Ulasan: PK

Jarang-jarang. Banget. Nonton film dari bollywood. Ini pertama kalinya saya mengunduh sendiri sebuah film india untuk ditonton. Jadi ceritanya, pada suatu siang yang membosankan, seorang teman dari Lhokseumawe menghubungi saya. Ia merekomendasikan sebuah film berjudul PK. Sebenarnya saya sedang malas menonton film karena sedang tekun-tekunnya mencoba mengkhatamkan Silmarilion. But, what the hell, why not?  Lagipula saya mulai sebal dengan para elf di dunia ciptaan Tolkien itu; for all their wisdom and longevity, these fancy elves are too fucking obsessed with mere goddamn jewelleries. Yuck.

requ
PK ini film bercerita tentang Alien. Seorang pencuri merampas alat untuk memanggil pesawat ruang angkasanya. Bingung dan sendirian ia terjebak tak bisa pulang. Orang-orang yang ia mintai tolong memberinya jawaban: hanya Tuhanlah yang dapat membantunya. Maka dimulailah pencarian akan Tuhan melalui sudut pandang seorang alien.

boredofcoconutwater

Menyaksikan Alien ini bermanuver atas bermacam budaya dan agama yang tak hanya seakan-akan saling berkontradiksi namun juga dipaksakan kepada setiap individu, berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak dan tersentuh tersedu-sedu. It was very funny but also sad. Sampai setengah film, saya sampai berhenti sejenak untuk memberitahu teman saya bahwa film ini keren dan saya merasa sangat simpati terhadap alien ini.

label

cluelessbreaking

Alien tersebut kemudian bekerja sama dengan Jaggu, seorang pencari berita untuk mengambil alat pemanggil pesawatnya dari seorang figur ahli agama. Menurut saya, mulai dari sini, kualitas cerita agak turun. Meskipun memiliki wajah konsep yang lugu “Wrong Number”, tindak-tanduk si Alien yang diarahkan Jaggu untuk “menyerang” agama jadi seperti menodai keluguan si Alien itu sendiri. Ia menjadi boneka. Alat media untuk meraup keuntungan. It seemed to me, the aggressive public questioning was too violent for his innocent nature. Jaggu’s campaign was effective, but vulgar and annoying. Reminded me of the strong atheist’s braggadocio. This could be delivered more subtly; but, oh well, at least the message was delivered clearly.

Selain pencarian kebenaran tentang Tuhan dan keinginan pulang si Alien. Ada satu lagi unsur yang menjadi sorot utama cerita. Yakni kisah cinta beda agama antara Jaggu seorang hindu, dan Sarfaraz seorang muslim, juga campur tangan si Alien untuk menyatukan mereka berdua meskipun ia sesungguhnya mencintai Jaggu. Ah, saya sesunguhnya ingin membahas lebih lanjut tentang ini, tapi, aduh saya lapar, belum makan lebih dari dua puluh jam hahaha. Yah, pokoknya secara keseluruhan saya sangat puas menyaksikan film ini. Recommended.

Nih sedikit bocoran screenshot lagi:

donlie
Tapi kemudian, dari penghuni bumilah ia belajar untuk berbohong. Dan. Jaggu tahu ia bohong.

 

 

 

Advertisements

Pengakuan Tentang Tuhan dan Agama

Menginjak umur ke-23 ini, saya tidak mau lagi membohongi diri sendiri dan hidup dalam keterpaksaan. Dengan tulisan ini, saya akan mencoba menggambarkan kira-kira seperti apa kepercayaan yang ada dalam diri saya. Maafkan saya jika ada yang kurang berkenan. Terima kasih telah sudi membaca.

 

***

 

Saya tumbuh dalam keluarga yang menganut kepercayaan kelompok Islam tertentu. Secara praktik, dan garis besar, saya salut dan kagum atas orang-orang dalam kelompok tersebut, karena mereka memiliki kejujuran,  ketekunan, dan integritas yang bisa dibilang cukup dapat diandalkan.

Tapi bagaimanapun, saya menemukan ketidakcocokkan.

 

Kelompok ini menganggap bahwa Islam di luar mereka tidak sah amal perbuatannya sehingga tidak akan masuk surga dan akan jatuh ke neraka. Dulu, sebelum menyadari kepercayaan ini adalah hal yang ganjil, saya sangatlah sombong. Misalnya, ketika terjadi pertengkaran dengan teman yang tidak “seiman”, dalam pikiran saya akan terngiang suara yang meyakinkan diri bahwa nanti mereka akan masuk neraka, sementara saya dijamin ahli surga. Dampak pikiran ini bisa dilihat pada rekam jejak hidup saya sejak TK hingga SMP yang penuh dengan perkelahian karena saya dulu merasa manusia paling benar.

Seiring bertambahnya usia dan pendidikan, saya mulai menyadari bahwa kepercayaan semacam itu jangan dijadikan sandaran karena akan membawa kesedihan dan perpecahan. Pada suatu waktu, teman saya bercerita tentang “kelompok-kelompok” sesat dalam Islam. Tanpa diketahuinya, salah satu yang dijelaskannya adalah kelompok yang saya dan orang tua saya anut. Waktu itu saya diam-diam menitikkan air mata. Bukan hanya karena merasa terhina, namun juga karena timbulnya suatu kesadaran kecil yang perlahan menjadi renungan-renungan keras dan menyakitkan.

Begini, jika adalah sesat ketika sebuah variasi Islam, sebut saja X mengklaim variasi agama Islam lainnya tidak sah; maka ketika agama Islam secara umum mengklaim X adalah sesat, bukankah secara tidak langsung agama Islam menerapkan logika kesesatannya terhadap diri agama Islam itu sendiri? Kemudian, kalau dilihat melalui sudut pandang yang lebih besar, bukankah agama Islam itu sendiri merupakan variasi dari agama lain yang juga mengklaim kesesatan terhadap variasi lainnya. Segalanya seperti sebuah lingkaran permusuhan yang kelam dan tak ada ujungnya.

Bukankah agama seharusnya suci dan mensucikan? Mengapa justru saling memelihara benci dibalik kesombongan surgawi masing-masing? Saya ingat pernah mendengarkan suatu nasihat keagamaan yang intinya berpesan: setan mampu membuat hal-hal yang sesat menjadi indah di mata manusia. Kemudian waktu itu saya berpikir, mungkinkah, sebagian aspek agama dan janji surgawinya merupakan hal sesat yang dibuat jadi indah oleh setan di mata manusia?

Sementara itu di satu sisi, saya mulai curiga bahwa saya sebenarnya tidak betul-betul percaya, mungkin, hanya “ingin” percaya karena berbagai ancaman neraka. Karena, kalau diingat-ingat, pada masa-masa SD, saya pernah berkhayal bahwa jagoan-jagoan masa kecil seperti Son Goku, Power Rangers, Ultraman, dan sebagainya berkumpul bersatu membunuh memusnahkan Tuhan. Hal tersebut adalah imajinasi bocah kecil ingusan yang jujur dari dalam benaknya tanpa hasutan siapa-siapa.

Sampai sekarang, saya masih berusaha menghargai orang-orang dalam kelompok tersebut, begitu juga kepercayaan mereka. Karena saya percaya, bahwa memang, agama dan berbagai variasinya merupakan sesuatu yang alami dan dibutuhkan oleh sebagian besar manusia. Sayapun masih percaya kepada Tuhan. Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Yang saya tidak percaya adalah batasan-batasan yang diberikan kitab-kitab agama kepada Tuhan. Hal tersebut membuat seakan-akan Tuhan adalah budak agama; ada untuk memenuhi tugas-tugasnya yang tertulis di sana.

Orang bodohpun tahu, bahwa tidak hanya manusia dari agamanya masing-masing yang hidup di dunia ini. Manusia beragama lain tersebut tentu banyak juga yang melakukan kebaikan bermanfaat bagi seluruh manusia lainnya. Namun kekonyolan agama memperbudak Tuhan untuk hanya menghargai manusia dari agamanya masing-masing untuk menghukum dengan keji kepada manusia dari agama lainnya. Sungguh, Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih seharusnya tak tunduk pada ikatan semacam itu.

Tapi mengapa Tuhan membiarkan ada janji-janji surga neraka seperti itu pada kitab-kitabnya? Mungkin karena memang mayoritas populasi pada zaman turunnya kitab-kitab tersebut memerlukan insentif dan disinsentif semacam itu untuk menggerakan perbaikan peradaban dengan cepat. Mungkin juga karena, Tuhan percaya, seiring dengan dewasanya kesadaran kolektif manusia, manusia akan mampu mengoreksi kepercayaan-kepercayaan tersebut dengan sendirinya.

Begini, karena mau sekuat apapun usaha manusia untuk menjaga kemurnian agama dari kitabnya, ujung-ujungnya yang melakukan tatap muka dengan tulisan wahyu Tuhan tersebut adalah manusia. Manusia memproses informasi dengan bahasa dan logika. Perkembangan zaman sangat mempengaruhi kedua unsur tersebut. Sehingga, biarpun misalnya isi sebuah kitab suci mampu tetap dijaga dari A tetap A sejak zamannya turun hingga seribu tahun lagi, interpretasi akan maknanya akan terus berubah. Intinya, biarpun sumbernya wahyunya murni, pihak penafsir tidak akan mungkin menafsirkan dengan sempurna. Agamapun bukannya setuju bahwa manusia adalah sumber segala kelemahan dan kerusakan? Apakah para penafsir, para guru agama, adalah spesies bukan manusia yang mampu menafsirkan dengan sempurna?         

Saya menyimpulkan bahwa Tuhan-Tuhan yang digambarkan agama-agama, hanyalah potongan teka-teki yang tak sempurna. Gambaran tersebut disajikan keberadaannya oleh Tuhan agar setidaknya manusia mampu mengenal konsep Tuhan. Saya sendiripun sadar, sebagai manusia, saya sangat tidak berdaya dalam menafsirkan apalagi menggambarkanNya; sayapun bukan seorang ahli agama, bukan filsuf, bukan ilmuwan; bukan siapa-siapa selain bocah ingusan yang terlalu banyak melamun. Maka sesungguhnya yang saya pegang dan sajikan di sini hanyalah semacam wujud harapan, bahwa ia, Tuhan, adalah Zat yang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Saya tumbuh bergaul dengan non muslim, bahkan teman dekat pertama saya dulu di SD adalah seorang Kristen Protestan, Philip namanya. Seiring beranjak lebih dewasa, saya semakin menyadari bahwa non muslim adalah manusia seutuhnya, yang sama memiliki perasaan dan kehidupan setara, seiribg itu juga saya mulai mengutarakan doa seusai sembahyang kepada Tuhan untuk mengampuni SEMUA makhluknya. Karena dalam ketakutan saya di bawah ancaman akhirat yang keji, saya punya harapan besar pada sifat Tuhan yang utama, yakni Maha Kuasa dan Maha Pengasih.

Pernahkah kamu manusia sekalian berpikir? Bahwa berdasarkan sifat Maha Kuasanya, Tuhan mampu membatalkan SELURUH janji-janji pada kitab-kitabnya. Ia juga mampu menghapus dan mengubah ingatan kita dalam sekejap.

Bayangkan suatu kejadian pada satu waktu di akhirat nanti: ada golongan yang protes kepada Tuhan, “Wahai Tuhan, mengapa kamu tidak memasukkan golongan-golongan selain kami ke Neraka?”

Tuhan tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, dengan kekuasaannya ia mampu menghapus dan mengubah isi kepala seluruh golongan manusia tersebut sesukanya. Atau, Tuhan bisa saja menyelesaikan protes ini dengan menciptakan dunia paralel yang berjalan berdampingan untuk memenuhi setiap hasrat berpandangan sempit setiap kepercayaan yang ada; yakni dengan penciptaan versi akhirat masing-masing yang dihuni oleh fotokopi sempurna seluruh umat manusia dalam berbagai garis takdir dan nasib. Intinya: 

Tuhan YANG MAHA KUASA mampu membuat isi seluruh kitab agama menjadi tak bermakna, atau tetap bermakna secara paralel tanpa ada kontradiksi yang mampu dideteksi makhluk rendahan seperti kita. Terkait sifat tersebut, yang kita dapat lakukan sebagai manusia hanyalah pasrah dan berharap ia akan menggunakan segala kemahakuasaannya untuk menunjang, mewujudkan, dan menunjukkan sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayangnya.

Saya tidak peduli apakah agama A, atau agama B, atau agama C yang benar. Segalanya merupakan bagian dari serpihan teka-teki kebenaran yang lebih besar yang mungkin memang tak akan pernah dipahami manusia. Banyak sekali kemungkinan yang ada! Bisa jadi memang tidak ada Tuhan. Bisa jadi ada!

Saya tidak memihak posisi percaya ada (theist) atau percaya tidak ada (atheist). Saya hanya memihak posisi berharap, yang tidak terikat agama, yang tidak terikat anti-agama. Terkait boleh, tapi tidak terikat.

Tapi mungkin bagi sebagian orang, berharap saja tidak cukup. Mungkin selain berharap, kita juga harus bekerja. Dalam berbagai kemungkinan ketuhanan yang ada, saya berandai-andai suatu saat kita mampu menemui Tuhan secara langsung, tanpa melalui mati dulu dan tanpa akhirat. Mungkin inilah yang harus kita upayakan. Untuk apa? Untuk bersyukur tentunya. Juga untuk memuaskan rasa penasaran, dan untuk memohon langsung kepadanya agar memberikan sebuah proses dan akhir yang terbaik bagi seluruh makhluk yang telah mati, sedang hidup, dan akan lahir.

Saya pernah mempunyai imajinasi, bahwa manusia pergi meninggalkan bumi, mengarungi seluruh ruang angkasa untuk mencari keberadaan fisik Tuhan. Meski jika pencarian itu tidak akan pernah menemukan jawaban, upaya-upaya gigih manusia dalam berdamai bersatu dengan sesamanya akan menjadi berkah tersendiri yang sangat berharga.

 

***

Untuk Ibu dan Bapak. Semoga kalian kuat dan tabah membaca ini. Semoga Allah menjaga kesehatan kalian setelah mengetahui ini. Saya memohon maaf jika saya mengkhianati harapan kalian untuk tumbuh menjadi anak beriman dan bertakwa. 

Setidaknya ada dua alasan yang dapat menjelaskan segala pengakuan ini. Pertama karena memang saya percaya hal tersebut dengan sungguh-sungguh. Kedua, mungkin karena saya hanya ingin menghiasi alasan yang paling sederhana, yakni kemalasan. Saya akui memang saya sudah sangat muak dan malas menjalani tekanan dan paksaan mengikuti harapan-harapan kalian, juga jadwal pengajian yang banyak menyita waktu dan rasa bersalah saat mengabaikan jadwal tersebuy yang membuat saya depresi sehingga hidup ini terasa sangat busuk dan pantas untuk ditinggalkan. Tak jarang saya berpikir, bahwa untuk segera mendapatkan kebenaran, mungkin baiknya saya segera mati saja demi menodong langsung jawabannya kepada Sang Pencipta.

Ibu pernah sempat mengizinkan saya untuk mencari calon dari luar kelompok agama kita, tapi kemudian Ibu seperti membatalkan izin tersebut dan mengutarakan peringatan, bahwa akan susah hidup berdampingan dengan orang yang tidak seiman. Nah, bayangkan hidup sesusah apa yang akan saya lalui jika saya tidak pernah berani mengakui bentuk kepercayaan saya yang sesungguhnya seperti sekarang ini? Apa-apa yang terbentuk dari kepura-puraan dan kesalahpahaman: hancur.

Hidup ini berat. Seringkali saya merasa terlalu lemah dan bodoh untuk menjalaninya. Tak jarang sejak kecil saya rasanya ingin meledak saja menjadi orang gila sepenuhnya untuk bebas dari dunia. Karenanya saya ingin menjalani hidup sesederhana mungkin dari bermacam faktor yang ada. Saya enggan belajar menyetir mobil, karena tidak ada keinginan memiliki mobil. Rumahpun saya enggan memilikinya karena berat rasanya untuk merawat. Apalagi keluarga dan anak. Apakah mampu saya memberikan kehidupan yang layak?

Selain itu, hal tersebut berpotensi banyak menghadirkan kekecewaan dan penderitaan. Tak jarang manusia tertekan karena khawatir hartanya hilang. Habis hidup mereka sibuk untuk mengejar mengurus menjaga rumah, mobil, dan lain-lainnnya yang sesungguhnya dapat tiba-tiba saja rusak atau hilang. Begitupun keluarga. Istri dan anak bisa jadi sumber kekecewaan dan patah hati yang luar biasa. Mampukah saya ikhlas jika nanti mereka diambil atau lepas atau mengkhianati harapan saya? Jika anak saya nanti berbeda jalan pikirannya sama sekali dengan saya, mampukah saya tetap tabah dan bijak atas segala sakit hati yang mendera? Jika Bapak dan Ibu mampu memberi contoh bahwa keikhlasan semacam itu mampu dilakukan atas segala dosa saya dalam pengakuan ini, mungkin saya akan mempertimbangkan kembali untuk memiliki keluarga nanti.

Saya tidak perlu macam-macam hidup di dunia ini, saya tidak perlu janji surga kenikmatan abadi, saya tidak perlu kekayaan berlimpah, saya tidak perlu istri cantik dan anak yang berbakti; yang saya perlukan sekarang hanyalah kesempatan hidup tanpa tekanan batin, tanpa teror rasa bersalah dan kepura-puraan, sehingga saya mampu lebih tenang dalam menjalani hidup seadanya sembari mencoba menekuni hobi-hobi yang saya gemari. Saya harap Bapak dan Ibu akan tetap menganggap saya sebagai anak meski memang saya bukan anak yang baik. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Kuasa mengampuni kita semua. Amin.


Maaf dan terima kasih.

#1: Saling Menyalahkan

Jadi, sebenarnya saya dari dulu kepingin iseng mencoba membuat web comic singkat. Namun karena ide-ide yang muncul rasanya terlalu panjang, dan saya malas memangkasnya, akhirnya belum kesampaian. Beberapa waktu lalu, saya kebetulan menemukan suatu ide yang rasanya cocok untuk jadi web comic singkat. Ide ini saya temukan pada status updatenya Melisa Yulia. Terima kasih.

Manusia dan Tuhan

Manusia dan Tuhan

Potensial Koruptor Terbesar Di Dunia

Disclaimer:

Waspada. Laten sesat!

Not for the faint hearted.

Hohoho.

Saya pagi ini melalui ujian akhir semester dengan mata kuliah etika profesi. Oleh karena itu, pada dini harinya saya belajar. Materi bab 9, tentang korupsi, menarik perhatian saya, jadi saya mulai berpikir ngelantur dan sesat ….. Pada akhirnya saya putuskan untuk menyusun tulisan ini.

Di sini, saya akan membahas apa itu korupsi dan penyebab timbulnya korupsi sesuai materi yang saya pelajari tadi pagi. Juga bahasan sesat saya tentang dari dan di manakah potensial korupsi terbesar di dunia yang paling berpengaruh?

Korupsi adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crimes), karena perbuatan korupsi bukan delik berdiri sendiri, tetapi selalu terkait dengan berbagai perbuatan pidana lain seperti pidana perdagangan anak atau manusia (human trafficking), pidana narkotika, perdagangan senjata, perjudian, pemalsuan uang, money launder, sulit pembuktiannya dan lain sebagainya;

Korupsi adalah kejahatan internasional, international crimes karena lingkup perbuatan korupsi tidak terbatas pada wilayah negara tertentu, tetapi meluas dan ada hubungan antara perbuatan korupsi pada satu Negara dengan Negara lainnya;

Korupsi disebut juga organized crimes, karena pembuat dan pelaku korupsi sering kali terjalin antara organisasi formal dengan organisasi kejahatan. Mastermindnya sering kali adalah pejabat resmi yang terlibat dalam kegiatan illegal lainnya, misalnya dalam kasus perjudian, illegal logging, illegal fishing, human trafficking dan sebagainya;

Korupsi terjadi di segala sektor kehidupan, baik sektor publik maupun sektor swasta;

Pertanyaan yang timbul adalah:

Bagaimana korupsi bisa begitu luar biasa?

Terjadi dalam skala yang begitu luas dengan rapih dan terorganisasi di segala sektor?

Kekuatan macam apa yang mampu membuat kebusukan menjadi begitu licin, menarik, dan lekat di hati manusia?

Lord Acton mengatakan Power tend to Corrupt. Kekuasaan adalah sumber perbuatan korupsi, terutama sekali apabila Power (Kekuasaan) tidak diikuti oleh Accountability atau (C=P-A); artinya dalam suatu pemerintahan yang tidak diikuti system pengawasan, pembagian kekuasaan yang memadai, serta tiada akuntabilitas, yang berdampak mismanagement.

Prof Klittgard (Prof. DR Muladi, 2007) menyatakan bahwa Corruption timbul karena adanya Monopoly kekuasaan ditambah Discretion, tidak diimbangi dengan Accountability atau (C=M+D-A). Perinsipnya seperti uraian pada butir 1, perlu digaris bawahi bahwa discretion adalah suatu kewenangan yang melekat pada setiap orang atau manajer untuk mengambil pilihan dari beberapa alternatif Namun discretion yang dilakukan tanpa ada kendali akuntabilitas akan merupakan sumber korupsi.

 

Corruption = Power – Accountability

Corruption = Monopoly + Discretion – Accountability

Power = Monopoly + Discretion

Dari sini, saya menyimpulkan bahwa MONOPOLI kekuasaan yang memberikan kewenangan tindakan tanpa akuntabilitas memiliki potensi untuk menimbulkan terjadinya praktik korupsi. Maka, apakah kekuatan dengan monopoli kekuasaan tanpa akuntabilitas yang sangat dan mungkin terbesar di dunia?

Jawaban saya adalah, konsepsi Tuhan dalam ajaran MONOTEIS. Konsepsi tuhan dalam ajaran monoteis intinya adalah berupa zat berwujud satu dan hanya satu, yang memiliki kekuatan ber-maha-maha-maha-maha, dan memiliki kekuasaan kewenangan penuh atas segala ciptaannya. Tuhanlah zat dengan potensial terkorup di dunia!

Tuhan Yang Maha Esa. Satu, sendiri, begitu tamak konsepsi monoteis ini dibanding dengan konsepsi politeis yang di dalamnya terdapat division of labour dan kemungkinan terjadinya check and balance dalam bentuk pembagian kekuasaan Tuhan menjadi bermacam-macam kedewaan. Tidak ada kontrol terhadap kekuasaan tunggal-Nya dari kekuasaan lain. Ia sendiri. Ia berpotensi sangat korup. Power tend to corrupt, absolute power corrupt absolutely.

Tuhan dengan berbagai klaim maha-Nya, menuntut kekuasaan kewenangan atas manusia melalui buku-buku dengan tulisan dan bahasa manusia. Melalui buku-buku itu ia mencengkeramkan monopoli kekuasaan tanpa akuntabilitasnya kepada sejarah manusia hingga sekarang. Bahkan memaksakan kewenangan tanpa akuntabiliatas itu sebagai pedoman hidup manusia. Memaksakan? Mungkin lebih tepat disebut dengan mengancam. Patuhi kekuasaannya atau disiksa selama-lamanya. Sayang siksaan itu tidak dalam jangkauan akuntabilitas yang logis.

Masalah utamanya ada di akuntabilitas. Melalui buku, Dia melakukan banyak klaim. Namun kebanyakan klaim-klaim tersebut berupa sesuatu yang fantastis, diluar jangkauan pembuktian, tidak spesifik, tidak jelas, dan terbuka dengan revisi interpretasi( misal: pada tahun 1500-an interpretasi disesuaikan(bahan memberi pengaruh) dengan penemuan-penemuan saat itu, namun di tahun 1900-an ketika penemuan dunia berubah, maka interpretasi terhadap klaim itu diganti lagi untuk terus memaksakan sifat keilahiahan dan kemahaan). Intinya adalah, kekuasaan monopoli kekuasaan kewenangan-Nya sungguh kurang akuntabel, sekalipun ada sedikit, akuntabilitas ini hanyalah paksaan, cocok-cocok-an(dengan variabel Tuhan yang bisa direplace variabel lain).

Potensi korupsi Tuhan yang sangat tinggi ini menimbulkan dampak yang jelas bagi Indonesia. Pada pancasila, sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Logikanya, jika rakyatnya terbiasa menerima dan mematuhi sebuah kekuasaan kewenangan yang tidak akuntabel dari Tuhan Yang Maha Esa, maka rakyat pula akan mudah menerima dan mematuhi pemerintahan negara yang juga tidak akuntabel bahkan korup. Terbiasa dengan ketidaktransparanan dan ketidakakuntabelan yang berbasis kepatuhan terhadap monopoli kekuasaan.

Pada Januari 2012, diberitakan bahwa Indonesia kehilangan Rp 2.13 trillion (US$238.6 million) akibat korupsi pada tahun 2011.

Pada CORRUPTION PERCEPTIONS INDEX 2012, Indonesia menempati peringkat 118 [http://cpi.transparency.org/cpi2012/results/#myAnchor1].

Saya mesti bilang wow.

Langkah pertama menuju pembebasan diri dari korupsi adalah, minimal mulai mempertanyakan akuntabilitas siapa-siapa yang mengklaim kuasa atasmu. 

Agnostic, Gnostic, dan Ungkapan Cinta

Agnostik tanpa disandingkan apa-apa memiliki makna ‘tanpa pengetahuan yang pasti’, maka Agnostik bukanlah suatu sistem kepercayaan agama. Jika disandingkan dengan kata-kata ini, maka :

Agnostic atheist : Tidak percaya keberadaan tuhan, but no claim of absolute certainty.

Gnostic atheist : Tidak percaya keberadaan tuhan, plus absolute certainty.

Agnostic theist : Percaya keberadaan tuhan, but no claim of absolute certainty.

Gnostic theist : Percaya keberadaan tuhan, plus claim of absolute certainty.

Begini, anggap ada dua kutub : Gnostic Atheist dan Gnostic Theist, sementara yang benar-benar murni Agnostic ada di tengahnya, dan di antara Gnostic dan Murni Agnostic itu ada Agnostic Theist dan Agnostic Atheist.

Susunannya :

Gnostic Atheist – Agnostic Atheist – Agnostic – Agnostic Theist – Gnostic Theist

Semakin orang merasa paling tahu, maka orang itu akan merasa paling benar, sementara semakin orang mengetahui sesuatu, maka akan semakin banyak ia memiliki pertanyaan dan merasa tidak tahu apa-apa. Eh, nggak juga sih, tergantung orangnya 😛

Haha

Menurut saya, yang berada di ujung kutub itu cenderung orang-orang yang lebih senang dan nyaman memiliki kepastian dalam hidup, dan, ehm, mungkin lho ya, malas/takut/dilarang untuk mencoba berpikir lewat sudut pandang lain atau menatap ke arah lain. Salah satu keunggulan pada tipe yang di ujung kutub adalah, mereka tinggal melaksanakan saja kepercayaan dan keabsolutan, tanpa repot-repot berpikir macam-macam, dan mereka, saya yakin, memiliki kompetensi cukup tinggi dalam ilmu-ilmu yang menjadi bidang di ujung kutub kepercayaan masing-masing.

Sementara orang-orang dalam sisi tengah dan sekitarnya, cenderung untuk orang-orang yang lebih senang dengan proses lebih lama dalam berpikir, merenung, dan menikmati proses mencari kebenaran dari berbagai pola cara kepercayaan dari sudut pandang yang lebih objektif, bukan sekedar memandang sesuatu sebagai sesuatu karena sebuah ajaran menyatakan bahwa sesuatu itu adalah sesuatu.

Hihi

Saya sendiri sedari kecil berada di kutub paling kanan, lalu perlahan tumbuh, dan menyaksikan banyak inkonsistensi, maka saya sekarang [masih mencoba] bergeser satu langkah ke kiri. Agnostic Theist, di mana, saya masih sangat percaya keberadaan Tuhan, dan percaya dengan agama saya, masih beribadah, masih berdoa, masih memasrahkan diri, namun juga mulai mencoba untuk menjadi lebih objektif, membuka diri untuk belajar hal-hal yang sedari dulu ditutup-tutupi, membuka diri untuk mencoba menghargai kepercayaan orang lain yang di mana sebelumnya semuanya saya anggap salah kecuali apa-apa yang sama persis dengan apa yang diajarkan kepada saya yang waktu itu masih 1000permil Gnostic Theist.

Dalam proses menuju Agnostic Theist, saya merasakan suatu sensasi kenikmatan, di mana saya malah merasa lebih dekat dengan tuhan secara pribadi. Sungguh. Kebebasan dalam berpikir itu bagai telaga susu di tengah padang pasir.

Kenapa merasa lebih dekat dengan tuhan secara pribadi?

Karena tuhan dalam pandangan saya, bukan HANYA sekedar sebagai sosok pencipta yang maha kuasa, yang maha segalanya, yang tak terjangkau, yang mengancam seluruh manusia ciptaannya sendiri (yang sangat bervariasi cara berpikirnya dan budayanya) dengan siksa kecuali jika mereka menuruti satu macam perosedur kepercayaan absolut, bukan lagi sekedar sosok yang menyebabkan bencana-bencana alam, yang mengawasimu selalu tanpa menghargai privasi, yang … … … tak terpikirkan

Sementara sekarang, saya lebih bisa menganggap tuhan sebagai sahabat, sebagai kakak kelas, sebagai gadis pujaan hati yang membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama, sebagai orang tua yang saya buat kesal karena cara saya mencari perhatian, sebagai rival, sebagai kawan lama yang sedang bertengkar, sebagai orang asing baik hati yang tiba-tiba mengulurkan tangan pertolongan, sebagai kekasih yang begitu imut dan dapat saya berikan peluk cium ketika shalat, dan sebagainya …

Hehe

Saya sadar, ketika, ehem, misalnya saya sedang suka menyindir-nyindirnya, melanggar peraturannya, men-share artikel-artikel yang seakan-akan menyudutkan keberadaannya, dan bahkan mempermainkan sosok populernya dalam cerita pendek karangan saya, bahkan berkhayal membuat agama saingannya, bermimpi lebih kuat darinya, maka sebenernya saya sedang cari perhatian kepadanya, saya cinta, dengan cinta yang begitu lugu dan bodoh …

Hoho

Oh Allah Yang Maha Esa ♥

Engkau inspirasi yang membuat saya mabuk. Begitu tajam aroma engkau menusuk hidung saya, melumpuhkan, maka saya bertarung tolol dan serampangan, sehingga tak mampu jadinya tinju saya ini melukai dunia.

Lalu saya jatuh terlentang dalam ketidakberdayaan dan kepasrahan yang nikmat, karena saya jatuh di atas bayangan engkau yang selembut puisi cinta.

The idea of your existence and your perfection mesmerize my logic, my sanity, and my humanity.

The more i want you, the more i try to reject you because of the fear of broken heart.

The more i adore you, the more i want to erase you because of the pain of my suffocating lust.

I really want to having you as my own treasure, in the way i lead, in the place i set, on the bed of nail, under the hammering love of my mortal flesh.

Kill my conscience

Kill my love

Love is the only truth

Logika di balik doa?

Sejak kecil. Lingkungan yang religius terus memberikan dorongan dan tekanan untuk berdoa. Ada doa-doa yang memang dianjurkan bahkan nyaris seperti diwajibkan oleh ajaran agama, namun ada juga doa-doa yang berasal dari inisiatif individu.

 

Oke, saya anggap pembaca, sudah cukup memahami apa itu doa. Maka saya akan langsung saja ke topik. Logika di balik doa.

 

Begini lho. Kalau kita menginginkan sesuatu, kenapa kita malah mengangkat tangan dan meminta-minta, berbicara kepada sesuatu yang tidak kelihatan, yang belum jelas dalam batasan indera manusia? Bukannya segera bergegas dan melakukan sesuatu? Logikanya di mana?

Dalam kasus doa-doa dari inisiatf, yang biasanya dari keinginan pribadi : Kepingin naik kelas bukannya belajar malah berdoa? Kepingin beli motor baru bukannya kerja malah berdoa? Kepingin anaknya jadi orang pinter dan sukses bukannya dididik malah didoain? Ehm, jika dijumlah itu seluruh waktu-waktu berdoa, mungkin jika ditukar dengan usaha nyata dan praktik langsung malah akan memberi dampak lebih nyata. Mungkin lho 😛

Dalam kasus doa-doa anjuran agama, yang biasanya terkait dengan sifat-sifat keperkasaan tuhan :

Doa sebelum makan? Doa sebelum tidur? Doa sebelum masuk kamar mandi? Doa melakukan perjalanan? Doa kepada orang tua? Kalo dilihat tujuannya, doa-doa ini cenderung menuntut perlindungan/kelancaran/kebaikan-kebaikan, dengan mengangkat tangan dan berbicara menghadap tembok? Lucu 😛

 

Jangan marah~

Jangan doa-in saya yang jelek-jelek~

 

Ada logikanya sih menurut saya, biarpun agak maksa. Jadi gini, dengan berdoa, apalagi, ehm, doa yang rutin dan benar-benar tulus, serta gigih, menurut saya, akan menumbuhkan rasa percaya diri akan harapan itu, minimal … akan memberi sugesti positif deh, yang saya percaya dari sugesti itu akan menambahkan energi untuk berbuat sesuatu. Yah tergantung individunya sih.

Saya sendiri suka berdoa. Dan bagi saya, salah satu logika lainnya dari doa adalah, ehm, sebagai salah satu alat untuk mengingatkan diri sendiri pada apa tujuan saya? apa cita-cita saya? Juga untuk tetap membangun rasa percaya diri dan keteguhan menempuh jalan berkabut di depan, juga berharap kepada sosok tuhan yang begitu misterius dan unyu ❤

 

Sekian, kalau ada yang mau ditambahin dari logika maksa dari doa itu, silahkan komen, mau mencaci juga gak apa, love you all!!!