Bakwan: Mengampuni Manusia

Kepala Kantor: “Ikhlas?”

Saya: “Enggak ikhlas.”

 

Terdengar kepala seksi saya terhenyak, lalu bergumam lirih mengulangi kata-kata saya, “Eh, enggak ikhlas.” Ia seakan-akan tiba-tiba menciut.

Saya lanjutkan makan saya tanpa sudi menatap manusia yang sedang mengunyah bakwan rampasan dari piring saya. “Kok pahit ya?” Tambah Bos kantor kami itu. Saya abaikan pertanyaannya bagai angin lalu. Setelah bertanya-tanya ke pegawai lain di ruangan itu tentang ketidakberadaan telepon di ruangan kami, ia pergi. Ia selamat. Ia saya ampuni.

 

Sungguh, ketika ia mempertanyakan keikhlasan setelah mengambil dan mengunyah bakwan satu-satunya di piring yang sedang saya makan, terlintas pikiran-pikiran berikut:

 

“I am unattached to this world. I don’t have any stake or anything I’m afraid to lose. I don’t feel that I have ever any actual family. I don’t have a home. Past and present are pretty illusions. Not even future, for all living thing, shall perish, and goals are a mere device to fool oneself just to breathe another day. I don’t fear god. I don’t fear prison. I am lost, I am alone, I am free. Even reciprocal altruism is at my mercy. Right in this moment, I can snap your neck, rip open your belly, eat your heart raw, bathe your corpse with my semen, and make paintings with your blood and feces. Go away quick. Begone. Off you pop. Hurry!”

 

Mengerikan rasanya. Saya sangat takut. Takut bahwa pikiran-pikiran itu bukan sekadar hal yang dilebih-lebihkan karena emosi sesaat. Bagaimana jika hal tersebut merupakan kebenaran? Selama berjam-jam kemudian, pikiran saya merosot berputar-putar ke dalam jurang-jurang gelap kotor bau tengik, keji dan busuk dan tolol dan basah becek air mata. Malu-malu asu mengharapkan ikatan dengan dunia, tapi begitu sombong atas perbedaan yang diada-ada. Apalagi sesungguhnya tidak ada materi diri yang dapat dijadikan alasan andalan atau leverage dalam argumen keberadaan; karena saya memang faktanya hanya seonggok daging tak tahu diri yang berimajinasi terlalu tinggi.

 

Tapi akhirnya saya tertawa saat menulis ini. Karena sungguh lucu, ketika pikiran saya meledak dengan segala khayal ketidakterikatan diri dengan dunia, justru dan justru disebabkan oleh emotional attachment terhadap bakwan.

 

ANJIR GOBLOK HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. LET IT GO BRO. LET IT GO.

.

.

.

Then kill yourself.

.

.

.

Guus Hiddink.

292px-guus_hiddink_2012

Eh Just Kidding maksudnya.

 

 

 

 

Pengakuan Tentang Tuhan dan Agama

Menginjak umur ke-23 ini, saya tidak mau lagi membohongi diri sendiri dan hidup dalam keterpaksaan. Dengan tulisan ini, saya akan mencoba menggambarkan kira-kira seperti apa kepercayaan yang ada dalam diri saya. Maafkan saya jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih telah sudi membaca.

 

***

 

Saya tumbuh dalam keluarga yang menganut kepercayaan kelompok Islam tertentu. Secara praktik, dan garis besar, saya salut dan kagum atas orang-orang dalam kelompok tersebut, karena mereka memiliki kejujuran,  ketekunan, dan integritas yang bisa dibilang cukup dapat diandalkan.

Tapi bagaimanapun, saya menemukan ketidakcocokkan.

 

Kelompok ini menganggap bahwa Islam di luar mereka tidak sah amal perbuatannya sehingga tidak akan masuk surga dan akan jatuh ke neraka. Dulu, sebelum menyadari kepercayaan ini adalah hal yang ganjil, saya sangatlah sombong. Misalnya, ketika terjadi pertengkaran dengan teman yang tidak “seiman”, dalam pikiran saya akan terngiang suara yang meyakinkan diri bahwa nanti mereka akan masuk neraka, sementara saya dijamin ahli surga. Dampak pikiran ini bisa dilihat pada rekam jejak hidup saya sejak TK hingga SMP yang penuh dengan perkelahian karena saya dulu merasa manusia paling benar.

Seiring bertambahnya usia dan pendidikan, saya mulai menyadari bahwa kepercayaan semacam itu jangan dijadikan sandaran karena akan membawa kesedihan dan perpecahan. Pada suatu waktu, teman saya bercerita tentang “kelompok-kelompok” sesat dalam Islam. Tanpa diketahuinya, salah satu yang dijelaskannya adalah kelompok yang saya dan orang tua saya anut. Waktu itu saya diam-diam menitikkan air mata. Bukan hanya karena merasa terhina, namun juga karena timbulnya suatu kesadaran kecil yang perlahan menjadi renungan-renungan keras dan menyakitkan.

Begini, jika adalah sesat ketika sebuah variasi Islam, sebut saja X mengklaim variasi agama Islam lainnya tidak sah; maka ketika agama Islam secara umum mengklaim X adalah sesat, bukankah secara tidak langsung agama Islam menerapkan logika kesesatannya terhadap diri agama Islam itu sendiri? Kemudian, kalau dilihat melalui sudut pandang yang lebih besar, bukankah agama Islam itu sendiri merupakan variasi dari agama lain yang juga mengklaim kesesatan terhadap variasi lainnya. Segalanya seperti sebuah lingkaran permusuhan yang kelam dan tak ada ujungnya.

Bukankah agama seharusnya suci dan mensucikan? Mengapa justru saling memelihara benci dibalik kesombongan surgawi masing-masing? Saya ingat pernah mendengarkan suatu nasihat keagamaan yang intinya berpesan: setan mampu membuat hal-hal yang sesat menjadi indah di mata manusia. Kemudian waktu itu saya berpikir, mungkinkah, sebagian aspek agama dan janji surgawinya merupakan hal sesat yang dibuat jadi indah oleh setan di mata manusia?

Sementara itu di satu sisi, saya mulai curiga bahwa saya sebenarnya tidak betul-betul percaya, mungkin, hanya “ingin” percaya karena berbagai ancaman neraka. Karena, kalau diingat-ingat, pada masa-masa SD, saya pernah berkhayal bahwa jagoan-jagoan masa kecil seperti Son Goku, Power Rangers, Ultraman, dan sebagainya berkumpul bersatu membunuh memusnahkan Tuhan. Hal tersebut adalah imajinasi bocah kecil ingusan yang jujur dari dalam benaknya tanpa hasutan siapa-siapa.

Sampai sekarang, saya masih berusaha menghargai orang-orang dalam kelompok tersebut, begitu juga kepercayaan mereka. Karena saya percaya, bahwa memang, agama dan berbagai variasinya merupakan sesuatu yang alami dan dibutuhkan oleh sebagian besar manusia. Sayapun masih percaya kepada Tuhan. Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Yang saya tidak percaya adalah batasan-batasan yang diberikan kitab-kitab agama kepada Tuhan. Hal tersebut membuat seakan-akan Tuhan adalah budak agama; ada untuk memenuhi tugas-tugasnya yang tertulis di sana.

Orang bodohpun tahu, bahwa tidak hanya manusia dari agamanya masing-masing yang hidup di dunia ini. Manusia beragama lain tersebut tentu banyak juga yang melakukan kebaikan bermanfaat bagi seluruh manusia lainnya. Namun kekonyolan agama memperbudak Tuhan untuk hanya menghargai manusia dari agamanya masing-masing untuk menghukum dengan keji kepada manusia dari agama lainnya. Sungguh, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih seharusnya tak tunduk pada ikatan semacam itu.

Tapi mengapa Tuhan membiarkan ada janji-janji surga neraka seperti itu pada kitab-kitabnya? Mungkin karena memang mayoritas populasi pada zaman turunnya kitab-kitab tersebut memerlukan insentif dan disinsentif semacam itu untuk menggerakan perbaikan peradaban dengan cepat. Mungkin juga karena, Tuhan percaya, seiring dengan dewasanya kesadaran kolektif manusia, manusia akan mampu mengoreksi kepercayaan-kepercayaan tersebut dengan sendirinya.

Begini, karena mau sekuat apapun usaha manusia untuk menjaga kemurnian agama dari kitabnya, ujung-ujungnya yang melakukan tatap muka dengan tulisan wahyu Tuhan tersebut adalah manusia. Manusia memproses informasi dengan bahasa dan logika. Perkembangan zaman sangat mempengaruhi kedua unsur tersebut. Sehingga, biarpun misalnya isi sebuah kitab suci mampu tetap dijaga dari A tetap A sejak zamannya turun hingga seribu tahun lagi, interpretasi akan maknanya akan terus berubah. Intinya, biarpun sumbernya wahyunya murni, pihak penafsir tidak akan mungkin menafsirkan dengan sempurna. Agamapun bukannya setuju bahwa manusia adalah sumber segala kelemahan dan kerusakan? Apakah para penafsir, para guru agama, adalah spesies bukan manusia yang mampu menafsirkan dengan sempurna?         

Saya menyimpulkan bahwa Tuhan-Tuhan yang digambarkan agama-agama, hanyalah potongan teka-teki yang tak sempurna. Gambaran tersebut disajikan keberadaannya oleh Tuhan agar setidaknya manusia mampu mengenal konsep Tuhan. Saya sendiripun sadar, sebagai manusia, saya sangat tidak berdaya dalam menafsirkan apalagi menggambarkanNya; sayapun bukan seorang ahli agama, bukan filsuf, bukan ilmuwan; bukan siapa-siapa selain bocah ingusan yang terlalu banyak melamun. Maka sesungguhnya yang saya pegang dan sajikan di sini hanyalah semacam wujud harapan, bahwa ia, Tuhan, adalah Zat yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Saya tumbuh bergaul dengan non muslim, bahkan teman dekat pertama saya dulu di SD adalah seorang Kristen Protestan, Philip namanya. Seiring beranjak lebih dewasa, saya semakin menyadari bahwa non muslim adalah manusia seutuhnya, yang sama memiliki perasaan dan kehidupan setara, seiribg itu juga saya mulai mengutarakan doa seusai sembahyang kepada Tuhan untuk mengampuni SEMUA makhluknya. Karena dalam ketakutan saya di bawah ancaman akhirat yang keji, saya punya harapan besar pada sifat Tuhan yang utama, yakni Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Pernahkah kamu manusia sekalian berpikir? Bahwa berdasarkan sifat Maha Kuasanya, Tuhan mampu membatalkan SELURUH janji-janji pada kitab-kitabnya. Ia juga mampu menghapus dan mengubah ingatan kita dalam sekejap.

Bayangkan suatu kejadian pada satu waktu di akhirat nanti: ada golongan yang protes kepada Tuhan, “Wahai Tuhan, mengapa kamu tidak memasukkan golongan-golongan selain kami ke Neraka?”

Tuhan tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, dengan kekuasaannya ia mampu menghapus dan mengubah isi kepala seluruh golongan manusia tersebut sesukanya. Atau, Tuhan bisa saja menyelesaikan protes ini dengan menciptakan dunia paralel yang berjalan berdampingan untuk memenuhi setiap hasrat berpandangan sempit setiap kepercayaan yang ada; yakni dengan penciptaan versi akhirat masing-masing yang dihuni oleh fotokopi sempurna seluruh umat manusia dalam berbagai garis takdir dan nasib. Intinya: 

Tuhan YANG MAHA KUASA mampu membuat isi seluruh kitab agama menjadi tak bermakna, atau tetap bermakna secara paralel tanpa ada kontradiksi yang mampu dideteksi makhluk rendahan seperti kita. Terkait sifat tersebut, yang kita dapat lakukan sebagai manusia hanyalah pasrah dan berharap ia akan menggunakan segala kemahakuasaannya untuk menunjang, mewujudkan, dan menunjukkan sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayangnya.

Saya tidak peduli apakah agama A, atau agama B, atau agama C yang benar. Segalanya merupakan bagian dari serpihan teka-teki kebenaran yang lebih besar yang mungkin memang tak akan pernah dipahami manusia. Banyak sekali kemungkinan yang ada! Bisa jadi memang tidak ada Tuhan. Bisa jadi ada!

Saya tidak memihak posisi percaya ada (theist) atau percaya tidak ada (atheist). Saya hanya memihak posisi berharap, yang tidak terikat agama, yang tidak terikat anti-agama. Terkait boleh, tapi tidak terikat.

Tapi mungkin bagi sebagian orang, berharap saja tidak cukup. Mungkin selain berharap, kita juga harus bekerja. Dalam berbagai kemungkinan ketuhanan yang ada, saya berandai-andai suatu saat kita mampu menemui Tuhan secara langsung, tanpa melalui mati dulu dan tanpa akhirat. Mungkin inilah yang harus kita upayakan. Untuk apa? Untuk bersyukur tentunya. Juga untuk memuaskan rasa penasaran, dan untuk memohon langsung kepadanya agar memberikan sebuah proses dan akhir yang terbaik bagi seluruh makhluk yang telah mati, sedang hidup, dan akan lahir.

Saya pernah mempunyai imajinasi, bahwa manusia pergi meninggalkan bumi, mengarungi seluruh ruang angkasa untuk mencari keberadaan fisik Tuhan. Meski jika pencarian itu tidak akan pernah menemukan jawaban, upaya-upaya gigih manusia dalam berdamai bersatu dengan sesamanya akan menjadi berkah tersendiri yang sangat berharga.

 

***

Untuk Ibu dan Bapak. Semoga kalian kuat dan tabah membaca ini. Semoga Allah menjaga kesehatan kalian setelah mengetahui ini. Saya memohon maaf jika saya mengkhianati harapan kalian untuk tumbuh menjadi anak beriman dan bertakwa. 

Setidaknya ada dua alasan yang dapat menjelaskan segala pengakuan ini. Pertama karena memang saya percaya hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Kedua, mungkin karena saya hanya ingin menghiasi alasan yang paling sederhana, yakni kemalasan. Saya akui memang saya sudah sangat muak dan malas menjalani tekanan dan paksaan mengikuti harapan-harapan kalian, juga jadwal pengajian yang banyak menyita waktu dan rasa bersalah saat mengabaikan jadwal tersebuy yang membuat saya depresi sehingga hidup ini terasa sangat busuk dan pantas untuk ditinggalkan. Tak jarang saya berpikir, bahwa untuk segera mendapatkan kebenaran, mungkin baiknya saya segera mati saja demi menodong langsung jawabannya kepada Sang Pencipta.

Ibu pernah sempat mengizinkan saya untuk mencari calon dari luar kelompok agama kita, tapi kemudian Ibu seperti membatalkan izin tersebut dan mengutarakan peringatan, bahwa akan susah hidup berdampingan dengan orang yang tidak seiman. Nah, bayangkan hidup sesusah apa yang akan saya lalui jika saya tidak pernah berani mengakui bentuk kepercayaan saya yang sesungguhnya seperti sekarang ini? Apa-apa yang terbentuk dari kepura-puraan dan kesalahpahaman: hancur.

Hidup ini berat. Seringkali saya merasa terlalu lemah dan bodoh untuk menjalaninya. Tak jarang sejak kecil saya rasanya ingin meledak saja menjadi orang gila sepenuhnya untuk bebas dari dunia. Karenanya saya ingin menjalani hidup sesederhana mungkin dari bermacam faktor yang ada. Saya enggan belajar menyetir mobil, karena tidak ada keinginan memiliki mobil. Rumahpun saya enggan memilikinya karena berat rasanya untuk merawat. Apalagi keluarga dan anak. Apakah mampu saya memberikan kehidupan yang layak?

Selain itu, hal tersebut berpotensi banyak menghadirkan kekecewaan dan penderitaan. Tak jarang manusia tertekan karena khawatir hartanya hilang. Habis hidup mereka sibuk untuk mengejar mengurus menjaga rumah, mobil, dan lain-lainnnya yang sesungguhnya dapat tiba-tiba saja rusak atau hilang. Begitupun keluarga. Istri dan anak bisa jadi sumber kekecewaan dan patah hati yang luar biasa. Mampukah saya ikhlas jika nanti mereka diambil atau lepas atau mengkhianati harapan saya? Jika anak saya nanti berbeda jalan pikirannya sama sekali dengan saya, mampukah saya tetap tabah dan bijak atas segala sakit hati yang mendera? Jika Bapak dan Ibu mampu memberi contoh bahwa keikhlasan semacam itu mampu dilakukan atas segala dosa saya dalam pengakuan ini, mungkin saya akan mempertimbangkan kembali untuk memiliki keluarga nanti.

Saya tidak perlu macam-macam hidup di dunia ini, saya tidak perlu janji surga kenikmatan abadi, saya tidak perlu kekayaan berlimpah, saya tidak perlu istri cantik dan anak yang berbakti; yang saya perlukan sekarang hanyalah kesempatan hidup tanpa tekanan batin, tanpa teror rasa bersalah dan kepura-puraan, sehingga saya mampu lebih tenang dalam menjalani hidup seadanya sembari mencoba menekuni hobi-hobi yang saya gemari. Saya harap Bapak dan Ibu akan tetap menganggap saya sebagai anak meski memang saya bukan anak yang baik. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa mengampuni kita semua. Amin.


Maaf dan terima kasih.