PENGENALAN AJARAN ILMU EKONOMI AUSTRIA SEBAGAI ALIRAN HETERODOKS

TUGAS MAKALAH BAHASA INDONESIA

 

PENGENALAN AJARAN ILMU EKONOMI AUSTRIA SEBAGAI ALIRAN HETERODOKS

Disusun oleh:

Sasmito Yudha Husada (103010003912)

Kelas: 3-E

 

Mahasiswa Program Diploma III Keuangan

Spesialisasi Kebendaharaan Negara

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

2013

 

KATA PENGANTAR

 

          Dalam makalah ini, penulis mencoba memperkenalkan ilmu ekonomi austria yang termasuk aliran heterodoks. Pengenalan ini dilakukan dengan cara memberikan bandingan terhadap ekonomi mainstream. .

Penulis mencoba semaksimal mungkin dalam pengerjaan makalah ini. Kemungkinan bahwa makalah ini terdapat kekurangan dari segi isi dan bahasa diakui oleh penulis. Kritik dan saran yang bersifat membangun dan memberdayakan demi kesempurnaan makalah ini diinginkan oleh penulis. Semoga makalah ini mampu memperkaya ilmu pembaca.

                                                                                                                Jurangmangu, Januari

2013

Penulis

                                                                                 Sasmito Yudha Husada

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………..     1

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………    2

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….    3

BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………..     5

A.. Aliran Ekonomi Mainstream dan Heterodoks

1. Ekonomi Mainstream………………………………………………..    5

2. Aliran Heterodoks…………………………………………………….    6

B. Ajaran Austria……………………………………………………………… 11

BAB III PENUTUP: SIMPULAN DAN SARAN ………………….  15

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….  17

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Para pemikir dan orang-orang kreatif dalam sejarah manusia biasanya memiliki pemahaman yang luas dalam berbagai disiplin ilmu. Macam-macam disiplin ilmu itu membantu mereka mempelajari dunia melalui berbagai sudut pandang. Dengan segala sejarah dan keterkaitan eratnya dengan politik dan pemerintahan, ilmu ekonomi membuktikan bahwa dirinya pantas untuk dipelajari oleh orang-orang di seluruh dunia.[1]

Ilmu ekonomi yang paling dijadikan pedoman oleh para ekonom di dunia adalah aliran neoklasik dan keynessian, yang biasa disebut aliran ortodoks, atau aliran mainstream. Aliran-aliran yang lebih tidak populer biasa disebut sebagai aliran heterodoks. Dalam aliran heterodoks terdapat bermacam-macam pandangan disiplin ilmu ekonomi, namun satu hal yang cenderung mereka sepakati adalah sikap penolakan yang kritis terhadap ilmu ekonomi mainstream. Salah satu aliran heterodoks yang menarik perhatian saya adalah disiplin ilmu ekonomi Austria(untuk selanjutnya dalam makalah ini akan disebut dengan ajaran Austria).

Ekonomi bukanlah sains yang pasti, ekonomi adalah sains yang penuh kabut, jadi tidak ada kebenaran mutlak dalam aliran-aliran pemikirannya. Para ekonom tidak bisa membuktikan bahwa pemahaman-pemahaman dan hukum-hukumnya benar melalui riset laboratorium seperti layaknya fisikawan. Oleh karena itu, sangat baik untuk pelajar dalam mencoba memahami lebih jauh, apalagi dari sudut pandang yang tidak begitu populer. Melalui makalah tinjauan umum disiplin ilmu ekonomi Austria ini, penulis mengajak pembaca melihat dan memahami ekonomi dari sisi lain.

B. Tujuan Penulisan

1. Menambah ilmu pengetahuan tentang ekonomi.

2. Memperkenalkan aliran heterodoks.

3. Memperkenalkan ajaran Austria.

C. Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah

1. Apa perbedaan ekonomi mainstream dengan heterodoks?

2. Apa keunggulan ajaran Austria?

D. Metode Pengumpulan Data

1. Studi Pustaka

BAB II
PEMBAHASAN

A. Mainstream dan Heterodoks.

1. Ekonomi mainstream[2]

Istilah ekonomi mainstream merupakan rujukan terhadap ajaran-ajaran ortodoks yang populer dan menjadi panutan utama dalam dunia perekonomian, yang diajarkan secara umum di universitas-universitas dunia. Ekonomi mainstream ini didominasi oleh sintesis neoklasik, dengan mengkombinasikan pendekatan-pendekatan Keynes pada makroekonomi dan metode-metode ekonomi neoklasik pada mikroekonomi. Ciri-ciri ekonomi mainstream adalah mencakup teori pilihan rasional yang berpendapat bahwa individu akan berusaha memaksimalkan utilitasnya, juga menggunakan statistik dan model-model hitungan dalam menunjukkan bagaimana teori-teorinya mengevaluasi perkembangan-perkembangan dunia perekonomian.

2. Aliran heterodoks[3]

Aliran heterodoks ini merupakan istilah untuk menyebutkan bermacam-macam aliran yang berasal dari macam-macam pemikiran yang memiliki sifat penyimpangan atau penolakan terhadap ekonomi mainstream.

Manusia adalah pelaku ekonomi. Manusia memiliki kebutuhan-kebutuhan. Manusia melakukan produksi. Manusia menciptakan pasar. Manusia adalah pemeran utama dalam kegiatan perekonomian. Manusia tidak sepenuhnya rasional. Manusia mempengaruhi dan dipengaruhi bermacam-macam kebiasaan, rutin, budaya, tradisi, yang tercatat dalam sejarah. Fakta, nilai-nilai masyarakat, pihak yang berkuasa, dan unsur-unsur kualitatif lainnya sesungguhnya mempengaruhi manusia sebagai pelaku ekonomi. Teori-teori ekonomi bisa keliru akibat keragaman ini, maka pendekatan bermacam sudut pandang dianjurkan.

Ekonomi mainstream cenderung membuang sejarah dari kerangka analisisnya dan berpedoman kepada perhitungan matematis. Sementara aliranheterodoks cenderung lebih memperhatikan sejarah dengan lebih serius. Namun kecenderungan ini bukan berarti aliran heterodoks hanyalah seputar kajian sejarah saja, melainkan demi menunjukkan bahwa teori-teori ekonomi sesungguhnya tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial-sejarahnya.

Sistem ekonomi itu sangat kompleks, selalu berubah, dan sukar diprediksi. Maka model-model kesetimbangan yang berulang kali digunakan dalam ekonomi mainstream semestinya ditinjau dengan skeptisme. Beberapa ekonom heterodoks dari ajaran ekologi percaya bahwa, trio suci neoklasik yang terdiri dari rasionalitas, kerakusan, dan kesetimbangan seharusnya diganti dengan perilaku bertujuan, kepentingan tercerahkan, dan keberlanjutan.

Teori-teori terkait individu dan teori-teori terkait agregat memang berguna. Namun, masing-masing tidak bisa dipahami ketika dipisahkan satu sama lain. Dengan ini, beberapa pendekatan heterodoks menyatakan bahwa pemisahan makroekonomi dan mikroekonomi dalam ekonomi mainstream merupakan hal yang tak bermakna. Misalnya, pada ekonom institusionalis, institusi dilihat sebagai unit dasar analisis yang beroperasi melalui individu. Institusi beroperasi sekaligus dalam tingkat makro dan mikro. Lain lagi dengan analisis teori Marxist, yang menggunakan kelas sebagai unit dasar sehingga konsepsi pemisahan makro mikro tidak lagi ada. Argumen-argumen dari heterodoks menyatakan bahwa pemisahan makro mikro ini akan mendangkalkan.

Berikut ini merupakan tabel adaptasi dari Knoedler and Underwood(2003) yang berusaha menunjukkan contoh-contoh utama perbedaan kontras yang fundamental mainstream dan heterodoks.

Mainstream/Ortodoks Heterodoks
1. Ekonomi adalah kajian pilihan dalam kondisi kelangkaan. 1.Ekonomi merupakan proses sosial dalam menyediakan kebutuhan orang-orang, bukan sekadar pilihan dan kelangkaan.
2. Pelaku ekonomi dimotivasi oleh pemikiran rasional dalam memaksimalkaan kepuasannya melalui konsumsi. 2. Kelangkaan dan keinginan-keinginan orang itu didefinisikan oleh situasi sosial.
3. Ekonomi adalah sains positif yang bebas dari nilai-nilai dan merupakan pengetahuan objektif. Ekonom berperan dalam analisis sains positif. 3. Ekonomi tidak bebas dari nilai-nilai dan ideologi memberi pengaruh cara ekonom dalam melakukan analisis dan mencari kesimpulan.
4. Sejarah pemikiran ekonomi adalah subyek spesial yang tidak perlu dalam memahami teori ekonomi jaman sekarang. 4. Sejarah pemikiran ekonomi sangat kritis dalam menentukan pemahaman terhadap dasar prinsip ekonomi.
5. Individu dipahami dan dikaji sebagai entitas yang terpisah sebagai unit dasar dalam analisis ekonomi. 5. Individu harus dikaji sebagai makhluk yang kompleks dan terkait dengan pemahaman operasi ekonomi yang menyeluruh.
6. Perekonomian dan pasar cenderung menemukan keseimbangan. Keseimbangan menjadi konsep utama dalam ekonomi. 6. Meskipun keseimbangan adalah konsep yang bermanfaat, perekonomian cenderung tidak menemukan keseimbangan, maka ekonomi harus fokus kepada proses dinamis dibandingkan dengan keseimbangan.
7. Nilai dan harga dalam  pasar bebas merupakan faktor penting dalam menuju efisiensi pasar. Apapun yang menggangu nilai pasar bebas, mengurangi efisiensi, dan berujung kepada beban yang harus ditanggung masyarakat. 7. Penilaian adalah sebuah proses sosial.

8. Meskipun kebebasan pasar dipercaya sebagai cara ideal meraih efisiensi dan kesejahteraan sosial, namun banyak terjadi kegagalan pasar yang memerlukan campur tangan pemerintah.8. Pasar-pasar merupakan institusi sosial, yang tidak akan pernah mencapai hasil seperti yang diandaikan ekonomi mainstream. Sementara kegagalan-kegagalan pasar yang disampaikan oleh ekonomi mainstream, memang merupakan ciri esensial pasar.9. Distribusi harta dan pendapatan tergantung kepada produk marjinal individu, ditentukan oleh karakteristik mereka.9. Distribusi terbentuk oleh keanggotaan individu dalam kelompok-kelompoknya, tergantung kepada ras, kelas, jenis kelamin, dan tingkat kekuasaan relatif yang dimiliki oleh kelompok-kelompok tersebut pada masyarakat.10. Alam, yang merupakan sumber dari segala energi, material, dan tempat penyimpanan dari segala limbah, tidak diperlukan(hanya komplementer) elemen dalam produksi.10. Kesadaran terhadap ekologi merupakan antar muka ekonomi dengan ekologi, dengan kesatuan keberlangsungan ekonomi dan prinsip biofisik, merupakan esensi dalam memahami proses ekonomi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Ajaran Austria Sebagai Salah Satu Ajaran Heterodoks[4]

Apa yang diketahui tentang ajaran ini sekarang, telah menempuh banyak perubahan melalui berbagai kebijaksanaan generasi ke generasi. Perubahan menuju perbaikan terus terjadi, namun prinsip utamanya tetap sama.

Carl Menger, seorang ekonom Austria, menerbitkan buku berjudul, “Principles of Economics” pada tahun 1871. Dia dianggap menjadi pendiri ajaran Austria, dan bukunya menjadi pilar revolusi teori marjinal. Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa nilai ekonomi barang dan jasa adalah subjektif. Lebih lanjutnya, ia menyatakan bahwa, seiring peningkatan jumlah barang dan jasa, maka nilai subjektif itu akan menurun. Hal ini menjadi inspirasi dan dasar utama pengembangan konsep diminishing of marginal utility.

Selanjutnya, seorang pemikir hebat lain dari Austria yang bernama Ludwig von Mises mengaplikasikan teori utilitas marjinal ke dalam buku terbitannya pada tahun 1912 yang berjudul, “Theory of Money and Credit.” Pengaplikasian teori itu membantu dalam menjawab pertanyaan: seberapa banyakkah itu uang yang terlalu banyak? Di sini, jawabannya juga subjektif. Satu dolar di tangan orang kaya tidak akan menghasilkan pengaruh yang banyak, namun akan berbeda lagi jika satu dolar itu ada di tangan orang miskin.

Selain Carl Menger dan Ludwig von Mises, juga ada nama-nama besar lain seperti Eugen von Bohm-Bawerk, Friedrich Hayek, dan lainnya lagi yang berpartisipasi dalam ajaran Austria. Prinsip-prinsip dasar ajaran Austria telah memberikan sumbangsih inspirasi ke dalam berbagai isu ekonomi, seperti yang terkait dengan hukum penawaran permintaan, penyebab inflasi, teori penciptaan uang, dan operasi pertukaran uang asing. Ajaran Austria cenderung menyimpang dari pandangan mainstream terkait isu-isu tersebut.

Berikut merupakan sebagian dasar ajaran Austria:

1. Metodologi

Ajaran Austria menggunakan logika berpikir a priori(seseorang bisa berpikir sendiri tanpa pengaruh dari luar) dalam mencoba memahami hukum-hukum ekonomi dan penerapan universalnya, ketika ekonomi mainstream cenderung menggunakan data dan model matematika untuk membuktikan pendapat mereka secara objektif

2. Penentuan Harga

Ajaran Austria menjunjung tinggi subjektivitas individu dalam menentukan harga barang, yakni individulah yang menentukan untuk membeli atau tidak membeli. Sementara ekonomi mainstream bersikukuh bahwa harga ditentukan oleh ongkos produksi dan keseimbangan permintaan penawaran. Ajaran Austria menolak pernyataan mainstream itu karena ongkos produksi itu tergantung dari kelangkaan relatif sumber daya yang tersedia, sementara keseimbangan permintaan dan penawaran juga tetap tergantung kepada keinginan individu.

3. Penentuan Tingkat Bunga

Ajaran Austria menolak pandangan mainstream bahwa tingkat bunga ditentukan oleh penawaran permintaan modal. Ajaran Austria bersikukuh bahwa tingkat bunga ditentukan oleh keputusan individu, yakni terkait preferensi waktu belanja, “Sekarang atau nanti?”

4. Pengaruh Inflasi

Ajaran Austria percaya bahwa, peningkatan jumlah uang beredar yang tidak disertai dengan peningkatan produksi barang dan jasa akan menyebabkan kenaikan harga, namun semua kenaikan harga itu tidak berlangsung sekaligus. Harga beberapa barang akan meningkat lebih cepat, menyebabkan ketidakseimbangan harga. Contoh: Saya seorang mekanik masih saja menerima jumlah pendapatan yang sama, ketika teman saya yang menjadi pedagang telur menerima kenaikan pendapatan, jadi kemampuan saya membeli telur berkurang ketika pendapatan saya tetap, saya semakin kesulitan mendapatkan telur, sementara pedagang telur menjadi beruntung. Itulah inflasi, ketika terjadi ketidakseimbangan harga, jika semua harga naik sekaligus, tentu tidak akan ada artinya bagi saya dan pedagang telur.

5. Siklus Bisnis

Ajaran Austria bersikukuh bahwa siklus bisnis disebabkan oleh gangguan tingkat bunga akibat campur tangan pemerintah yang berupaya mengontrol uang. Ketidaktepatan alokasi modal akan terjadi jika tingkat bunga dipaksakan tetap rendah atau tetap tinggi oleh campur tangan pemerintah.

6. Penciptaan Pasar

Ajaran Austria memiliki pandangan bahwa mekanisme pasar merupakan sebuah proses, bukan sebuah hasil dari desain pemaksaan bentuk. Orang-orang menciptakan pasar dengan tujuan-tujuan untuk meningkatkan hidup mereka, bukan dengan kesengajaan desain. Jadi jika ada beberapa orang yang tidak mengerti mekanisme pasar terdampar dalam sebuah pulau, cepat atau lambat interaksi mereka akan menyebabkan terbentuknya proses mekanisme pasar.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Aliran heterodoks timbul dari macam-macam pendapat yang menolak sepenuhnya atau sebagiannya dari apa-apa yang sudah menjadi ajaran ekonomi mainstream. Pendapat-pendapat itu biasanya berdasarkan pemikiran-pemikiran yang menghubungkan banyak nilai-nilai lain di luar keobjektifan matematis ekonomi mainstream. Ajaran Austria sendiri menjadi salah satu bagian aliran heterodoks yang dengan keras mendukung pandangan-pandangan yang lebih objektif terhadap elemen-elemen pasar. Ajaran Austria unggul dalam pemahamannya yang menjunjung tinggi peran individual dalam pasar, dan juga telah memberikan sumbangsih kepada teori-teori ekonomi secara menyeluruh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B. Saran

            Memahami ekonomi dengan akurasi objektif itu masih belum cukup. Dibutuhkan banyak integrasi disiplin ilmu lain.  Hal ini diungkapkan dengan tajam oleh kata-kata Friedrich Hayek dalam buku The Dilemma of Specialization: “Fisikawan yang hanya seorang fisikawan, masih mampu menjadi fisikawan ahli yang berharga bagi masyarakat. Namun tidak ada ekonom yang menjadi hebat dengan hanya menjadi ekonom saja, ah dan bahkan saya tergoda untuk menambahkan bahwa, ekonom yang hanya memahami ekonomi, sangat mungkin untuk menjadi pengganggu, jika tidak … menjadi penyebab bahaya.”5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

[5]Hayek, F. A. 1967. The Dilemma of Specialization. Chicago: U. of         Chicago Press.

[2]Istilah. “Mainstream economics”. Investopedia.

[Http://www.investopedia.com/terms/m/mainstream–    economics.asp#axzz2HUfs4855].

[3]Mearman, Andrew. 2007. The Handbook for Economics Lecturers;        Teaching heterodox economics concepts. University of the West of     England: The Economics Network.

[1]Murphy, R. P. 2010. Lesson for the Young Economist. Alabama: Ludwig von Mises Institute.

[4]Singh, Manoj. 2011. “Austrian School of economics”. Investopedia.

[http://www.investopedia.com/articles/economics/09/austrian-        school-of-economics.asp#axzz2HUfs4855].

Advertisements

Naskah Pidato Saya: Sisi Buruk Statism

Sasmito Yudha Husada

3-E/29

Salam sejahtera untuk kita semua. Semangat belajar untuk teman-teman mahasiswa. Semangat mengajar untuk Bapak Dosen Sukasdi. Saya di sini akan menyampaikan pidato tentang sisi buruk dari statism. Saya mengharapkan pidato ini akan mampu menyentil kesadaran kita. Karena kita memiliki potensi untuk turut membentuk negara ini dari dalam. Our state. Our ugly statism mechanism.

Kata statism itu sendiri berasal dari kata state yang bermakna negara. Statism adalah paham yang menyatakan bahwa, adanya sebuah pemerintahan yang memiliki kuasa atas ekonomi dan kebijakan-kebijakan umum, merupakan cara ideal untuk mengatur manusia bermasyarakat. Macam-macam statism misalnya adalah: minarchism, totalitarianism, welfare state, dan sebagainya.

Sebelum membahas keburukan statism lebih jauh, saya akan memperkenalkan filosofi kemerdekaan. Mengapa? Karena kemerdekaan adalah salah satu korban utama dari statism.

Teman-teman hidup dalam masa depan, sekarang, dan lampau. Ketiganya terwujud dalam nyawa, kemerdekaan, dan hasil jerih payah nyawa atas kemerdekaan yang biasa disebut properti.

Kehilangan nyawa berarti kehilangan masa depan, contohnya adalah pembunuhan. Kehilangan kemerdekaan berarti kehilangan masa sekarang, contohnya adalah perbudakan. Kehilangan properti berarti teman-teman telah kehilangan sebagian masa lalu, contohnya adalah perampokan.

Teman-teman berhak melindungi diri dari ancaman-ancaman itu. Teman-teman berhak mencari pemimpin untuk mengkoordinasikan perlindungan. Namun teman-teman tidak berhak memaksakan sistem kepemimpinan itu kepada orang lain yang tidak mengkehendakinya, apalagi jika dalam sistem kepemimpinan itu terdapat banyak sekali pelanggaran-pelanggaran kemerdekaan seperti yang terjadi pada statism.

Properti, nyawa, dan kemerdekaan terus terancam dan tertindas akibat statism. Pajak merupakan perampokan oleh negara, sebuah pelanggaran properti. Perang dan eksekusi merupakan pembunuhan oleh negara, sebuah pelanggaran hak hidup. Wajib militer merupakan perbudakan oleh negara, sebuah pelanggaran kemerdekaan. Dan banyak lagi.

Statism membentuk susunan masyarakat menjadi bertingkat-tingkat dan terkonsentrasi seperti gunung. Penguasa-penguasa di atas menginjak yang ada di bawahnya. Posisi-posisi puncak ini sungguh menarik banyak orang. Termasuk orang-orang rusak yang tergiur akses terhadap sumber daya terkait posisi puncak yang diincarnya. Bagaimana jika orang-orang rusak ini yang berhasil berada di puncak? Bukankah itu yang sesungguhnya berulang kali terjadi di dunia ini?

Salah satu contoh paling nyata dan keras bahwa orang-orang rusak itu berada di puncak-puncak statism adalah perang. Dalam sebuah perang, apapun kata-kata indah yang menghiasinya, entah itu patriotisme, entah itu perang suci, entah itu revolusi, entah itu pembebasan, tetap saja merupakan sebuah akumulasi dari pelanggaran filosofi kemerdakaan dalam bentuk pembunuhan, perampokan, dan perbudakan.

Mari pikir dengan akal sehat. Apakah teman-teman mau dibunuh? Apakah teman-teman mau rumah teman-teman dibom? Apakah teman-teman mau ayah teman-teman dipaksa bertaruh nyawanya di medan perang atas perintah orang-orang dari puncak statism? Apakah pembunuhan, perampokan, perbudakan oleh negara itu baik?

Mari mengingat sejarah. Mengapa perang terjadi berulang-ulang? Salah satu alasannya adalah pemimpin puncaknya rusak, korup, dan busuk yang mendapatkan kekuasaannya melalui statism.

Orang-orang macam ini mudah mencari statism, karena statism sudah mengakar dan dipuja berbagai negara. Sisi narcissm dari statism mewujud pada batas-batas wilayah imajiner yang memecah belah ras manusia. Membuat mereka yang dungu terlibat kebanggaan palsu statism. Seperti:

“Negaraku lebih besar dari negaramu.”

“Negaraku punya minyak, kamu tidak.”

“Negaraku punya pariwisata yang jauh lebih menarik daripada negaramu.”

Dari statism, akan muncul nationalism. Dari nationalism, masyarakat mudah diarahkan untuk menumbuhkan nationalism yang buruk. Pernahkah teman-teman selama ini mendengar orang-orang mengutarakan amarahnya terkait konflik Indonesia-Malaysia, dan mereka mengucapkan kata-kata keji beraroma kekerasan? Bahkan menyeru-nyerukan perang?!

Einstein, seorang fisikawan brilian pernah berkata, “Nasionalisme adalah penyakit kekanak-kanakan. Sebuah campak bagi ras manusia.”

Jika perang adalah penyakit keras yang dah terdeteksi oleh perhatian kita. Maka perpecahan masyarakat menjadi kelas-kelas akibat hierarki statism itu merupakan penyakit yang lebih tersembunyi, umpama HIV dalam sunyi yang menanti saat untuk berubah menjadi AIDS.

Oppenheimer mengutarakan bahwa, ada dua cara untuk mendapatkan harta. Yaitu melalui cara-cara politik dan cara-cara ekonomi. Harta yang didapat melalui cara-cara politik melibatkan pelanggaran-pelanggaran filosofi kemerdekaan dengan paksaan-paksaan hukum statism. Harta dari cara-cara politik cenderung tidak produktif dan penuh kebusukan. Sementara harta yang didapat melalui cara-cara ekonomi didapat melalui interaksi yang dikehendaki oleh masing-masing pihak. Harta dari cara-cara ekonomi cenderung produktif dan memberdayakan. Dalam statism terjadi net gain bagi penguasa, dan net loss bagi pasar.

Maksudnya adalah, statism menyebabkan masyarakat terbagi menjadi berkelas-kelas. Yaitu kelas yang berkuasa dan mampu mengeruk manfaat dari keberadaan negara atau state, contohnya adalah para pejabat dan pegawai yang menikmati pajak tanpa hasil kerja yang setimpal, juga pengusaha-pengusaha besar yang mendapatkan keuntungan-keuntungan akibat lobi dan kerja sama busuknya dengan pihak-pihak pemerintah melalui politik dalam tangga hierarki statism.

Kelas yang satu lagi terdiri dari pihak-pihak yang tertindas akibat keberadaan negara atau state, contohnya adalah pedagang-pedagang kecil menengah yang menderita akibat dirampas hartanya melalui pajak, dipersulit usahanya dengan peraturan-peraturan birokrasi penuh pungli dan pemerasan, juga masyarakat yang menderita karena properti-properti leluhurnya dirampas oleh negara untuk kedian dieksploitasi dengan sewenang-wenang.

Namun ingat! Orang-orang yang di kelas atas bisa sewaktu-waktu turun ke bawah, dan yang di bawah bisa sewaktu-waktu naik ke atas. Orang-orang yang berada di atas, akan terus berusaha melindungi posisinya dengan berbagai cara. Dengan pencitraan, dengan pengalihan isu, dengan indoktrinasi dan edukasi yang mendukung pemujaan terhadap statism. Mereka juga bahkan tidak ragu melaksanakan kekerasan, eksekusi, dan pembunuhan untuk melindungi tahta mereka.

George Carlin, seorang komedian tenar dari Amerika Serikat pernah berkata kurang lebih begini, “Kelas atas akan terus menikmati uangnya, kelas tengah akan terus membayar pajak dan bekerja keras, sementara kelas yang paling bawah, yang miskin dan dianggap memiliki kehidupan menderita, berperan sebagai alat untuk menakut-nakuti kelas menengah untuk terus bekerja keras sebagai budak kelas atas demi menyelamatkan diri dari kemelaratan kelas bawah.”

Masih banyak lagi yang bisa dibicarakan terkait sisi buruk statism. Namun cukuplah sampai di sini penyampaian saya. Jika dalam hati teman-teman bertanya-tanya, lalu apakah alternatif dari statism? Tentu banyak juga jawabannya dari berbagai versi, namun dari saya sendiri, menyarankan, cari tahulah Agorism. Tidak perlu melawan statism dengan kekerasan atau perang, kalau kita bisa menghadapinya dengan counter-economics dalam Agorism.

 

Tugas SIMK : Algoritma USM STAN

Algoritma, yang akan dikerjakan dalam tugas ini adalah, serangkaian langkah-langkah untuk mencapati suatu tujuan yang sesuai dengan logika-logika terkait.

1. Peserta mendaftarkan diri, sekaligus menyerahkan berkas.

2. Kelengkapan dan kesesuaian berkas dievaluasi oleh panitia, salah satunya adalah dengan menginput nilai peserta kepada sistem.

3.  Ketika terdapat rata-rata nilai yang di bawah 7,5 maka peserta itu tidak lulus. Di atas itu lulus, namun harus sesuai dengan poin 4, dan dimensi evaluasi berkas lain yang tidak ditulis pada algoritma ini.

4.  Ketika nilai Bahasa Indonesia berada di bawah 7 maka peserta tidak lulus. Di atas itu lulus, namun harus sesuai dengan poin 4, dan dimensi evaluasi berkas lain yang tidak ditulis pada algoritma ini.

5. Peserta yang lulus uji berkas, kemudian mengikuti ujian tertulis.

6. Peserta mengerjakan soal ujian sesuai ketentuan yang telah diatur.

7. Panitia mengevaluasi hasil ujian, jawaban benar mendapat poin 4, jawaban salah -1, jawaban kosong 0.

8. Panitia menyortir peringkat dari nilai tertinggi hingga terrendah, dan dari peringkat 1-1000 lulus usm stan, sisanya tidak lulus.

Tugas SIMK

1. Apa perbedaan Bluetooth dan Wi-Fi?

WiFi diciptakan lebih dulu, dan dirancang lebih kepada penggunaan share koneksi antar komputer dengan tingkat kecepatan tinggi, bisa dengan kabel atau tidak, tapi kurang praktis, sementara Bluetooth adalah barang baru yang lebih muda, diciptakan untuk share data, dan karena kecepatannya lebih rendah dibanding WiFi, makalingkup target utamanya adalah kepraktisan.

2. Apa korelasi GPRS, GSM, CDMA, 1G, 2G, 3G, 3.5G, dan 4G?

Dari pengetahuan saya yang terbatas ini, korelasi utama dari segala yang disebut di atas adalah : sebuah jaringan informasi untuk berkomunikasi yang terhubung dengan sinyal-sinyal tertentu supaya tidak tumpang tindih satu sama lain, dan memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, yang juga tergantung dari banyak faktor lainnya. Biasa diterapkan pada ponsel.