A Greek God and His Salamander

You were a nameless Greek God

Who awoke from long slumber

Beneath the lead water

Of Great Lakes’ miraculous wad

 

One day, from underneath a log

Love lured you

To turned it over

It was him and the frog

Each, one eyed, that’s true

But your heart desired

Only the salamander

 

Salvador then you named him

And acres of soils and jungles

Were arranged for his residence

Where you threw preys with strong limbs

Then with grace,

he chased without bungles

And in awe,

you beheld his claws

Swung in unrivaled magnificence

 

But the mortals were mad

Because you took their lands for him

They invoked then, the chemical pandora box

Crippling most of your kin, it made you sad

And as you silently sit still in heavy grim

They trapped grown up Salvador in a deep pit,

then smashed him dead with laser-guided asteroid

 

Hellish grief undressed you of your divine might

Now, you’re merely one of them mortal

But I know, you will eventually fight

Once again, once for all

With a plot so dark

That none shall

Ever ever ever walk

 

So here I sit

Scratching my balls

Wishing you, a great good luck

 

 

Advertisements

WHISPERS OF STARS

To my ear, gentle caresses came at last

Upon me, they fell from heaven past

When my stars never blink

And the clouds never bring

A curtain so thick hiding you from my longing

I told myself to shut

No breath or word let out

But my vein they throbbed

And my heart unstopped

         They refused to let me listen in peace

         Hence, I awoke with tears unreleased

                   Inside me the whispers went silent

                   Around me I felt world gone barren

                                       The heart and blood was my foe

                                       Upon cold steel I let them go

                                                 As clouded sky was torn therefore

                                                 The songs were heard once more

And with everything I parted

But with more than everything,

I was then escorted

To the stars long gone

          Beyond the night, beyond the day

          Beyond the curtain, beyond lone and beyond lorn

The Alliance

Not every power

Measured justly

Not every flower

Survived your mystery

Please, pardon my constant assertion

Regarding how weak I am

It’s an insult to the proportion

Of all the beauty in the realm

Of your unchallenged dominion

  Where, I submit there

to superstitious belief

That one day some day

I shall rise to lordship

To a throne equal

With armies evenly matched

So we can form everlasting alliance

To unleash havoc without mercy

To slay the beasts of misery

And for us, to become the cause

And for us, to ensure safety

Of our citizens, borders, and laws

And your pregnancy, of my baby

Siapa Kamu?

Kamu bukanlah adalah

Tiada adalah yang tepat bermakna

Kamu yang tiada berbukan

Adalah makna-makna haus syarat

Yang lewati celah ganda bagai partikel

Membentuk interferensi bagai gelombang

Mewujud senyata-nyatanya jawaban

Di balik pertanyaan yang kusimpan

Bersama kucing dalam kurungan

Abstraksi Sang Fisikawan

Puisi Untuk Arief dan Hani

Jadi, tadi saya baru saja menghadiri undangan pernikahan seorang teman saya, seorang scientist keren yang juga pandai menulis dan menggambar. Saya ada sedikit hadiah kecil berupa puisi untuknya, ini dia.


Puisi Untuk Arief dan Hani

oleh Sasmito Yudha Husada

Setenang logam di awang-awang

Dunia runtuhpun tak boleh toreh arang

Setiap kata dari yang lampau dan akan datang

Berbondong berbaris meregang doa-doa panjang

Berenanglah tanpa takut bersama senang berpeluk sayang

  •

Benamkan kaki ke dalam dasar palung

Lilitkan tungkai kalian erat-erat lekat-lekat hingga jantung

Saling menabuh dekat dan selaras bagai kepak sepasang sayap burung

Teruslah terbang saling menopang dan menjunjung hingga sampai langit surga di ujung

  •

Apalah kerikil apalah badai apalah gempa apa pula tsunami

Nerakapun perlahan sejuk dalam kesucian kasih bertahta janji

Pikullah bumi, raihlah mars, jagalah venus, dan jadilah matahari

Meski ada petang, dan ada pula malam, busungkan paru, terus bernyanyi

  •

Segala untaian rima ini

Tak mungkin mampu menggambarkan kebesaran cinta

Yang dapat sangat mengerikan namun dapat jua indah tak terkira

 •

Selamat jalan untuk Arief dan Hani

Arungilah laut tanpa takut dan jelajahilah angkasa tanpa dusta

Yakinlah dunia turut merona hangat ke mana nada anda berdua akan bersua

Duka Durhaka

 

Hari ini seseorang mati …

Dialah teman terbaik kita, yang merekatkan kita

Ia yang bernama memori …

Telah kehilangan nyawanya akibat didera penyakit lupa dan durhaka, diperkosa harga diri yang buta, dilaknat ego-ego tanpa tatakrama

Begitu paham-paham identitas merangkul ketidakpedulian, lalu terbang, menjulang tinggi, maka koyaklah langit kasih yang telah lama menaungi kita!

Bersedih rupanya sehingga langit itu meneteskan tangis

Tangis yang kemudian menjelma asam rindu dan kabut nestapa

Asam itu meresap dan membunuh tempat kita berpijak hingga legam

Kabut itu menyembunyikan kita satu sama lain hingga terkam

Kelam

Aku ramalkan, bahwa kelak si Memori akan kembali dari kematiannya!

Ia akan menjelma menjadi mayat hidup yang menghunuskan bilah besi bertahtakan benci!

Kemudian mengintai kita semua dari balik kabut sambil terkekeh dan mengasah goloknya dengan asam

Hendak membuat kita merasakan nikmatnya menjadi mayat jua