Primata

Cerpen berjudul Primata ini memiliki makna penting dalam hidup saya. Buah-buah bakal pikiran dalam cerpen perlahan tumbuh sejak dahulu di semester ke-3 kuliah ketika saya mengalami suatu kerisaun abstrak parah sampai-sampai pada suatu tengah malam terbangun dan menangis bingung. Selain itu, cerpen ini saya juga ikutkan pada lomba Fantasi Fiesta 2012 , dan meski gagal menang, pengalaman yang saya dapat waktu itu sangat berharga, termasuk pengalaman ribut-ribut protesnya haha sampai-sampai FF tidak ada lagi di tahun-tahun selanjutnya. Kemudian, peristiwa di cerpen ini juga menjadi sebuah titik penting yang menjadi dasar pengembangan ide-ide worldbuilding dalam proyek novel saya yang sedang dihentikan dahulu penulisannya (dihentikan karena memang sedang mencoba berhenti dan mengucilkan diri dari dunia kepenulisan fiksi untuk suatu alasan). Cerpen ini juga menjadi salah satu penyebab saya pernah sangat dekat dengan suatu manusia yang menjelma bagai cermin dan berhasil membuat kelenjar lakrimalis saya menjadi sangat produktif selama indefinitely.

Kenapa sekarang saya posting cerpen ini di sini?

Pertama, saya ingin berbagi cerpen ini untuk dibaca orang, karena waktu itu situs lomba tempat cerpen ini pernah rusak sehingga hilanglah cerpen ini di sana berikut segala komentar-komentarnya.

Kedua, saat berencana untuk saling bertukar buku untuk Diklat nanti,  teman saya mengusulkan saya untuk membawakannya buku yang bertema spiritual. Tidak punya saya buku macam itu, namun kemudian saya teringat cerpen ini, yang menurut saya cukup memiliki unsur spiritual, jadi saya putuskan untuk mengunggahnya saja sekarang untuk dibacanya nanti. Hey Bung, enjoy!

Ketiga, cerpen ini berperan sebagai pengingat. Mau bagaimanapun saya lari dari menulis, mau bagaimanapun saya coba melupakan menulis, entah kapan itu, mungkin, ketika membaca ini lagi,  saya akan mampu kembali dengan semangat baru. Yah, semoga.

PRIMATA

oleh Sasmito Yudha Husada

I

[Panen tawa dan jerit yang tak terhingga]

[Hiburan abadi untuk kebijaksanaan keji yang tidak pernah mati]

Malam ini terlalu panas. Walaupun akhir-akhir ini suhu malam memang meningkat, dengan pembakaran kuil-kuil Hydrus ini, panas bukan hanya pada udara, melainkan juga pada setiap gemuruh jantung pendeta dan pemeluk Hydrus. Yang pasrah, menjerit bisu, ketika tempat ibadahnya dilahap api. Ini keputusan pemerintah. Yang menentang diperbolehkan dibunuh. Beberapa sudah dibunuh. Beberapa dipaksa mengumumkan pembatalan imannya di alun-alun. Beberapa kehilangan kewarasannya.

Seekor primata tua. Janggutnya lebat, matanya satu. Berlumur air mata, ia meringkuk. Di dasar sumur yang kering; menggigil, memeluk patung kadal dengan erat. Terdengar liurnya. Primata itu melayangkan sederet kecupan terhadap kepala patung, juga menggesekkan ekor patung ke selangkangannya. Beberapa saat kemudian tangis rentanya terpotong dengan getaran nafasnya yang nyaring. Dia tergolek becek. Punggung melengkung. Primata tua itu merintih serak, “Hydrus kasihku ….”

Di luar sumur tempat primata itu bersembunyi, kuil agung Hydrus meluluh terpesona lenggak-lenggok api. Ada seseekor primata tua bertelinga satu sedang berlutut. Ia mengerang sambil menyebut-nyebut nama milik dia yang bersembunyi di dalam sumur. Primata telinga satu itu meracaukan masa lalu; kisah kasih terlarangnya dengan si mata satu. Ketika dahulu mereka dijadikan kambing hitam atas ketidakhadiran Tuhan Hydrus dalam mencegah bencana baskara.

“Kita sesungguhnya sama! Aku ingat perbincangan kita dahulu, bagaimana kita sama-sama mengejek bentuk Tuhan kaum Attaksi, dan bagaimana menurut kita konsep keimanan kaum Tottekon sangatlah konyol. Kita dahulu sama-sama menolak ratusan Tuhan lainnya kecuali Hydrus. Hanya kini berbeda jumlah satu. Tinggalkan kadal itu demi masa depan kita!”

Kefrustrasian si primata telinga satu itu kemudian diakhiri dengan sebuah raungan yang berupa pertanyaan. Sementara itu samar-samar mendengar suara si telinga satu; si mata satu kemudian secara tidak sadar juga menyerukan sebuah pertanyaan yang sama.

D  I       M  A  N  A       K  A  M  U

Jeritan yang padu; dalam kesengsaraan sejenak; senyaman secercah benak;  merangkak dan mencakar rahim; dari dalam dan luar. Di kejauhan, harmoni itu menggelitik telinga raksasa seekor proboscida. Proboscida itu menutup mata erat-erat. Mencoba mencegah air mata lepas. Karena ia tahu, air mata itu begitu beracun dan akan menyebabkan gadingnya lemas.

Saling mendengar; saling menilai. Dari intonasi suara saja sudah cukup bagi mereka untuk mengambil kesimpulan bahwa hal ini tidak bisa diperbaiki. Dahulu, setelah hubungan sesama kelamin mereka dikecam, si telinga satu diusir dari tempat itu, lalu pergi menjadi relawan ilmu alam di Keadirajaan Antariksa. Sementara si mata satu tetap di tempat, melanjutkan pembersihan dosa; berbakti kepada Hydrus. Kemudian ketika pada akhirnya mereka bertemu kembali, si telinga satu menawarkan seperangkat ilmu alam untuk meringankan dampak bencana baskara, dengan syarat dihancurkannya Kuil Hydrus.

Maka sesungguhnya, mereka sama-sama sedang memanggil Sang Kuasa. Si mata satu kepada Hydrus; si telinga satu pada takhayul.

Yang memuntahkan benci berlalu pergi, yang di dalam sumur kemudian mendengkur.

Bagi primata yang mampu bersyukur atas dicongkelnya mata sebagai pengampunan dosa dari Tuhannya. Bukankah lebih baik mati daripada sekedar tidur dan bermimpi? Bagi primata yang mabuk cinta hingga terpercik mani kepada patung Tuhannya. Bukankah lebih baik berjumpa Hydrus di Telaga Pelangi daripada kembali ke dunia ini hanya untuk menatap kerusakan para pendosa? Kasihan. Ia hanya tertidur.

Ia mengira hujan turun. Terbangun karena takut tenggelam. Meraih tambang hendak memanjat. Kepalanya mendongak. Menatap wajah raksasa di atas sana; mengintip, menyeringai. Wajah itu menangis. Air mata sedingin es menetes deras membasahi si mata satu. Lidah putih bergerigi melayang turun hingga dasar sumur; tepat di hadapannya. Makhluk itu adalah Sang Panglima Kadal Putih, seekor penyampai wahyu Hydrus. Terperangkap euforia, ia memeluk lidah, dan naik. Menyambut wahyu yang di sampaikan makhluk gaib itu; wahyu itu memberinya arahan untuk mengungsi jauh ke pegunungan Tereram. Di sana akan terjadi sebuah mukjizat. Mukjizat yang nantinya akan menjadi sebuah pemicu hubungan sebab akibat berantai jauh ke masa depan, yang hingga dan hanya hingga.

Sekarang si mata satu ini harus berhasil dahulu melalui perjalanan sukar. Di mana banyak pemerintahan telah takluk kepada tuntutan Keadirajaan Antariksa untuk memburu primata-primata sepertinya, yang dicap sebagai ahli takhayul, ahli pemecah belah primata.

Pada suatu persinggahan di penginapan,  jikalau ia tidak pergi sejenak ke luar untuk memperhatikan purnama, maka mungkin ia sudah menjadi daging hangus; kamarnya dibakar. Lain hari, pada suatu perjamuan dengan kerabatnya, jikalau ia tidak bersin dan menumpahkan minuman dan melihat tikar menjadi berlubang karena airnya, maka mungkin perutnya yang akan berlubang. Puji Hydrus! Pengalaman-pengalaman itu mendorongnya untuk memilih jalur alam liar dan tidak percaya kepada siapapun. Hanya percaya kepada Hydrus. Ia selamat. Syukur.

Terik lagi dingin. Tinggi dan berkabut. Kadang terjal namun lebih sering landai. Perjalanan ini hampir sampai. Dengan satu matanya, ia melihat terlalu banyak primata. Ganjil. Pegunungan  Tereram bukanlah target wisata. Untuk mencapainyapun harus melalui perjalanan yang sulit. Lalu kenapa? Tiba-tiba perhatiannya teralih kepada patung Attaksi yang menyembul dari balik ransel seseekor primata di depannya. Imannya tergelitik hingga ia muak. Entah kenapa, tanpa sadar ia menyiapkan kuku panjangnya,  hendak membunuh pendeta Attaksi di depannya. Sebelum dirinya bertindak, terdengar derapan kaki. Ia menoleh ke belakang.

Seekor primata.

Ekspresinya sama bengis dengan dirinya sendiri.

Di sini terjadi sebuah mukjizat. Mukjizat yang akan menjadi sebuah pemicu hubungan sebab akibat berantai, jauh ke masa depan, yang hingga dan hanya hingga. Sungguh sayang, rupanya si pendeta Hydrus bermata satu itu tidak berhasil sampai untuk turut menyaksikan mukjizatnya. Hanya gambaran bilah pisau berlambang Tottekonlah yang menghiasi akhir nyawanya yang sia-sia. Oh tenang. Tidak perlu khawatir. Si mata satu bukanlah satu-satunya pendeta Hydrus yang digiring ke sini. Hydrus juga bukan satu-satunya sistem ketuhanan yang diundang ke sini. Masih ada banyak lagi.

Mukjizat ini diawali dengan acara mutilasi manusia oleh pendeta dari berbagai ketuhanan! Dari para pendeta Hydrus, dengan kuku panjang mereka yang mampu mencongkel bola mata dan menggunting telinga, hingga kapak kebanggaan pendeta-pendeta Pomutop yang mampu membelah batok kepala dengan sekali ayun! Ketika hanya tersisa satu pendeta dari masing-masing ketuhanan tersisa. Baskara ditutupi oleh makhluk raksasa hitam. Dengan kepala penuh berisi takhayul, para pendeta yang terpesona, yang ketakutan, yang kebingungan, segera memohon-mohon. Dalam pandangan mereka tergambarkan bahwa Tuhan mereka akan segera turun memberikan pertolongan.  Mahkota baskara yang seperti tirai seakan tumpah kepada mereka. Turun dan menjelma awan-awan cemerlang. Bergulung-gulung. Banyak terlihat makhluk mitos berenang-renang di dalamnya. Lalu ketika semuanya buyar …

Ribuan halilintar.

Ribuan bayi Tuhan jatuh ke pelukan para pendeta.

Awal dari ribuan kebangkitan.

II

[Saya berpartisipasi dalam pestanya]

[Dengan memimpin Antariksa menuju kecemerlangan nurani]

Telinga ini perih mendengarnya. Dada ini bergemuruh dengan amarah. Namun saya berhasil meredam murka; memerintahkan sang pelapor berita pergi dari hadapan saya dengan tutur kata sepantasnya. Saya duduk sejenak di singgasana. Memejam. Mengatur hembus. Tenang. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk beranjak menuju kekasih saya. Atau lebih tepatnya, tawanan saya.

Dia berada di taman. Mengendus bunga-bunga rekayasa yang sedang saya teliti. Menoleh kepada saya. Tajam dan ceria tatapan hijaunya. Dia tahu saya hendak mengadu lagi. Tangan saya diambilnya. Dia menuntun saya. Perlahan melangkahi rangkaian batu pijak. Hingga sampai pada teratai raksasa di tengah kolam; tempat kami biasa bercinta. Dia berbaring. Saya di atasnya. Meremas. Melumas. Menggilas.

Semanis itu memang tingkahnya. Namun sesungguhnya dia tidak pernah menjadi kekasih saya. Dia selalu menolak tawaran menjadi permaisuri. Saya juga selalu berusaha membuahinya, menginginkannya melahirkan anak-anak saya. Namun tidak pernah berhasil, entah cara apa yang dia gunakan. Akalnya memang luar biasa. Sedari dulu, sejak pertama kali saya menawannya, dia selalu mampu memberi saya jawaban bijaksana atas segala kesulitan saya. Berkatnya juga, saya akhirnya mampu naik tahta beberapa tahun lalu. Namun semakin saya mengagguminya, membuat dirinya seakan terlalu jauh dan tak terjangkau. Saya merasa tak pantas. Tak mungkin menyandinginya. Apalagi menjadi kekasihnya. Saya hanya bisa menawannya dan merenggut perilaku permukaannya. Dan kali ini. Sekali lagi saya merasa sangat rendah. Begitu lemah. Saya mengadu. Kepada sosoknya yang terlalu istimewa bahkan untuk seprimata Adiraja.

Saya ceritakan kepadanya. Pengkhianatan. Kekacauan. Penggulingan. Kebangkitan takhayul besar-besaran.   Impian, upaya keras saya menyatukan primata dengan cara menghapus kepercayaan-kepercayaan yang membuat mereka selama ini berselisih dalam damai maupun perang sedang terancam. Genting. Oleh sulap tidak wajar. Meraganya Tuhan-Tuhan mereka ke dalam bentuk fisik yang dapat dilihat disentuh dan disembah secara langsung. Beruntung kekuatan mereka tidak sekuat apa kata kitab-kitab, namun tetap saja, hal itu memberikan motivasi besar bagi mereka untuk merdeka dari Keadirajaan Antariksa.

Dan pada saat saya bercerita tentang hal ini, ingatan tentang masa lalu tawanan saya ini merasuk. Dia adalah salah satu korban takhayul. Dia dan keluarganya merupakan pemeluk Amudabi yang tinggal di antara para penganut Sasakhva Talis untuk berbisnis. Pada awalnya ia dan keluarganya mampu hidup damai di antara mereka karena sikap yang ramah dan kedermawanan yang cukup. Namun ketika segelintir pemeluk Amudabi garis keras melakukan peledakan kuil Sasakhva Talis tak jauh dari situ. Masyarakat Sasakhva Talis yang akalnya ditutupi kabut rasa takut, mulai memusuhi keluarganya yang tak terlibat apapun. Rumah mereka dilempari batu. Masih usia sekolah, dia dan adik-adiknya kehilangan teman bermain. Dihujat, dikencingi. Primata tuanya menuntut keadilan kepada pemerintahan setempat namun sia-sia. Itulah. Salah satu motivasi saya menginvasi negara itu dan juga negara-negara lainnya, yang membiarkan hukum-hukum mereka dikangkangi sentimentalisme sesembahan. Ketika tanpa bukti, takhayul-takhayul itu sudah begitu berbahaya, bagaimana sekarang? Ketika bayi-bayi Tuhan mereka meraga? Mengerikan.

Sesaat pikiran saya mengawang kepada masa depan yang runyam. Terusik pikiran ketakutan luar biasa. Bagaimana jika bayi-bayi itu tumbuh dewasa? Lalu memiliki kekuatan seutuhnya seperti Tuhan-Tuhan pada kitab mereka? Tentunya mereka akan saling tuduh bahwa pihak lain adalah iblis atau pendosa atau penyihir atau semacamnya lalu hendak saling menumpas dengan dukungan sulap-sulap mengerikan? Kehancuran macam apa yang akan mereka bawa kepada dunia ini?

Jemari selembut kapas menarik leher saya turun. Lidah kami bertautan. Air liurnya terasa manis. Aroma yang terpancar dari tubuhnya sungguh memabukkan; lebih harum daripada bunga-bunga di taman ini. Tidak pernah sesaatpun dirinya membosankan.

“Wahai Adiraja. Momentum yang Yang Mulia dahulu manfaatkan sesungguhnya masih bisa diandalkan.”

“Dahulu saya berhasil memanfaatkan bencana baskara itu untuk membeli takhayul mereka dengan teknologi, namun sekarang apa daya? Bayi-bayi Tuhan mereka itu sungguh sakti mandraguna, dan mampu mengatasi dampak bencana baskara tanpa perlu teknologiku lagi.”

“Kombinasi teknologi dan niat mulia. Itulah momentumnya.  Ayolah, ditambah dengan satu buah momentum lagi, Keadirajaan Antariksa ini tak akan dapat dihentikan.”

“Apa itu oh Adinda? Berikanlah petunjuk kepada saya yang tak berdaya ini.”

“Takhayul. Oh bukan. Tapi iman. Kepercayaan tak tergoyahkan kepada Sang Kuasa. Manfaatkanlah itu.”

“Saya tidak mengerti dengan apa yang Adinda sampaikan. Jelaskanlah.”

“Sesungguhnya, bagaimanapun Yang Mulia dan primata-primata Antariksa menolak sosok-sosok Tuhan sebagai sekedar takhayul. Keinginan untuk ditolong, keinginan untuk dibimbing, keinginan untuk bergantung, kepada sesuatu yang memiliki kekuasaan tanpa batas tidak akan pernah sirna dari jiwa-jiwa seluruh primata. Maka manfaatkanlah momentum mukjizat itu. Percayalah. Bangunlah sebuah iman yang kuat dan cemerlang. Lahirkan kepercayaan yang membawa harapan akan perubahan. Bukan ketakutan kepada bermacam-macam neraka dan keinginan nafsu terhadap bermacam-macam surga. Ciptakanlah tuntunan baru dengan gaya Antariksa.”

“Tidak mungkin ….”

“Mungkin? Pasti.” Pipinya menyentuh pipi saya. Setelah mengunyah telinga, kemudian ia menjilat bahkan meneguk tetesan yang membanjiri pipi saya, memburu hingga pangkal kelopak mata.

“Air mata ini, apakah mereka berbohong? Ini adalah ungkapan kerinduan jiwa primata kepada Tuhannya. Sejauh apapun primata mencoba mengisi kerinduan itu dengan mukjizat teknologi, sebuah konsep Sang Kuasa yang penuh misteri itu tidak akan tergantikan. Percayalah. Hamba yang lemah ini. Yang sedari remaja menderita karena sesembahannya, tidak pernah mampu menghilangkan rasa ketergantungan, kerinduan itu.”

“Akankah Tuhan mengampuni saya?”

“Yang Mulia akan diadili oleh Tuhan seadil-adilnya. Memohonlah. Lalu pimpinlah primata.”

“Bagaimana?”

“Janganlah terlalu manja. Lihatlah kebelakang, kenapa negeri ini dahulu dinamakan Antariksa? Itu karena para leluhur Yang Mulia memiliki ketertarikan luar biasa dengan Antariksa. Sebagian besar sumber daya negeri telah dihamburkan dengan proyek-proyek Antariksa. Kaitkanlah dengan bencana baskara, kehadiran Tuhan, dan Antariksa.”

Termenung saya dibuatnya. Masih memeluknya di atas teratai, pikiran saya melanglang buana …

“Terima kasih,” gumam saya sembari mengecup kedua matanya.

Saya mengerti. Keputusan telah tercipta. Maka sudah waktunya saya berpisah dengan sosok surgawinya dan kembali menghadap dunia buruk rupa ini demi menyelamatkan primata, dan menuntun mereka dengan iman Antariksa.

Mekanisme mukjizat. Pertama, saya harus benar-benar yakin dahulu. Yakin. Percaya. Membarengi kepercayaan itu dengan antisipasi sebab akibat kedepan. Dan saya tidak mau dijatuhkan bayi Tuhan dari langit. Saya tidak mau semudah itu. Saya mau bimbingannya. Bukan jalan pintas.

Meragalah wahai iman!

***

Sampaikanlah kabar gembira ini kepada primata, bahwa mereka diwajibkan untuk meninggalkan takhayul, sihir, dan pemujaan-pemujaan. Dan adalah hak bagi mereka untuk bersembahyang kepada diri mereka sendiri secara kesatuan kebersama, mandiri berkembang, belajar dari kesalahan, dan mengupayakan perbaikan peradaban.

 

Sesungguhnya mereka diciptakan bukanlah untuk sekedar kembali kepadaKu dengan cara yang singkat. Bukan dengan menyiksa diri. Bukan dengan berkhayal akan kesenangan abadi setelah mati. Bukan dengan berkhayal disiksa selamanya dengan keji setelah mati.

 

Jikalau ada di antara mereka yang khawatir tentang kesudahan setelah mati. Sampaikanlah, tidak ada ancaman, hanya akan ada keadilan. Akan Aku pastikan bahwa segala kematian dan peninggalan kehidupan mereka, baik atau buruk, akan menjadi suatu manfaat pembelajaran dalam perbaikan peradaban mereka secara padu.

 

Maka janganlah ragu!

 

Mereka diciptakan untuk berjuang dengan nyata mencari jalan bangkit dari keterpurukan. Bencana baskara hanyalah satu dari banyak pembelajaran. Dan ketika mereka berhasil meninggalkan planet yang perlahan terbakar baskara dan tertelan takhayul. Maka itulah pertanda bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman. Mereka mampu.  

 

Untuk menguasai Antariksa!

 

Untuk mencari diriKu secara fisik!

 

Sesungguhnya mereka telah Aku karuniai dengan nurani dan logika yang cemerlang. Maka ini bukanlah perkara sulit atau perkara mudah, melainkan perkara iman dan usaha. Dan Aku akan senantiasa memberi petunjuk keberadaanku yang pasti kepada setiap langkah perbaikan diri mereka.

 

Aku selalu menanti mereka dengan tangan terbuka

III

[Planet ungsi yang pertama]

[Kamu berada di antara yang hingga dan hanya hingga kali ini]

Ketika kamu pertama kali menatap gulita tanpa kompromi ini dan menatap tempat asalmu yang kecil; kamu menggigil. Sensasi ketakutan bercampur aduk dengan rasa kepahlawanan. Sebagai penganut iman Antariksa, kamu benar-benar tergugah dengan seberapa dahsyat tantangan Tuhan untuk kaummu menaklukan Antariksa. Dan kamu ada. Kecil meronta. Mencoba menggigit dunia dengan sekuat-kuatnya. Mampukah kamu menciptakan luka?

***

Tidak mudah. Sangat sukar. Saat wahyu-wahyu suci pertama disebar dulu, kamu harus melalui banyak rintangan untuk membuang yang lama untuk memilih iman Antariksa. Rintangan terbesar sendiri datang dari kepalamu. Kepalamu yang takut dicemplungkan ke dalam air mendidih ketika mati nanti. Kepalamu yang sudah terbiasa melantunkan tembang-tembang Pomutop Sang Esa. Kepalamu yang akan segera menjadi target kapak para pendeta jika berpindah kepercayaan.

Setelah yakin. Berhasil mengungsi diam-diam ke Keadirajaan Antariksa, kamu berharap segalanya akan lebih tenteram. Namun karena tiba-tiba dari seluruh dunia terbentuk pasukan persekutuan yang menyerbu Keadirajaan Antariksa; kamu terpaksa harus angkat senjata. Perang itu menyebabkan kamu kehilangan tangan kiri. Sebelum kamu dan banyak primata kehilangan lebih banyak lagi, perang itu terhenti akibat bencana baskara yang semakin parah. Suhu meningkat tak terkendali.

Tidak ada lagi malam hari yang sejuk. Angin yang berhembus pada subuh dan senja juga sudah panas bukan main. Es-es lumer. Banjir melanda. Juga kebakaran. Tak ada harapan. Teknologi dan sulap-sulap mulai tidak sanggup menanggulanginya. Segala sumber daya Keadirajaan Antariksa dialihkan ke proyek Bahtera Surya dan proyek Planet Ungsi. Kamu. Yang kecil; bodoh; berlengan satu. Bekerja sebagai buruh mati-matian. Kamu ingat bagaimana kamu sembilan kali jatuh pingsan saat bekerja. Bangga akan kontribusimu ketika akhirnya Bahtera Surya berangkat menuju Planet Ungsi.

Mengarungi gulita yang jelita.

Pendaratan cukup mulus. Walaupun kamu sempat terkejut ketika Bahtera Surya tiba-tiba terpisah-pisah menjadi ratusan bagian. “Untuk mengurangi benturan,” Kata seekor primata yang tampak cukup pintar. Ternyata Planet Ungsi ini tidak sepenuhnya baru bagi Keadirajaan Antariksa. Leluhur mereka, dalam berbagai generasi sudah sangat tertarik dan terus berusaha membuat Planet Ungsi ini menjadi layak ditinggali bagi primata. Hasilnya adalah setidaknya seperempat Planet sudah layak huni. Primata pintar tadi juga menjelaskan kepadamu bahwa dahulu Planet Ungsi ini sama sekali tidak memiliki lapisan langit dan awan, bahkan tidak ada air yang dapat digunakan untuk kehidupan kecuali bongkah-bongkah es raksasa.

Upaya gigih leluhur membuatmu terpukau. Meskipun tentunya, masih banyak tantangan alam yang harus ditaklukan … Maka apakah yang dapat diperbuat buruh sepertimu? Banyak! Kamu masih muda. Masih bisa belajar untuk meningkatkan kapasitas!

Memperhatikan peradaban perlahan berkembang. Kamu yang juga semakin cemerlang merasa lapar. Perutmu seakan ingin terus diisi pengakuan orang-orang. Kamu ingin penting. Kamu ingin berkuasa. Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu lari dari Keadirajaan dan bergabung dengan para kapitalis bawah tanah? Kenapa kamu menipu? Kenapa kamu merampok? Kenapa inovasi-inovasimu busuk? Kenapa kamu melihat Planet Ungsi yang masih luas dan kosong ini sebagai ladang uang dan kesejahteraan pribadi?

Ketika nuranimu membisikkan fakta bahwa kamu itu masih kecil dan bodoh, kamu selalu panik, mencoba mengatasinya dengan membuka isi dompet, menatap brankas, dan memeluk betina-betina; mencoba meyakinkan diri bahwa kamu besar dan pintar. Kamu juga semakin jauh meyakinkan diri, bahwa tindakan-tindakan rakusmu saat ini akan menjadikan pelajaran bagaimana primata-primata bisa sejahtera dengan merdeka dan berwirausaha dan merampas melalui inovasi-inovasi fungsi finansial turunan.  Tindakanmu yang paling keterlaluan adalah ketika pada saat kamu sudah benar-benar merasa mampu memberi gigitan pada Antariksa dengan melanggar peraturan-peraturan penting terkait keberlangsungan Planet Ungsi.

Kamu membangun Bahtera Surya pribadi; menggunakannya untuk ekspedisi tanpa izin ke bagian Planet Ungsi yang terlarang. Ha! Setelah ekspedisi itu gagal total, dan Bahteramu kembali dengan tangan kosong, kamu hanya berpikir, hal ini wajar, kerugian dalam spekulasi itu wajar. Namun beberapa saat setelah itu kamu mati.

Tahu kenapa kamu mati?

Bahteramu membawa wabah!

Wabah itu kemudian menyebabkan kematian massal primata!

Advertisements

Ruminations On Lost Love: A Calamity and A Miracle

Saya sudah merencanakan, dan menulis sebagian tulisan ini dari akhir September. Tadinya saya hendak menulis berbagai “good reason” sebagai alasan untuk menulis ini. Mulai dari sebagai “memberi pigura pada memori” hingga “litmus test sore-loserness-of-my-mental-state”.

PRET.

In the end, there are always only two shits, the good reason and the real reason. The real reason, the wrenching urgency, for me I realize now, is just simply to unleash these beasts that oppress my mind. Couldn’t let it be, couldn’t let it live any longer, they’ve been taking up so much space in my brain’s Random Access Memory. Haha. Jadi. Silakan membaca. I’ll try not to worry too much about what readers might infer from this piece of shit I’m about to tell. Whatever!

Akhirnya terus tertunda sampai tahun berganti. Nice. What a delay. Tertunda secara sengaja dan tidak sengaja. Menanti diri ini menjadi cukup distant supaya mampu menggambarkan dengan lebih objektif. Susah. Mau ditunggu sampai mampus juga sulit. Dalam rentang waktu sejak awal niat tulisan ini dipikirkan hingga terus tertunda sampai sekarang, terjadi sesuatu dalam diri saya. Dari yang awalnya stabil, perlahan bergerak ke semacam emotional roulette, lalu bergulir menuju stabil lagi. Kalau diilustrasikan dengan kurva, mungkin seperi kurva Law of Diminishing Return. Semoga saja tidak naik turun lagi nanti, jadi seperti kurva sinus dong ya kalau begitu.

Sebelumnya, saya minta maaf kalau-kalau ada yang menyinggung perasaan. Juga mohon maaf kalau misalnya kebelang-belangan bahasa pada tulisan ini mengurangi kenyamanan membaca anda. Kadang, untuk menjaga jarak dengan emosi, menulis dalam bahasa inggris itu cukup membantu lho; sepertinya dulu saya pernah membaca ada riset yang menunjukkan hal ini—respon emosi lebih dekat ke bahasa induk dibanding dengan bahasa lain yang dipelajari setelahnya. Semoga tulisan ini tidak berdampak jelek, semoga cukup jujur dan jelas. Thanks for reading.


KEGERAUAN

10599155_774435805948896_482793742409666787_n

This is true. But when the other one is actually braver. I’d be reduced to a scared little cat. Hissing fearfully. Almost crying. Because it’s too good to be true and there’s a big chance I’m just being played at. I tried so not to give in. I really did.

Awalnya saya berusaha mengabaikan,  mendinginkan diri, dan berusaha tidak tertarik. Bahkan sampai dia pernah bertanya kepada saya, apakah saya homosex atau straight, haha. Kemudian karena merasa sangat cocok dan memiliki banyak keselarasan jalan pikir, saya mulai berani lebih menerima interaksi itu. I think it’s fair to say that we respect, admire, and even “fear” each other, in similar ways. Like a truthful mirror that shows not only the nice things, but also the ugly. Momentum penting yang perlu digaris bawahi adalah ketika pada suatu waktu, percakapan “spekulatif” dengan nada bercanda terjadi: ia bertanya, apakah saya mau menjalani pacaran dengannya, yang waktu itu saya jawab entah.

Dikombinasikan dengan berbagai faktor lainnya sesudah percakapan bercanda itu, saya jadi semakin menderita “kegerauan” yakni galau akibat geer. Kegerauan itu pun lama-lama berubah menjadi bola salju raksasa yang terus menggulung menakutkan. Saya orangnya cenderung berpikir berlebihan terlalu jauh, sehingga karena pikiran-pikiran saja saya sampai jatuh sakit waktu itu. Sungguh mengerikan rasanya, diri saya terasa sangat lemah, pusing, panik, dan tak berdaya melawan akumulasi emosi. Sebelumnya tidak pernah saya sama sekali merasakan perasaan sampai sejauh itu, sampai saya sakit! Makanya saya, dengan enggannya, berani untuk menyebut itu sebagai “cinta”.

Ada kutipan yang cukup mengilustrasikan kondisi saya waktu itu: dari Paulo Coelho in The Zahir: A Novel of Obsession:

“Love is an untamed force. When we try to control it, it destroys us. When we try to imprison it, it enslaves us. When we try to understand it, it leaves us feeling lost and confused.”

Karena waktu itu tanggal sudah dekat menjelang Tes Kompetensi Dasar yang harus saya jalani, saya harus segera sembuh. Maka dengan nekat saya coba tuntaskan segala kegerauan dengan mengungkapkannya dalam sebuah surat.

Ada beberapa pihak yang saya konsultasikan terkait keputusan ini. Salah satu yang cukup berperan besar dalam mendorong saya bergerak adalah pesan dari Kimi. She told me:

“You could push her away and continue to wonder… But would that be a decision you might regret sometime later in life? You could see how it goes. Maybe it will turn into a beautiful whirlwind romance, maybe you’ll get to know each other even more and she won’t like you or you won’t like her, maybe you’ll be together forever, maybe you’ll last a few weeks, months, or years.

“Maybe you’ll break her heart, or maybe she’ll break yours. You can’t predict the future because humans are complex and the universe is in chaos. What you can do, however, is make choices and act on them. But that is entirely up to you and what you feel comfortable with.”

And I acted on it. I sent it. Bagaimana responnya terhadap surat saya? Menurutnya, surat saya itu adalah surat cinta terbaik yang pernah ia terima; ia bilang saya sinting dan membuatnya sangat terkejut, tapi malam itu ia juga bilang bahwa ia tidak bisa berhenti tersenyum. Sayapun turut berbahagia.

vast-499x600

Mungkin saya bisa berhenti sampai di situ saja, toh saya sudah cukup lega mengeluarkan isi kepala, tapi insting purba memaksa saya untuk menulis surat tambahan keesokan harinya, surat untuk memintanya jadian. Voila, 20 Agustus 2014, cinta pertama saya diterima, dan tak lama setelah itu segala psychosomatic ailments saya turut sembuh. Thanks a lot. The whole thing was really a surprise and also a miracle for me. Should I thank my ailments or the test or her?

Bisa dibilang memang keputusan saya waktu itu memintanya jadi pacar adalah keputusan yang tidak rasional (ia sendiri bilang begitu) dan terburu-buru. Reckless. Gegabah. Ya, memang. Tapi saya sudah punya beberapa pertimbangan sendiri yang membuat saya berani nekat.

10625128_284669745062900_7406565683691539770_n

But.

In the end …


EKSPLORASI DIRI

Pertama-tama waktu itu saya mensyukuri keberanian mengambil risiko mengutarakan perasaan. Saya sendiri tidak pernah menyangka mampu melakukan hal seperti itu. Tak perlu disesali. Tak perlu. Waktu itu juga pertama kalinya otak saya benar-benar mampu memikirkan manusia lain bahkan sampai tubuh jatuh sakit. Sebelumnya, kadang saya merasa aneh karena sering malas memikirkan orang lain sama sekali, bahkan kematian-kematian orang yang dikenalpun, bahkan kerabat, bahkan kematian Kakek saya sendiri terasa hanya sebagai statistik, padahal saya cukup dekat dengannya karena pada saat SD dulu pernah beberapa tahun tinggal di rumah Kakek. Dengan pengalaman ini saya bersyukur dapat mengeksplorasi lebih jauh sisi dalam diri saya yang lebih manusiawi dan umum. Teman sempat berkomentar, syukurlah berarti saya masih cukup normal bisa mengalami derita seperti itu hahaha.

Saat menjalani hubungan, saya juga mulai terus menemukan sisi diri saya yang lain lagi. Saya jadi mampu khawatir pada orang lain; meski mengganggu ketentraman batin, otak ini bersikeras, untuk khawatir tentang kuliahnya, tentang kesehatannya, tentang kebahagiaannya. Ugh, it was goddamn weird, I both disliked and liked it at the same time; saya senang karena bisa mampu merasakan keinginan untuk peduli, namun juga lemas karena saya merasa tak punya cukup kuasa untuk memberikan pengaruh yang berarti. So powerless, so weak, couldn’t do anything significant to help her, because I was and am still just a long streak of nothing.

There’s more. At some point, when she was accused of something bad by her parents, I was crying silently. Saya waktu itu masih dalam perjalanan pulang dari sebuah acara makan-makan bersama tante, masih di dalam mobil, tapi saya tidak sanggup menahan tangis, padahal belum tentu dianya sendiri sampai menangis. What The Hell. Entah, mungkin karena saya juga pernah dituduh hal buruk, atau memang sangat cengeng saja sampai menangis begitu, entah. Yang jelas waktu itu tidak saya ceritakan ke dia kalau saya menangis. It might sounded as a lie and a mere exaggeration; but it actually happened, and I was totally perplexed. Weird huh? Well, uh, fyi, I cried watching an episode of Digimon Adventure when Gabumon evolved to Garurumon because Matt was being tortured by Seadramon.

Juga rasa rindu yang mengerikan. Seakan berjalan menanjak mendorong batu-batu raksasa. Seperti kerasukan. Saya kesulitan bernapas. Saya kira dahulu ungkapan-ungkapan “separuh napas” pada lagu-lagu cinta jijay itu hanya hiperbola, tapi ternyata bukan. Namun, karena demi mengalihkan diri dari derita rindu, saya jadi mulai sedikit hobi berolahraga, yah, contohnya saat saya menghabiskan sisa uang lebaran untuk rutin berenang, setelah uang habis lalu bersepeda, dan bahkan setelah sepeda saya rusak waktu itu, saya putuskan untuk memaksa diri untuk menggunakan kaki saja. Bahkan terkadang saat sedang puasa sunahpun, untuk menenangkan diri, pagi dan sorenya saya berjalan kaki masing-masing dua jam. Lalu ketika jadwal mulai sibuk, saya ubah waktu jalan kakinya ke malam hari (meski belakangan ini jadi semakin susah karena malam sering hujan dan badan sudah terlalu kecapekan setelah pulang kantor). Selain itu, ketika misery dan rindu terkadang tiba-tiba menggulung jadi tsunami setelah putus, saya bahkan sampai mampu berjalan kaki sampai lebih dari 40 km (https://www.endomondo.com/workouts/463235208), yaitu perjalanan pulang-pergi rumah saya di Jatibening hingga sekeliling daerah dekat kantor pusat kemenkkeu di Lapangan Banteng. Because, in the face of exhaustions, the soul stop screaming for her, instead, it asked for food, drink, and rest.

Seperti apa kata Van Gogh, “Love always brings difficulties, that is true, but the good side of it is that it gives energy.”

Selain itu. Saya yang super pemalas ini, juga sempat terpaksa memikirkan hal-hal tidak nyaman terkait tanggung jawab (jika hubungan waktu itu bertahan sampai jauh). Saya selalu, berpikir bahwa apa-apa yang bapak saya lakukan itu repot sekali: mengurus keluarga, membangun rumah, mengurus berbagai surat identitas keluarga, dan bersosialisasi di masyarakat. Ugh, belum kalau tiba-tiba atap bocor, antena terganggu, ac rusak, pompa air rusak, ibu sakit, yak ampun tanggung jawabnya. Saya kalau bisa inginnya sih tidak mau hidup serepot itu, urus diri sendiri aja belum bisa, tapi, tapi, tapi … mungkin, kalau demi orang yang penting bagi diri saya, saya akan mau. Mau. Yeah, but, damn you brain, I was just being too optimistic, thinking too far ahead, kalau di lagunya Muse nih, “hopes and expectations, black holes and revelations,” hahaha. But still, I really enjoyed the thoughts, and so glad I was able to think like that, even if it was just for a moment. I thought I’d never bother with that grown up stuffs; I thought I’d keep myself only to the vision of dying as soon as possible and as lonely as possible in somewhere far away where none of my friends or families could reach me. Well, now I’m considering that direction again. Kalau fantasi saya sih, inginnya mati di puncak gunung yang ada esnya.

Saya yang sebelumnya sangat tidak suka dengan lagu cecintaan umumnya, berubah menjadi lebih toleran, bahkan jadi cukup suka, khususnya kepada lagu-lagu sedihnya. Tak hanya itu, lagu-lagu yang dahulu hanya saya dengar karena suka musiknya saja, kini dapat saya cerna dengan perspektif baru. Rasanya seperti ada sebuah mata yang baru saja terbebas dari kelopaknya.

Dari “people.howstuffworks.com/breakup-song1.htm” saya simpulkan bahwa mendengarkan musik semacam itu memang benar-benar dapat berdampak baik dalam proses meringankan sakit. Oleh karena itu banyak lagu laku di pasaran yang bertemakan hal itu, toh karena memang demandnya tinggi, dan memang berdampak meringankan.

Berikut merupakan sebagian musisi dan lagu-lagu yang cukup berjasa dalam menemani saya, siapa tahu ada yang butuh rekomendasi, silakan. (Oh ya, keep in mind, lagu itu interpretasinya sangat subjektif, mungkin yang bagi orang lain bukan lagu sedih, bagi saya lagu sedih, vice versa):

– The Beatles: I’m A Loser, Yesterday, For No One, I’m Looking Through You, You’ve Got To Hide Your Love Away.

– Elvis Presley: A Fool Such As I, Heartbreak Hotel, Hurt, Kentucky Rain, You Don’t Have To Say You Love Me, They Remind Me Too Much Of You, My Baby Left Me, Separate Ways.

– Frank Sinatra: I’ve Got You Under My Skin, What Now My Love, Goodbye (She Quietly Says), Can’t We Be Friends?, Glad To Be Unhappy, One For My Baby (And One More for the Road).

– Coldplay: Warning Sign, The Scientist, Magic, Trouble, True Love, Ink, The Hardest Part, Fix You, In My Place, Swallowed In The Sea, Ghost Story, A Sky Full Of Stars, Oceans.

– Ed Sheeran: Bloodstream, Drunk, Give Me Love, The Man, One, Don’t, Don’t Think Twice It’s Alright (Bob Dylan Cover), Thinking Out Loud.

-Muse: Starlight, Supermassive Black Hole, Time Is Running Out, Falling Away With You, Hysteria, Map Of The Problematique, Big Freeze, Sunburn, Apocalypse Please, Madness.

-The Script: Six Degrees Of Separation, Exit Wounds, If You See Kay, Nothing, Deadman Walking, The Man Who Can’t Be Moved, Glowing, If You Ever Come Back, Broken Arrow, No Words.

– Kumpulan Soundtrack Fallout New Vegas: It’s A Sin, Something’s Gotta Give, Blue Moon, Heartaches By The Number, Where Have You Been All My Life?

– Beberapa lagu lainnya: The National – Sorrow, Roy Orbison – In Dreams, Otis Redding – I’ve Been Loving You Too Long, Bob Dylan – Don’t Think Twice It’s Alright, John Legend – All Of Me, The Carpenters – Goodbye To Love, Crown The Empire – Makeshift Chemistry, Josh Groban – When You Say You Love Me, Phil Collins – Against All Odds, 5 Seconds Of Summer – Amnesia, Emarosa – Live it Love it Lust it, Dir en grey – Glass Skin, dan lain-lain.

Oh ya, selain itu, saya juga jadi terseret arus emosi untuk membuat lagu-lagu gegalauan. Sejauh ini baru jadi dua, Broke My Promise (https://soundcloud.com/smith61/broke-my-promise) dan You Rhyme With Misery (https://soundcloud.com/smith61/you-rhyme-with-misery). Broke My Promise itu tentang gagal menahan diri untuk tidak bersedih-sedih lagi. You Rhyme With Misery itu tentang niat untuk menyabotase perekonomian dan merusak kehidupan bermasyrakat sebagai luapan emosi negatif. Ada satu lagi yang sudah jadi konsepnya di dalam kepala, namun belum sempat dibuat, tunggu saja.

Bersedih-sedih itu memang menyenangkan dan mengasyikkan bukan?

Lirik lagu Frank Sinatra yang ini sepikiran dengan saya:

Unrequited love’s a bore, and I’ve got it pretty bad

But for someone you adore, it’s a pleasure to be sad

Like a straying baby lamb, with no mammy and no pappy

I’m so unhappy, but oh, so glad!

–Frank Sinatra, Glad To Be Unhappy

Intinya, saya banyak belajar mengenal diri sendiri lagi lebih jauh dengan pengalaman ini. Lebih membuka diri pada emosi dan pikiran yang sangat alien bagi saya. Bing, teman saya mengiyakan perubahan ini, katanya, “Sejak lu jadian ma dia, lu jadi lebih peka sama orang lain. Biasanya kalo lu ditanya apa, diajak diskusi, lu jawabannya nyuruh orang lain mikir atau nyari ke google. Jadi lebih terbuka gitu lah dan komunikatif.”

Semoga momentum perubahan itu terus bergerak, tidak berhenti atau berbalik arah. I don’t want to walk away only to find myself turning to something worse.

“Writing does not cause misery. It is born of misery.”

-Michel de Montaigne-

Oh ya, satu lagi contoh hal yang membuat saya merasa bahwa segala ini cukup bermanfaat adalah, saya berhasil lolos menang sayembara suatu kumpulan cerpen untuk pertama kalinya, dan cerpen itu terinspirasi olehnya.

10150614_10203985184413856_3532023384969442390_n 10991334_10203985184453857_618474668990363013_n

Yeah, bersyukur sekali saya ini punya hobi menulis, jadi derita ini tidak menjadi hal yang sia-sia, bahkan bisa jadi alat eksplorasi emosi supaya mampu menulis lebih baik.

“Whatever happened to me in my life, happened to me as a writer of plays. I’d fall in love, or fall in lust. And at the height of my passion, I would think, ‘So this is how it feels,’ and I would tie it up in pretty words. I watched my life as if it were happening to someone else. My son died. And I was hurt, but I watched my hurt, and even relished it, a little, for now I could write a real death, a true loss. My heart was broken by my dark lady, and I wept, in my room, alone; but while I wept, somewhere inside I smiled. For I knew I could take my broken heart and place it on the stage of The Globe, and make the pit cry tears of their own.”

― Neil Gaiman, The Sandman, Vol. 10: The Wake


BEING SPARED?

I was spared by her. I could see it as an act of mercy. I could, yeah, I could.

I was released from most of my anxieties, from all the uncontrollable uninvited excessive empathy. Relieved from all obligations I thought I had to follow later on. A lot of speculative weights unburdened from my back. And I could return to my own journey towards anything as ugly as I wanted it to be. It’s not that I don’t care anymore, it’s just, I think she has enough, her family, her friends, and someone whom she said loves her very much. She also spared me from doing some reckless things that I had already planned back then. And by dumping me like that, she gave me the moral high ground, thus, she freed me from any potential guilt if this had ended the other way around. Are these enough reasons for me to accept this separation to just let it go?

At first, yes. Really. I thought it was a good mutual ending. She even gave me a really great and precise logical explanations. As a being who appreciates logic, I applauded her way of thinking and accepted it. I was fine. We were done. In a good way. But my intuition kept telling me that there was something a bit off. And yes. There was actually several things she had hidden. While it’s not a lie, I see it as a sin of omission. What hurt me most is not the things she had hidden from me, but the thing she had hidden from “the other man”. Ugh, it’s already too much details and I’m not gonna tell the rest, but here’s my impression: more or less it was something I could accept as fair, but, unfortunately, in my view, it’s unethical. Like a curse, that little taint alone managed to corrupt the good ending into something far more painful. It makes me feel so small and so meaningless.

The Beatles’ You’ve Got To Hide Your Love Away illustrates this existential misery quite properly:

Here I stand, head in hand, turn my face to the wall

If she’s gone I can’t go on, feeling two foot small

Everywhere people stare, each and every day

I can see them laugh at me and I hear them say,

Hey! You’ve got to hide your love away!

Hey! You’ve got to hide your love away!

                                                    

Blame and Introspection

          When I asked her what should I tell my friends if they asked about this separation, she allowed me to blame it on her unstability. But things are far more complicated than that. Me too, got a fair share of mistakes myself. And merely blaming her would makes me feel far smaller, far more meaningless, and totally insignificant passive being.
“What is life’s greatest illusion? Innocence, my brother.”

―Dawnstar Sanctuary Door.

Yes, I was too weak. If I were strong enough, I’d just let things stay cold back then, I’d not let my icy walls melted away, I’d not let myself to write that love letter. But hey! It’s a mistake all people got to make in their lifetime, and I’m glad I made that mistake; I blame it, but I don’t resent it.

There is a bit darker side to that mistake though. Back then, I was interested in politics, it was the time when the presidential election was so popular. In the pursue of my interest, I came upon an interesting book titled, “Thank You For Arguing” written by Jay Heinrichs. It’s a book about rethoric, and by reading it and observing the situation, I understood how Jokowi would triumph through his ethos as a weapon, beating Prabowo along with his logos and pathos. Other than that, I was also very eager to test my rethoric comprehension on writings.

When she came closer to my life, approaching me, and sparked madness in my mind, not only it gave me some psychosomatic ailments, it also gave me the push to apply my rhetoric knowledge into the love letter I wrote. No. No. No. The letter wasn’t filled with lies, it’s an honest letter, I just composed and arranged the words according to some rethoric theories. It served as a silly parameter regarding my rhetoric comprehension; whether I could get her as a girlfriend with my wordcraft or not. And I got her, for a while. Well, while it’s just a fragment of the whole thing, it’s definitely a critical decision moment.

Damn it, Frank Sinatra’s I’ve Got You Under My Skin really really portrays all of this appropriately.

I’ve got you under my skin.

I tried so not to give in.

I’ve said to myself this affair, it never will go so well.

But why should I try to resist when baby, I know damn well,

That I’ve got you under my skin?

I’d sacrifice anything come what might,

For the sake of havin’ you near.

In spite of a warning voice that comes in the night,

And repeats, repeats in my ear,

“Don’t you know you fool, you never can win?”

 “Use your mentality.”

“Wake up to reality.”

But each time I do, just the thought of you makes me stop,

Before I begin, because I’ve got you under my skin.

Sigh. There are a lot of factors that I already knew would made my love beaten to pulp.

One of the biggest factor is: I’m in a “difficult background”. I came from a strict religious family, and even though I never told my family about this, I knew they’d probably against us. Even IF we’re from the same creed, my family would against dating anyway, and the fact that we’re from different creed made it so fucking worse. I already gave her some picture about this bad situation I’m in before I sent her that letter, so when she accepted me, it’s quite logical for me to thought for a while that she’s comitted to fight along with me on that difficult road; and back then I felt really bad about draging her with me.

Considering the obstacles, I thought I had to prepare as if it was a grand political campaign; to make the relationship turns into a vivid argument, a living tool of rethoric, in past, in present, in future, in ethos, in pathos,  in logos, and in kairos, to make the connection fruitful and enhance our growth into far far better individuals (this way, even if our plan thwarted, the effort itself would be enough as a reward; it’s a win-win campaign). I also may use some issues within my family as an extra persuasion tool, for example: my aunt sometimes treated my grandmother like shit, and the fact that my aunt’s relationship with her ex of different creed was not supported back then, might play part in her hostility, this, I could use against my Mom since she’s been constantly warning me not to grow up like my aunt. But then, like I mentioned before, I was spared by her mercy from all the reckless things I might have done to struggle on that difficult path.

I blame myself in this part, I knew all along that doom was almost certain, and I tried to drag her along with me on the account of my selfishness. When she dumped me, she said it’s too risky. Oh, well, I do agreed with her, but still, I was suffocated in a mix of crushing disappointment and awkward reluctant gratitude.

Another great factor of doom is my inherent lack of quality.

10622838_704733282934705_6796688207787357116_n

Who am I compared to her exes? Compared to the regiments of gentlemen chasing her? Compared to “the other man”? Nothing but a mere compound of ashes, dusts, sands, and dirts. Though I’m under contract to serve later in Ministry Of Finance, I was essentialy jobless, and moneyless at the time. I also lacked the resources and willpower to actually reach her. I was also a fucking retard in expressing my affection, shy and awkward; clueless, helpless, so so so much less. I could go on and on to tell you readers about my unattractive traits, but that would bore you, so I’d rather stop now. In short, I wasn’t ready for love, I wasn’t ready to love. Goddamn it.

Analogy!

Ada beberapa analogi yang hendak saya sampaikan.

Anda tahu Pokemon? Magikarp?

New Picture (1)

Magikarp! Famous for being very unreliable. It can be found swimming in seas, lakes, rivers, and shallow puddles. Whoever its opponent, and however horrible the attack it receives, all it does is Splash around. An underpowered, pathetic Pokemon. It may jump high on rare occassions, but never more than seven feet. Its swimming muscles are weak, so it is easily washed away by currents. In places where water pools, you can see many Magikarp deposited by the flow. It is virtually worthless in terms of both power and speed. It is the most weak and pathetic Pokemon in the world.

bAIEr6qDSzKGnXgrwK0b_-Diver+used+bubble+-+it+s+super+effective+_c761583015c75eb3b2ee864fb9e9d655

I feel like a Magikarp that once had been captured by a trainer (her) but eventually thrown away. I had high hope that she would trained me, partnered with me, helped me leveling and evolving into a Gyarados. But before that happened, she gave up on me, threw me back into the wild because I was just taking up space she could fill with any Pokemon far cooler and more useful than me. That’s fair. Okay. Now I have to Splash around alone like a damn right weirdo I am, trying pathetically to become a Gyarados by myself though its odd is very small.

Cukup.

Sekarang analogi yang sedikit lebih baik. Pada suatu hari di sebuah pantai.

BillabongXXL06GerlachTodos_622

Saya sebagai seorang pengunjung pantai biasa saja. Hanya sedang berenang santai di air dangkal. Overweight and definitely tidak bisa berselancar. Namun tiba-tiba saya melihat sebuah ombak yang mulai menggulung. Dan kebetulan ada sebuah papan selancar entah punya siapa menyenggol-nyenggol saya.

Suara gulungan ombak itu menyapa jantung hingga berdebar. Aroma asin laut mendadak jadi begitu tajam hingga lambung bergejolak. Terpesona, otot leher tegang, bulu kuduk berdiri. Mengepalkan tangan. Menggertakan gigi. Dengan gegabah berlari menerjang ombak besar tersebut. Mencoba berselancar dengan papan temuan dan modal nekat. Tentu saja hal itu berujung dengan diri saya terbanting, tergulung, bonyok, dan menenggak begitu banyak air asin yang bercampur darah.

Apa yang sebaiknya dilakukan? Tentu saja segera bangkit lalu berenang kembali ke daratan, jangan berlama-lama terseret arus dan tenggelam! Tapi apa daya, saya ini orang bodoh, entah ada rusak apa di otak ini, masih saja, membatu menikmati basahnya paru, kembungnya lambung, dan membirunya kulit.

Satu analogi lagi.

Sebagai balasan atas panggilan “Ebola”nya kepada saya, saya sering menjulukinya sebagai “Ruh Jahat”.

New Picture (2)

Bisa dibilang memang saya menyebutnya ruh jahat karena saya sudah memperkirakan kemungkinannya akan berakhir seperti ini. Bisa dibilang itu sebagai upaya supaya ketika akhirnya terjadi, setidaknya sudah lebih siap sakit, meski tetap sakit. Namun sebenarnya ada sudut pandang yang lebih saya sukai.

Saya, berperan sebagai entah druid, entah shaman, entah necromancer, entah summoner, atau apapun lainnya yang mampu mengkidungkan mantra sihir ke alam. Menjeratnya –-ruh jahat– ke sisi saya. Dan ketika akhirnya berakhir, anggap saja, saat itulah saat saya kehabisan energi sihir. I was out of manna!

10615442_810975308952666_6411479948448348786_n

A young apprentice in the way of magic once tried his hands on Necromancy. Trying to spellbind an evil spirit to his side, he sneaked his way to the Forbidden Graveyard somewhere near the Valley of Solemn Thoughts. The binding was a success at first. And it gave him not only joy. But also agony. Because he realized his mana pool was too small, and its rate of regeneration was too inadequate; in short, he knew one day his mana would be depleted and the spirit would soar away from him. But it’s a good experience. He took risks, and he did it in his own way. And he was, grateful.


 

FUTURE?

If you paid attention to this post, you now know that my family didn’t know anything regarding my relationship. I also didn’t have any close friend nearby at arms reach. Thus when the sorrow conquered me, I was helpless, I had to hide from my family when I needed to weep. One thing I could do was spamming my online buddies with my sorrow (thanks guys, and sorry if I was being a nuisance!). One of them that I trusted to talk about this was David McElroy, he’s a writer, and he responded my messages with an article he published on his website. Here is the link: http://www.davidmcelroy.org/?p=20269

elroya

He disguised my name into Josh. There are some excerpts I’d like to highlight here:

“So what do you do? You let yourself cry. You feel the hurt. You grieve with a pain that’s just as bad as losing someone to death. And then you slowly start to heal. Very slowly, in many cases.

[…]

“But at some point, you’ll love again. When that happens, the world will seem bright and shiny and new again. You’ll be happy and joyful again.

“That love might or might not last, so I’m not promising it will be any better. You might be hurt again. But there might very well come a day when love comes and stays, when there’s someone you can trust and love and be happy with.

“I can’t make any guarantees that it will happen. I can only say that it’s worth pursuing.

“Love isn’t rational in any of its forms. It will make you do irrational things at times. But love will change you and give you what your heart most needs. It’s worth pursuing — and going through the hurt.

“Have faith in love. It’s the only thing that makes life worth living.”

Pada 4 Agustus 2014, saya pernah me-reshare sebuah gambar bertuliskan, “If you could write a note to your younger self, what would you say in only two words?” Saat itu, Michael Ferguson, Principal di The Polymathic Institute memberikan saran, “Avoid girls.”

*sigh*

CRAP. I don’t know. I’m not sure what to do anymore. Other than occasional weeping, maybe I’ll try not to do anything. Yes. Untill I’m completely calm, until I could handle the “difficult background” I’m in. I think I’d just try to murder every love away. But really, as I have mentioned before, I was spared from the speculative weights in my over-imaginative mind. But that weight was also the one that forced me to think bigger, harder, riskier, it gave me courage and shit and greater desire to live, so David was right when he said love makes life worth living. But I hope, l really hope it’s not the only thing. Please. Dog. I mean God. Don’t make it the only thing. Oh, maybe I could try hatred. Maybe with hatred I could grasp more desire to live? But maybe no; my life is already filled with enough hatred, and I’m still a dumb slowpoke sloth.

I used to disdain people’s infatuation with love stories. I used to look down on people who’re involved in storm of romances. I thought that they’re so weak that they need other parties to feel great. Now I know the pain of losing, I applauded them all. Salute, for those who never give up on trying to find their best match. It’s so fucking painful, yet, these people are all so brave, risking themselves on the open.

I once read a book about Math. It mentioned a story about Thales of Miletus. Though there’s no hard evidence whether this account is true or not, it’s an amusing read regarding love:

His “fatherhood” of demonstrative  mathematics  notwithstanding, Thales never married. When Solon, a contemporary, asked why, Thales arranged a cruel ruse whereby a messenger brought Solon news of his son’s death. According to Plutarch, Solon then began to beat his head and to do and say all that is usual with men in transports of grief. But Thales took his hand, and, with a smile, said, “These things, Solon, keep me from marriage and rearing children, which are too great for even your constancy to support; however, be not concerned at the report, for it is a fiction.”

Yep. What a cruel prank Thales did just to illustrate the pain of loving.

It seems to me. Love exists (mostly) in a war zone, reserved only for the tough, the strong, the brave. Because it’s more frightening than politics; filled with fallacies, biases, frauds, self-deceptions, and unfortunate timings. It resides in a supermassive black hole where even great minds such as Nietzche fell, and Napoleon maddened!

Fucking scary huh? Weakling like me would get bullets burried within my ass, head separated from my shoulders, fireworks on my intestines, in no time. WORSE, it doesn’t kill! I didn’t die. I survived the meteor shower. But. Well. Hmmm. Maybe I’ll just adhere to Michael Ferguson’s word. *sigh*

It’s worse, because by every sip of air to these charred lungs, I feel obligated to learn, to thrive, to march onward, but I know it’s tiring, I don’t want to be tired, shit, I don’t know shit, it’s so primal, framed structured madness, automatic chaotic intentions, whatever ever been so keen of fever. Goddamn it. Stop. Brain. Stop.

Good.

Okay. One other thing I’d like to say is my disappointment towards my way of thinking. As you read along and as I re-read this piece whole patches of abomination over and over, I conclude that I’m such a fool. I rely on external forces such as “the difficult path” and the presence of “love” from other person to grow. Why? Why didn’t I just want to grow just for myself? Why am I too easily pleased with what I have now? Why am I living too small? Bloody hell. It’s a thing I have to work on. I’m lacking passion. I’m lacking fire to pursue big things. I aim too low. I don’t want to stand up for anything. I don’t want to stand up for myself. As if I just want to lay down, drowned in my own piss, burried and choked by my own feces, smiling.

Fuck it. Despite writing this much bullcrap. I’m still clueless in the end. All I know is, there are wrong things ahead of me, and probably there’s no such thing as ready. Fight it.

6F9AEnf

Petaka Perpajakan Dalam Keruntuhan Kekaisaran Romawi Kuno

Petaka Perpajakan Dalam Keruntuhan Kekaisaran Romawi Kuno

Oleh

Sasmito Yudha Husada

2B KBN

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Konten Makalah : Sekilas Tentang Romawi, Perpajakan Romawi Kuno, Petaka Tak Terhindarkan, Kesimpulan, dan Hal Menarik.

Pendahuluan

Keuangan Publik?

Keuangan merupakan sebuah kata dasar uang yang diberi imbuhan ke-an dan memiliki mana ‘Hal yang berhubungan dengan uang’. Di mana Uang merupakan konsekuensi logis dari keadaan yang menuntut adanya medium untuk lebih lancarnya kegiatan transaksi ekonomi. Sementara jika Keuangan yang dimaksud adalah Finance, maka dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana masyarakat meningkatkan, mengalokasikan, dan menggunakan sumber daya uang mereka.

Publik, dapat dimaknai sebagai terjemahan Publik sehingga dapat memiliki beberapa arti sebagai berikut : Publik diartikan sebagai Umum, memiliki  contoh penerapan di Public Ownership, Public Service Corp, Public Switched Network, dan Public Utility. Publik diartikan sebagai Masyarakat, memiliki contoh penerapan istilah pada Public Relationship, Public Service, Public Opinion, dan Public Interest. Publik diartikan sebagai Negara, memiliki contoh penerapan istilah pada Public Authorities, Public Building, Public Finance, Public Revenue, dan Public Sector. Publik dalam padanan bahasa Indonesia adalah Praja yang berarti Rakyat. Publik bisa juga diartikan sebagai sejumlah orang yang memiliki kesamaan berfikir, kesamaan perasaan, kesamaan harapan, kesamaan sikap, dan kesamaan tindakan yang benar berdasarkan nilai-nilai norma.

Lalu apa Publik yang terdapat dalam Keuangan Publik? Jawabnya adalah Negara. Jadi Keuangan Publik adalah ilmu yang mempelajari bagaimana aktivitas keuangan dalam pemerintahan negara ini. Keuangan Publik berfokus kepada mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah , serta menganalisis keterkaitannya kegiatan pendapatan dan belanja tersebut pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi.

Keuangan Publik dan Kekaisaran Romawi Kuno

                Kekaisaran Romawi Kuno adalah sebuah simbol keperkasaan dan kejayaan, penuh dengan proses-proses perubahan dan pembelajaran menuju pencapaian kebanggaan-kebanggaan tertinggi bagi seorang pria. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Gaius Julius Caesar Augustus? Augustus mereformasi sistem perpajakan, mengembangkan jaringan lalu lintas dengan sistem kurrir yang resmi, membentuk polisi resmi, dan mendirikan layanan pemadam kebakaran untuk Romawi.

Sebagai Kaisar pertama, Augustus juga berhasil memperbesar Kekaisaran Romawi Kuno begitu luas, hingga mencaplok Mesir, Afrika, dan Semenanjung Iberia(Sekitar Spanyol).

Sungguh luar biasa pencapaian Kekaisaran Romawi Kuno, dilihat dari sudut pandang keuangan public, dari mana dan bagaimana mereka mendapatkan dana untuk membiayai pemerintahan yang begitu luas? Dan banyak pertanyaan lain yang mungkin terjawab dalam makalah ini, dan juga mungkin akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan-pertanyaan yang  tidak mampu dijawab oleh keterbatasan penulis dalam makalah ini.

 

Sekilas Tentang Romawi

Lebih dari dua ratus tahun Romawi adalah sebuah kerajaan. Sekitar selama lima ratus tahun, Romawi adalah Republik. Lalu selama sekitar lima ratus tahun selanjutnya, Romawi berdiri bangga sebagai Kekaisaran.

Romawi bermula dari sebuah persimpangan jalur perdagangan garam, yang perlahan-lahan menjadi pemukiman-pemukiman kecil hingga akhirnya menjadi desa. 2750 tahun lalu, di semenanjung Itali, tepatnya di daerah berbukit tujuh tepi sungai Tiber.  Tanah yang subur, air sungai Tiber yang jernih, perlindungan 7 bukit, dan lalu lintas perdagangan menyebabkan pertumbuhan pesat dari desa menjadi sebuah kota penting di semenanjung Italia. Romawi dalam masa-masa kebangkitan awalnya dipimpin oleh Raja-Raja. Dan Raja pertama Kerajaan Romawi adalah Romulus, yang dipercaya sebagai anak dari Mars sang dewa perang.

Kerajaan Romawi berubah menjadi Republik Romawi setelah mengalami berbagai gejolak dan petaka politik.  Dalam bentuk republik ini, ada tiga unsur penting dalam pemerintahan : Konsul, Senat, dan Assembly. Konsul terdiri dari dua orang yang bersama-sama memimpin pemerintahan. Senat, hanya terdapat 300 kursi, dan mereka adalah petinggi-petinggi keluarga bangsawan yang berfungsi membuat hukum dan mengontrol belanja pemerintahan. Sementara Assembly, adalah sejenis majelis yang terdiri dari masyarakat biasa, peran mereka adalah memilih siapa dua Konsul yang akan memimpin pemerintahan dan juga mengusulkan kebijakan-kebijakan(yang sayangnya dapat ditolak oleh senat).

Ketika Republik Romawi dianggap gagal, di mana terjadi pungutan pajak berlebihan, inflasi tinggi, tertutupnya rute perdagangan, dan depresi berat pada pertumbuhan perekonomian, para pengusaha dan pedangang mendambakan kedamaian dan perlahan tercetus ide di benak mereka bahwa, perdamaian dan stabilitas dapat dicapai jika kekuatan pemerintahan terpusat pada satu orang. Maka dibentuklah Kekaisaran Romawi yang dipimpin oleh Octavianus yang mengambil nama Augustus sebagai Kaisar pertama Kekasisaran Romawi dari 27 tahun Sebelum Masehi hingga 14 tahun Setelah Masehi.  Dalam bentuk ini, bagaimanapun para senat berkumpul dan berdebat di forum, kekuatan pemerintahan terkuat berada di tangan Kaisar.

Kondisi Perekonomian Romawi Kuno

                Mereka adalah negeri yang Agraris dan berbasis pada Perbudakan, dengan pemikiran utamanya tersorot pada bagaimana mensuplai bahan pangan kepada rakyat dan tentara yang begitu banyak. Petani Romawi bisa membayar pajak yang harus mereka tanggung dengan hasil pertanian, hal ini menyebabkan dua hal penting : Mempermudah dalam memberi pangan kepada rakyat dan tentara tanpa ongkos langsung, dan juga sayangnya, hal ini menyebabkan minimnya insentif bagi petani untuk meningkatkan hasil pertaniannya sehingga masyarakat memiliki ketergantungan kepada ‘pembagian pangan ini.

Satu cara bagi Romawi untuk terus mampu memberi pangan kepada rakyatnya adalah dengan ‘mendapatkan’ daerah-daerah sumber-sumber pangan, yang biasanya direbut dengan melakukan invasi terhadap daerah-daerah tersebut. Contoh daerah-daerah tersebut adalah : Mesir, Sisilia, dan Tunisia. Pangan-pangan ini dikirim melalui kapal-kapal laut, sehingga terjadilah perkembangan teknologi pelayaran.

Kesejahteraan Romawi ini menyebabkan para orang-orang kaya memerlukan kemewahan, dan salah satu cara bermewah-mewah adalah dengan mengimpor barang-barang eksotis seperti : sutra dari Cina, rempah-rempah dari India, binatang-binatang eksotis dari Afrika, logam-logam berharga dari Spanyol dan Inggris, juga permata-permata German.  Para Importirpun menjadi termasuk kalangan yang cukup kaya di Romawi.

Romawi memiliki salah satu sistem mata uang yang paling maju  di dunia saat itu. Koin-koin dari kuningan, perunggu, tembaga, perak, dan emas, yang dicetak dan diedarkan berdasarkan peraturan-peraturan ketat untuk bobot, ukuran, dan komposisi logamnya. Koin-koin ini sangat popular di dunia saat itu, koinnya indah, penuh detail, dan memiliki nilai seni yang cukup tinggi.

Menuju Keruntuhan Kekaisaran Romawi Kuno

                Banyak teori yang mencoba menjelaskan bagaimana kekaisaran yang luar biasa ini hancur. Namun satu kesimpulan utamanya adalah, keruntuhan ini terjadi dalam proses yang sangat panjang, tidak tiba-tiba, karena tentu saja para Kaisar dan pemerintahannya berupaya keras untuk mempertahankan kelangsungan hidup Kekaisarannya.

Beberapa gambaran masalah yang berperan dalam kehancuran Kekaisaran Romawi adalah sebagai berikut : wilayah yang terlalu luas untuk diurus secara efektif, korupsi yang merajalela, perang saudara, Kaisar sering naik tahta melalui jalur kekerasan atau sekedar keturunan darah sehingga kepala pemerintahan tidak jarang adalah seorang yang tidak mumpuni bahkan menjadi boneka saja, peningkatan eksploitasi budak sehingga banyak orang-orang romawi yang malah menjadi pengangguran, orang-orang kaya menjadi malas dan tidak peduli terhadap masalah-masalah publik, inflasi tinggi dan arus perdagangan melambat, masyarakat dibebankan pajak yang berlebihan, populasi menurun drastic akibat kelaparan dan wabah, munculnya kekuatan-kekuatan negeri lain di sekitar, dan lain-lain.

Perpajakan Romawi Kuno

                Mulanya, pajak yang ditetapkan kepada masyarakat cukuplah ringan dan sederhana. Pajak utamanya terdiri dari pajak kekayaan pada semua bentuk properti, seperti : tanah, rumah, budak, ternak, dan lain-lain. Tarif dasar hanyalah 0,01 %, meskipun pada masa-masa perang kadang-kadang naik menjadi 0,03%. Pajak dibebankan kepada komunitas, bukan kepada individu, jadi komunitas itulah yang akan memperhitungkan sendiri bagaimana mereka membagi tanggung jawab untuk melunasi pajak tersebut.

Salah satu andalan untuk mengisi kas Romawi adalah melalui Pertanian Pajak, para petani akan membayar di muka kepada pemerintah dan kemudian mendapatkan hak untuk kemudian memungut pajak gantinya kepada daerah. Intinya adalah, para Petani Pajak ini(disebut Publicani) meminjamkan uang kepada pemerintah, sementara ia memiliki tanggung jawab untuk mengubah properti-properti yang dikumpulkan sebagai pajak menjadi uang tunai.  Dengan demikian, pungutan oleh petani pajak harus mencukupi piutang Negara dan biaya-biaya mengubah properti menjadi tunai. Bagaimanapun sering terjadi korupsi dalam prosesnya, Pertanian Pajak merupakan investasi menguntungkan bagi pemerintah dan warga-warga kaya.

Naiknya Augustus sebagai Kaisar,  Pertanian Pajak dihentikan karena komplain dari daerah-daerah yang merasa diperas dan dirugikan, juga karena mereka menjadi terlibat hutang-hutang yang keji. Kemudian, Augustus mengganti Pertanian Pajak dengan Pajak Langsung.  Apa itu? Yaitu pajak yang dikenakan kepada daerah-daerah berdasarkan jumlah orang dewasa. Sistem pajak ini menjadikan pungutan yang datar, maksudnya, daerah jadi tahu berapa pajak yang harus mereka bayar dengan tetap, dan jika ada surplus pendapatan, itu menjadi hak daerah sepenuhnya dan tidak lagi dipungut oleh pemerintah. Hal ini menjadi insentif untuk bekerja dan memproduksi lebih giat.

Inflasi dan Pertumbuhan Perekonomian yang Tersendat

                Pada era Augustus, kondisi keuangan dan perekonomian cukup gemilang, sehingga Augustus menjalankan program –program pembangunan fasilitas public. Seluruh jalan-jalan di Italia diperbaiki, kuil-kuil direnovasi dan dibangun yang baru, saluran air dan pemandian umum diperbanyak, dan juga bangunan public lainnya dibangun dengan sangat gencar.

Namun ketika Kaisar Tiberius berkuasa, terjadi krisis keuangan karena, Kaisar lebih memilih untuk menghentikan pembangunan, meminimalisasi belanja, dan memilih menimbun uang sebanyak-banyaknya. Krisis ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi macet yang hanya dapat diatasi dengan hutang berjumlah besar demi memfasilitasi likuiditas.

Daerah Inggris ditaklukan Kekaisaran Romawi ketika Claudius berkuasa. Juga dalam kekuasaanya, Kekaisaran Romawi mencapai wilayah geografi maksimumnya. Konsekuensinya adalah tidak adanya lagi tambahan pendapatan dari negeri taklukan, sehingga saat itu Kekaisaran harus benar-benar membiayai dirinya sendiri dari dalam. Harus mandiri.

Saat Nero berkuasa, kebutuhan terhadap pendapatan yang tidak mampu diwujudkan menjadi awal mulanya penurunan nilai mata uang. Pendapatan ekstra sangat dibutuhkan untuk membiayai pertahanan dan birokrasi.  Penurunan nilai mata uang ini sesungguhnya adalah sejenis pajak, yaitu pajak terhadap   saldo tunai itu sendiri, dan dilakukan dengan cara mengurangi berat, ukuran, dan komposisi logamnya.

Penurunan nilai uang yang terjadi terus menerus tidak mampu meningkatkan kondisi fiscal. Mengacu pada teori Hukum Gresham, dimana “Bad Money Drives Out Good” yang tercermin ketika masyarakat merasa bahwa, uang lama lebih berharga(dengan berat, ukuran, dan komposisi logam yang lebih baik) daripada uang baru, sehingga mereka hanya mau membelanjakan uang barunya dan menimbun uang lama. Krisis berlanjut.

Dalm kekuasaan Kaisar Domitian, mulai muncul kebijakan-kebijakan konyol untuk mengisi kas Kekaisaran. Contohnya adalah dengan : mendenda, bahkan menyita asset-aset para orang kaya,  juga meminta sumbangan-sumbangan untuk alasan aneh seperti perayaan kemenangan perang atau perayaan naikknya Kaisar baru.

Seperti perampokan bukan?

 

 

 

 

 

 

 

Petaka Tak Terhindarkan

Penurunan nilai uang ini terus menjadi tren Kaisar-Kaisar selanjutnya, sejujurnya hal ini juga menjadi salah satu cara Kaisar untuk perlahan-lahan membasmi para Senat yang menjadi musuh politik mereka. Sementara Kaisar-Kaisar memiliki kepercayaan dan rasa ketergantungan yang sangat tinggi kepada tentara-tentaranya dan berupaya mati-matian untuk terus membiayai mereka.

Kekayaan orang-orang terus disita, dipajaki, dan disembunyikan. Menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi terhenti. Yang menyedihkan adalah ketika para orang kaya sudah tidak mau membayar tuntutan dana tersebut, maka orang-orang dengan kelas menengah ke bawahlah yang menjadi korban.  Sementara itu tuntutan pemasukan kas masih sangat tinggi karena perlunya pembiayaan militer demi mengatasi tekanan suku-suku Jerman dari utara dan terror Persia dari timur.

Ketika masyarakat mulai gerah dan merasa lebih baik untuk kabur, sistem malah semakin keji. Orang-orang mulai kehilangan kebebasan. Petani dipaksa terus bekerja, begitu juga anaknya dan seterusnya. Kalangan ataspun dipaksa memberikan jasa-jasa intelek seperti pemungutan pajak dengan tanpa dibayar, dan jika pajak tidak tercukupi mereka dipaksa mengisi sisanya dengan uang mereka sendiri. Hal ini menyebabkan semakin tinggi usaha-usaha untuk menyembunyikan kekayaan dan berpura-pura tampil semiskin mungkin untuk menghindari tanggung jawab.  Banyak petani-petani yang kabur dari kota ke daerah pinggiran atau kemudian sengaja mengikatkan diri ke suatu pemilik tanah independen yang kemudian bersama mencoba membangun sistem ekonomi tertutup tanpa campur tangan pemerintah.  Tentu saja pemerintah tidak tinggal diam, dan di era Diocletian terjadi suatu reformasi yang memungkinkan penyusunan anggaran tahunan, sayangnya upaya reformasi itu belum mampu menepis takdir keruntuhan Kekaisaran Romawi.

Kaisar Constantine meneruskan sistem-sistem Diocletian, dan juga menambahkan fitur-fiturnya sendiri yang berupa semakin ketatnya peraturan yang mengikat kebebasan rakyat. Meskipun masih menerima suplai pangan dan pajak dari daerahdaerah, tapi ketika para pengusaha-pengusaha benar-benar mengungsi ke daerah, Romawi mengalami kekosongan dalam kegiatan perekonomian. Masyarakat dan istana Romawi sendiri tidak memproduksi apapun, namun jumlah permintaan untuk mencukupi kebutuhan mereka terus meningkat dan terus menyedot sumber daya dari daerah-daerah.

Lima puluh tahun setelah upaya reformasi pajak Diocletian, tingkat pajak berlipat menjadi dua kali lipat.  Orang kaya berupaya sebisanya menghindari pajak, dengan berbagai cara illegal, sementara rakyat biasaa tak berdaya menghadapi kebrutalan pungutan pajak. Pemasukan untuk membiayai pertahanan militer terus berlanjut dan pajak semakin gila. Saking parahnya keadaan, upaya masyarakat untuk menghindari pajak sampai membuat mereka benar-benar mengundurkan diri dari pergaulan social sama sekali. Mereka yang memiliki tanah dan cukup sumber daya, mulai mendirikan sistem sendiri, dan mereka yang hanya memiliki sedikit tanah dan sumber daya menjadi bangkrut, dan beralih menjadi pekerja, bahkan budak. Hal ini menjadi awal dari Feudalisme, dan juga puncak keruntuhan Romawi .

Kekaisaran pada akhirnya tidak mampu membayar tentara, tidak mampu membangun benteng dan kapal perang. Invasi dari luar tak mampu dibendung lagi. Romawi hancur.

 

 

:::Kesimpulan:::

                Ditinjau dari segi keuangan publik, kehancuran Kekaisaran Romawi Kuno disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahannya dalam mengatur anggaran pendapatan dan belanjanya, di mana terjadi pungutan pajak yang irasional dan belanja yang tidak produktif(membiayai tentara yang tidak lagi menghasilkan jajahan baru untuk dikeruk sumber dayanya). Bahkan sesungguhnya secara garis besar, sistem perekonomian Romawi adalah Raubwirtschaft, yaitu perekonomian berdasarkan penjarahan terhadap sumber daya yang ada disekitar daripada berusaha memproduksi sumber daya sendiri.

 

 

~Hal Menarik~

                Keruntuhan Romawi terlihat seperti malapetaka bagi semua orang yang terlibat, namun sebenarnya tidak, hal ini dapat dilihat sebagai tersalurkannya aspirasi individu-individu masyarakat, bahkan dilihat dari segi arkeolog, bukti dari tulang-tulang manusia menyajikan fakta bahwa nutrisi orang-orang menjadi lebih meningkat setelah kehancuran Kekaisaran Romawi Kuno.

Daftar Pustaka

http://www.cato.org/pubs/journal/cjv14n2-7.html

http://www.unrv.com/economy.php

http://www.rome.mrdonn.org/

http://en.wikipedia.org/wiki/Decline_of_the_Roman_Empire

ROMA : The Novel of Ancient Rome – Steven Saylor