Petaka Perpajakan Dalam Keruntuhan Kekaisaran Romawi Kuno

Petaka Perpajakan Dalam Keruntuhan Kekaisaran Romawi Kuno

Oleh

Sasmito Yudha Husada

2B KBN

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Konten Makalah : Sekilas Tentang Romawi, Perpajakan Romawi Kuno, Petaka Tak Terhindarkan, Kesimpulan, dan Hal Menarik.

Pendahuluan

Keuangan Publik?

Keuangan merupakan sebuah kata dasar uang yang diberi imbuhan ke-an dan memiliki mana ‘Hal yang berhubungan dengan uang’. Di mana Uang merupakan konsekuensi logis dari keadaan yang menuntut adanya medium untuk lebih lancarnya kegiatan transaksi ekonomi. Sementara jika Keuangan yang dimaksud adalah Finance, maka dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana masyarakat meningkatkan, mengalokasikan, dan menggunakan sumber daya uang mereka.

Publik, dapat dimaknai sebagai terjemahan Publik sehingga dapat memiliki beberapa arti sebagai berikut : Publik diartikan sebagai Umum, memiliki  contoh penerapan di Public Ownership, Public Service Corp, Public Switched Network, dan Public Utility. Publik diartikan sebagai Masyarakat, memiliki contoh penerapan istilah pada Public Relationship, Public Service, Public Opinion, dan Public Interest. Publik diartikan sebagai Negara, memiliki contoh penerapan istilah pada Public Authorities, Public Building, Public Finance, Public Revenue, dan Public Sector. Publik dalam padanan bahasa Indonesia adalah Praja yang berarti Rakyat. Publik bisa juga diartikan sebagai sejumlah orang yang memiliki kesamaan berfikir, kesamaan perasaan, kesamaan harapan, kesamaan sikap, dan kesamaan tindakan yang benar berdasarkan nilai-nilai norma.

Lalu apa Publik yang terdapat dalam Keuangan Publik? Jawabnya adalah Negara. Jadi Keuangan Publik adalah ilmu yang mempelajari bagaimana aktivitas keuangan dalam pemerintahan negara ini. Keuangan Publik berfokus kepada mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah , serta menganalisis keterkaitannya kegiatan pendapatan dan belanja tersebut pada alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi.

Keuangan Publik dan Kekaisaran Romawi Kuno

                Kekaisaran Romawi Kuno adalah sebuah simbol keperkasaan dan kejayaan, penuh dengan proses-proses perubahan dan pembelajaran menuju pencapaian kebanggaan-kebanggaan tertinggi bagi seorang pria. Siapa yang tidak pernah mendengar nama Gaius Julius Caesar Augustus? Augustus mereformasi sistem perpajakan, mengembangkan jaringan lalu lintas dengan sistem kurrir yang resmi, membentuk polisi resmi, dan mendirikan layanan pemadam kebakaran untuk Romawi.

Sebagai Kaisar pertama, Augustus juga berhasil memperbesar Kekaisaran Romawi Kuno begitu luas, hingga mencaplok Mesir, Afrika, dan Semenanjung Iberia(Sekitar Spanyol).

Sungguh luar biasa pencapaian Kekaisaran Romawi Kuno, dilihat dari sudut pandang keuangan public, dari mana dan bagaimana mereka mendapatkan dana untuk membiayai pemerintahan yang begitu luas? Dan banyak pertanyaan lain yang mungkin terjawab dalam makalah ini, dan juga mungkin akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan-pertanyaan yang  tidak mampu dijawab oleh keterbatasan penulis dalam makalah ini.

 

Sekilas Tentang Romawi

Lebih dari dua ratus tahun Romawi adalah sebuah kerajaan. Sekitar selama lima ratus tahun, Romawi adalah Republik. Lalu selama sekitar lima ratus tahun selanjutnya, Romawi berdiri bangga sebagai Kekaisaran.

Romawi bermula dari sebuah persimpangan jalur perdagangan garam, yang perlahan-lahan menjadi pemukiman-pemukiman kecil hingga akhirnya menjadi desa. 2750 tahun lalu, di semenanjung Itali, tepatnya di daerah berbukit tujuh tepi sungai Tiber.  Tanah yang subur, air sungai Tiber yang jernih, perlindungan 7 bukit, dan lalu lintas perdagangan menyebabkan pertumbuhan pesat dari desa menjadi sebuah kota penting di semenanjung Italia. Romawi dalam masa-masa kebangkitan awalnya dipimpin oleh Raja-Raja. Dan Raja pertama Kerajaan Romawi adalah Romulus, yang dipercaya sebagai anak dari Mars sang dewa perang.

Kerajaan Romawi berubah menjadi Republik Romawi setelah mengalami berbagai gejolak dan petaka politik.  Dalam bentuk republik ini, ada tiga unsur penting dalam pemerintahan : Konsul, Senat, dan Assembly. Konsul terdiri dari dua orang yang bersama-sama memimpin pemerintahan. Senat, hanya terdapat 300 kursi, dan mereka adalah petinggi-petinggi keluarga bangsawan yang berfungsi membuat hukum dan mengontrol belanja pemerintahan. Sementara Assembly, adalah sejenis majelis yang terdiri dari masyarakat biasa, peran mereka adalah memilih siapa dua Konsul yang akan memimpin pemerintahan dan juga mengusulkan kebijakan-kebijakan(yang sayangnya dapat ditolak oleh senat).

Ketika Republik Romawi dianggap gagal, di mana terjadi pungutan pajak berlebihan, inflasi tinggi, tertutupnya rute perdagangan, dan depresi berat pada pertumbuhan perekonomian, para pengusaha dan pedangang mendambakan kedamaian dan perlahan tercetus ide di benak mereka bahwa, perdamaian dan stabilitas dapat dicapai jika kekuatan pemerintahan terpusat pada satu orang. Maka dibentuklah Kekaisaran Romawi yang dipimpin oleh Octavianus yang mengambil nama Augustus sebagai Kaisar pertama Kekasisaran Romawi dari 27 tahun Sebelum Masehi hingga 14 tahun Setelah Masehi.  Dalam bentuk ini, bagaimanapun para senat berkumpul dan berdebat di forum, kekuatan pemerintahan terkuat berada di tangan Kaisar.

Kondisi Perekonomian Romawi Kuno

                Mereka adalah negeri yang Agraris dan berbasis pada Perbudakan, dengan pemikiran utamanya tersorot pada bagaimana mensuplai bahan pangan kepada rakyat dan tentara yang begitu banyak. Petani Romawi bisa membayar pajak yang harus mereka tanggung dengan hasil pertanian, hal ini menyebabkan dua hal penting : Mempermudah dalam memberi pangan kepada rakyat dan tentara tanpa ongkos langsung, dan juga sayangnya, hal ini menyebabkan minimnya insentif bagi petani untuk meningkatkan hasil pertaniannya sehingga masyarakat memiliki ketergantungan kepada ‘pembagian pangan ini.

Satu cara bagi Romawi untuk terus mampu memberi pangan kepada rakyatnya adalah dengan ‘mendapatkan’ daerah-daerah sumber-sumber pangan, yang biasanya direbut dengan melakukan invasi terhadap daerah-daerah tersebut. Contoh daerah-daerah tersebut adalah : Mesir, Sisilia, dan Tunisia. Pangan-pangan ini dikirim melalui kapal-kapal laut, sehingga terjadilah perkembangan teknologi pelayaran.

Kesejahteraan Romawi ini menyebabkan para orang-orang kaya memerlukan kemewahan, dan salah satu cara bermewah-mewah adalah dengan mengimpor barang-barang eksotis seperti : sutra dari Cina, rempah-rempah dari India, binatang-binatang eksotis dari Afrika, logam-logam berharga dari Spanyol dan Inggris, juga permata-permata German.  Para Importirpun menjadi termasuk kalangan yang cukup kaya di Romawi.

Romawi memiliki salah satu sistem mata uang yang paling maju  di dunia saat itu. Koin-koin dari kuningan, perunggu, tembaga, perak, dan emas, yang dicetak dan diedarkan berdasarkan peraturan-peraturan ketat untuk bobot, ukuran, dan komposisi logamnya. Koin-koin ini sangat popular di dunia saat itu, koinnya indah, penuh detail, dan memiliki nilai seni yang cukup tinggi.

Menuju Keruntuhan Kekaisaran Romawi Kuno

                Banyak teori yang mencoba menjelaskan bagaimana kekaisaran yang luar biasa ini hancur. Namun satu kesimpulan utamanya adalah, keruntuhan ini terjadi dalam proses yang sangat panjang, tidak tiba-tiba, karena tentu saja para Kaisar dan pemerintahannya berupaya keras untuk mempertahankan kelangsungan hidup Kekaisarannya.

Beberapa gambaran masalah yang berperan dalam kehancuran Kekaisaran Romawi adalah sebagai berikut : wilayah yang terlalu luas untuk diurus secara efektif, korupsi yang merajalela, perang saudara, Kaisar sering naik tahta melalui jalur kekerasan atau sekedar keturunan darah sehingga kepala pemerintahan tidak jarang adalah seorang yang tidak mumpuni bahkan menjadi boneka saja, peningkatan eksploitasi budak sehingga banyak orang-orang romawi yang malah menjadi pengangguran, orang-orang kaya menjadi malas dan tidak peduli terhadap masalah-masalah publik, inflasi tinggi dan arus perdagangan melambat, masyarakat dibebankan pajak yang berlebihan, populasi menurun drastic akibat kelaparan dan wabah, munculnya kekuatan-kekuatan negeri lain di sekitar, dan lain-lain.

Perpajakan Romawi Kuno

                Mulanya, pajak yang ditetapkan kepada masyarakat cukuplah ringan dan sederhana. Pajak utamanya terdiri dari pajak kekayaan pada semua bentuk properti, seperti : tanah, rumah, budak, ternak, dan lain-lain. Tarif dasar hanyalah 0,01 %, meskipun pada masa-masa perang kadang-kadang naik menjadi 0,03%. Pajak dibebankan kepada komunitas, bukan kepada individu, jadi komunitas itulah yang akan memperhitungkan sendiri bagaimana mereka membagi tanggung jawab untuk melunasi pajak tersebut.

Salah satu andalan untuk mengisi kas Romawi adalah melalui Pertanian Pajak, para petani akan membayar di muka kepada pemerintah dan kemudian mendapatkan hak untuk kemudian memungut pajak gantinya kepada daerah. Intinya adalah, para Petani Pajak ini(disebut Publicani) meminjamkan uang kepada pemerintah, sementara ia memiliki tanggung jawab untuk mengubah properti-properti yang dikumpulkan sebagai pajak menjadi uang tunai.  Dengan demikian, pungutan oleh petani pajak harus mencukupi piutang Negara dan biaya-biaya mengubah properti menjadi tunai. Bagaimanapun sering terjadi korupsi dalam prosesnya, Pertanian Pajak merupakan investasi menguntungkan bagi pemerintah dan warga-warga kaya.

Naiknya Augustus sebagai Kaisar,  Pertanian Pajak dihentikan karena komplain dari daerah-daerah yang merasa diperas dan dirugikan, juga karena mereka menjadi terlibat hutang-hutang yang keji. Kemudian, Augustus mengganti Pertanian Pajak dengan Pajak Langsung.  Apa itu? Yaitu pajak yang dikenakan kepada daerah-daerah berdasarkan jumlah orang dewasa. Sistem pajak ini menjadikan pungutan yang datar, maksudnya, daerah jadi tahu berapa pajak yang harus mereka bayar dengan tetap, dan jika ada surplus pendapatan, itu menjadi hak daerah sepenuhnya dan tidak lagi dipungut oleh pemerintah. Hal ini menjadi insentif untuk bekerja dan memproduksi lebih giat.

Inflasi dan Pertumbuhan Perekonomian yang Tersendat

                Pada era Augustus, kondisi keuangan dan perekonomian cukup gemilang, sehingga Augustus menjalankan program –program pembangunan fasilitas public. Seluruh jalan-jalan di Italia diperbaiki, kuil-kuil direnovasi dan dibangun yang baru, saluran air dan pemandian umum diperbanyak, dan juga bangunan public lainnya dibangun dengan sangat gencar.

Namun ketika Kaisar Tiberius berkuasa, terjadi krisis keuangan karena, Kaisar lebih memilih untuk menghentikan pembangunan, meminimalisasi belanja, dan memilih menimbun uang sebanyak-banyaknya. Krisis ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi macet yang hanya dapat diatasi dengan hutang berjumlah besar demi memfasilitasi likuiditas.

Daerah Inggris ditaklukan Kekaisaran Romawi ketika Claudius berkuasa. Juga dalam kekuasaanya, Kekaisaran Romawi mencapai wilayah geografi maksimumnya. Konsekuensinya adalah tidak adanya lagi tambahan pendapatan dari negeri taklukan, sehingga saat itu Kekaisaran harus benar-benar membiayai dirinya sendiri dari dalam. Harus mandiri.

Saat Nero berkuasa, kebutuhan terhadap pendapatan yang tidak mampu diwujudkan menjadi awal mulanya penurunan nilai mata uang. Pendapatan ekstra sangat dibutuhkan untuk membiayai pertahanan dan birokrasi.  Penurunan nilai mata uang ini sesungguhnya adalah sejenis pajak, yaitu pajak terhadap   saldo tunai itu sendiri, dan dilakukan dengan cara mengurangi berat, ukuran, dan komposisi logamnya.

Penurunan nilai uang yang terjadi terus menerus tidak mampu meningkatkan kondisi fiscal. Mengacu pada teori Hukum Gresham, dimana “Bad Money Drives Out Good” yang tercermin ketika masyarakat merasa bahwa, uang lama lebih berharga(dengan berat, ukuran, dan komposisi logam yang lebih baik) daripada uang baru, sehingga mereka hanya mau membelanjakan uang barunya dan menimbun uang lama. Krisis berlanjut.

Dalm kekuasaan Kaisar Domitian, mulai muncul kebijakan-kebijakan konyol untuk mengisi kas Kekaisaran. Contohnya adalah dengan : mendenda, bahkan menyita asset-aset para orang kaya,  juga meminta sumbangan-sumbangan untuk alasan aneh seperti perayaan kemenangan perang atau perayaan naikknya Kaisar baru.

Seperti perampokan bukan?

 

 

 

 

 

 

 

Petaka Tak Terhindarkan

Penurunan nilai uang ini terus menjadi tren Kaisar-Kaisar selanjutnya, sejujurnya hal ini juga menjadi salah satu cara Kaisar untuk perlahan-lahan membasmi para Senat yang menjadi musuh politik mereka. Sementara Kaisar-Kaisar memiliki kepercayaan dan rasa ketergantungan yang sangat tinggi kepada tentara-tentaranya dan berupaya mati-matian untuk terus membiayai mereka.

Kekayaan orang-orang terus disita, dipajaki, dan disembunyikan. Menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi terhenti. Yang menyedihkan adalah ketika para orang kaya sudah tidak mau membayar tuntutan dana tersebut, maka orang-orang dengan kelas menengah ke bawahlah yang menjadi korban.  Sementara itu tuntutan pemasukan kas masih sangat tinggi karena perlunya pembiayaan militer demi mengatasi tekanan suku-suku Jerman dari utara dan terror Persia dari timur.

Ketika masyarakat mulai gerah dan merasa lebih baik untuk kabur, sistem malah semakin keji. Orang-orang mulai kehilangan kebebasan. Petani dipaksa terus bekerja, begitu juga anaknya dan seterusnya. Kalangan ataspun dipaksa memberikan jasa-jasa intelek seperti pemungutan pajak dengan tanpa dibayar, dan jika pajak tidak tercukupi mereka dipaksa mengisi sisanya dengan uang mereka sendiri. Hal ini menyebabkan semakin tinggi usaha-usaha untuk menyembunyikan kekayaan dan berpura-pura tampil semiskin mungkin untuk menghindari tanggung jawab.  Banyak petani-petani yang kabur dari kota ke daerah pinggiran atau kemudian sengaja mengikatkan diri ke suatu pemilik tanah independen yang kemudian bersama mencoba membangun sistem ekonomi tertutup tanpa campur tangan pemerintah.  Tentu saja pemerintah tidak tinggal diam, dan di era Diocletian terjadi suatu reformasi yang memungkinkan penyusunan anggaran tahunan, sayangnya upaya reformasi itu belum mampu menepis takdir keruntuhan Kekaisaran Romawi.

Kaisar Constantine meneruskan sistem-sistem Diocletian, dan juga menambahkan fitur-fiturnya sendiri yang berupa semakin ketatnya peraturan yang mengikat kebebasan rakyat. Meskipun masih menerima suplai pangan dan pajak dari daerahdaerah, tapi ketika para pengusaha-pengusaha benar-benar mengungsi ke daerah, Romawi mengalami kekosongan dalam kegiatan perekonomian. Masyarakat dan istana Romawi sendiri tidak memproduksi apapun, namun jumlah permintaan untuk mencukupi kebutuhan mereka terus meningkat dan terus menyedot sumber daya dari daerah-daerah.

Lima puluh tahun setelah upaya reformasi pajak Diocletian, tingkat pajak berlipat menjadi dua kali lipat.  Orang kaya berupaya sebisanya menghindari pajak, dengan berbagai cara illegal, sementara rakyat biasaa tak berdaya menghadapi kebrutalan pungutan pajak. Pemasukan untuk membiayai pertahanan militer terus berlanjut dan pajak semakin gila. Saking parahnya keadaan, upaya masyarakat untuk menghindari pajak sampai membuat mereka benar-benar mengundurkan diri dari pergaulan social sama sekali. Mereka yang memiliki tanah dan cukup sumber daya, mulai mendirikan sistem sendiri, dan mereka yang hanya memiliki sedikit tanah dan sumber daya menjadi bangkrut, dan beralih menjadi pekerja, bahkan budak. Hal ini menjadi awal dari Feudalisme, dan juga puncak keruntuhan Romawi .

Kekaisaran pada akhirnya tidak mampu membayar tentara, tidak mampu membangun benteng dan kapal perang. Invasi dari luar tak mampu dibendung lagi. Romawi hancur.

 

 

:::Kesimpulan:::

                Ditinjau dari segi keuangan publik, kehancuran Kekaisaran Romawi Kuno disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintahannya dalam mengatur anggaran pendapatan dan belanjanya, di mana terjadi pungutan pajak yang irasional dan belanja yang tidak produktif(membiayai tentara yang tidak lagi menghasilkan jajahan baru untuk dikeruk sumber dayanya). Bahkan sesungguhnya secara garis besar, sistem perekonomian Romawi adalah Raubwirtschaft, yaitu perekonomian berdasarkan penjarahan terhadap sumber daya yang ada disekitar daripada berusaha memproduksi sumber daya sendiri.

 

 

~Hal Menarik~

                Keruntuhan Romawi terlihat seperti malapetaka bagi semua orang yang terlibat, namun sebenarnya tidak, hal ini dapat dilihat sebagai tersalurkannya aspirasi individu-individu masyarakat, bahkan dilihat dari segi arkeolog, bukti dari tulang-tulang manusia menyajikan fakta bahwa nutrisi orang-orang menjadi lebih meningkat setelah kehancuran Kekaisaran Romawi Kuno.

Daftar Pustaka

http://www.cato.org/pubs/journal/cjv14n2-7.html

http://www.unrv.com/economy.php

http://www.rome.mrdonn.org/

http://en.wikipedia.org/wiki/Decline_of_the_Roman_Empire

ROMA : The Novel of Ancient Rome – Steven Saylor