Ulasan: PK

Jarang-jarang. Banget. Nonton film dari bollywood. Ini pertama kalinya saya mengunduh sendiri sebuah film india untuk ditonton. Jadi ceritanya, pada suatu siang yang membosankan, seorang teman dari Lhokseumawe menghubungi saya. Ia merekomendasikan sebuah film berjudul PK. Sebenarnya saya sedang malas menonton film karena sedang tekun-tekunnya mencoba mengkhatamkan Silmarilion. But, what the hell, why not?  Lagipula saya mulai sebal dengan para elf di dunia ciptaan Tolkien itu; for all their wisdom and longevity, these fancy elves are too fucking obsessed with mere goddamn jewelleries. Yuck.

requ
PK ini film bercerita tentang Alien. Seorang pencuri merampas alat untuk memanggil pesawat ruang angkasanya. Bingung dan sendirian ia terjebak tak bisa pulang. Orang-orang yang ia mintai tolong memberinya jawaban: hanya Tuhanlah yang dapat membantunya. Maka dimulailah pencarian akan Tuhan melalui sudut pandang seorang alien.

boredofcoconutwater

Menyaksikan Alien ini bermanuver atas bermacam budaya dan agama yang tak hanya seakan-akan saling berkontradiksi namun juga dipaksakan kepada setiap individu, berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak dan tersentuh tersedu-sedu. It was very funny but also sad. Sampai setengah film, saya sampai berhenti sejenak untuk memberitahu teman saya bahwa film ini keren dan saya merasa sangat simpati terhadap alien ini.

label

cluelessbreaking

Alien tersebut kemudian bekerja sama dengan Jaggu, seorang pencari berita untuk mengambil alat pemanggil pesawatnya dari seorang figur ahli agama. Menurut saya, mulai dari sini, kualitas cerita agak turun. Meskipun memiliki wajah konsep yang lugu “Wrong Number”, tindak-tanduk si Alien yang diarahkan Jaggu untuk “menyerang” agama jadi seperti menodai keluguan si Alien itu sendiri. Ia menjadi boneka. Alat media untuk meraup keuntungan. It seemed to me, the aggressive public questioning was too violent for his innocent nature. Jaggu’s campaign was effective, but vulgar and annoying. Reminded me of the strong atheist’s braggadocio. This could be delivered more subtly; but, oh well, at least the message was delivered clearly.

Selain pencarian kebenaran tentang Tuhan dan keinginan pulang si Alien. Ada satu lagi unsur yang menjadi sorot utama cerita. Yakni kisah cinta beda agama antara Jaggu seorang hindu, dan Sarfaraz seorang muslim, juga campur tangan si Alien untuk menyatukan mereka berdua meskipun ia sesungguhnya mencintai Jaggu. Ah, saya sesunguhnya ingin membahas lebih lanjut tentang ini, tapi, aduh saya lapar, belum makan lebih dari dua puluh jam hahaha. Yah, pokoknya secara keseluruhan saya sangat puas menyaksikan film ini. Recommended.

Nih sedikit bocoran screenshot lagi:

donlie
Tapi kemudian, dari penghuni bumilah ia belajar untuk berbohong. Dan. Jaggu tahu ia bohong.

 

 

 

Advertisements

Pengakuan Tentang Tuhan dan Agama

Menginjak umur ke-23 ini, saya tidak mau lagi membohongi diri sendiri dan hidup dalam keterpaksaan. Dengan tulisan ini, saya akan mencoba menggambarkan kira-kira seperti apa kepercayaan yang ada dalam diri saya. Maafkan saya jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih telah sudi membaca.

 

***

 

Saya tumbuh dalam keluarga yang menganut kepercayaan kelompok Islam tertentu. Secara praktik, dan garis besar, saya salut dan kagum atas orang-orang dalam kelompok tersebut, karena mereka memiliki kejujuran,  ketekunan, dan integritas yang bisa dibilang cukup dapat diandalkan.

Tapi bagaimanapun, saya menemukan ketidakcocokkan.

 

Kelompok ini menganggap bahwa Islam di luar mereka tidak sah amal perbuatannya sehingga tidak akan masuk surga dan akan jatuh ke neraka. Dulu, sebelum menyadari kepercayaan ini adalah hal yang ganjil, saya sangatlah sombong. Misalnya, ketika terjadi pertengkaran dengan teman yang tidak “seiman”, dalam pikiran saya akan terngiang suara yang meyakinkan diri bahwa nanti mereka akan masuk neraka, sementara saya dijamin ahli surga. Dampak pikiran ini bisa dilihat pada rekam jejak hidup saya sejak TK hingga SMP yang penuh dengan perkelahian karena saya dulu merasa manusia paling benar.

Seiring bertambahnya usia dan pendidikan, saya mulai menyadari bahwa kepercayaan semacam itu jangan dijadikan sandaran karena akan membawa kesedihan dan perpecahan. Pada suatu waktu, teman saya bercerita tentang “kelompok-kelompok” sesat dalam Islam. Tanpa diketahuinya, salah satu yang dijelaskannya adalah kelompok yang saya dan orang tua saya anut. Waktu itu saya diam-diam menitikkan air mata. Bukan hanya karena merasa terhina, namun juga karena timbulnya suatu kesadaran kecil yang perlahan menjadi renungan-renungan keras dan menyakitkan.

Begini, jika adalah sesat ketika sebuah variasi Islam, sebut saja X mengklaim variasi agama Islam lainnya tidak sah; maka ketika agama Islam secara umum mengklaim X adalah sesat, bukankah secara tidak langsung agama Islam menerapkan logika kesesatannya terhadap diri agama Islam itu sendiri? Kemudian, kalau dilihat melalui sudut pandang yang lebih besar, bukankah agama Islam itu sendiri merupakan variasi dari agama lain yang juga mengklaim kesesatan terhadap variasi lainnya. Segalanya seperti sebuah lingkaran permusuhan yang kelam dan tak ada ujungnya.

Bukankah agama seharusnya suci dan mensucikan? Mengapa justru saling memelihara benci dibalik kesombongan surgawi masing-masing? Saya ingat pernah mendengarkan suatu nasihat keagamaan yang intinya berpesan: setan mampu membuat hal-hal yang sesat menjadi indah di mata manusia. Kemudian waktu itu saya berpikir, mungkinkah, sebagian aspek agama dan janji surgawinya merupakan hal sesat yang dibuat jadi indah oleh setan di mata manusia?

Sementara itu di satu sisi, saya mulai curiga bahwa saya sebenarnya tidak betul-betul percaya, mungkin, hanya “ingin” percaya karena berbagai ancaman neraka. Karena, kalau diingat-ingat, pada masa-masa SD, saya pernah berkhayal bahwa jagoan-jagoan masa kecil seperti Son Goku, Power Rangers, Ultraman, dan sebagainya berkumpul bersatu membunuh memusnahkan Tuhan. Hal tersebut adalah imajinasi bocah kecil ingusan yang jujur dari dalam benaknya tanpa hasutan siapa-siapa.

Sampai sekarang, saya masih berusaha menghargai orang-orang dalam kelompok tersebut, begitu juga kepercayaan mereka. Karena saya percaya, bahwa memang, agama dan berbagai variasinya merupakan sesuatu yang alami dan dibutuhkan oleh sebagian besar manusia. Sayapun masih percaya kepada Tuhan. Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Yang saya tidak percaya adalah batasan-batasan yang diberikan kitab-kitab agama kepada Tuhan. Hal tersebut membuat seakan-akan Tuhan adalah budak agama; ada untuk memenuhi tugas-tugasnya yang tertulis di sana.

Orang bodohpun tahu, bahwa tidak hanya manusia dari agamanya masing-masing yang hidup di dunia ini. Manusia beragama lain tersebut tentu banyak juga yang melakukan kebaikan bermanfaat bagi seluruh manusia lainnya. Namun kekonyolan agama memperbudak Tuhan untuk hanya menghargai manusia dari agamanya masing-masing untuk menghukum dengan keji kepada manusia dari agama lainnya. Sungguh, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih seharusnya tak tunduk pada ikatan semacam itu.

Tapi mengapa Tuhan membiarkan ada janji-janji surga neraka seperti itu pada kitab-kitabnya? Mungkin karena memang mayoritas populasi pada zaman turunnya kitab-kitab tersebut memerlukan insentif dan disinsentif semacam itu untuk menggerakan perbaikan peradaban dengan cepat. Mungkin juga karena, Tuhan percaya, seiring dengan dewasanya kesadaran kolektif manusia, manusia akan mampu mengoreksi kepercayaan-kepercayaan tersebut dengan sendirinya.

Begini, karena mau sekuat apapun usaha manusia untuk menjaga kemurnian agama dari kitabnya, ujung-ujungnya yang melakukan tatap muka dengan tulisan wahyu Tuhan tersebut adalah manusia. Manusia memproses informasi dengan bahasa dan logika. Perkembangan zaman sangat mempengaruhi kedua unsur tersebut. Sehingga, biarpun misalnya isi sebuah kitab suci mampu tetap dijaga dari A tetap A sejak zamannya turun hingga seribu tahun lagi, interpretasi akan maknanya akan terus berubah. Intinya, biarpun sumbernya wahyunya murni, pihak penafsir tidak akan mungkin menafsirkan dengan sempurna. Agamapun bukannya setuju bahwa manusia adalah sumber segala kelemahan dan kerusakan? Apakah para penafsir, para guru agama, adalah spesies bukan manusia yang mampu menafsirkan dengan sempurna?         

Saya menyimpulkan bahwa Tuhan-Tuhan yang digambarkan agama-agama, hanyalah potongan teka-teki yang tak sempurna. Gambaran tersebut disajikan keberadaannya oleh Tuhan agar setidaknya manusia mampu mengenal konsep Tuhan. Saya sendiripun sadar, sebagai manusia, saya sangat tidak berdaya dalam menafsirkan apalagi menggambarkanNya; sayapun bukan seorang ahli agama, bukan filsuf, bukan ilmuwan; bukan siapa-siapa selain bocah ingusan yang terlalu banyak melamun. Maka sesungguhnya yang saya pegang dan sajikan di sini hanyalah semacam wujud harapan, bahwa ia, Tuhan, adalah Zat yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Saya tumbuh bergaul dengan non muslim, bahkan teman dekat pertama saya dulu di SD adalah seorang Kristen Protestan, Philip namanya. Seiring beranjak lebih dewasa, saya semakin menyadari bahwa non muslim adalah manusia seutuhnya, yang sama memiliki perasaan dan kehidupan setara, seiribg itu juga saya mulai mengutarakan doa seusai sembahyang kepada Tuhan untuk mengampuni SEMUA makhluknya. Karena dalam ketakutan saya di bawah ancaman akhirat yang keji, saya punya harapan besar pada sifat Tuhan yang utama, yakni Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Pernahkah kamu manusia sekalian berpikir? Bahwa berdasarkan sifat Maha Kuasanya, Tuhan mampu membatalkan SELURUH janji-janji pada kitab-kitabnya. Ia juga mampu menghapus dan mengubah ingatan kita dalam sekejap.

Bayangkan suatu kejadian pada satu waktu di akhirat nanti: ada golongan yang protes kepada Tuhan, “Wahai Tuhan, mengapa kamu tidak memasukkan golongan-golongan selain kami ke Neraka?”

Tuhan tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, dengan kekuasaannya ia mampu menghapus dan mengubah isi kepala seluruh golongan manusia tersebut sesukanya. Atau, Tuhan bisa saja menyelesaikan protes ini dengan menciptakan dunia paralel yang berjalan berdampingan untuk memenuhi setiap hasrat berpandangan sempit setiap kepercayaan yang ada; yakni dengan penciptaan versi akhirat masing-masing yang dihuni oleh fotokopi sempurna seluruh umat manusia dalam berbagai garis takdir dan nasib. Intinya: 

Tuhan YANG MAHA KUASA mampu membuat isi seluruh kitab agama menjadi tak bermakna, atau tetap bermakna secara paralel tanpa ada kontradiksi yang mampu dideteksi makhluk rendahan seperti kita. Terkait sifat tersebut, yang kita dapat lakukan sebagai manusia hanyalah pasrah dan berharap ia akan menggunakan segala kemahakuasaannya untuk menunjang, mewujudkan, dan menunjukkan sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayangnya.

Saya tidak peduli apakah agama A, atau agama B, atau agama C yang benar. Segalanya merupakan bagian dari serpihan teka-teki kebenaran yang lebih besar yang mungkin memang tak akan pernah dipahami manusia. Banyak sekali kemungkinan yang ada! Bisa jadi memang tidak ada Tuhan. Bisa jadi ada!

Saya tidak memihak posisi percaya ada (theist) atau percaya tidak ada (atheist). Saya hanya memihak posisi berharap, yang tidak terikat agama, yang tidak terikat anti-agama. Terkait boleh, tapi tidak terikat.

Tapi mungkin bagi sebagian orang, berharap saja tidak cukup. Mungkin selain berharap, kita juga harus bekerja. Dalam berbagai kemungkinan ketuhanan yang ada, saya berandai-andai suatu saat kita mampu menemui Tuhan secara langsung, tanpa melalui mati dulu dan tanpa akhirat. Mungkin inilah yang harus kita upayakan. Untuk apa? Untuk bersyukur tentunya. Juga untuk memuaskan rasa penasaran, dan untuk memohon langsung kepadanya agar memberikan sebuah proses dan akhir yang terbaik bagi seluruh makhluk yang telah mati, sedang hidup, dan akan lahir.

Saya pernah mempunyai imajinasi, bahwa manusia pergi meninggalkan bumi, mengarungi seluruh ruang angkasa untuk mencari keberadaan fisik Tuhan. Meski jika pencarian itu tidak akan pernah menemukan jawaban, upaya-upaya gigih manusia dalam berdamai bersatu dengan sesamanya akan menjadi berkah tersendiri yang sangat berharga.

 

***

Untuk Ibu dan Bapak. Semoga kalian kuat dan tabah membaca ini. Semoga Allah menjaga kesehatan kalian setelah mengetahui ini. Saya memohon maaf jika saya mengkhianati harapan kalian untuk tumbuh menjadi anak beriman dan bertakwa. 

Setidaknya ada dua alasan yang dapat menjelaskan segala pengakuan ini. Pertama karena memang saya percaya hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Kedua, mungkin karena saya hanya ingin menghiasi alasan yang paling sederhana, yakni kemalasan. Saya akui memang saya sudah sangat muak dan malas menjalani tekanan dan paksaan mengikuti harapan-harapan kalian, juga jadwal pengajian yang banyak menyita waktu dan rasa bersalah saat mengabaikan jadwal tersebuy yang membuat saya depresi sehingga hidup ini terasa sangat busuk dan pantas untuk ditinggalkan. Tak jarang saya berpikir, bahwa untuk segera mendapatkan kebenaran, mungkin baiknya saya segera mati saja demi menodong langsung jawabannya kepada Sang Pencipta.

Ibu pernah sempat mengizinkan saya untuk mencari calon dari luar kelompok agama kita, tapi kemudian Ibu seperti membatalkan izin tersebut dan mengutarakan peringatan, bahwa akan susah hidup berdampingan dengan orang yang tidak seiman. Nah, bayangkan hidup sesusah apa yang akan saya lalui jika saya tidak pernah berani mengakui bentuk kepercayaan saya yang sesungguhnya seperti sekarang ini? Apa-apa yang terbentuk dari kepura-puraan dan kesalahpahaman: hancur.

Hidup ini berat. Seringkali saya merasa terlalu lemah dan bodoh untuk menjalaninya. Tak jarang sejak kecil saya rasanya ingin meledak saja menjadi orang gila sepenuhnya untuk bebas dari dunia. Karenanya saya ingin menjalani hidup sesederhana mungkin dari bermacam faktor yang ada. Saya enggan belajar menyetir mobil, karena tidak ada keinginan memiliki mobil. Rumahpun saya enggan memilikinya karena berat rasanya untuk merawat. Apalagi keluarga dan anak. Apakah mampu saya memberikan kehidupan yang layak?

Selain itu, hal tersebut berpotensi banyak menghadirkan kekecewaan dan penderitaan. Tak jarang manusia tertekan karena khawatir hartanya hilang. Habis hidup mereka sibuk untuk mengejar mengurus menjaga rumah, mobil, dan lain-lainnnya yang sesungguhnya dapat tiba-tiba saja rusak atau hilang. Begitupun keluarga. Istri dan anak bisa jadi sumber kekecewaan dan patah hati yang luar biasa. Mampukah saya ikhlas jika nanti mereka diambil atau lepas atau mengkhianati harapan saya? Jika anak saya nanti berbeda jalan pikirannya sama sekali dengan saya, mampukah saya tetap tabah dan bijak atas segala sakit hati yang mendera? Jika Bapak dan Ibu mampu memberi contoh bahwa keikhlasan semacam itu mampu dilakukan atas segala dosa saya dalam pengakuan ini, mungkin saya akan mempertimbangkan kembali untuk memiliki keluarga nanti.

Saya tidak perlu macam-macam hidup di dunia ini, saya tidak perlu janji surga kenikmatan abadi, saya tidak perlu kekayaan berlimpah, saya tidak perlu istri cantik dan anak yang berbakti; yang saya perlukan sekarang hanyalah kesempatan hidup tanpa tekanan batin, tanpa teror rasa bersalah dan kepura-puraan, sehingga saya mampu lebih tenang dalam menjalani hidup seadanya sembari mencoba menekuni hobi-hobi yang saya gemari. Saya harap Bapak dan Ibu akan tetap menganggap saya sebagai anak meski memang saya bukan anak yang baik. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa mengampuni kita semua. Amin.


Maaf dan terima kasih.

Primata

Cerpen berjudul Primata ini memiliki makna penting dalam hidup saya. Buah-buah bakal pikiran dalam cerpen perlahan tumbuh sejak dahulu di semester ke-3 kuliah ketika saya mengalami suatu kerisaun abstrak parah sampai-sampai pada suatu tengah malam terbangun dan menangis bingung. Selain itu, cerpen ini saya juga ikutkan pada lomba Fantasi Fiesta 2012 , dan meski gagal menang, pengalaman yang saya dapat waktu itu sangat berharga, termasuk pengalaman ribut-ribut protesnya haha sampai-sampai FF tidak ada lagi di tahun-tahun selanjutnya. Kemudian, peristiwa di cerpen ini juga menjadi sebuah titik penting yang menjadi dasar pengembangan ide-ide worldbuilding dalam proyek novel saya yang sedang dihentikan dahulu penulisannya (dihentikan karena memang sedang mencoba berhenti dan mengucilkan diri dari dunia kepenulisan fiksi untuk suatu alasan). Cerpen ini juga menjadi salah satu penyebab saya pernah sangat dekat dengan suatu manusia yang menjelma bagai cermin dan berhasil membuat kelenjar lakrimalis saya menjadi sangat produktif selama indefinitely.

Kenapa sekarang saya posting cerpen ini di sini?

Pertama, saya ingin berbagi cerpen ini untuk dibaca orang, karena waktu itu situs lomba tempat cerpen ini pernah rusak sehingga hilanglah cerpen ini di sana berikut segala komentar-komentarnya.

Kedua, saat berencana untuk saling bertukar buku untuk Diklat nanti,  teman saya mengusulkan saya untuk membawakannya buku yang bertema spiritual. Tidak punya saya buku macam itu, namun kemudian saya teringat cerpen ini, yang menurut saya cukup memiliki unsur spiritual, jadi saya putuskan untuk mengunggahnya saja sekarang untuk dibacanya nanti. Hey Bung, enjoy!

Ketiga, cerpen ini berperan sebagai pengingat. Mau bagaimanapun saya lari dari menulis, mau bagaimanapun saya coba melupakan menulis, entah kapan itu, mungkin, ketika membaca ini lagi,  saya akan mampu kembali dengan semangat baru. Yah, semoga.

PRIMATA

oleh Sasmito Yudha Husada

I

[Panen tawa dan jerit yang tak terhingga]

[Hiburan abadi untuk kebijaksanaan keji yang tidak pernah mati]

Malam ini terlalu panas. Walaupun akhir-akhir ini suhu malam memang meningkat, dengan pembakaran kuil-kuil Hydrus ini, panas bukan hanya pada udara, melainkan juga pada setiap gemuruh jantung pendeta dan pemeluk Hydrus. Yang pasrah, menjerit bisu, ketika tempat ibadahnya dilahap api. Ini keputusan pemerintah. Yang menentang diperbolehkan dibunuh. Beberapa sudah dibunuh. Beberapa dipaksa mengumumkan pembatalan imannya di alun-alun. Beberapa kehilangan kewarasannya.

Seekor primata tua. Janggutnya lebat, matanya satu. Berlumur air mata, ia meringkuk. Di dasar sumur yang kering; menggigil, memeluk patung kadal dengan erat. Terdengar liurnya. Primata itu melayangkan sederet kecupan terhadap kepala patung, juga menggesekkan ekor patung ke selangkangannya. Beberapa saat kemudian tangis rentanya terpotong dengan getaran nafasnya yang nyaring. Dia tergolek becek. Punggung melengkung. Primata tua itu merintih serak, “Hydrus kasihku ….”

Di luar sumur tempat primata itu bersembunyi, kuil agung Hydrus meluluh terpesona lenggak-lenggok api. Ada seseekor primata tua bertelinga satu sedang berlutut. Ia mengerang sambil menyebut-nyebut nama milik dia yang bersembunyi di dalam sumur. Primata telinga satu itu meracaukan masa lalu; kisah kasih terlarangnya dengan si mata satu. Ketika dahulu mereka dijadikan kambing hitam atas ketidakhadiran Tuhan Hydrus dalam mencegah bencana baskara.

“Kita sesungguhnya sama! Aku ingat perbincangan kita dahulu, bagaimana kita sama-sama mengejek bentuk Tuhan kaum Attaksi, dan bagaimana menurut kita konsep keimanan kaum Tottekon sangatlah konyol. Kita dahulu sama-sama menolak ratusan Tuhan lainnya kecuali Hydrus. Hanya kini berbeda jumlah satu. Tinggalkan kadal itu demi masa depan kita!”

Kefrustrasian si primata telinga satu itu kemudian diakhiri dengan sebuah raungan yang berupa pertanyaan. Sementara itu samar-samar mendengar suara si telinga satu; si mata satu kemudian secara tidak sadar juga menyerukan sebuah pertanyaan yang sama.

D  I       M  A  N  A       K  A  M  U

Jeritan yang padu; dalam kesengsaraan sejenak; senyaman secercah benak;  merangkak dan mencakar rahim; dari dalam dan luar. Di kejauhan, harmoni itu menggelitik telinga raksasa seekor proboscida. Proboscida itu menutup mata erat-erat. Mencoba mencegah air mata lepas. Karena ia tahu, air mata itu begitu beracun dan akan menyebabkan gadingnya lemas.

Saling mendengar; saling menilai. Dari intonasi suara saja sudah cukup bagi mereka untuk mengambil kesimpulan bahwa hal ini tidak bisa diperbaiki. Dahulu, setelah hubungan sesama kelamin mereka dikecam, si telinga satu diusir dari tempat itu, lalu pergi menjadi relawan ilmu alam di Keadirajaan Antariksa. Sementara si mata satu tetap di tempat, melanjutkan pembersihan dosa; berbakti kepada Hydrus. Kemudian ketika pada akhirnya mereka bertemu kembali, si telinga satu menawarkan seperangkat ilmu alam untuk meringankan dampak bencana baskara, dengan syarat dihancurkannya Kuil Hydrus.

Maka sesungguhnya, mereka sama-sama sedang memanggil Sang Kuasa. Si mata satu kepada Hydrus; si telinga satu pada takhayul.

Yang memuntahkan benci berlalu pergi, yang di dalam sumur kemudian mendengkur.

Bagi primata yang mampu bersyukur atas dicongkelnya mata sebagai pengampunan dosa dari Tuhannya. Bukankah lebih baik mati daripada sekedar tidur dan bermimpi? Bagi primata yang mabuk cinta hingga terpercik mani kepada patung Tuhannya. Bukankah lebih baik berjumpa Hydrus di Telaga Pelangi daripada kembali ke dunia ini hanya untuk menatap kerusakan para pendosa? Kasihan. Ia hanya tertidur.

Ia mengira hujan turun. Terbangun karena takut tenggelam. Meraih tambang hendak memanjat. Kepalanya mendongak. Menatap wajah raksasa di atas sana; mengintip, menyeringai. Wajah itu menangis. Air mata sedingin es menetes deras membasahi si mata satu. Lidah putih bergerigi melayang turun hingga dasar sumur; tepat di hadapannya. Makhluk itu adalah Sang Panglima Kadal Putih, seekor penyampai wahyu Hydrus. Terperangkap euforia, ia memeluk lidah, dan naik. Menyambut wahyu yang di sampaikan makhluk gaib itu; wahyu itu memberinya arahan untuk mengungsi jauh ke pegunungan Tereram. Di sana akan terjadi sebuah mukjizat. Mukjizat yang nantinya akan menjadi sebuah pemicu hubungan sebab akibat berantai jauh ke masa depan, yang hingga dan hanya hingga.

Sekarang si mata satu ini harus berhasil dahulu melalui perjalanan sukar. Di mana banyak pemerintahan telah takluk kepada tuntutan Keadirajaan Antariksa untuk memburu primata-primata sepertinya, yang dicap sebagai ahli takhayul, ahli pemecah belah primata.

Pada suatu persinggahan di penginapan,  jikalau ia tidak pergi sejenak ke luar untuk memperhatikan purnama, maka mungkin ia sudah menjadi daging hangus; kamarnya dibakar. Lain hari, pada suatu perjamuan dengan kerabatnya, jikalau ia tidak bersin dan menumpahkan minuman dan melihat tikar menjadi berlubang karena airnya, maka mungkin perutnya yang akan berlubang. Puji Hydrus! Pengalaman-pengalaman itu mendorongnya untuk memilih jalur alam liar dan tidak percaya kepada siapapun. Hanya percaya kepada Hydrus. Ia selamat. Syukur.

Terik lagi dingin. Tinggi dan berkabut. Kadang terjal namun lebih sering landai. Perjalanan ini hampir sampai. Dengan satu matanya, ia melihat terlalu banyak primata. Ganjil. Pegunungan  Tereram bukanlah target wisata. Untuk mencapainyapun harus melalui perjalanan yang sulit. Lalu kenapa? Tiba-tiba perhatiannya teralih kepada patung Attaksi yang menyembul dari balik ransel seseekor primata di depannya. Imannya tergelitik hingga ia muak. Entah kenapa, tanpa sadar ia menyiapkan kuku panjangnya,  hendak membunuh pendeta Attaksi di depannya. Sebelum dirinya bertindak, terdengar derapan kaki. Ia menoleh ke belakang.

Seekor primata.

Ekspresinya sama bengis dengan dirinya sendiri.

Di sini terjadi sebuah mukjizat. Mukjizat yang akan menjadi sebuah pemicu hubungan sebab akibat berantai, jauh ke masa depan, yang hingga dan hanya hingga. Sungguh sayang, rupanya si pendeta Hydrus bermata satu itu tidak berhasil sampai untuk turut menyaksikan mukjizatnya. Hanya gambaran bilah pisau berlambang Tottekonlah yang menghiasi akhir nyawanya yang sia-sia. Oh tenang. Tidak perlu khawatir. Si mata satu bukanlah satu-satunya pendeta Hydrus yang digiring ke sini. Hydrus juga bukan satu-satunya sistem ketuhanan yang diundang ke sini. Masih ada banyak lagi.

Mukjizat ini diawali dengan acara mutilasi manusia oleh pendeta dari berbagai ketuhanan! Dari para pendeta Hydrus, dengan kuku panjang mereka yang mampu mencongkel bola mata dan menggunting telinga, hingga kapak kebanggaan pendeta-pendeta Pomutop yang mampu membelah batok kepala dengan sekali ayun! Ketika hanya tersisa satu pendeta dari masing-masing ketuhanan tersisa. Baskara ditutupi oleh makhluk raksasa hitam. Dengan kepala penuh berisi takhayul, para pendeta yang terpesona, yang ketakutan, yang kebingungan, segera memohon-mohon. Dalam pandangan mereka tergambarkan bahwa Tuhan mereka akan segera turun memberikan pertolongan.  Mahkota baskara yang seperti tirai seakan tumpah kepada mereka. Turun dan menjelma awan-awan cemerlang. Bergulung-gulung. Banyak terlihat makhluk mitos berenang-renang di dalamnya. Lalu ketika semuanya buyar …

Ribuan halilintar.

Ribuan bayi Tuhan jatuh ke pelukan para pendeta.

Awal dari ribuan kebangkitan.

II

[Saya berpartisipasi dalam pestanya]

[Dengan memimpin Antariksa menuju kecemerlangan nurani]

Telinga ini perih mendengarnya. Dada ini bergemuruh dengan amarah. Namun saya berhasil meredam murka; memerintahkan sang pelapor berita pergi dari hadapan saya dengan tutur kata sepantasnya. Saya duduk sejenak di singgasana. Memejam. Mengatur hembus. Tenang. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk beranjak menuju kekasih saya. Atau lebih tepatnya, tawanan saya.

Dia berada di taman. Mengendus bunga-bunga rekayasa yang sedang saya teliti. Menoleh kepada saya. Tajam dan ceria tatapan hijaunya. Dia tahu saya hendak mengadu lagi. Tangan saya diambilnya. Dia menuntun saya. Perlahan melangkahi rangkaian batu pijak. Hingga sampai pada teratai raksasa di tengah kolam; tempat kami biasa bercinta. Dia berbaring. Saya di atasnya. Meremas. Melumas. Menggilas.

Semanis itu memang tingkahnya. Namun sesungguhnya dia tidak pernah menjadi kekasih saya. Dia selalu menolak tawaran menjadi permaisuri. Saya juga selalu berusaha membuahinya, menginginkannya melahirkan anak-anak saya. Namun tidak pernah berhasil, entah cara apa yang dia gunakan. Akalnya memang luar biasa. Sedari dulu, sejak pertama kali saya menawannya, dia selalu mampu memberi saya jawaban bijaksana atas segala kesulitan saya. Berkatnya juga, saya akhirnya mampu naik tahta beberapa tahun lalu. Namun semakin saya mengagguminya, membuat dirinya seakan terlalu jauh dan tak terjangkau. Saya merasa tak pantas. Tak mungkin menyandinginya. Apalagi menjadi kekasihnya. Saya hanya bisa menawannya dan merenggut perilaku permukaannya. Dan kali ini. Sekali lagi saya merasa sangat rendah. Begitu lemah. Saya mengadu. Kepada sosoknya yang terlalu istimewa bahkan untuk seprimata Adiraja.

Saya ceritakan kepadanya. Pengkhianatan. Kekacauan. Penggulingan. Kebangkitan takhayul besar-besaran.   Impian, upaya keras saya menyatukan primata dengan cara menghapus kepercayaan-kepercayaan yang membuat mereka selama ini berselisih dalam damai maupun perang sedang terancam. Genting. Oleh sulap tidak wajar. Meraganya Tuhan-Tuhan mereka ke dalam bentuk fisik yang dapat dilihat disentuh dan disembah secara langsung. Beruntung kekuatan mereka tidak sekuat apa kata kitab-kitab, namun tetap saja, hal itu memberikan motivasi besar bagi mereka untuk merdeka dari Keadirajaan Antariksa.

Dan pada saat saya bercerita tentang hal ini, ingatan tentang masa lalu tawanan saya ini merasuk. Dia adalah salah satu korban takhayul. Dia dan keluarganya merupakan pemeluk Amudabi yang tinggal di antara para penganut Sasakhva Talis untuk berbisnis. Pada awalnya ia dan keluarganya mampu hidup damai di antara mereka karena sikap yang ramah dan kedermawanan yang cukup. Namun ketika segelintir pemeluk Amudabi garis keras melakukan peledakan kuil Sasakhva Talis tak jauh dari situ. Masyarakat Sasakhva Talis yang akalnya ditutupi kabut rasa takut, mulai memusuhi keluarganya yang tak terlibat apapun. Rumah mereka dilempari batu. Masih usia sekolah, dia dan adik-adiknya kehilangan teman bermain. Dihujat, dikencingi. Primata tuanya menuntut keadilan kepada pemerintahan setempat namun sia-sia. Itulah. Salah satu motivasi saya menginvasi negara itu dan juga negara-negara lainnya, yang membiarkan hukum-hukum mereka dikangkangi sentimentalisme sesembahan. Ketika tanpa bukti, takhayul-takhayul itu sudah begitu berbahaya, bagaimana sekarang? Ketika bayi-bayi Tuhan mereka meraga? Mengerikan.

Sesaat pikiran saya mengawang kepada masa depan yang runyam. Terusik pikiran ketakutan luar biasa. Bagaimana jika bayi-bayi itu tumbuh dewasa? Lalu memiliki kekuatan seutuhnya seperti Tuhan-Tuhan pada kitab mereka? Tentunya mereka akan saling tuduh bahwa pihak lain adalah iblis atau pendosa atau penyihir atau semacamnya lalu hendak saling menumpas dengan dukungan sulap-sulap mengerikan? Kehancuran macam apa yang akan mereka bawa kepada dunia ini?

Jemari selembut kapas menarik leher saya turun. Lidah kami bertautan. Air liurnya terasa manis. Aroma yang terpancar dari tubuhnya sungguh memabukkan; lebih harum daripada bunga-bunga di taman ini. Tidak pernah sesaatpun dirinya membosankan.

“Wahai Adiraja. Momentum yang Yang Mulia dahulu manfaatkan sesungguhnya masih bisa diandalkan.”

“Dahulu saya berhasil memanfaatkan bencana baskara itu untuk membeli takhayul mereka dengan teknologi, namun sekarang apa daya? Bayi-bayi Tuhan mereka itu sungguh sakti mandraguna, dan mampu mengatasi dampak bencana baskara tanpa perlu teknologiku lagi.”

“Kombinasi teknologi dan niat mulia. Itulah momentumnya.  Ayolah, ditambah dengan satu buah momentum lagi, Keadirajaan Antariksa ini tak akan dapat dihentikan.”

“Apa itu oh Adinda? Berikanlah petunjuk kepada saya yang tak berdaya ini.”

“Takhayul. Oh bukan. Tapi iman. Kepercayaan tak tergoyahkan kepada Sang Kuasa. Manfaatkanlah itu.”

“Saya tidak mengerti dengan apa yang Adinda sampaikan. Jelaskanlah.”

“Sesungguhnya, bagaimanapun Yang Mulia dan primata-primata Antariksa menolak sosok-sosok Tuhan sebagai sekedar takhayul. Keinginan untuk ditolong, keinginan untuk dibimbing, keinginan untuk bergantung, kepada sesuatu yang memiliki kekuasaan tanpa batas tidak akan pernah sirna dari jiwa-jiwa seluruh primata. Maka manfaatkanlah momentum mukjizat itu. Percayalah. Bangunlah sebuah iman yang kuat dan cemerlang. Lahirkan kepercayaan yang membawa harapan akan perubahan. Bukan ketakutan kepada bermacam-macam neraka dan keinginan nafsu terhadap bermacam-macam surga. Ciptakanlah tuntunan baru dengan gaya Antariksa.”

“Tidak mungkin ….”

“Mungkin? Pasti.” Pipinya menyentuh pipi saya. Setelah mengunyah telinga, kemudian ia menjilat bahkan meneguk tetesan yang membanjiri pipi saya, memburu hingga pangkal kelopak mata.

“Air mata ini, apakah mereka berbohong? Ini adalah ungkapan kerinduan jiwa primata kepada Tuhannya. Sejauh apapun primata mencoba mengisi kerinduan itu dengan mukjizat teknologi, sebuah konsep Sang Kuasa yang penuh misteri itu tidak akan tergantikan. Percayalah. Hamba yang lemah ini. Yang sedari remaja menderita karena sesembahannya, tidak pernah mampu menghilangkan rasa ketergantungan, kerinduan itu.”

“Akankah Tuhan mengampuni saya?”

“Yang Mulia akan diadili oleh Tuhan seadil-adilnya. Memohonlah. Lalu pimpinlah primata.”

“Bagaimana?”

“Janganlah terlalu manja. Lihatlah kebelakang, kenapa negeri ini dahulu dinamakan Antariksa? Itu karena para leluhur Yang Mulia memiliki ketertarikan luar biasa dengan Antariksa. Sebagian besar sumber daya negeri telah dihamburkan dengan proyek-proyek Antariksa. Kaitkanlah dengan bencana baskara, kehadiran Tuhan, dan Antariksa.”

Termenung saya dibuatnya. Masih memeluknya di atas teratai, pikiran saya melanglang buana …

“Terima kasih,” gumam saya sembari mengecup kedua matanya.

Saya mengerti. Keputusan telah tercipta. Maka sudah waktunya saya berpisah dengan sosok surgawinya dan kembali menghadap dunia buruk rupa ini demi menyelamatkan primata, dan menuntun mereka dengan iman Antariksa.

Mekanisme mukjizat. Pertama, saya harus benar-benar yakin dahulu. Yakin. Percaya. Membarengi kepercayaan itu dengan antisipasi sebab akibat kedepan. Dan saya tidak mau dijatuhkan bayi Tuhan dari langit. Saya tidak mau semudah itu. Saya mau bimbingannya. Bukan jalan pintas.

Meragalah wahai iman!

***

Sampaikanlah kabar gembira ini kepada primata, bahwa mereka diwajibkan untuk meninggalkan takhayul, sihir, dan pemujaan-pemujaan. Dan adalah hak bagi mereka untuk bersembahyang kepada diri mereka sendiri secara kesatuan kebersama, mandiri berkembang, belajar dari kesalahan, dan mengupayakan perbaikan peradaban.

 

Sesungguhnya mereka diciptakan bukanlah untuk sekedar kembali kepadaKu dengan cara yang singkat. Bukan dengan menyiksa diri. Bukan dengan berkhayal akan kesenangan abadi setelah mati. Bukan dengan berkhayal disiksa selamanya dengan keji setelah mati.

 

Jikalau ada di antara mereka yang khawatir tentang kesudahan setelah mati. Sampaikanlah, tidak ada ancaman, hanya akan ada keadilan. Akan Aku pastikan bahwa segala kematian dan peninggalan kehidupan mereka, baik atau buruk, akan menjadi suatu manfaat pembelajaran dalam perbaikan peradaban mereka secara padu.

 

Maka janganlah ragu!

 

Mereka diciptakan untuk berjuang dengan nyata mencari jalan bangkit dari keterpurukan. Bencana baskara hanyalah satu dari banyak pembelajaran. Dan ketika mereka berhasil meninggalkan planet yang perlahan terbakar baskara dan tertelan takhayul. Maka itulah pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman. Mereka mampu.  

 

Untuk menguasai Antariksa!

 

Untuk mencari diriKu secara fisik!

 

Sesungguhnya mereka telah Aku karuniai dengan nurani dan logika yang cemerlang. Maka ini bukanlah perkara sulit atau perkara mudah, melainkan perkara iman dan usaha. Dan Aku akan senantiasa memberi petunjuk keberadaanku yang pasti kepada setiap langkah perbaikan diri mereka.

 

Aku selalu menanti mereka dengan tangan terbuka

III

[Planet ungsi yang pertama]

[Kamu berada di antara yang hingga dan hanya hingga kali ini]

Ketika kamu pertama kali menatap gulita tanpa kompromi ini dan menatap tempat asalmu yang kecil; kamu menggigil. Sensasi ketakutan bercampur aduk dengan rasa kepahlawanan. Sebagai penganut iman Antariksa, kamu benar-benar tergugah dengan seberapa dahsyat tantangan Tuhan untuk kaummu menaklukan Antariksa. Dan kamu ada. Kecil meronta. Mencoba menggigit dunia dengan sekuat-kuatnya. Mampukah kamu menciptakan luka?

***

Tidak mudah. Sangat sukar. Saat wahyu-wahyu suci pertama disebar dulu, kamu harus melalui banyak rintangan untuk membuang yang lama untuk memilih iman Antariksa. Rintangan terbesar sendiri datang dari kepalamu. Kepalamu yang takut dicemplungkan ke dalam air mendidih ketika mati nanti. Kepalamu yang sudah terbiasa melantunkan tembang-tembang Pomutop Sang Esa. Kepalamu yang akan segera menjadi target kapak para pendeta jika berpindah kepercayaan.

Setelah yakin. Berhasil mengungsi diam-diam ke Keadirajaan Antariksa, kamu berharap segalanya akan lebih tenteram. Namun karena tiba-tiba dari seluruh dunia terbentuk pasukan persekutuan yang menyerbu Keadirajaan Antariksa; kamu terpaksa harus angkat senjata. Perang itu menyebabkan kamu kehilangan tangan kiri. Sebelum kamu dan banyak primata kehilangan lebih banyak lagi, perang itu terhenti akibat bencana baskara yang semakin parah. Suhu meningkat tak terkendali.

Tidak ada lagi malam hari yang sejuk. Angin yang berhembus pada subuh dan senja juga sudah panas bukan main. Es-es lumer. Banjir melanda. Juga kebakaran. Tak ada harapan. Teknologi dan sulap-sulap mulai tidak sanggup menanggulanginya. Segala sumber daya Keadirajaan Antariksa dialihkan ke proyek Bahtera Surya dan proyek Planet Ungsi. Kamu. Yang kecil; bodoh; berlengan satu. Bekerja sebagai buruh mati-matian. Kamu ingat bagaimana kamu sembilan kali jatuh pingsan saat bekerja. Bangga akan kontribusimu ketika akhirnya Bahtera Surya berangkat menuju Planet Ungsi.

Mengarungi gulita yang jelita.

Pendaratan cukup mulus. Walaupun kamu sempat terkejut ketika Bahtera Surya tiba-tiba terpisah-pisah menjadi ratusan bagian. “Untuk mengurangi benturan,” Kata seekor primata yang tampak cukup pintar. Ternyata Planet Ungsi ini tidak sepenuhnya baru bagi Keadirajaan Antariksa. Leluhur mereka, dalam berbagai generasi sudah sangat tertarik dan terus berusaha membuat Planet Ungsi ini menjadi layak ditinggali bagi primata. Hasilnya adalah setidaknya seperempat Planet sudah layak huni. Primata pintar tadi juga menjelaskan kepadamu bahwa dahulu Planet Ungsi ini sama sekali tidak memiliki lapisan langit dan awan, bahkan tidak ada air yang dapat digunakan untuk kehidupan kecuali bongkah-bongkah es raksasa.

Upaya gigih leluhur membuatmu terpukau. Meskipun tentunya, masih banyak tantangan alam yang harus ditaklukan … Maka apakah yang dapat diperbuat buruh sepertimu? Banyak! Kamu masih muda. Masih bisa belajar untuk meningkatkan kapasitas!

Memperhatikan peradaban perlahan berkembang. Kamu yang juga semakin cemerlang merasa lapar. Perutmu seakan ingin terus diisi pengakuan orang-orang. Kamu ingin penting. Kamu ingin berkuasa. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu lari dari Keadirajaan dan bergabung dengan para kapitalis bawah tanah? Kenapa kamu menipu? Kenapa kamu merampok? Kenapa inovasi-inovasimu busuk? Kenapa kamu melihat Planet Ungsi yang masih luas dan kosong ini sebagai ladang uang dan kesejahteraan pribadi?

Ketika nuranimu membisikkan fakta bahwa kamu itu masih kecil dan bodoh, kamu selalu panik, mencoba mengatasinya dengan membuka isi dompet, menatap brankas, dan memeluk betina-betina; mencoba meyakinkan diri bahwa kamu besar dan pintar. Kamu juga semakin jauh meyakinkan diri, bahwa tindakan-tindakan rakusmu saat ini akan menjadikan pelajaran bagaimana primata-primata bisa sejahtera dengan merdeka dan berwirausaha dan merampas melalui inovasi-inovasi fungsi finansial turunan.  Tindakanmu yang paling keterlaluan adalah ketika pada saat kamu sudah benar-benar merasa mampu memberi gigitan pada Antariksa dengan melanggar peraturan-peraturan penting terkait keberlangsungan Planet Ungsi.

Kamu membangun Bahtera Surya pribadi; menggunakannya untuk ekspedisi tanpa izin ke bagian Planet Ungsi yang terlarang. Ha! Setelah ekspedisi itu gagal total, dan Bahteramu kembali dengan tangan kosong, kamu hanya berpikir, hal ini wajar, kerugian dalam spekulasi itu wajar. Namun beberapa saat setelah itu kamu mati.

Tahu kenapa kamu mati?

Bahteramu membawa wabah!

Wabah itu kemudian menyebabkan kematian massal primata!

Logika di balik doa?

Sejak kecil. Lingkungan yang religius terus memberikan dorongan dan tekanan untuk berdoa. Ada doa-doa yang memang dianjurkan bahkan nyaris seperti diwajibkan oleh ajaran agama, namun ada juga doa-doa yang berasal dari inisiatif individu.

 

Oke, saya anggap pembaca, sudah cukup memahami apa itu doa. Maka saya akan langsung saja ke topik. Logika di balik doa.

 

Begini lho. Kalau kita menginginkan sesuatu, kenapa kita malah mengangkat tangan dan meminta-minta, berbicara kepada sesuatu yang tidak kelihatan, yang belum jelas dalam batasan indera manusia? Bukannya segera bergegas dan melakukan sesuatu? Logikanya di mana?

Dalam kasus doa-doa dari inisiatf, yang biasanya dari keinginan pribadi : Kepingin naik kelas bukannya belajar malah berdoa? Kepingin beli motor baru bukannya kerja malah berdoa? Kepingin anaknya jadi orang pinter dan sukses bukannya dididik malah didoain? Ehm, jika dijumlah itu seluruh waktu-waktu berdoa, mungkin jika ditukar dengan usaha nyata dan praktik langsung malah akan memberi dampak lebih nyata. Mungkin lho 😛

Dalam kasus doa-doa anjuran agama, yang biasanya terkait dengan sifat-sifat keperkasaan tuhan :

Doa sebelum makan? Doa sebelum tidur? Doa sebelum masuk kamar mandi? Doa melakukan perjalanan? Doa kepada orang tua? Kalo dilihat tujuannya, doa-doa ini cenderung menuntut perlindungan/kelancaran/kebaikan-kebaikan, dengan mengangkat tangan dan berbicara menghadap tembok? Lucu 😛

 

Jangan marah~

Jangan doa-in saya yang jelek-jelek~

 

Ada logikanya sih menurut saya, biarpun agak maksa. Jadi gini, dengan berdoa, apalagi, ehm, doa yang rutin dan benar-benar tulus, serta gigih, menurut saya, akan menumbuhkan rasa percaya diri akan harapan itu, minimal … akan memberi sugesti positif deh, yang saya percaya dari sugesti itu akan menambahkan energi untuk berbuat sesuatu. Yah tergantung individunya sih.

Saya sendiri suka berdoa. Dan bagi saya, salah satu logika lainnya dari doa adalah, ehm, sebagai salah satu alat untuk mengingatkan diri sendiri pada apa tujuan saya? apa cita-cita saya? Juga untuk tetap membangun rasa percaya diri dan keteguhan menempuh jalan berkabut di depan, juga berharap kepada sosok tuhan yang begitu misterius dan unyu ❤

 

Sekian, kalau ada yang mau ditambahin dari logika maksa dari doa itu, silahkan komen, mau mencaci juga gak apa, love you all!!!