Duka Durhaka

 

Hari ini seseorang mati …

Dialah teman terbaik kita, yang merekatkan kita

Ia yang bernama memori …

Telah kehilangan nyawanya akibat didera penyakit lupa dan durhaka, diperkosa harga diri yang buta, dilaknat ego-ego tanpa tatakrama

Begitu paham-paham identitas merangkul ketidakpedulian, lalu terbang, menjulang tinggi, maka koyaklah langit kasih yang telah lama menaungi kita!

Bersedih rupanya sehingga langit itu meneteskan tangis

Tangis yang kemudian menjelma asam rindu dan kabut nestapa

Asam itu meresap dan membunuh tempat kita berpijak hingga legam

Kabut itu menyembunyikan kita satu sama lain hingga terkam

Kelam

Aku ramalkan, bahwa kelak si Memori akan kembali dari kematiannya!

Ia akan menjelma menjadi mayat hidup yang menghunuskan bilah besi bertahtakan benci!

Kemudian mengintai kita semua dari balik kabut sambil terkekeh dan mengasah goloknya dengan asam

Hendak membuat kita merasakan nikmatnya menjadi mayat jua

Advertisements