DTU + PENEMPATAN + TOEFL

Akhirnya kami harus menatap DTU juga. Apa itu DTU? Diklat Teknis Umum, yang kali ini diberi embel-embel “pembentukan karakter”. Intinya sih pelatihan selama seminggu bersama para pelatih dari Kopassus. Pertama-tama kami dikumpulkan di Pusdiklat AP di Gadog. Kemudian setelah melalui serangkaian proses administratif dan diberi makan siang, kami diberangkatkan secara bergelombang menggunakan truk-truk tentara menuju Ciampea.

Ini truknya! Seperti mau dikirim perang saja!

Kami tiba di lokasi menjelang petang. Terdapat spanduk bertuliskan DTU Pembentukan Karakter yang menghiasi jalan sempit berbatu menuju perkemahan. Belasan tenda tentara telah didirikan. Sesuai urutan berdasarkan nama, saya mendapat jatah tinggal di tenda 9 bersama rekan sekamar saya saat dulu DTSD, yakni Senik Entrostop. Kami berduapun bercengkerama bersenda gurau sembari meminum es degan di salah satu warung warga yang berdiri di sekitar tenda. Setelah itu kami bertemu dengan mantan presiden Amerika Serikat, Harry Truman, sebelum kemudian bersama-sama melakukan reconnaissance menuju warnet, alias tempat mandi gay party, alias kamar mandi berbilik-bilik bernuansa biru yang akan menjadi sahabat sejati tuk melakukan investasi kotoran para peserta DTU selama seminggu. Ah ya, entah saat maghrib atau isya, saya dan Senik mendapat jitakan dari pelatih “S” di dekat kamar mandi karena menggunakan jaket. Begitulah kira-kira apa-apa yang terjadi pada hari ke-0.

Situasi Ciampea:

Jalan-jalan sempit, suasana berbukit-bukit. Ada gunung kapur. Cuaca terik, bahkan hingga malam terasa panas. Namun menjelang subuh suhu turun drastis. Satu hal yang menarik adalah tidak adanya nyamuk! Bahkan ketika bertelanjang diri di hutanpun kami tidak digigit nyamuk. Suasana hening, kecuali jika sedang diadakannya latihan perang di hutan-hutan sana. Suara tembakan, ledakan, helikopter, dan bermacam pekak mematikan yang mengagetkan menjadi background soundtrack kami selama pelatihan.

Kegiatan Selama DTU:

Diambil dari photo yang bertebaran di Path

Formulanya, mirip prajab kok, ketua tenda bergiliran, piketpun juga bergiliran, ada senat dan wakil-wakil senat.

Sebagian besar kegiatan dilaksanakan bukan di perkemahan, melainkan di lapangan. Terdapat dua lapangan, yang dekat namun lebih sempit, dan yang jauh tapi lebih luas. Yang lebih sering digunakan adalah lapangan yang lebih luas. Berbaris dua banjar kami berjalan dan berlarian sembari bernyanyi entah lagu-lagu apa saja yang sempat terpikirkan hingga mencapai lapangan. Kegiatan di lapangan biasanya serupa MFD saat prajab, yakni instruksi-instruksi yang berujung kepada tindakan berupa: merayap, merangkak, lari, berguling, jalan jongkok, dan sebagainya. Korban-korban mulai dari sekadar pusing dan muntah hingga yang tak mampu/mau melanjutkan kegiatan sementara berjatuhan pada kegiatan ini. Satu hal yang nyaris mendera seluruh siswa pada akhir DTU adalah: batuk masal layaknya sepasukan zombie. Debunya itu lho!

Dari senin sampai jumat kami terus merayap berguling seperti ini. Pada hari selasa (atau rabu?) kegiatan MFDnya jadi sedikit lebih sebentar karena ditambahkan kegiatan “perendaman” kami ke dalam selokan. Saat kegiatan berendam ini pulalah para siswa yang membawa uang di nametag jadi ketahuan dan harus merelakannya. Saya sendiri sebenarnya juga membawa uang, tapi tidak saya kumpulkan, toh hanya uang koin seribu, dan itupun sebenarnya uang koin hasil temuan teman saat kegiatan membersihkan sampah di tenda setelah sarapan pagi. Sepertinya pada hari itu jugalah saya mengalami blunder: pada materi latihan penghormatan pada sesama siswa, saya yang lelah tangan kanannya, khilaf melakukan penghormatan dengan tangan kiri. Saya tertangkap basah pelatih “L” dan mendapatkan cacimakinya, lalu diguling bolak-balik lapangan berkerikil tajam. Usai menerima tindakan, saya diberi perintah untuk kembali melaksanakan kegiatan. Namun rupanya jatah saya belum habis, karena menjelang akhir, saya kembali dipanggil ke depan oleh pelatih “S”, dan setelah dicaci lagi, saya diperintahkan untuk melaksanakan penghormatan dengan tangan kiri lama sekali hingga lengan saya sakit. Saya laksanakan tindakan itu sesempurna mungkin tanpa tangan turun sama sekali, karena saya tahu, jika ada satu kali saja turun, kemungkinan besar akan semakin menjadi berlipat-lipat hukuman saya. Namun pada akhirnya saya berhasil melalui itu dengan cukup aman.

Seusai istirahat ibadah dzuhur, biasanya MFD dihentikan dan digantikan dengan materi-materi lainnya, ada baris berbaris, ada bela diri, ada materi medis, ceramah dari KPK, ceramah keagamaan, dan lainnya. Lumayan banyak istirahatnya dari dzuhur hingga maghrib, apalagi ditambah schedule extra fooding dan ibadah bergilir dikarenakan kondisi tempat ibadah yang kurang memadai. Saat-saat banyak waktu istirahat inilah biasanya yang dimanfaatkan para siswa untuk berbincang dengan kawan lama atau berbaring melepas lelah pada daun kering atau bersandar pada batang pohon atau melirik-lirik tempat siswi duduk. Sementara itu, waktu-waktu seperti ini dimanfaatkan para pelatih untuk mencari “mainan” dari segala keunikan para siswa yang dapat dibuat lucu-lucuan. Salah satu contoh lucu-lucuannya adalah berikut: seorang siswa diperintah berseru bak burung beo, “Mana cowok? Mana cowok?” yang kemudian dibalas para siswa dengan dehem, “Hemmmm Hemmmmm Hemmm.” Kemudian pihak siswipun tak mau kalah dengan, “Mana cewek? Mana cewek? Yiiiiihaaaaaaa!!! Yiiiiiihaaaaa!!!”

Tiap maghrib kami pulang ke kemah, dan setelah pembersihan dan ibadah, biasanya ada tambahan pengarahan-pengarahan. Terkait yang sakit, terkait laundry, terkait kegiatan esoknya, terkait yell-yell, lagu mars djpb, dan sebagainya.

Pada malam hari, setiap tenda harus ada jaga serambi, dua orang di masing-masing ujung tenda, dan bergantian sepanjang malam. Kemudian pada pukul 4 pagi, kecuali pada hari pertama (senin) dan terakhir (sabtu), ada jadwal senam pagi. Menu senam paginya serupa seperti saat prajab, bahkan bisa dibilang relatif lebih ringan karena tidak ditambah porsi lari. Setelah itu pembersihan dan ibadah, barulah sarapan dengan nasi kotak.

Pada jumat malam, terdapat kegiatan caraka malam. Kami dibagi menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari 10 manusia. Lalu secara bergiliran kami masuk ke dalam hutan. Pertama-tama kami diberi tahu bahwa kami akan berperan sebagai pembawa pesan. Kami harus memahami dan mengingat pesan tersebut serta juga harus menjaga pesan tersebut dari pihak lain dengan sebuah sandi  sebagai alat identifikasi mana lawan mana kawan.

Saya masuk ke dalam kelompok 23. Kami melakukan kesalahan di awal, yakni memberitahukan jumlah dan nama anggota kami kepada pihak yang belum disandi, sehingga kami diperintah untuk lepas pakaian. Setelah itupun dalam perjalanan topi kami diambil pelatih. Namun memang situasinya membingungkan, mana batas-batas roleplay, mana batas-batas hubungan pelatih-siswa. Jadi saya mengusulkan kepada rekan sekelompok untuk memakai kembali pakaian, toh untuk apa menuruti perintah musuh? (jika masih dihitung roleplay). Di tengah kebingungan itu, setidaknya kami kelompok 23 berhasil sampai ujung mengantarkan pesan dengan terhormat, dan tidak mendapat tindakan berupa merangkak telanjang sembari berseru, “kami telah membocorkan rahasia negara.”

Yah, meski esoknya pada sabtu pagi, ujung-ujungnya kami harus mendapat tindakan karena hilang topi.

Hari terakhir ditutup dengan demo baris berbaris dan demo bela diri karate. Saya sebenarnya sempat diperintah pelatih “S” untuk ikut barisan karate, namun waktu itu melalui pertimbangan yang super sangat serius. saya lebih memilih istirahat bersama yang tidak terpilih di bawah pohon dari pada bergabung dengan para siswa-siswi terpilih.

Setelah demo dan upacara penutupan, kami dipulangkan ke Gadog dengan truk tentara.

Foto-foto dulu di Gadog seusai bertempur di Ciampea selama seminggu:

Foto-foto dulu di Pusdiklat AP

Bareng Senik dan Gamaliel

Di Gadog, sebelum pulang ke rumah masing-masing, ada pengarahan sedikit terkait kewajiban datang pada senin pagi untuk pembagian SK Penempatan.

Oh.

Yeah.

P

E

N

E

M

P

A

T

A

N

Minggu sorenya, saya, Harry, Dinov, dan Fry menginap di sebuah villa dekat Cimory Riverside supaya senin pagi dapat tiba tepat waktu di Gadog. Kami dikumpulkan di lantai tiga gedung utama, duduk sesuai gugus banjar abjad nama.

IMG-20150921-WA0003

Acara utama dibuka dengan laporan dari kepala kepegawaian, lalu sedikit arahan dari Pak Sekretariat Ditjen Perben, yang segera dilanjutkan dengan pemanggilan nama dan pembagian amplop berisi SK penempatan.

Rupanya banyak yang tidak sabar untuk membuka amplop secara bersama-sama, karena belum lama pembagian berlangsung, suasana berangsur-angsur menjadi sangat ramai dengan berbagai luapan ekspresi dan emosi. Saya dan Senik bertukar amplop, saya membuka punyanya dan ia membuka punya saya.

Senik mendapat penempatan di Ruteng.

Sementara saya.

Akan ditempatkan pada lokasi yang berjarak sekitar dua ribu dua ratus enam puluh kilometer dari tempat tinggal saya sekarang.

Jauh di sebelah barat Indonesia sana.

Tempat dahulu Tsunami singgah dan mempertontonkan keperkasaannya.

Meulaboh.

KPPN tipe A1, Meulaboh. Yang jaraknya kira-kira tak sampai 10 km dari pantai, dan 20.5 km dari bandara.

m

Untitled

Ya, setidaknya lokasi tersebut cukup jelas pada peta, dan namanya tidak begitu asing. Meski jauh, Meulaboh tidak terpencil. Ada akses bandara di sana, itu yang penting. Oke deh. Semoga bisa dioptimalkan penempatan di sana.

Sepulangnya dari Gadog Pusdiklat AP, saya dan Harry berangkat menuju Lembaga Bahasa Internasional FIB Universitas Indonesia untuk mengambil hasil TOEFL kami pada tanggal 10 September lalu.

Lumayan, saya naik 26 point. Meski masih kurang 24 point dari sempurna. Hasil sebelumnya saya 627, lalu sekarang naik jadi 653. Ya sudahlah, walau sebenarnya saya juga ragu entah hasil TOEFL ini mau digunakan untuk apa. Hoahm.

TOEFL SMITH_001

0000

Begitulah, selamat lulus DTU!

Selamat penempatan!

Perbendaharaan Jaya!

Treasury! Treasury! Treasury!

Hurray!

Advertisements

Pondering My Insignificant Future

It is one of my greatest fear to waste my life on chasing (excessive) wealth.

There are many options to choose, one is racing to climb the bureaucracy ladder as fast and as high as possible. Nay, NOT me! I shall treat this job in ministry of finance as a mere dayjob to feed myself. I’ll try to tread lightly just to survive the job; play safe and slow, I’ll not aim or compete for promotion beyond the minimum-effort-path. Of course I’ll still try to take whatever challenges and chances that will be available in front of me, but I will hold myself not to seek it beyond the necessary.

In my plan, while I can stay alive with that dayjob, I shall dedicate the rest of myself in the path of creation (at minimum: story, music, and painting). This is a desperate path of ignorant revolt, of trying to carve my very being into this world; for I know that whatever outputs or deeds in my wake will be probably worthless to the absolute mesh of reality. This is not an easy path, for I know I’ll be very sick of myself in my whole life, constantly trapped in the curse of self loathing, with my every tiny bit of failure and disappointment and various moment of regret of not taking any alternative path.

It is an unfortunate thing for me and any speculative soul whom I’ll fancy to the point of desire for romance, because I’m not a nice and generous creature that would be willing to provide and to shelter, I’ll not hoard money to build a house and/or buy a car like what most common homo sapiens sapiens have in their mind. Why not? Because to purchase, maintain, and think about these silly things is very very distracting. I have already too much distractions in life. So, I think I’ll be just stuck with my own selfish self.

For now, I know that I’m far lacking in quantity and quality regarding my creation preferences to be even at least reach the level of mediocre and public acceptance. I know. Really. It hurts. This, I suspect, could be attributed to my lazy habbits of “doing” and even “thinking”. Huh, do you think I think too much? Maybe, but most of them are mere lazy thoughts, not difficult brain wrenching thoughts. This slothness plagues not just my mind but also my physique.

I’ve read somewhere that being overweight does affect the thinking performance in not so good a way. So, I thought to myself, if, I want to learn and to produce greater level of abstraction, I must first stand on solid concrete which is my health. Therefore, to start this path, I must dedicate myself to reach physical fitness first. I asked myself: If I cannot achieve a shallow goal such as physical fitness, how then, can I push myself to reach high tier of mythical madness? If I fail this first step, maybe, I’m better off dead.