Review: All the Birds in the Sky

Beautiful, effortless, and calm. Like two rivers merged into a lake, where rainbows came for naps; only showing its magical strength when the time was ripe.

 

The book started like a story for children. Simple, but entertaining enough to reel me further. It started with each protagonist’s struggle against their own family. As they grew older, the number of their oppositions increased; schoolmate bullies. Laurence and Patricia sought an ally and found it in each other. They tried their best to help and comfort for each other, but life’s a mess, and both of them were little children. It got worse when an assassin decided to be involved in the growing resentment between their messed up alliance. They separated for quite a long time and had the chance to cultivate their own gift; Laurence’s mind for science and engineering and Patricia’s heart for healing and trickster magic. Their path eventually crossed, only to be separated again.  The rest was constant struggle against everything, and against each other, and against their own selves. Magic and science entwined; talking birds and tree, wormhole and time machine; struck each other violently because of fear, but there were also kisses because of love.

The first half of the story most comprised of ordinary slice of life events, except the quirks put here and there like, the talking animals and the two-seconds time machine. The book didn’t need to throw big things at my face. It’s pretty calm yet rewarding. That’s why it felt effortless to me. I got to know the characters in slow and intimate pace. The second half was when the lightning began to dance. They were so close yet so far, near but pulled apart. Super storm happened. War waged across the land. Doomsday machine. The unravelling. Parents and friends died. Fear. Fear. Fear. An oath got broken in order to save the dearest one. The story ended a bit weird. Not as satisfying as I would prefer it to be, but not bad.

 

Hasil Survei Naga

Saya iseng menghabiskan weekend saya untuk melakukan sedikit survei tentang naga. Saya penasaran, kira-kira, dalam pikiran orang, naga apa yang dianggap paling kuat? Naga apa yang paling bijak? Naga apa yang paling berkesan? Maka dengan muka tembok, saya serbulah secara acak manusia-manusia di media sosial.

Masih banyak yang belum menjawab, namun saya rasa cukup segini, toh polanya sudah agak terlihat, lagipula ini bukan survei akademis. Iseng aja. Begini hasilnya.

strongest

Dari 78 data masuk. Pada bagian Naga Terkuat, posisi pertama diduduki oleh Smaug dengan suara 12%, sementara posisi kedua diduduki bersama dengan perolehan suara 8% oleh naga berikut: Acnologia, Ancalagon, Jormungandr, dan Shen Long.

The Wisest

Sementara pada bagian Naga Terbijak, dipimpin dengan telak oleh Paarthurnax yang mencapai suara 23%, dibelakangnya Bahamut dan Shen Long dengan masing-masing memperoleh 7%.

most memorable

Gelar naga yang paling berkesan, diraih dengan suara 15% oleh Smaug, dibuntuti oleh Shen Long dari Dragon Ball Z dengan 11%, lalu dibuntuti oleh Fafnir, Bahamut, dan Alduin dengan suara masing-masing 7%.

Dari semua nama naga yang disebut saat survei, ada dua yang sama-sama paling banyak disebut. Yang satu naga dari timur, yang satu dari barat. Yang satu dari serial televisi animasi, yang satu dari film yang diangkat dari buku. Shen Long dari Dragon Ball Z, dan Smaug dari The Hobbit. Kemudian disusul bersama-sama oleh Bahamut dan Paarthurnax, lalu ada Alduin mengejar di belakang.

most mentioned

Kesimpulan seadanya dari data seadanya:

Kepopuleran seekor naga, mampu membuatnya terlihat paling kuat. Ancalagon, naga terbesar dalam dunia ciptaan JRR Tolkien baru mampu dikalahkan dengan kapal Earendil yang dipersenjatai oleh Silmaril langsung, itupun dibantu pula dengan burung Manwe. Sementara Smaug yang hanya digugurkan oleh seorang manusia, mampu meraih posisi pertama naga terkuat.

Meskipun sama-sama paling banyak disebut dalam survei, Shen Long dari seri Dragon Ball Z tercinta gagal menjadi pemuncak kategori manapun. Seiring waktu ingatan-ingatan masa kecil akan tergerus dengan terus datangnya hiburan-hiburan baru dalam berbagai bentuk. Tapi, satu keunggulan Shen Long dibanding Smaug adalah Shen Long berhasil dominan masuk ke setiap nominasi yang ada, bahkan ke nominasi Naga Terbijak, meski masih kalah dengan Paarthurnax dari Skyrim.

Sementara itu, Paarthurnax bisa dibilang memiliki karakter yang paling kuat dan spesifik. Dibandingkan dengan naga-naga lain dalam kategori masing-masing, Paarthurnax memuncaki naga terbijak dengan telak. Ia duduk di puncak gunung, memimpin para Greybeards. Menghabiskan sisa hidupnya merenungi kejahatan masa lampau, bertanya, “What is better  –  to be born good, or to overcome your evil nature through great effort?”

Salah satu tujuan saya melakukan survei ini adalah mencari referensi naga-naga untuk dipelajari, dan dijadikan sebagai model dasar untuk pengembangan konsep naga saya pribadi. Dengan ini saya sekarang mulai memiliki sedikit bayangan tentang naga-naga seperti apa yang akan saya ciptakan untuk proyek ke depan. Ada baiknya jika saya mempertimbangkan kembali niat untuk menciptakan konsep naga terkuat lalu mengalihkan fokus penciptaan ke naga-naga yang berkesan.

Terima kasih.

Pondering My Insignificant Future

It is one of my greatest fear to waste my life on chasing (excessive) wealth.

There are many options to choose, one is racing to climb the bureaucracy ladder as fast and as high as possible. Nay, NOT me! I shall treat this job in ministry of finance as a mere dayjob to feed myself. I’ll try to tread lightly just to survive the job; play safe and slow, I’ll not aim or compete for promotion beyond the minimum-effort-path. Of course I’ll still try to take whatever challenges and chances that will be available in front of me, but I will hold myself not to seek it beyond the necessary.

In my plan, while I can stay alive with that dayjob, I shall dedicate the rest of myself in the path of creation (at minimum: story, music, and painting). This is a desperate path of ignorant revolt, of trying to carve my very being into this world; for I know that whatever outputs or deeds in my wake will be probably worthless to the absolute mesh of reality. This is not an easy path, for I know I’ll be very sick of myself in my whole life, constantly trapped in the curse of self loathing, with my every tiny bit of failure and disappointment and various moment of regret of not taking any alternative path.

It is an unfortunate thing for me and any speculative soul whom I’ll fancy to the point of desire for romance, because I’m not a nice and generous creature that would be willing to provide and to shelter, I’ll not hoard money to build a house and/or buy a car like what most common homo sapiens sapiens have in their mind. Why not? Because to purchase, maintain, and think about these silly things is very very distracting. I have already too much distractions in life. So, I think I’ll be just stuck with my own selfish self.

For now, I know that I’m far lacking in quantity and quality regarding my creation preferences to be even at least reach the level of mediocre and public acceptance. I know. Really. It hurts. This, I suspect, could be attributed to my lazy habbits of “doing” and even “thinking”. Huh, do you think I think too much? Maybe, but most of them are mere lazy thoughts, not difficult brain wrenching thoughts. This slothness plagues not just my mind but also my physique.

I’ve read somewhere that being overweight does affect the thinking performance in not so good a way. So, I thought to myself, if, I want to learn and to produce greater level of abstraction, I must first stand on solid concrete which is my health. Therefore, to start this path, I must dedicate myself to reach physical fitness first. I asked myself: If I cannot achieve a shallow goal such as physical fitness, how then, can I push myself to reach high tier of mythical madness? If I fail this first step, maybe, I’m better off dead.

Ulasan: Osralus Primum Libro

Jadi, karena waktu itu sedang gelisah dan kesepian, *uhuk* *uhuk*, saya memaksakan diri untuk ikut Emir Salim ke Comifuro supaya ada pengalihan pikiran sejenak. Yah, meski berniat tidak membeli apa-apa, namun apa daya, saya tergoda si ganteng Dimar Pamekas untuk membeli Osralus: Primum Libro.

Saat pertama melihat kovernya, saya langsung terpikir Dragon Age!

Mirip soalnya. Ada tulisan plus bercak merah.

Osralus Primum Libro?

Buka halaman ii, konsep: Tomi Sularso. Oh, Osralus kebalikan Sularso toh.

Ekspektasi: Total War antara Tech vs Magic.

Ternyata: Duh. Politik. Politik nanggung pula. Ah, ada yang segar untungnya.

Di antara setiap cerita ada lexicon yang mengisahkan seputar dunianya. Ya, menarik. Tapi bisa lebih baik jika setiap cerita yang diseling itu juga benar-benar turut menyatu menjadi satu kesatuan yang megah, dan bukan hanya jumlah dari tiap-tiap bagiannya. Atau, saya juga kepinginnya sih, tiga cerita pertama ada konsekuensi jelasnya yang menyebabkan peristiwa pada cerita keempat terjadi, kemudian cerita sisanya barulah terpencar lagi untuk mengisahkan dengan jelas perubahan-perubahan unsur peradaban yang terjadi seusai cerita keempat.

Berikut merupakan kesan-kesan singkat saya pada cerita-cerita tersebut:

Cerita pertama, Minum. Sebenarnya, mungkin inti ceritanya ada di satu paragraf saja, terkait bagaimana sebenarnya tidak perlu memiliki darah superior untuk dapat menggunakan sihir. Itu saja. Tapi untuk sampai ke poin itu, saya merasa cerita terlalu berputar ke mana-mana, ke duel sihir, ke bangsawan mabuk, kurang relevan aja jadinya. Sayang ide di satu paragraf itu jadi kurang dalam.

Cerita kedua, Dari Petang Hingga Fajar. Ada orang berbincang di kedai minuman. Lalu ada orang rusuh masuk. Lalu bertikai. Nah. Seandainya ceritanya lebih jelas, mungkin bisa saya nikmati. Tapi setelah tiba-tiba tempat itu diserbu panah api, cerita semakin kabur.

Cerita ketiga, Jan dan Penjaga Kubur. Dibandingkan cerita kedua, ini lebih enggak jelas lagi ceritanya, meski memang yang ini mengedepankan unsur misteri. Namun, penulis seakan-akan terlalu mencoba menutup-nutupi fakta cerita demi membangun suspense sehingga cerita jadi buram. Twist di akhir cerita juga terasa kurang penting.

Cerita keempat, The Bull of Minos. Nah. Ini yang ceritanya sejalan dengan ekspektasi saya. Seru dan jelas pula. Ada upaya sabotase oleh penyihir terhadap proyek Automata. Ada perang putus asa yang diusung para engineer melawan keperkasaan sihir. Dan ada Bull of Minos. HANCURKAN! GILAS!

Cerita kelima, Keraguan. Ini juga bersuasana mirip, dibanding tiga cerita pertama. Namun meski, jalan ceritanya tertebak, setidaknya, urutan peristiwanya jelas dan utuh. Saya sedikit lebih menikmati ini dibanding cerita pertama. Saya juga suka penyampaiannya. Tentang upaya seorang petinggi kerajaan yang entah hanya hendak menyelamatkan diri atau hendak menjilat atau benar-benar mengikuti alasan yang ia sebutkan dalam cerita; ia semacam tukang intrik pada momen-momen tertentu, dan kali ini, dengan memenggal kepala rajanya sendiri, lalu diberikan kepada pihak anti sihir. Haha.  Untuk apa hanya mencari kesetaraan, kalau bisa merampas kekuasaan di atas yang lain ya nggak? Hahaha. Dasar. Sama aja.

Cerita keenam, Berhala Bukit Dewa. Yang ini sebenarnya juga cukup samar-samar ceritanya. Namun ada suasana yang berbeda dibanding cerita lainnya. Ada kesegaran tersendiri. Mungkin karena cerita ini mengarahkan sorotan kameranya pada suatu setting suku, bukan bebangsawananan atau perkotaan. Mungkin juga karena pergerakan narasinya terasa lebih dekat ke tokohnya, tidak sejauh pada cerita-cerita sebelumnya.

Cerita terakhir, The Watchkington Club. Ini mungkin cerita paling pendek. Tapi juga yang paling mudah dinikmati. Juga mungkin yang paling segar. Gaya dan ceritanya ringan, namun berkesan. Tentang sebuah kelompok orang-orang sok elit bertemu. Oh juga ada referensi tentang perpaduan teknologi dan sihir yang mungkin memang diniatkan sebagai simbol perdamaian? Ayo terbang ke bulan!

Urutan cerita terfavorit:

  1. The Bull of Minos
  2. The Watchkington Club
  3. Keraguan

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung.

                Terima kasih untuk cerita-ceritanya.

Teruslah menulis! Yang lebih baik dan lebih seru tentunya.

Ulasan: Legendary Moonlight Sculptor

Saya memutuskan untuk berhenti membaca Legendary Moonlight Sculptor sampai volume 10. Keputusan tersebut dibuat dengan pertimbangan saya ingin membaca dan ingin melakukan hal lain. Namun selama 10 volume itu sudah cukup untuk membuat saya terhibur, sehingga saya terdorong untuk mengulasnya sedikit.

Legendary Moonlight Sculptor mengisahkan sepak terjang seputar kehidupan remaja korea bernama Lee Hyun.  Yang membuat kisah ini menarik adalah bagaimana ia jatuh bangun menghadapi berbagai permasalahan yang menjegalnya, petualangan-petualangan fantastisnya dalam dunia Royal Road, pengabdiannya pada nenek dan adiknya, kisah bagaimana ia menjalin hubungan dengan berbagai pemain Royal Road lain, sifat-sifat rakus dan pelit Lee Hyun yang kadang lucu namun menjadi sesuatu yang keren ketika disertai dengan berbagai kecerdikannya memanipulasi orang, dan jangan lupa pada para Geomchi! Meski sebenarnya beda jauh, entah kenapa sosok para Geomchi ini mengingatkan saya kepada Prinny di seri Disgaea, mereka kocak!  Oh ya, membaca Legendary Moonlight Sculptor ini mampu membuat saya merasakan nostalgia mengingat masa-masa SMP dulu ketika memainkan Ragnarok Online.

Diceritakan bahwa Lee Hyun hidup dalam kemiskinan dan menderita teror dari rentenir sehingga ia putus sekolah demi bekerja. Karena ada undang-undang terkait larangan pekerja usia di bawah umur, nasib Lee Hyun justru semakin sulit, ia perlu sembunyi-sembunyi melaksanakan pekerjaannya yang dianggap illegal, atasan-atasannya pun sering memanfaatkan keberadaan undang-undang tersebut untuk membayarnya sesedikit mungkin karena Lee Hyun dapat dengan sangat mudah dipecat karena terancam hukum tersebut. Namun satu hal yang ganjil sekaligus menarik adalah, ditengah-tengah kemelaratannya itu, diceritakan pula bahwa Lee Hyun sempat-sempatnya merakit komputer murah untuk bermain game online Continent of Magic. Bahkan ia memainkannya dengan sangat serius hingga mencapai level tertinggi dan dikenal sebagai pemain terkuat pada game tersebut. Pada suatu hari, Lee Hyun memutuskan untuk menjual “Weed”, ID karakter Continent of Magicnya.  Ia memasang harga 50 ribu Won pada sebuah situs lelang, namun tanpa ia duga, IDnya laku terjual pada harga 3 miliar 90 juta Won. Namun kesialan menimpanya, rentenir menagih hutang almarhum ayahnya yang dahulu hanya 100 juta Won kini sudah berlipat-lipat terhitung jadi 3 miliar Won. Selain biaya membeli rumah baru dan pengobatan neneknya, sisa uang Weed akhirnya hanya 40 juta Won. Dengan sisa uang itu, Lee Hyun berniat mengulang kejayaan Weed pada sebuah game online baru yang sedang populer, yakni Virtual Reality Royal Road. Ia bersiap dengan belajar bermacam bela diri ke dojo-dojo, ia juga melakukan riset mendalam tentang Royal Road, dan tak lupa ia membeli kapsul Virtual Reality untuk bermain Royal Road. Ia bertekad untuk mampu menghasilkan uang juga dari Royal Road.

Dalam mencari class/job apa yang kira-kira cocok untuknya, Weed direkomendasikan oleh seorang NPC instruktur pelatih pedang supaya meminta saran kepada seorang NPC bijak penyendiri di tengah kota. Meski mengalami banyak kesulitan untuk menemui NPC tersebut, pada akhirnya ia diberikan sebuah Quest yang akan membawanya kepada sebuah jawaban. Quest tersebut ternyata sangat berat dan tidak sebanding jika disandingkan dengan Quest Job Change lainnya, sehingga, Weed baru dapat berhasil berubah Job pada level 68, dan sesuai judul seri ini, Job yang didapat Weed adalah “Legendary Moonlight Sculptor”. Sebagai “Sculptor”, Weed mengarungi dunia Royal Road dengan penuh derita dan seringkali dilecehkan pemain lain karena Jobnya yang dianggap tidak berguna. Saya sendiri pada awalnya juga sempat memiliki kepesimisan, “Sculptor” sebagai Job tokoh utama? Bagaimana bisa menarik? Namun setelah terus membaca, saya jadi kagum, bahkan tergoda untuk kursus memahat suatu saat nanti di masa depan jika sempat. Haha! Karena pada suatu bagian cerita, disisipkan sebuah logika yang cukup menarik disajikan: para ahli ilmu jaman dahulu, banyak juga yang memiliki keahlian mematung. Hal itu membuat saya langsung teringat kepada Leonardo dari Vinci, awesome man.

Oh ya, ada indikasi juga mungkin akan terbentuk plot cecintaan nantinya, namun sejauh ini sih selama 10 volume, belum ada sesuatu yang benar-benar eksplisit. Bahkan Weednya sendiri cenderung tidak peduli bahkan berprasangka buruk. Dan, HAHAHAHA, saat Weed berprasangka buruk itu, translatornya sampai menambahkan keterangan MEAN di dalam kurung:

 

“Until now she was able to speak but didn’t!”

There were numerous opportunities to speak, even when cooking or hunting, but so far, she had never so much as spoken a word, making the other party mistake her for a mute person.

“This must be a cruel trap. She will accuse me of ignoring her when she spoke and not doing something that I knew nothing about. Bad taste, such bad taste. How could there be a woman with such bad taste like this.” (this part was mean, really mean)

 

dan

 

“She said register friends right before she died! Female, you’ll have to find me first.”

Everyone drops items when they die. Weed believed when Seoyoon died, she worried about her dropped items and assumed that by adding him as a friend, she could leave her things with him who would never lose or sell her stuff! (this line was mean too)

 

Kejadian di atas itu justru terjadi saat … Seoyoon mengorbankan dirinya melindungi Weed dari terjangan tombak iblis serangan Bone Dragon. Juga, saat itu adalah saat pertama Seoyoon kembali mampu berbicara setelah cukup lama membisu akibat trauma mental masa lalu, dan kata-kata pertama itu adalah “friend” sebagai permintaan untuk mendaftarkan dirinya ke friend list Weed sesaat sebelum mati. Woahahaha! Good job Weed! Bisa terlihat watak Weed seperti apa? Ah, tapi segala rasa takutnya itu tidak tak beralasan. Dahulu, ketika pertama kali bertemu Seoyoon, Weed melihat tanda Player Killer pada Seoyoon, sehingga impresi pertama itu terus terbawa.

 

Sementara itu, hal-hal yang saya kira dapat disebut sebagai kekurangan dari seri LMS ini adalah sebagai berikut.

Jika anda ingin mencari narasi dan gaya bahasa yang indah, anda akan kecewa, karena narasi-narasi yang ada seakan ditulis dengan sesederhana mungkin yang penting cerita tersampaikan. Meski masalah dan derita datang silih berganti, namun saya rasa penulisnya masih kurang kejam terhadap Lee Hyun / Weed. Saya pikir Weed ini terlalu sering menang dan agak terlalu sering beruntung. Bermacam karakter lain di sekeliling Weed juga agak kurang diperdalam, seakan hanya sebagai cerminan untuk menggambarkan bagaimana rakus, bagaimana cerdik, dan bagaimana awesomenya si Weed ini.

Karena cerita LMS ini fokus pada Virtual Reality Royal Road yang memiliki unsur dominan RPG, kadang alur cerita jadi seperti terlalu berpola. Seringkali narasi perlu berulang-ulang menjelaskan setiap kali Weed memasak, memancing, mematung, menempa, memungut barang-barang dari monster dan menggunakan skill combat. Tapi anehnya, bisa dibilang hal-hal ini juga yang justru memberikan bumbu beda dalam LMS. Hal tersebut mendorong pembaca untuk lebih percaya bahwa ia sedang digiring ke dalam sebuah dunia game. Lagipula, setiap grinding skill berulang-ulang itu, sesekali muncul kejutan yang menarik, seperti misalnya skill-skill Weed dalam bidang sculpting yang menggugah, yakni bagaimana Weed dapat bertransformasi menjadi bentuk patung yang ia pahat, atau bagaimana Weed dapat memberikan ruh kehidupan kepada patung-patungnya sehingga dapat digunakan sebagai bala bantuan pertempuran.

 

Kesimpulannya, LMS ini sangat menarik untuk dibaca jika anda menginginkan bacaan ringan yang menyuguhkan berbagai petualangan seru, mulai dari berburu rubah dan serigala, membangun piramid, menyamar sebagai Orc memerangi Dark Elf dan Undead, menanam bermacam bunga di Valley of Death, dan menggempur Bone Dragon dengan bantuan Ice Dragon, Wyvern, Geumini, dan Undead.

 

Oh ya Geomchi! Jangan lupakan para Geomchi!