Jurnal Mamam

Dulu, awal-awal mulai lari. Salah satu hal yang membangkitkan motivasi adalah pencatatan. Perekaman data-data setiap lari dapat membuat saya menjadi semangat karena jadi tertantang untuk mengalahkan catatan pribadi diri sendiri sebelumnya. Lalu saya mau iseng coba melakukan pencatatan, manual, pada apa-apa yang saya konsumsi selain air putih. Dalam konteks makan umumnya semakin sedikit semakin bagus, semakin tidak konsumtif, semakin hemat. Sementara itu dalam konteks intermittent fasting, jarak antara makan terakhir dalam satu hari ke makan pertama hari berikutnya semakin jauh semakin baik. Ternyata, setelah dicatat, ternyata parah, saya masih makan terlalu banyak. Banget. Ada rekan kerja bilang, Meulaboh ini bikin gemuk, sejak pindah ke sini, ia dan satu rekan kerja lain, jadi menggelembung. Haha, mungkin karena memang minim hiburan, sehingga manusia-manusia beralih ke makanan.

Ternyata, setelah dicatat, ternyata parah, saya masih makan terlalu banyak. Banget. Ada rekan kerja bilang, Meulaboh ini bikin gemuk, sejak pindah ke sini, ia dan satu rekan kerja lain, jadi menggelembung. Haha, mungkin karena memang minim hiburan, sehingga manusia-manusia beralih ke makanan.

Berikut merupakan Jurnal Mamam yang saya mulai sejak 11 April 2016 hingga malam ini 16 April 2016:

11 April 2016

0900

2 bakwan minta ke farhan

1247

1 piring lontong sayur

1 gelas kopi susu

1330

1 botol youc1000 mg vit c

–Jarak 1330 ke 0800 = 18,5 jam—

12 April 2016

0800

1 bungkus nasi gurih telur lado

1 risol minta ke syuban

1 gelas teh manis

0930

1 bakpau minta ke pak erwin

2 kue basah minta ke pak erwin

1 serabi minta ke pak erwin

1330

1 yakiniku bento

1 twisty

1 mocha float

–1330 ke 0830 = 19 jam–

13 April 2016

0830

1 porsi lontong pecel

1 bakwan

0900

1 nestle crunch

2 tablet vitacimin

1 yakult

1241

1 mie tiauw + kerupuk

1 es teh manis

1320

1 es campur

–Jarak 1320 ke 0815 =  18 jam 55 menit–

14 April 2016

0815

1 nasi gurih telor ceplok

1 gelas sanger

1 cheddar mini kraft

2 tablet vitamin c

1100

2 permen tamarind

3 nestle crunch

1 tablet vitamin c

1230

1 piring nasi pecel + ikan

1 es jeruk minta ke zainul

1530

1 plastik kerupuk

1 buah oreo minta ke Bu Rusni

1800

1 ciki cikian rasa keju minta ke Syubban

1 yakult minta ke syubban

1900

1 piring nasi lemak sulo sulo

1 botol frestea

–1900 ke 0800 = 13 jam–

15 April 2016

0800

3 gelas kopi pahit

7 macam kue

0930

1 porsi lontong pecel

1200

2 tablet vitamin c

1400

1 sari roti keju

1 soyjoy kacang

1 botol niu milk tea

1830

1 piring nasi goreng bumbu penyet

1 gelas jus wortel susu

–1830 ke 0910 = 14 jam 40 menit–

16 April 2016

0910

1 botol youc1000 mg vit c

0945

1 botol pocari sweat

1030

1 piring nasi gurih telor mata sapi

1 gelas sanger dingin

1230

1 permen green tea

1700

5 gorengan

1 botol nutriboost milk orange

1 botol frestea

1800

1 botol kiyora matcha

1830

Secuil abon solo minta ke Farhan

2200

1 piring serabi keju cokelat

1 piring mie aceh pake telur

1 gelas ice chocolate vanilla

—–

Umumnya manusia melakukan intermittent fasting dengan pola 16/8, yakni 16 jam puasa, 8 jam makan. Tapi susah plek banget begitu. Kalau lagi malas, saya bisa sampai 24 jam gak makan. Ya malas aja. Tapi kalau lagi sibuk, atau stress, atau karena dikasih makanan, ditawarin makanan orang, yah gitu deh mumpung gratis, maka biasanya start puasapun jadi saya undur. Silakan cari tahu sendiri tentang intermittent fasting, sudah malam, saya malas ngetik, yah, intinya macam ocdnya om deddy sih.

 

Advertisements

BERSEPEDA

cerpen ini juga saya posting di http://id.kemudian.com/node/264286

BERSEPEDA

Oleh Sasmito Yudha Husada

 

 

 

Halo! Namaku Yudo, dan aku sangat suka bersepeda. Seingatku, sepeda pertamaku dulu berwarna hijau dan beroda empat. Sepeda itu aku dapat dari Bapak ketika berumur lima atau enam tahun. Mulanya aku senang sekali, namun kemudian aku memperhatikan bahwa sepeda beroda dua bergerak lebih cepat, hal itu membuat aku mengambil peralatan dari kotak usang milik Bapak untuk mencopot dua roda tambahan itu. Maka, empat dikurang dua sama dengan dua! Huhuhu. Aku ingat dulu aku begitu sombongnya, begitu semangatnya mengayuh lalu jatuh. Bruk! Sakit dong, tapi asyik juga banget dong. Apalagi setelah akhirnya mulai bisa mengayuh sepeda beroda dua dengan lincah. Selincah cacing kepanasan, setidaknya itu kata Pakdeku.

 

Dengan sepeda aku berpetualang. Tertawa-tawa bersama kawan ketika meluncur di turunan. Membuat wajah letih yang lucu ketika mengayuh tanjakan. Menikmati angin sejuk yang mengibarkan rambut kami. Mengunjungi banyak tempat, tanpa mengetahui nama, dan di mana sebenarnya tempat itu berada. Tersesat bersama. Pulang bersama. Kembali ke rumah dengan segala keringat bahagia. Dan ketika malam tidur, terkadang aku juga bersepeda di dalam mimpi.

 

Tidak selamanya bersepeda menyenangkan. Karena, sayang sekali sepeda bukan barang yang awet. Uh, atau aku saja yang tidak pandai merawat barang? Sepedaku sering rusak. Rantai copot di tengah jalan, jok kendor, rem blong, ban kempes, ban bocor, dan sebagainya. Suatu saat ketika sepedaku rusak cukup parah, aku hanya bisa sedih dan kecewa. Berdoa agar Bapak mendapat rezeki untuk membetulkan Si Belalang Tempur. Ah aku belum bilang ya kalau sepedaku kunamakan Belalang Tempur?

 

***

 

Bulan Ramadhan. Hari pertama puasa. Menjelang buka puasa, keadaan toko Bapak begitu sibuk dan ramai. Beruntung Belalang Tempurku dalam keadaan sempurna, karena aku mendapat tugas dari Bapak untuk mengantarkan beberapa pesanan Cendol kepada pelanggan. Aku suka tugas ini. Aku suka kepercayaan yang Bapak berikan kepadaku. Aku suka bersepeda. Petualangan!

 

Tujuh kotak super cendol spesial sudah ditata dengan rapih ke dalam tas besar di punggungku. Peta sederhana dan alamat lengkap sudah kusiapkan di kantung baju. Setelah berpamitan kepada Bapak dan Ibu yang masih sangat sibuk mengatur toko, aku berdoa kepada Allah semoga petualanganku mengantar Cendol ini lancar. Kemudian aku menarik nafas sekuat-kuatnya, diikuti dengan kayuhan perkasa dan ban sepedaku oh Belalang Tempur yang meluncur lincah di atas aspal.

 

Menuju komplek sebelah. Aku mengayuh banyak tanjakkan. Letih sekali, sehingga terkadang aku tergoda untuk membatalkan puasaku dengan meminum cendol yang seharusnya aku antar, tapi … ah … itu pasti akan membuat Bapak kecewa. Oleh karena itu, seribu tanjakkanpun akan kulalui! Oh di depan ada turunan! Asyik! Yeaaaaaaaaaaaaaaaah!

 

Turunan ini terus sampai ke gerbang komplek di mana ada seorang satpam yang meski terlihat seram tapi tersenyum lembut menyapaku.

“Permisi Pak! Mau nganter Cendol nih hehe,” Seruku padanya.

“Ya, silahkan,” balasnya.

Belalang Tempurku melesat belok ke kanan setelah turunan, dan setelah sampai kepada lapangan basket aku berhenti sejenak untuk melihat peta dan alamat, namun sesaat kemudian aku mendengar suara yang kukenal.

“Yud! Yud!”

Panggil seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir yang sedang bermain basket.

“Yud, mau ikut main gak?” Serunya lagi, kali ini sambil melempar bola ke dalam keranjang dan masuk tepat ke dalamnya.

Walaupun aku tidak terlalu suka basket, tapi aku berminat sih, uh, tapi … pesanan cendol.

“Nggak deh Li, mau nganter Cendol nih, eh tahu Rumahnya Bu Widya Kusuma nggak?”

Lalu dia menjawab, “Oke, rumah Bu Widya tuh lurus aja, sampe kolam renang terus belok  kiri mentok, rumahnya yang sebelah kanan, yang ada pohon jambunya. Dah!”

 

Kayuh demi kayuh aku dan Belalang Tempur melalui bermacam rintangan dan godaan, namun akhirnya berhasil mengantar ketujuh pesanan ke pelanggannya. Dan aku kini sedang berada di rumah pelanggan terakhir, cukup jauh dari rumah, dan kebetulan orangnya sangat baik dan ramah, sehingga ia mengundang aku berbuka puasa dan bersembahyang maghrib di rumahnya. Sebelum aku pulang, ia juga memberikan aku oleh-oleh berupa Helm Sepeda yang super kereeeeeeen!

 

Oh Terima Kasih Allah atas segala petualangan hari ini!