami gunakan. Sebagian peralatan itu berupa seperangkat bebunyian guna memancing para ikan besar, sebagian lainnya untuk membawa ikan pulang ke kapal induk. Sementara senjata-senjata itu tentu saja untuk kami gunakan bertempur dengan para ikan besar.

 

Ketika aku pertama kali mengikuti perburuan ikan besar ini, aku bertanya-tanya, mengapa kapal induk tidak ikut ke sini? Mengapa kami harus berenang jauh-jauh untuk ke karang ini? Lalu aku menyadari bahwa perburuan ini terlalu berbahaya ketika melihat seperti apa ikan-ikan besar itu. Cukuplah bahaya itu dihadapi kami para pendekar, yang memang diberkahi Dewa Nurakarun kemampuan untuk bertempur melawan ikan besar itu.

 

Aku menapakkan kaki lebih dulu di karang dibandingkan rekan-rekanku. Sesuai perjanjian, aku berhak memilih peralatan sesuai keinginanku. Aku mengambil tombak berwarna hijau. Panjangnya empat kali lipat tubuhku dan tebalnya sesuai genggamanku. Berkah Dewa Nurakarun menyebabkanku mampu membuat tombak ini tidak terasa berat, sehingga mudah bagiku untuk memutar-mutarnya di atas kepala dengan sebelah tangan. Aku siap menombak ikan-ikan itu tepat ke jantungnya!

 

Cuaca tiba-tiba memburuk ketika rekanku yang terakhir berhasil menyusul kami. Awan hitam bergulung-gulung mengirimkan hujan dan petir. Bagi pendekar ombak seperti kami, sebenarnya  badai ini adalah momentum puncak. Karena ada beberapa ikan-ikan legendaris yang biasanya muncul hanya saat badai. Dahulu ibuku pernah sekali mengalaminya. Dia begitu bangga namun juga sedih, karena dari dua puluh pendekar, hanya dia dan Bakrun yang selamat.

 

Biarpun menimbulkan korban banyak, Ikan legendaris itu dipercaya membawa manfaat bagi desa kami. Tak lama setelah mengkonsumsi daging ikan legendaris itu dalam perayaan, para wanita desa yang konon sulit mendapat anak padahal sudah bersuami lebih dari dua, mendadak menjadi subur, dan beranak banyak. Tak lama setelah anak-anak terberkahi itu lahir, Bakrun naik pangkat menjadi dukun ganggang yang baru. Dan banyak lagi kisah-kisah yang diceritakan ibuku terkait keajaiban ikan legendaris itu sebelum ia wafat di pelukanku pada malam itu.

 

Bersama kami memainkan logam-logam segi lima yang saling berkaitan seperti rantai panjang mengelilingi puncak karang; memanggil para ikan besar yang terseret ke perairan ini akibat tsunami kemarin. Dentingan alat ini memekakkan telinga dan justru lebih berat daripada senjata-senjata yang ada. Sambil didentingkan, ke satu sama lain, kami juga harus meniup lubang-lubang segitiga sembari membuka tutup lubang-lubang segiempat demi mendapatkan melodi yang tepat dan padu. Sesi pertama diakhiri dengan dengungan panjang yang membuatku merinding hingga ke tulang. Pada saat dengungan berlangsung, para pendekar bergantian: meninggalkan alatnya lalu bergerak ke puncak karang untuk menyanyikan mantra dan yang lainnya meninggalkan alatnya untuk maju turun ke dekat air lalu menampar-nampar permukaan air dengan irama cepat. Setelah dengungan panjang itu berhenti, kami kembali ke alat musik dengan membawa senjata, lalu membanting, menyerang, mengamuk membuat dentingan-dentingan kacau balau mengerikan.

 

Teorinya, ikan-ikan yang semula terhipnotis akan mendadak menjadi sinting. Kamipun kalau tidak diberkati Dewa Nurakarun mungkin juga akan terpengaruh. Puji Dewa Nurakarun! Lindungilah aku dan rekanku. Biarkan kami sukses membawa ikan-ikan besar! Dan Puji Dewa Badai siapapun namamu! Biarkan badaimu itu mempertemukan kami dengan ikan legendaris itu! Pendekar Ombak berjaya!

 

Ombak-ombak mulai berdatangan. Menjulang setinggi puncak karang ini. Dan warnanya kemerah-merahan. Melalui mataku yang basah karena hujan badai, Aku bisa melihat ikan-ikan besar menumpang ombak itu. Dan walaupun sudah biasa menghadapi bahaya ini, tetap saja jantungku gaduh dan lututku sempat lemas. Aku wanita dan merupakan pendekar ombak paling kuat di sini. Tidak boleh menunjukkan kelemahan karena itu akan mempengaruhi nyali rekanku. Setelah kesulitan menelan ludah dan menghisap udara asin dalam-dalam, aku menghembuskan udara bersama bunyi dari tenggorokanku. Bunyi itu aku kendalikan menjadi sebuah teriakan pertempuran yang mampu menembus berisiknya petir dan hujan.

 

“Pendekar Ombak!

“Mari menyambut berkah dari para dewa!

“Nurakarun di sisi kita!”

 

Aku memantau. Memperkirakan mana ombak dengan ikan-ikan yang paling berbahaya. Kemudian aku memerintahkan rekan-rekan yang kurasa tidak mampu menghadapinya untuk menjauh dari ombak itu. Intinya aku harus jeli memberikan perintah-perintah dalam waktu sangat singkat ini untuk memastikan keseimbangan antara kekuatan rekanku dengan ikan yang dihadapinya. Persiapan tepat waktu, selesai komandoku dilaksanakan, mulailah ombak-ombak itu berhamburan menghantam karang.

 

Ombak yang datang dari segala arah itu bersatu menjerat kami di tengah. Air bertubi-tubi menenggelamkan karang dan kami dalam waktu yang singkat. Senjata-senjata kami yang terberkati mulai berkedip-kedip dalam prosesnya menetralkan arus deras mematikan itu. Sesaat kemudian kami seperti berada di dalam akuarium berbentuk tabung tepat di atas karang; di kelilingi ikan-ikan besar berwarna kemerahan yang sudah siap menerkam kami.

 

Suasana berada di dalam tabung itu adalah ilusi akibat terjadinya peningkatan kesadaran yang berlipat-lipat; berkat Dewa Nurakarun. Ini adalah momen-momen penting setiap pendekar ombak untuk berpikir jernih tentang hal-hal apa yang harus dilakukan tubuhnya ketika ilusi sesaat ini hilang dan harus kembali ke kenyataan yang deras, cepat, dan tidak kenal ampun.

 

Aku berencana akan merunduk untuk menusuk ikan di hadapanku itu dari bawah. Aku perhatikan lekat-lekat jalur itu, apakah akan ada hambatan? Mungkinkah aku tersandung sesuatu? Setelah kupastikan aman, kuperhatikan perut ikan itu yang berwarna hitam kemerahan, dalam detilnya ada sisiknya yang agak terkelupas; nanti akan kutusukkan tombakku di situ. Lalu bagaimana jika aku tidak cukup cepat untuk merunduk dan menusuk? Aku persiapkan diri juga untuk melompat mundur menggunakan tombakku sebagai penopang, untuk kemudian menapakkan kaki kepada miringan karang demi melesat kembali ke depan sembari mencari target tusukan ke wajah ikan itu.

 

Persatuan ombak yang membentuk akuarium sesaat itu runtuh. Aku dan para pendekar mulai beraksi.  Mengikuti irama air yang dengan kejam turun ke bawah sambil menarik kami untuk jatuh. Berat. Kedua rencanaku gagal. Ikan itu berhasil memasukkanku ke dalam rahangnya. Bertaruh dengan momentum, aku justru melesat ke dalam mulutnya secepat-cepatnya supaya tidak tergigit taring-taringnya. Aku berhasil lolos dari gerakan menggigitnya yang dahsyat, namun gagang bagian belakang tombakku terjepit. Hal itu menyebabkan rencanaku untuk terus melaju masuk ke dalam perut untuk menembus menyobek ikan itu dari dalam menjadi gagal.

 

Ikan besar ini rupanya paham, jika ia tidak melepas gigitannya, maka ia akan selamat dari tusukan dari dalam. Tombak ini terlalu kuat untuk dipatahkan oleh gigitan ikan ini ataupun diriku sendiri. Jadi, apakah sebaiknya aku melepaskan saja tombak ini lalu meneruskan rencanaku dengan tangan kosong? Aku harus menentukan keputusan secepatnya, karena ikan ini sudah menyelam ke dalam laut; air deras menenggelamkanku. Mungkin memang sudah saatnya aku mati? Sayang sekali, aku belum sempat bertemu dengan ikan legendaris yang diceritakan ibu.

 

Aku menahan nafas cukup lama dan jantungku sudah sangat gaduh dan paru-paruku terasa pedih. Menanti dan menanti. Sambil memerhatikan terus keadaan sekeliling; melepaskan tombak, meraba-raba dinding mulut ikan, mencari kemungkinan-kemungkinan. Aku coba mengintip ke seberang lubang dalam sana yang gelap, sekali lagi aku bimbang, apa dengan tangan kosong bisa? Dalam kebimbangan itu tubuhku terjatuh lemas. Aku terbatuk dan menenggak air laut dengan jumlah yang cukup banyak sehingga isi perutku panas dan kepalaku pening.

 

Aku dahulu sering berkali-kali terjebak dalam situasi berbahaya. Orang-orang bilang aku ini adalah orang yang sangat beruntung dan diberkati suatu dewa langit yang sangat dermawan. Dan juga dari pengalaman-pengalaman itu membuatku mampu tetap berusaha menjaga pemikiran dingin. Jangan panik. Jangan mati.

 

Di sudut mataku yang kanan, aku melihat sisa tubuh ikan besar ini tiba-tiba hilang setelah terjadi hentakan yang mengejutkan. Sesaat aku bisa melihat sebuah bola mata berwarna emas melalui tubuh ikan yang sobek ini. Itu dia. Ikan legendaris! Ikan emas! Ikan emas itu memangsa ikan ini. Aku melirik ke kiri, lalu melesat mencabut tombakku dari gigitan ikan yang sudah mati dan tidak bertenaga ini. Kemudian aku bergegas keluar melalui sobekan. Di tengah laut. Berenang. Dekat sekali dengan tubuh panjang ikan emas legendaris ini!

 

Aku meraih salah satu sirip ikan emas itu. Sialnya Ikan ini kemudian bergerak ke arah dasar laut. Aku mengambil inisiatif untuk menusuknya dengan tombak. Berhasil mengambil perhatiannya; kepalanya yang berkilauan berbalik arah dan mencoba menerkamku. Mungkin tubuhnya memang panjang, namun tidak cukup untuk membentuk lingkaran demi menerkamku, jadi kini tubuhnya berputar-putar cepat sekali; aku berpegangan erat saja terus sambil terus menekan tombakku dalam-dalam. Beruntung akibat gerakan memutar ini adalah pergerakan kami menuju permukaan laut.

 

Guntur yang sangat keras menyambut telingaku ketika aku dan ikan legendaris ini mencapai permukaan. Ikan ini kemudian melompat tinggi. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya sambil menyerukan, “Nurakarun di sisiku! Bidik dengan Legendalest!”

 

Sekilas aku melihat jumlah rekan-rekanku sudah berkurang. Narkania dan Yonarkon tidak ada. Namun rekanku lainnya terlihat sehat, semangat, dan mampu mengatasi banyak ikan-ikan. Beberapa menyadari kehadiranku, lalu bersorak-sorai, lalu bersama-sama menyerbu ikan emas legendaris ini sebelum ia jatuh kembali ke laut.

 

Terlihat tiga pendekar mengangkat sebuah busur mekanik raksasa, menembakkannya. Anak panahnya yang diikat dengan tali kuat berhasil menancap di leher ikan ini sebelum ia akhirnya tenggelam kembali ke laut; aku masih di dekat ekornya.

 

Gerakan ikan ini sudah tidak berputar-putar lagi. Rupanya ia sadar bahwa tiada gunanya. Kali ini si ikan legendaris berusaha mengenyahkanku dengan berenang ke sedalam-dalamnya laut. Namun para rekan pendekarku tentu saja tidak akan membiarkannya lepas. Ikan ini sudah tertembus anak panah busur mekanik raksasa kami, Legendalest!  Ia kini sempat tersentak dan terdiam ketika tali Legendabalest mencapai batas panjangnya. Namun setelah itu aku bisa merasakan pergerakan renang yang luar biasa berenergi. Energi renang ini bisa menyebabkan tali Legendabalest putus! Aku putuskan untuk mencabut tombakku. Renangnya terhenti sesaat. Berlanjut lagi. Aku melepaskan diri dari tubuhnya. Lalu berputar mencari sela insang. Kutusukkan tombakku sedalam-dalamnya sekencang-kencangnya.

 

Setelah bergetar hebat untuk beberapa lama akhirnya ia diam dan menemukan kedamaian. Aku kembali berenang untuk memeluk sisi ekornya. Dengan lemas aku menanti diri kami ditarik ke atas oleh rekan-rekanku.

 

Kami berhasil. Pulang membawa banyak ikan besar yang segar dan juga seekor ikan emas legendaris. Hal itu menyebabkan rasa suka cita yang besar, namun tetap saja tidak mampu menutupi rasa duka terhadap dua pendekar yang gugur. Selamat jalan Narkania dan Yonarkon. Dan aku ingin tidur yang lama dahulu.

 

 

Aku rupanya benar-benar tidur lama. Dua hari dua malam. Aku bermimpi sangat indah, yaitu bahwa pada akhirnya aku akan memiliki seorang bayi yang sangat luar biasa tampan.

 

Ketika aku bangun suasana desa agak janggal. Bersama kelima suamiku aku bergerak menuju tempat di mana orang-orang desa sedang berkumpul; mereka mengelilingi bangkai ikan emas legendaris yang digantung dialun-alun.

 

Perut ikan itu terlihat membengkak. Ada cahaya kedap-kedip dari dalamnya. Seorang rekan pendekar ombak menghampiriku untuk memberitahuku bahwa dukun ganggang Bakrun menolak menyertakan ikan ini kedalam menu masakan pekan raya nanti. Bahkan dukun ganggang itu memerintahkan untuk membuang ikan ini. Namun hanya yang membunuh ikan inilah yang berhak memutuskan, dan itu berarti adalah hakku.

 

Aku menanyakan pendapat rekanku itu tentang perut ikan yang membengkak ini. Mungkin telur jawabnya. Dan sepertinya, para penduduk desa memang berharap bahwa itulah yang ada di dalam perut si ikan. Karena yang ditolak dukun ganggang adalah ikannya, bukan telurnya. Jadi,  karena aku peduli kepada keinginan para penduduk desa, aku mengumumkan isi benakku yang berniat membuka perut itu dan jika memang isinya telur-telur, maka akan kuserahkan kepada penduduk desa untuk dimasak di pekan raya.

 

Dua orang rekan pendekar ombak lainnya datang kepadaku. Ditangan mereka terdapat golok keramat yang disediakan khusus untuk situasi-situasi penting terkait seluruh penduduk desa. Setelah berada di tanganku, mendadak tubuhku terasa lemas; suami-suamiku segera menopangku. Aku mencoba menghapus kecurigaan bahwa golok ini mendadak menyerap tenagaku, dengan dalih bahwa aku baru bangun dan masih mengantuk.

 

Aku menghampiri perut ikan itu. Bengkaknya besar sekali. Aku merasakan sesuatu yang lebih membuatku tertekan dibandingkan dengan efek golok ini sendiri. Aku gemetaran. Mengangkat tanganku siap menyobek perut ikan itu. Berhenti. Aku menoleh ke arah penduduk, memberikan mereka isyarat untuk menjauh. Lalu mulai aku belah perut itu.

 

Pertama-tama adalah semburan kabut berwarna hitam keluar darinya. Aku sempat mengira bahwa hitam-hitam ini adalah sejenis tinta dari gurita atau cumi, namun aku salah, dan cairan hitam pada kabut ini terasa jauh lebih pekat dan  lengket. Terhirup pula kabut itu, sehingga aku terbatuk hebat, menyebabkan golok ditanganku jadi bergerak-gerak tidak terkendali. Perut itu terbelah lebih lebar karenanya, dan aku juga merasa memotong sesuatu yang tebal. Telur?

 

Benda yang menggelinding itu keluar dari perut ikan itu bukan telur. Sebagian penduduk menjerit histeris. Aku ternganga.

 

Kepala bayi.

 

Kejutan selanjutnya adalah, kepala itu kemudian tertawa sejenak, lalu terisak, lalu tertawa lagi.

 

Mengira melihat perwujudan setan, beberapa pendekar ombak yang ketakutan segera menghunuskan senjata mereka dan bergerak cepat hendak menghancurkan kepala bayi itu.

 

Tanpa diduga tanganku bergerak mengerahkan golok keramat ini untuk menghentikan rekanku. Mereka terkejut. Aku juga.

 

Aku duduk berlutut. Mengamati kepala bayi itu lebih dekat. Kulitnya berwarna kehijauan dan terdapat tulisan-tulisan biru menyelimutinya. Juga terdapat benjol-benjol tidak lazim di wajahnya. Matanya merah. Dari lubang hidung dan telinganya mengalir cairan kuning berbau busuk.

 

Belum pernah aku melihat bayi seburuk rupa itu. Dan ketika aku sedang terpaku di tempat, aku tidak menyadari bahwa tubuh bayi itu sudah merangkak di sampingku. Tangan-tangan kecilnya meraih kepala itu, lalu menempatkannya kembali di leher. Tersambung. Sempurna.

 

Rekan-rekanku yang tadi, hendak bergerak menyerang lagi. Namun aku segera aku bentak dengan keras. Aku merangkak mendekati bayi kehijauan yang bercorat-coret biru di sekujur tubuhnya itu. Lalu memeluknya. Hangat. Dan rupanya bayi itu secara instingtif menyelinap, membuka, dan meraih payudaraku untuk dihisapnya.

Pertama sakit. Aku mengintip dan melihat dadaku jadi belepotan merah karena berdarah. Kemudian rasa sakit itu tersapu oleh ekspresi bayi ini yang begitu puas dan penuh rasa syukur.  Aku berdiri sambil menggendongnya. Mengumumkan kepada penduduk desa bahwa aku akan mengadopsinya

 

Sudah lama aku menginginkan bayi. Bahkan setelah memiliki lima suami, tidak ada dari mereka yang mampu memberikanku bayi. Oleh karena itu, aku akan merawat bayi ini dengan sepenuh hati. Tidak peduli akan tuduhan-tuduhan penduduk desa atas kutukan-kutukan yang mungkin ada bersamanya. Sesuatu yang berhasil bertahan hidup dalam kondisi mengenaskan seperti ini, memperlambangkan suatu kekuatan bukan? Kekuatan yang luar biasa. Ya aku bisa merasakannya di dada ini.